🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣1⃣ *QURAISY MENGAJUKAN TAWARAN DAN PERMINTAAN*
_______________________
SEJAK hari itu, Hamzah dengan penuh keyakinan mempertahankan keislamannya dan mengikuti semua ajaran Nabi. Perpindahannya ke Islam membuat kaum Quraisy kini semakin ragu untuk mengganggu Nabi secara terbuka, karena Hamzah pasti melindunginya. Di sisi lain, peristiwa yang tidak diharapkan ini membuat mereka semakin menyadari betapa gawatnya situasi yang mereka hadapi. Mereka kian merasa perlu mencari solusi dan berusaha menghentikan gerakan yang –dalam penglihatan mereka– akan berakhir pada runtuhnya kedudukan tinggi mereka di kalangan bangsa Arab. Melihat bahaya ini, mereka sepakat untuk mengubah taktik dan mengikuti saran yang diajukan oleh seorang pemuka Bani Abd al-Syams, 'Utbah ibn Rabi'ah, dalam majelis. "Mengapa aku tak menghadap Muhammad", kata 'Utbah, "dan menawarkan sesuatu yang mungkin dia mau terima? Asalkan dia menghentikan kecamannya terhadap kita, kita akan penuhi apapun yang dia inginkan!" Datang kabar bahwa Nabi kini sedang duduk sendirian di dalam Ka'bah. Maka 'Utbah segera meninggalkan majelis dan pergi ke Masjid. Ia menawarkan diri untuk tugas ini karena ia cucu Abd al-Syams, saudara Hasyim. Meskipun berbagai kabilah keturunan kedua putra Abd Manaf ini telah bercabang², tetapi perbedaan itu dengan mudah lenyap oleh kesamaan garis silsilah keturunan mereka. Selain itu, 'Utbah sosok yang lebih ramah, lebih cerdas, dan lebih dapat bekerjasama dibandingkan kebanyakan orang Quraisy.
"Putra saudaraku", kata 'Utbah kepada Nabi, "engkau berasal dari suku yang mulia dan garis keturunan yang terhormat. Namun, sekarang engkau membawa masalah besar kepada kaummu. Engkau telah memecah belah kekerabatan mereka, mencerca cara hidup mereka, mencela agama dan tuhan² mereka, serta mengafirkan nenek moyang mereka. Sekarang, dengarkan saranku, mungkin engkau berkenan menerimanya! Jika engkau menginginkan kekayaan, kami bersedia mengumpulkan semua harta kekayaan kami untukmu hingga engkau menjadi orang terkaya diantara kami. Jika engkau mencari kemuliaan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin kami; kami tidak akan memutuskan perkara apapun tanpa persetujuanmu. Jika engkau ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan dirimu sebagai raja kami. Jika engkau merasa tidak sanggup membebaskan diri dari gangguan setan yang menghampirimu ini, kami akan panggilkan seorang tabib, betapa pun besarnya biaya yang harus kami tanggung."
Setelah 'Utbah selesai berbicara, Nabi berkata, "Sekarang, dengarkan aku, hai Abu al-Walid!" Nabi lalu membacakan ayat yang baru saja beliau terima.
Utbah bersiap² mengalihkan perhatiannya dari lelaki yang ingin ia kalahkan itu. Namun, setelah dibacakan beberapa kalimat, pikirannya dipenuhi kekaguman terhadap kata² itu. Ia duduk bersandar pada kedua belah tangannya yang diluruskan ke belakang sambil mendengarkan. Ia terpesona oleh keindahan bahasa yang mengalir ke telinganya. Ayat² yang dibacakan itu bercerita tentang wahyu itu sendiri, juga tentang penciptaan langit dan bumi. Ayat itu juga menyebutkan para nabi dan kaum yang mengingkari ayat² Allah, yang kelak akan dihancurkan dan di masukkan ke dalam neraka; dan kaum beriman yang dijanjikan perlindungan para malaikat di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat. Nabi menutup pembacaannya dengan kalimat: _"Dan, sebagian tanda² kebesaran-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya"_ (Q.S. 41:37), dan beliau langsung bersujud, meratakan dahinya ke tanah. Kemudian beliau berkata, "Engkau telah mendengarkan apa yang kuucapkan, hai Abu al-Walid! Sekarang, semuanya terserah padamu".
Ketika 'Utbah kembali ke teman²nya, mereka terkejut melihat perubahan ekspresi wajahnya. "Apa yang terjadi padamu, hai Abu al-Walid?" tanya mereka. Ia menjawab, "Aku telah mendengarkan sebuah pernyataan yang tidak pernah ku dengar sebelumnya. Kalimat itu bukanlah untaian puisi; demi Tuhan, juga bukan sihir atau kata² ramalan. Hai kaum Quraisy, dengarkanlah aku dan lakukan apa yang kukatakan. Janganlah kalian menghalangi lelaki ini. Biarkan dia, karena demi Tuhan, kata² yang kudengarkan darinya akan diterima sebagai berita besar. Jika bangsa Arab mengalahkannya, maka kalian akan terbebas darinya berkat pihak lain. Namun, jika ia menaklukkan bangsa Arab, maka kedaulatannya akan menjadi kedaulatan kalian juga, kemuliaannya akan menjadi kemuliaan kalian, dan kalian akan menjadi orang yang paling beruntung." Namun mereka mengejeknya, "Ia telah menyihirmu dengan lidahnya". "Aku telah menyampaikan pendapatku kepada kalian," sahut Utbah. "Sekarang lakukanlah apa yang terbaik menutut kalian"
'Utbah tidak menentang mereka lebih jauh. Dampak ayat² Alquran tersebut baginya bukan hanya sekedar kesan sesaat. Ketika itu, karena tidak memperoleh jawaban atas permintaan yang ia ajukan, salah seorang yang lain berkata, "Marilah kita memanggil Muhammad untuk berbicara dan berdebat dengannya. Dengan begitu, kita tidak akan dipersalahkan karna tidak mengupayakan berbagai cara." Maka, mereka mengundang beliau. "Para pemuka kaummu berkumpul bersama untuk berbicara denganmu." Nabi pun segera datang karena mengira mereka telah terpengaruh untuk mengubah pendirian. Beliau sangat mengharapkan mereka bersedia menerima kebenaran. Namun, harapannya segera pudar. Mereka mengulangi kembali tawaran yang diajukan sebelumnya. Setelah mereka selesai berbicara, beliau menjawab, "Aku tidak mencari harta kekayaan, tidak menginginkan kemuliaan di tengah kalian, dan tidak berhasrat menjadi raja kalian. Tetapi Allah telah mengutusku sebagai rasul-Nya dan menurunkan kitab suci-Nya kepadaku. Aku diperintahkan agar menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada kalian. Karena itulah aku sampaikan ajaran Tuhanku dan nasihat baikku kepada kalian. Jika kalian mau menerima apa yang kubawa, maka kalian pasti beruntung di dunia ini dan di akhirat nanti. Tetapi jika kalian menolak ajaranku, maka aku akan bersabar menanti keputusan Allah di antara kita."
Tanggapan mereka hanyalah kembali seperti semula. Mereka hanya mengatakan, jika beliau tidak menerima tawaran mereka, beliau mesti membuktikan bahwa dirinya memang seorang utusan Allah dan beliau hendaknya juga melakukan sesuatu yang membuat hidup mereka lebih nyaman. "Mintalah kepada Tuhanmu agar bukit² yang mengelilingi kami ini digeser, sehingga tanah kami menjadi datar, dan sungai² mengalir seperti di Syria dan Iraq. Mintalah kepada Tuhanmu agar nenek moyang kami dihidupkan kembali, termasuk Qushay, sehingga kami dapat bertanya apakah yang engkau katakan ini benar atau dusta. Atau jika tidak, mintalah sesuatu untuk memenangkan dirimu sendiri. Mintalah kepada Tuhanmu agar mengutus malaikat yang akan membuktikan kebenaran kata²mu dan memastikan kebohongan kami. Dan, mintalah kepada-Nya untuk memberi taman², istana, emas dan perak, sehingga kami dapat mengetahui ketinggian martabatmu di sisi Tuhanmu." Nabi menjawab dengan tegas "Aku tidak mau meminta semua itu kepada Tuhan. Aku tidak diutus untuk itu. Tuhan mengutusku untuk memberi peringatan dan kabar gembira."
Mereka tidak mau mendengarkan dan berkata, "Kalau begitu runtuhkanlah langit hingga berkeping² di atas kepala kami", dengan maksud memperolok² ayat yg telah diturunkan, _"Jika kami kehendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit."_ (Q.S. 34:9). "Allah lah yg menentukan", jawab Nabi. "Jika Allah berkehendak, Dia akan melakukannya".
Tanpa menjawab, kecuali dengan tatapan menghina, mereka pergi ke tempat lain. Bagi mereka, salah satu teka-teki yang paling membingungkan dari Alquran adalah seringnya ia menyebut nama asing _al-Rahman_ yang jelas dikaitkan dengan sumber inspirasi Nabi. Salah satu ayat dimulai dengan kata², _"Yang Maha Pemurah_ (al-Rahman) _yang telah mengajarkan Alquran"_ (Q.S. 55: 1-2). Karena mereka senang menerima rumor bahwa kata² Muhammad berasal dari seseorang di Yamamah, kali ini mereka pun berkata, "Kami mendengar bahwa seseorang di Yamamah, bernama Rahman, telah mengajarkan semua ini kepadamu. Kami tidak akan pernah percaya kepada Rahman!" Nabi tetap diam, lalu mereka melanjutkan, "Kini kami bersumpah di hadapanmu, Muhammad! Demi Tuhan, kami tidak akan membiarkan dirimu tenang. Kami tidak akan tinggal diam sebelum kami dapat menundukkanmu atau engkau membinasakan kami!" Di antara mereka ada yang menambahkan, "Kami tidak akan memercayaimu sampai engkau menunjukkan kepada kami Tuhan dan para malaikat sebagai bukti." Mendengar kata² tersebut, Nabi bangkit. Ketika beliau beranjak hendak meninggalkan mereka, Abd Allah, putra Abu Umayyah dari Bani Makhzum, juga berdiri dan berkata, "Aku tidak akan memercayaimu selamanya sebelum aku melihat sendiri engkau dapat naik mencapai langit, kemudian turun lagi ke bumi membawa 4 malaikat untuk membenarkan pengakuanmu! Kalau itu terjadi, aku baru mungkin memercayaimu!" Abd Allah dari pihak ayahnya, adalah sepupu Abu Jahl; namun ibunya adalah 'Atikah, putri Abd al-Muththalib, dan Atikah menamai putranya itu dengan nama saudaranya, ayah Nabi. Mendengar kata² semacam itu dari kerabatnya sendiri, Nabi pulang dengan hati sedih dan pilu. Lebih sedih lagi, kini terbentang jarak yang jauh antara dirinya dengan para pemimpin kaumnya
Sementara dari kabilah Makhzum, beliau setidaknya memiliki seorang pengikut: Abu Salamah, putra bibinya, Barrah. Kini datang bantuan yang tak terduga yang dapat memperkuat agama baru itu. Abu salamah memiliki sepupu yang kaya raya dari pihak ayahnya bernama Arqam –kakek mereka bersaudara. Arqam menemui Nabi, mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian ia menyerahkan rumahnya yang luas –terletak di dekat bukit shafa– sebagai tempat kegiatan Islam. Sejak itu, kaum mukmin memiliki tempat persembunyian di pusat Mekah. Di tempat itulah mereka dapat bertemu dan salat bersama tanpa takut terlihat atau diganggu.
*#022#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment