Sunday, May 31, 2020

Kisah Rasul bagian 84

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣4⃣ *SUKSESI DAN PEMAKAMAN*
_______________________

TANDA yang pertama kali dilhat oleh Abbas segera merebak kepada orang lain. Sebelum prosesi pemakaman, Umm Ayman mengirim kabar kepada anaknya bahwa Nabi telah wafat. Para pasukan telah diperintahkan untuk melakukan ekspedisi ke utara, namun Usamah segera memerintahkan mereka agar kembali ke Madinah. Beberapa sahabat senior berada bersama pasukan tersebut, termasuk Umar. Setibanya di Madinah, mereka mendengar berita tentang kematian Nabi, Umar sama sekali tidak mau memercayainya. Ia keliru menafsirkan sebuah ayat Alquran, yang menurut pemahamannya, Nabi akan hidup lebih lama daripada mereka semua hingga datang generasi lain. Kini, ia berdiri di masjid dan berbicara di hadapan orang banyak, meyakinkan mereka bahwa Nabi hanyalah tidak ada ruhnya dan beliau akan kembali. Ketika ia berkata demikian, Abu Bakr datang dan Sunh dengan menunggang kuda. karena berita itu begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru oasis itu. Tanpa berbicara kepada siapa pun, Abu Bakar langsung ke kediaman putrinya dan membuka kain yang menutupi wajah Nabi. Ia memeluk Nabi dan menciuminya. "Wahai yang lebih kukasihi dari ibu dan ayahku," katanya, "engkau telah merasakan kematian yang Allah tetapkan padamu. Tidak ada lagi kematian yang akan menjemputmu sesudah ini." Dengan penuh hormat, ia menutupkan kembali kain itu di atas wajah Nabi, dan keluar menuju kerumunan orang yang masih mendengarkan pidato 'Umar. "Tenanglah, Umar!" katanya ketika ia mendekat. "Dengarkan aku berbicara" "Umar mengacuhkan dan tetap bergeming Namun, karena mengenali suara Abu Bakr, orang-orang meninggalkan Umar dan beralih mendengarkan apa yang hendak dikatakan orang yang lebih tua itu. Setelah memuji Tuhan, ia berkata, "Hai manusia! Barang siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal; dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Kemudian, ia membacakan ayat berikut yang diturunkan sesudah Perang Uhud:

_Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalk ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur_ (QS. 3: 144).

Orang-orang hampir tidak tahu ada ayat tersebut sampai Abu Bakr membacakannya pada hari itu. Mereka mendengarkannya dan mengulangi bacaan tersebut. Sesudah kejadian itu, Umar berkata, "Saat aku mendengar Abu Bakr membacakan ayat itu, aku begitu terkejut hingga tubuhku tersungkur ke tanah. Kedua kakiku tak mampu berdiri, dan aku tahu Rasulullah telah wafat."
😭😭😭😭😭

Ali telah kembali ke rumahnya, disertai Zubayr dan Thalhah. Sejumlah orang Muhajirin berkumpul mengelilingi Abu Bakr, Mereka ditemani oleh Usayd dan beberapa warga sukunya. Namun mayoritas orang Anshar, baik suku 'Aws maupun Khazraj. berkumpul di balai pertemuan Bani Sa'idah yang diketuai oleh Sa'd ibn Ubaydah. Menurut berita yang disampaikan kepada Umar dan Abu Bakar, mereka sedang memperdebatkan perlimpahan kekuasaan setelah Rasulullah wafat. Mereka menerima kekuasaan Nabi dengan senang hati; tetapi kini beliau telah wafat. Banyak di antara mereka berpendapat bahwa orang-orang Yatsrib tanpa kecuali seharusnya dipimpin oleh keturunan Qaylah. Mereka tampaknya akan memberi dukungan kepada Sa'd.

Umar mengajak Abu Bakr untuk pergi bersamanya ke ruang pertemuan itu, dan Abu 'Ubaydah mengiringi mereka. Sa'd sedang terbaring sakit di tengah-tengah balai pertemuan, diselimuti kain. Ketika ketiga orang Quraisy itu masuk, seorang Anshar –atas nama Sa'd-sedang berpidato di depan majelis. Maka, ia melibatkan mereka dalam pembicaraan, yang dimulai –setelah memuji Allah– dengan kalimat "Kami adalah penolong Allah dan pembela Islam. Dan kaum Muhajirin, kalian bagian dari kami, karena sebagian dari kalian telah bermukim bersama kami." Pembicara itu meneruskan dengan nada yang sama, memuja kaum Anshar dengan sedikit memuji orang Muhajirin. Ia mengabaikan kenyataan posisi khusus kaum Muhajirin: merekalah umat Islam yang pertama. Setelah ia selesai bicara, 'Umar hendak angkat bicara, namun Abu Bakr menyuruhnya diam. Abu Bakr sendiri yang akan berbicara. Dengan taktis namun tegas, ia mengulangi pujian terhadap kaum Anshar, namun menunjukkan bahwa umat Islam sekarang telah tersebar di seluruh jazirah Arab. Bangsa Arab secara keseluruhan tidak akan menerima kekuasaan dari seseorang yang bukan orang Quraisy karena Quraisy memiliki posisi khusus dan utama di antara mereka. Akhirnya, ia mengambil tangan 'Umar dan Abu Ubaydah sembari berkata, "Aku mengajukan kepada kalian salah satu dari dua orang ini. Berbaiatlah kepada siapa saja yang kalian inginkan di antara mereka berdua." Lantas seorang Anshar bangkit dan mengusulkan agar kekuasaan dibagi dua. Usulan ini mempersengit perdebatan, sampai akhirnya 'Umar menginterupsi: "Hai kaum Anshar, tidakkah kalian ketahui bahwa Rasulullah memerintahkan Abu Bakr untuk mengimami salat?" "Kami tahu itu," jawab mereka. "Lantas siapa di antara kalian yang ingin melangkahinya?" tanya Umar lantang "Allah melarang kami melangkahinya!" jawab mereka. "Umar langsung memegang tangan Abu Bakr dan berbaiat mendukungnya. Abu 'Ubaydah dan orang-orang Muhajirin yang lain mengikutinya. Kemudian, semua orang Anshar yang hadir juga membaiat Abu Bakar, kecuali Sa'd. Sa'd tidak pernah mengakuinya sebagai khalifah, dan akhirnya ia pindah ke Syria.

Apa pun yang mereka putuskan di balai Pertemuan, hanya Abu Bakr yang dapat diterima setiap orang untuk mengimami salat di Masjid Madinah, selama ia berada di sana. Pada keesokan harinya, di waktu fajar, sebelum mengimami salat, ia duduk di mimbar. Umar bangkit dan berbicara di hadapan majelis, mengajak mereka berbaiat kepada Abu Bakr, yang ia gambarkan sebagai "yang terbaik di antara kalian, sahabat Rasulullah," _"salah seorang di antara dua orang yang berada di dalam gua"_ (QS. 9: 40). Ayat ini menunjukkan keutamaan Abu Bakr sebagai sahabat Nabi dalam suasana genting. Dan seluruh anggota majelis serentak berbalat kepadanya semuanya, kecuali Ali yang melakukannya belakangan.

Kemudian, Abu Bakr memuji dan bersyukur kepada Allah dan berpidato di hadapan mereka:

```Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku; dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskanlah aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan, dan pengingkaran terhadap kebenaran adalah penghianatan. orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga kuserahkan haknya kepadanya, insya Allah; dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga aku ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya Namun, jika aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah salat kalian, Tuhan merahmati kalian!```

Sesudah menyalatkan jenazahnya, keluarga Nabi dan kerabatnya yang lain memutuskan untuk menyiapkan pemakaman, namun mereka berbeda pendapat tentang pelaksanaannya. Kemudian, Allah membuat mereka semua mengantuk. Dalam tidurnya, setiap orang mendengar suatu suara: "Basuhlah Nabi dengan pakaian yang di milikinya." Maka, mereka pergi ke rumah Aisyah yang saat itu telah dikosongkan. 'Aws ibn Khawli, seorang lelaki Khazraj, memohon untuk menjadi wakil kaum Anshar. "Demi Allah dan demi kesertaan kami pada Rasulullah, aku memohonmu dengan sangat, hai 'Ali!" 'Ali membolehkannya masuk. 'Abbas dan putranya, Fadhl serta Qitsam membantu 'Ali membalikkan jenazah. Sementara, Usamah menyiramkan air di atasnya, dibantu oleh Syuqran, salah seorang bekas budak Nabi. Ali mengusap setiap bagian kain wol panjang itu. "Wahai orang yang lebih kukasihi daripada ayah dan ibuku," katanya, "betapa sempurnanya engkau, di waktu hidup dan mati!" Bahkan, setelah berlangsung satu hari, jenazah Nabi tampak seperti hanya tengah tidur berbaring, cuma tidak ada lagi napas, denyut, dan kehangatan badan.

Para sahabat kembali berbeda pendapat mengenai di mana beliau akan dimakamkan. Sebagian besar berpendapat bahwa makamnya harus dekat dengan makam tiga putrinya dan Ibrahim, juga para sahabatnya yang gugur dan disalatkan oleh Nabi sendiri, yaitu di Baqi al-Ghardaq. Yang lain berpendapat, beliau harus dimakamkan di masjid. Abu Bakr ingat mendengar Nabi pernah berkata, "Setiap nabi meninggal, akan dimakamkan di tempat ia meninggal." Oleh karena itu, digalilah kuburan di ruangan 'A'isyah, di dekat tempat pembaringan Nabi

Kemudian, seluruh penduduk Madinah melayatinya dan berdoa baginya. Mereka datang bergiliran, dan masing-masing kelompok melakukan salat jenazah. Pertama-tama kaum pria, lalu kaum wanita, dan kemudian anak-anak Malam itu juga jenazah Nabi di masukkan ke dalam kubur oleh 'Ali bersama yang lain.

Seluruh umat tenggelam dalam duka di Kota Cahaya –demikian Madinah kini disebut. Para sahabat saling mengingatkan untuk tidak menangis, namun mereka sendiri tak dapat menahan tangisnya. "Aku bukan menangisinya," kata Umm Ayman, sewaktu ditanya tentang air matanya. "Bukankah aku tahu, beliau pergi ke tempat yang lebih baik dari dunia ini? Aku menangis karena janji-janji surga yang telah terputus dari kita." Sesungguhnya, kejadian itu ibarat sebuah pintu besar telah tertutup. Mereka ingat, beliau pernah berkata, "Apa yang harus aku lakukan terhadap dunia ini? Aku dan dunia ini ibarat seorang pengembara dan sebatang pohon tempat ia berteduh. Lantas, ia pergi meneruskan perjalanannya dan meninggalkan pohon itu di belakangnya." Beliau berkata bahwa mereka –setiap orang– mesti mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri. Jika pintu kini telah tertutup, maka akan terbuka karena keimanan akan kematian. Mereka masih terngiang oleh kata-kata beliau, "Aku akan pergi mendahului kalian, dan aku menjadi saksi bagi kalian. Pertemuan kalian denganku adalah di dalam surga." Setelah menyampaikan risalahnya di dunia ini, beliau pergi untuk memenuhi janjinya di akhirat, di tempat yang akan beliau lanjutkan sebagai Kunci Kasih Sayang, Kunci Surga, Roh Kebenaran, Kekasih Allah, bagi mereka dan bagi seluruh manusia, tapi tanpa batasan waktu seperti di bumi.
😭😭😭😭😭

_Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat atas Nabi. Hai orang- orang yang beriman, bersalawatlah atasnya dan ucapkanlah keselamatan atasnya._

*اللهم صل على محمد وعلى ال محمد. كما صليت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انك حميد مجيد*
_ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMAD, WA 'ALA AALI MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA 'ALAA IBRAHIM, WA 'ALAA AALI IBRAHIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID._

*اللهم بارك على محمد وعلى ال محمد. كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انك حميد مجيد*
_ALLAAHUMMA BAARIK 'ALAA  MUHAMMAD, WA 'ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA BAARAKTA 'ALAA IBRAHIM, WA 'ALAA AALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID._

*T A M A T*

*#136#*

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

*T A M A T*

Kisah Rasul bagian 83

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣3⃣ *SEBUAH PILIHAN*
_______________________

NABI tak henti-hentinya berbicara tentang surga. Ketika menceritakannya, seolah-olah beliau melihat apa yang digambarkan tersebut. Kesan ini tampak diperkuat dalam berbagai bentuk, seperti suatu ketika beliau mengulurkan tangannya seolah akan mengambil sesuatu, kemudian menariknya kembali. Beliau tidak berkata apa- apa, tapi orang yang bersamanya mengamati dan menanyakan tindakannya itu. "Aku melihat surga," kata beliau, "dan aku menjangkau setangkai anggurnya. Jika aku mengambilnya, kalian baru dapat menghabiskannya selama usia bumi ini." Mereka menjadi terbiasa berpikir seolah-olah Nabi sudah berada di alam akhirat. Barangkali itulah sebabnya jika beliau berbicara tentang kematiannya, mereka tidak terlalu terpengaruh. Lebih-lebih, meski telah berusia 63 tahun secara fisik beliau masih terlihat jauh lebih muda, matanya masih terang, dan hanya ada sedikit uban di rambut hitamnya. Namun, indikasi dekatnya kematian beliau cukup tampak tatkala ditanya para istrinya, "Siapa di antara kami yang pertama kali akan menemanimu di alam barzakh?" Beliau menjawab, "Siapa yang tangannya terpanjang di antara kalian, dialah yang lebih dulu menemaniku." Lantas mereka mengukur dan membandingkan tangan mereka satu sama lain. Diperkirakan meskipun tidak tercatat, Sawdahlah yang menjadi pemenangnya. Sebab, dialah istri yang paling tinggi dan besar di antara mereka. Di lain pihak, Zaynab adalah wanita mungil dan berlengan pendek. Namun demikian, ternyata dialah yang pertama kali meninggal, sekitar sepuluh tahun kemudian. Dengan kejadian itu, mereka baru sadar bahwa yang dimaksud Nabi dengan "terpanjang tangannya" adalah yang paling dermawan. Zaynab wanita yang sangat murah hati. Seperti pendahulunya yang memiliki nama yang sama, ia juga dipanggil "Ibu orang-orang miskin"

Suatu malam, tak lama setelah Nabi memerintahkan persiapan penaklukan Syria, dan sebelum para pasukan berangkat, beliau memanggil Abu Muwayhibah, seorang bekas budaknya, dan berkata, "Aku telah diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para ahli kubur, ikutlah bersamaku." Mereka pergi bersama. Ketika sampai di Baqi, Nabi mengucapkan. "Keselamatan atasmu, wahai penghuni kubur. Bergembiralah di alammu, yang jauh lebih baik dari negeri yang kini dihuni manusia. Fitrah akan datang kepada mereka secara beruntun, seperti beruntunnya potongan-potongan malam yang gelap. Yang terakhir menyusul yang terdahulu, dan yang terakhir lebih jelek dari yang sebelumnya." Lalu Nabi menoleh ke Abu Muwayhibah dan berkata, "Baru saja aku ditawari seluruh kunci perbendaharaan dunia ini, yang aku akan kekal di dalamnya, kemudian surga, dan pertemuan dengan Tuhanku dan surga." "Wahai engkau yang lebih kukasihi dari ayah dan ibuku," kata Abu Muwayhibah, "ambillah kunci-kunci perbendaharaan itu, baru sesudah itu surga." Namun beliau menjawab. "Aku memilih pertemuan dengan Tuhanku dan surga." Kemudian beliau berdoa memohonkan ampun bagi para penghuni kubur Baqi itu.

Waktu fajar, atau mungkin keesokan harinya, Nabi merasakan sakit kepala yang tidak pernah dialami sebelumnya, tapi beliau tetap pergi ke masjid. Seusai mengimami salat, beliau naik ke mimbar dan mendoakan keselamatan bagi para syuhada Perang Uhud, seolah-olah beliau tengah melakukannya untuk yang terakhir kalinya. Lalu beliau berkata, "Ada seseorang di antara hamba Allah yang diberi pilihan antara dunia ini atau pertemuan dengan-Nya, dan hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya." Saat beliau mengatakan itu, Abu Bakr menangis, karena ia tahu Nabi sedang berbicara tentang dirinya sendiri dan pilihan yang dimaksud adalah kematian. Nabi tahu, Abu Bakr memahaminya dan menyuruhnya untuk tidak menangis. Beliau berkata, "Hai manusia! Orang yang terkasih dalam persahabatan denganku dan paling dermawan tangannya adalah Abu Bakr. Seandainya aku mengambil seorang teman yang tak bisa dipisahkan dari seluruh manusia, pastilah ia Abu Bakr. Tetapi, persahabatan dan persaudaraan dalam iman menjadi milik kita, sampai Allah mempersatukan kita di haribaan-Nya." Pada kesempatan itulah Nabi berkata, melihat sekeliling pintu masuk masiid dari rumah-rumah yang mengitarinya, "Tutuplah pintu-pintu yang mengarah ke masjid. Buatlah dinding, kecuali pintu rumah Abu Bakr." Sebelum meninggalkan mimbar, beliau berkata, "Aku pergi mendahului kalian, dan aku menjadi saksi kalian. Tempat pertemuan kalian denganku adalah di Telaga, yang sesungguhnya dapat kulihat dari tempat aku berdiri saat ini. Aku tidak mengkhawatirkan kalian akan menyembah tuhan lain selain Allah. Akan tetapi, yang kukhawatirkan kalian di dunia ini akan saling berlomba meraih kejayaan duniawi."

Dari masjid, beliau kembali ke rumah Maymunah, yang menjadi gilirannya untuk dikunjungi. Berupaya untuk berpidato bagi para jamaah, ternyata menambah rasa sakitnya. Setelah satu-dua jam, beliau berharap 'Aisyah tahu bahwa dirinya sakit, maka beliau pergi sejenak mengunjunginya. 'Aisyah juga terserang sakit kepala. Ketika beliau masuk ke dalam ruangannya, 'Aisyah merintih. "Oh kepalaku!" "Bukan, 'Aisyah," kata Nabi, "kepalaku yang sakit!" Meskipun demikian, Nabi memerhatikan 'Aisyah dengan saksama seolah mencari tanda sakit yang mengakibatkan kematian pada wajahnya, dan ternyata tidak menemukannya. Beliau berkata, "Aku berharap jika itu terjadi, –maksud beliau kematian 'Aisyah– sementara aku masih hidup, aku akan memohonkan ampun bagimu, memohon keberkahan bagimu, mengafanimu, menyalatimu dan menguburkanmu." 'Aisyah dapat melihat bahwa Nabi sedang sakit dan ia disadarkan oleh nada suaranya. Namun, ia tetap berusaha membuat riang dan berhasil membuat Nabi tersenyum sejenak. Lalu beliau mengulangi, "Bukan, tapi kepalaku," dan beliau kembali ke rumah Maymunah.

Beliau berusaha melakukan apa yang biasa dilakukan sewaktu sehat, dan tetap mengimami salat di masjid seperti biasanya. Namun, penyakitnya kian parah, sampai-sampai beliau hanya mampu salat dalam posisi duduk, dan memerintahkan para jamaah agar juga salat sambil duduk. Saat kembali ke rumah istrinya, beliau bertanya, "Dimana aku besok?" Maymunah menyebutkan nama istri yang akan beliau kunjungi. "Dan dimana esok lusa?" tanyanya. Kembali Maymunah menjawab. Namun, terkejut dengan pertanyaannya, ia menyadari bahwa Nabi tak sabar untuk segera bersama 'A'isyah. Ia mengatakan kepada para istri yang lain agar mereka semua datang kepada Nabi dan berkata, "Hai Rasulullah, kami memberikan jatah waktu kami bersamamu kepada saudara kami, 'Aisyah." Beliau menerima pemberian mereka. Namun, saat ini beliau terlalu lemah untuk berjalan tanpa bantuan. Abbas dan Ali pun membopongnya menuju rumah 'Aisyah.

Banyak kritik yang ditujukan kepada Nabi, karena beliau memilih orang semuda 'Usamah untuk memimpin pasukan penaklukan Syria, dan itulah yang mengakibatkan lemahnya persiapan mereka. Beliau merasa perlu menjawab kritikan tersebut, namun penyakitnya semakin parah. Karena itu, beliau berkata kepada para istrinya, "Kumpulkanlah untukku tujuh air dari sumur yang berbeda agar aku dapat menemui mereka dan memberi mereka nasihat." Hafshah membawakan bak ke ruangan Aisyah dan istri lainnya membawakan bak air, dan Nabi duduk di bak itu ketika yang lain membersihkan tubuhnya dengan air itu. Lalu mereka membantunya mengenakan pakaian dan menutupi kepalanya. Dua orang laki-laki memapah beliau menuju masjid. Di sana beliau duduk di mimbar dan berpidato kepada mereka yang hadir, "Hai manusia, bergegaslah bersama pasukan 'Usamah, karena bila kalian mempertanyakan kepemimpinannya, sama saja kalian mempertanyakan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Ia pantas memimpin, sebagaimana ayahnya pantas untuk itu." Beliau turun dari mimbar dan dipapah kembali ke rumah 'A'isyah. Segala persiapan dipercepat dan Usamah berangkat bersama pasukannya ke Jurf, tempat mereka berkemah sekitar tiga mil sebelah utara Madinah.

Pada azan berikutnya, Nabi merasa tak mampu lagi mengimami sekalipun dengan posisi duduk. Maka, beliau berkata kepada istrinya, "Suruhlah Abu Bakr mengimami salat." Namun, 'A'isyah khawatir hal itu akan membuat Abu Bakr sangat bersedih untuk menggantikan tempat Nabi. "Hai Rasulullah," katanya, "Abu Bakr orang yang sangat perasa, suaranya lemah dan lebih banyak menangis saat membaca Alquran." "Suruh ia mengimami salat," kata Nabi, mengabaikan pernyataan Aisyah. 'Aisyah mencoba lagi, kali ini ia mengusulkan Umar untuk menggantikan tempatnya. "Suruh Abu Bakr untuk mengimami salat," ulangnya. 'Aisyah melemparkan permintaannya kepada Hafshah, yang kini mulai angkat bicara, namun Nabi membuatnya terdiam dengan kata-kata "Kalian seperti para wanita yang mengelilingi Yusuf. Suruh Abu Bakr mengimami salat. Biarkan para pencela tahu kekeliruannya dan biarkan keinginan orang yang ambisius. Allah dan kaum mukmin tidak akan demikian." Beliau mengulangi kalimat terakhirnya sebanyak tiga kali, dan akhirnya Abu Bakr mengimami salat.

Nabi banyak berbaring dipangkuan 'A'isyah. Namun, ketika Fathimah datang. 'Aisyah mengundurkan diri sejenak untuk mempersilakan ayah dan putrinya itu bersama-sama. Pada kunjungan kali ini, Aisyah melihat Nabi membisikkan sesuatu kepada Fathimah hingga putrinya itu menangis. Di sela-sela tangisnya, beliau membisikkan rahasia lainnya dan Fathimah tersenyum. Ketika Fathimah keluar, 'Aisyah menanyakan apa yang dikatakan Nabi kepadanya, dan dijawab bahwa itu rahasia yang tidak boleh diungkapkan kepada orang lain. Namun di kemudian hari, ia menuturkan kepada 'Aisyah, "Nabi mengatakan kepadaku, beliau akan wafat dalam sakitnya ini sehingga aku menangis. Lalu beliau mengatakan, akulah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau, karena itu aku tertawa."

Beliau merasa sakitnya semakin parah. Suatu hari, ketika sakitnya mencapai kondisi terburuk, istrinya Shafiyyah berkata, "Hai Rasulullah, apakah aku akan merasakan seperti yang engkau rasa kan? Para istrinya yang lain saling bertukar pandang dan saling berbisik bahwa perkataan itu munafik. Nabi melihat mereka dan berkata, "Bersihkan mulut kalian." Mereka bertanya kepada beliau mengapa, beliau berkata, "Karena fitnah kalian terhadap saudara kalian ini. Demi Tuhan, ia berkata sejujurnya dengan ikhlas."

Umm Ayman selalu hadir dan senantiasa memberikan informasi kepada anaknya. Usamah memutuskan untuk tidak melanjutkan pejalanan dan tetap berada di baraknya, di Jurf, sampai Allah memutuskan sesuatu. Namun, suatu pagi terdapat kabar bahwa ia datang ke Madinah dan sambil menangis menemui Rasulullah yang hari itu sangat lemah untuk berbicara, meskipun masih sadar sepenuhnya. Usamah merangkul Nabi erat-erat dan menciuminya. Nabi mengangkat tangannya, telapak tangannya di angkat tinggi-tinggi, berdoa, memohon keberkahan dari langit. Lalu beliau memberi isyarat, seolah-olah mempersilakan Usamah pergi. Usamah pun kembali ke baraknya dengan sedih.

Esoknya adalah hari Senin 12 Rabiulawal. tahun ke-8 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi. Paginya, demam panas Nabi menurun. Mendengar adzan, beliau memutuskan untuk pergi ke masjid sekalipun kondisinya masih terlalu lemah. Ketika beliau masuk, salat telah dimulai. Para jamaah hampir saja bubar dari salatnya karena begitu gembira melihatnya. Namun, beliau memberi isyarat agar salat mereka diteruskan. Sejenak beliau berdiri menatap mereka dan wajahnya berseri-seri bahagia karena ketaatan mereka. Lalu masih dengan wajah yang berseri-seri, beliau maju ke depan dibantu oleh Fadhl dan Tsawban, bekas budaknya. "Aku belum pernah melihat wajah Rasulullah setampan saat itu," kata Anas. Abu Bakr sadar apa yang terjadi di belakangnya. Ia tahu hanya ada satu penyebab, dan lelaki yang kini mendekatinya pasti Nabi. Maka tanpa menoleh, ia mundur ke belakang. Tetapi, Nabi mendorong kembali pundaknya agar meneruskan salat jamaah. "Imamilah salat jamaahmu," katanya. Nabi sendiri salat di sebelah kanan Abu Bakr dengan posisi duduk.

Semua bergembira atas kesembuhan Nabi. Tak lama sesudah salat, Usamah datang dari baraknya, mengira Nabi dalam kondisi buruk. Ia begitu gembira melihat kondisi beliau membaik. "Bergeraklah dengan rahmat Allah," seru Nabi. Maka, Usamah mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke Jurf. Di sana ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap melakukan perjalanan ke utara. Pada saat yang sama, Abu Bakr telah pergi ke dataran atas Madinah. Sebelum menikahi Asma, ia telah lama menikah dengan Habibah, putri Kharijah, suku Khazraj, tempat ia tinggal sepuluh tahun yang lalu, saat kedatangannya di oasis itu. Habibah tetap tinggal bersama keluarganya di Sunh, tempat yang kini dikunjungi Abu Bakr.

Nabi kembali ke rumah 'Aisyah dipapah oleh Fadhl dan Tsawban. Ali dan Abbas mengikuti mereka ke sana, namun tidak tinggal lama. Ketika mereka berdua keluar, beberapa orang yang melintas bertanya kepada Ali tentang kondisi Nabi. _"Alhamdulillah,"_ jawab Ali, "beliau baik-baik saja." Namun, setelah para penanya itu berlalu, Abbas memegang tangan Ali dan berkata, "Aku bersumpah, aku melihat tanda kematian di wajah Rasulullah, sama seperti yang kulihat pada wajah orang-orang suku kita. Marilah kita pergi dan bicara dengannya. Jika kewenangannya dilimpahkan kepada kita maka kita harus mengetahuinya; dan jika kepada selain kita, maka kita akan meminta beliau agar mengakui kita di hadapan umat hingga kita diperlakukan dengan baik." Namun Ali menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan melakukannya. Sebab, jika kewenangan tidak diberikan kepada kita, maka kelak tidak ada seorang pun yang akan memberikannya kepada kita."

Nabi kini kembali ke tempat tidurnya dan berbaring di pangkuan Aisyah. Sepertinya, segenap kekuatannya telah melemah. Saat saudaranya, Abd al-Rahman, masuk ke dalam kamar sambil membawa siwak, 'A'isyah melihat Nabi menatap benda itu karena menginginkannya. Maka, ia ambil siwak itu dari saudaranya, lalu dibersihkan dan diberikan kepada Nabi. Beliau pun menyikat gigi nya dengan cekatan sekalipun kondisinya masih lemah.

Tak lama sesudah itu, kesadarannya hilang. 'A'isyah mengira beliau tengah sekarat. Akan tetapi, sejam kemudian, beliau membuka matanya. 'Aisyah ingat bahwa beliau pernah berkata "Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya sebelum ia ditunjukkan tempatnya di surga dan diberikan pilihan: ingin hidup atau mati". 'Aisyah pun mengerti bahwa itulah yang tengah terjadi. Nabi telah kembali dengan memiliki gambaran tentang alam akhirat. "Kali ini beliau tidak akan memilih kita!" katanya kepada dirinya sendiri. Lantas ia mendengar Nabi bergumam, "Dengan keutamaan penduduk surga, _mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para suhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang paling baik_ (Q.S. 4: 69). Ia mendengar Nabi kembali bergumam, "Ya Allah, bersama teman yang paling baik." Dan inilah kalimat terakhir yang ia dengar dari ucapan Nabi. Kepalanya berangsur-angsur bertambah berat di pangkuan 'Aisyah, hingga para istrinya yang lain menangis. 'A'isyah membaringkan kepala Nabi di atas bantal dan bergabung dengan mereka, menangis bersama-sama.

*#135#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

Kisah Rasul bagian 82

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣2⃣ *HAJI PERPISAHAN*
_______________________

KETIKA berada di Madinah selama bulan Ramadan, Nabi dan para sahabat biasanya beriktikaf di masjid selama sepuluh hari pertengahan bulan. Namun pada tahun ini, setelah sepuluh hari tersebut, beliau mengajak para sahabatnya untuk terus beriktikaf selama sepuluh hari lagi hingga akhir bulan. Setiap tahun di bulan Ramadan, Jibril datang menemui Nabi untuk memastikan bahwa wahyu-wahyu yang telah diturunkan sedikit pun tak ada yang luput dari ingatan Nabi. Tahun ini, setelah iktikaf, Nabi mengungkapkan suatu rahasia kepada Fathimah, yang belum boleh diceritakan kepada orang lain, "Jibril membacakan Alquran kepadaku dan aku membacakan kepadanya sekali setahun; tapi tahun ini, ia membacakannya dua kali. Aku menduga, waktuku telah tiba".

Bulan Syawal berlalu. Pada bulan kesebelas diumumkan di seluruh Madinah bahwa Nabi sendiri yang akan memimpin jamaah haji. Berita ini disebarkan ke berbagai suku di padang pasir, dan orang datang berbondong-bondong ke oasis itu dari segala penjuru. Dalam setiap langkahnya, mereka bergembira mendapat kesempatan berhaji bersama Nabi. Ibadah haji kali ini berbeda dengan yang dilakukan beratus-ratus tahun silam: seluruh jamaah akan menyembah hanya pada satu Tuhan, dan tidak ada lagi para penyembah berhala yang akan mencemari Rumah Suci dengan mengadakan ritus- ritus kemusyrikan. Lima hari sebelum akhir bulan, Nabi keluar dari Madinah memimpin 30.000 lelaki dan perempuan. Para istri turut serta, masing-masing di dalam hawdahnya, ditemani oleh Abd al-Rahman ibn Awf dan 'Utsman ibn Affan. Abu Bakr ditemani istrinya, Asma'. Di salah satu tempat pemberhentian, istrinya melahirkan seorang anak yang diberi nama Muhammad. Abu Bakr hendak mengirimnya pulang ke Madinah, tapi Nabi memberi tahu Abu Bakr agar istrinya disuruh melakukan mandi hadas besar, kemudian bersuci untuk melakukan ibadah haji, dan pergi bersama mereka seperti yang telah direncanakan.

Saat matahari terbenam pada hari kesepuluh sejak meninggalkan Madinah, Nabi sampai di jalan yang beliau lintasi saat memasuki Mekah pada Hari Kemenangan. Di sanalah beliau bermalam, dan paginya beliau menuruni lembah. Ketika sampai di dekat Ka'bah, beliau mengangkat tangannya, berdoa hingga tali pelana untanya jatuh, yang kemudian beliau ambil kembali dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap menengadah dan berdoa, "Ya Allah, tambahkanlah pada Rumah Suci-Mu ini kemuliaan, keagungan, kemakmuran, dan kehormatan serta ketaatan bagi manusia!" Beliau memasuki masjid dan bertawaf di Ka'bah tujuh kali, lalu salat di makam Ibrahim. Kemudian beliau pergi ke Shafa, berlari-lari kecil tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Orang-orang yang bersamanya merekam baik-baik dalam ingatan mereka pelbagai bacaan pujian dan doa yang beliau lantunkan di setiap tempat.

Kembali ke masjid, beliau kini memasuki Ka'bah bersama penjaganya, "Utsman dari Abd al-Dar, juga disertai Bilal dan Usamah. Namun, sore harinya, di saat menemui Aisyah di tendanya, beliau tampak bersedih dan Aisyah menanyakannya. "Aku telah melakukan sesuatu hari ini," kata beliau "yang tidak akan kaulakukan. Aku memasuki Rumah Suci; dan mungkin umatku tidak akan dapat memasukinya –beliau maksudkan pada tahun-tahun mendatang. Kita hanya diperintahkan untuk mengitarinya, tidak diperintahkan untuk memasukinya."

Nabi menolak setiap permintaan untuk mampir di rumah mana pun di Mekah, kecuali di rumah Umm Hani'. Pada hari kedelapan bulan baru itu, beliau pergi ke lembah Mina, diikuti oleh para jamaah. Setelah bermalam di sana, besoknya beliau berangkat ke Arafah: sebuah lembah luas, tiga puluh mil di sebelah timur Mekah, di luar perbatasan Tanah Suci. 'Arafah terletak di jalan menuju Tha'if dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh perbukitan Tha'if. Namun, terpisah dari tempat ini –sekitarnya dikelilingi lembah– ada sebuah bukit yang juga diberi nama Arafah atau Jabal Rahmah. Arafah adalah bagian utama dari lokasi ibadah haji; dan hari itu Nabi berpidato di bukit tersebut.

Beberapa penduduk Mekah tampak heran melihat Nabi pergi sejauh itu. Sementara jamaah lainnya terus ke Arafah, orang-orang Quraisy terbiasa tetap di dalam Tanah Suci, mereka berkata, "Kami adalah umat Tuhan." Namun, beliau menjelaskan bahwa Ibrahim menjadikan hari Arafah sebagai bagian terpenting dari ibadah haji, dan Quraisy telah mengabaikan pelaksanaannya. Nabi menegaskan pula bahwa hari Arafah adalah ritus haji masa dahulu. dan kata-kata "napak tilas Ibrahim" sering kali beliau ucapkan.

Untuk mengingatkan seluruh suku-suku itu bahwa mulai saat ini semua pertumpahan darah di seluruh komunitas Islam telah berakhir dan hidup dan harta setiap orang itu suci beliau menunjuk Rabi'ah –saudara Shafwan, yang memiliki suara lantang– untuk mengumumkan: "Rasulullah berkata, 'Tahukah kalian, bulan apa sekarang?' Mereka terdiam, dan ia menjawab, 'Bulan suci.' Lalu beliau bertanya, 'Tahukah kalian, tanah apakah ini?' Kembali mereka terdiam dan ia menjawab, 'Tanah suci,' Lalu beliau berkata, 'Tahukah kalian, hari apakah ini?' Kembali ia yang menjawab. 'Hari haji besar,'" Lalu, ia mengumumkan sesuai dengan instruksi Nabi, "Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci antar satu sama lain, hingga kalian menemui Tuhanmu, sebagaimana sucinya hari ini, tanah ini, dan bulan ini."

Ketika matahari terbenam, Nabi berpidato yang dimulai –sesudah memuji Tuhan–  dengan kata-kata, "Hai manusia! Simaklah baik-baik apa yang hendak kukatakan, karena aku tidak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini". Kemudian beliau menasihati mereka agar memperlakukan satu sama lain dengan baik, dan mengingatkan mereka apa yang diperintahkan dan dilarang. Akhirnya, belau berkata, "Aku tinggalkan untuk kalian dua petunjuk yang jelas jika kalian berpegang teguh padanya, maka akan terhindar dari semua kesalahan. Keduanya adalah Kitab Allah dan sunnahku. Hai umatku, dengarkanlah kata-kataku dan pahamilah." Beliau lalu membacakan sebuah ayat yang baru saja diterima. Ayat itu menyempurnakan Alquran, karena merupakan ayat yang turun terakhir:

_Pada hari ini, kaum kafir telah berputus asa untuk mengalahkan agamamu, maka janganlah kalian takut pada mereka, melainkan takutlah pada-Ku! Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agamamu_ (Q.S. 5:3).

Beliau mengakhiri pidato singkatnya dengan sebuah pertanyaan penting, "Hai manusia, bukankah risalah Tuhanku telah kusampaikan kepada kalian?" Jawaban serentak terdengar dari ribuan yang hadir, "Ya Allah, ya!" Kata-kata _Allahumma na'am_ bergemuruh meliputi lembah. Nabi mengangkat telunjuknya dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah!"

Kemudian, mereka mendirikan salat. Sisa hari Arafah diisi dengan beriktikaf. Namun, begitu matahari terbit, Nabi menaiki untanya dan menyuruh Usamah membonceng di belakangnya. Beliau menuruni bukit dan melintasi lembah menuju Mekah, diikuti oleh para jamaah. Sudah menjadi tradisi untuk memacu kendaraan dengan cepat pada bagian ini, namun pada perbatasan pertama beliau berteriak, "Pelan-pelanlah, pelan-pelanlah! Dengan ketenangan jiwa! Biarkanlah yang terkuat di antara kalian melindungi yang lemah!" Mereka bermalam di Muzdalifah, yang berada di kawasan Tanah Suci. Di sana mereka mengumpulkan batu-batu kerikil untuk melempar setan, yang disimbolkan dengan tiga pilar di Aqabah, di lembah Mina. Sawdah meminta izin kepada Nabi untuk meninggalkan Muzdalifah sebentar. Mengingat tubuhnya yang besar dan lebih gemuk dari rata-rata wanita lainnya, ia berkeringat banyak dan merasa kelelahan selama perjalanan, dan ia cemas untuk melaksanakan ritual melempar jumrah sebelum gelombang jamaah lain tiba. Maka, beliau mengirimnya ke barisan terdepan, ditemani oleh Umm Sulaym, dikawal oleh Abd Allah, salah seorang putra Abbas.

Nabi sendiri salat subuh di Muzdalifah, kemudian memimpim jamaah haji di Aqabah, bersama Fadhl yang duduk di belakangnya. Di tempat inilah, persis pada hari yang sama dua belas tahun lalu beliau bertemu dengan enam orang suku Khazraj yang menyatakan keislamannya, lalu menyiapkan jalan bagi Perjanjian Aqabah Pertama dan Kedua. Setelah melempar jumrah dan menyembelih hewan-hewan kurban, Nabi menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya. Para Jamaah mengerumuni beliau, berharap mendapatkan beberapa helai rambutnya. Abu Bakr kemudian menuturkan perbedaan antara Khalid saat di Uhud dan parit dengan Khalid yang kini berkata, "Hai Rasulullah! Rambut di ubun-ubunmu, jangan kau berikan kepada orang lain, selain kepadaku, ayah dan ibuku menjadi tebusannya!" Ketika Nabi memberikan rambut itu kepadanya. ia lekatkan dengan takzim ke mata dan bibirnya.

Nabi kini mengajak para jamaah berkunjung ke Ka'bah dan kembali bermalam di Mina hingga dua malam berikutnya. Beliau sendiri menunggu hingga sore hari. Kemudian, beliau pergi ke Mekah ditemani semua istrinya, kecuali Aisyah, yang sedang tidak suci untuk beribadah. Beberapa hari berikutnya, beliau segera mengirimnya keluar dari Tanah Suci, dikawal oleh saudaranya, Abd al- Rahmin. Di sana. 'Aisyah bersuci dan pergi ke Mekah, lalu bertawaf di Ka'bah.

Seusai penaklukan di Yaman, tiga ratus pasukan berkuda yang diutus Nabi keluar di bulan Ramadan kini telah mendekati Mekah dari arah selatan. Ali berada di depan pasukannya, ingin sekali bertemu Nabi selekas mungkin dan melaksanakan ibadah haji bersama beliau, yang kini telah dilaksanakan. Di antara seperlima bagian yang ditetapkan dari harta rampasan perang terdapat baju yang cukup bagi seluruh pasukan. Namun, Ali tak mau menyentuhnya sebelum diserahkan terlebih dahulu kepada Nabi. Pada saat ia tidak ada, orang yang diserahi tanggung jawab untuk menjaganya dibujuk agar meminjamkan setiap orang satu baju untuk ganti pakaian. Baju ganti itu sangat dibutuhkan karena mereka telah jauh dari rumah hampir tiga bulan. Ketika mereka dekat gerbang kota, Ali menemui mereka dan terkejut melihat apa yang telah terjadi. "Aku telah memberi mereka baju," kata penanggung jawab itu, "agar saat masuk kota, penampilan mereka tampak lebih pantas di tengah penduduk." Semua orang tahu bahwa untuk menghormati peristiwa besar itu, setiap orang di Mekah akan mengenakan pakaian terbaiknya dan mereka berharap dapat menunjukkan penampilan terbaik. Namun, Ali tidak setuju dan mereka disuruh mengenakan baju lamanya dan mengembalikan baju yang baru. Seluruh anggota pasukan pun merasa dongkol. Ketika Nabi mendengar hal itu, beliau berkata, "Hai umatku, janganlah menyalahkan Ali, karena ia terlalu hati-hati di jalan Allah." Namun kata-kata itu tidaklah cukup, atau barangkali hanya sedikit yang mendengarnya, sehingga kemarahan mereka pun tetap berlanjut.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, salah seorang anggota pasukan dengan keras mengeluhkan perilaku Ali kepada Nabi hingga raut wajahnya berubah. "Tidakkah aku lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri? tegasnya. Ketika orang itu mengiyakan, beliau menambahkan, "Barang siapa yang dekat denganku, maka juga dekat kepada Ali." Dalam perjalanan berikutnya, saat mereka berhenti di Ghadir al-Khumm semua orang dikumpulkan bersama. Belau memegang tangan Ali, mengulangi kata-kata tersebut dan berdoa, "Ya Allah, jadikanlah sahabat-Mu siapa saja yang menjadi sahabatnya, dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya." Keluhan terhadap 'Ali pun berhenti.

Salah satu deputasi pada tahun lalu berasal dari kaum Kristen Yamamah, Bani Hanifah, yang wilayahnya terbentang sepanjang perbatasan timur Najd. Mereka sepakat untuk masuk Islam. Namun, kini salah seorang dari mereka, bernama Musaylimah, mengklaim dirinya sebagai seorang nabi. Tidak lama seusai kembalinya para jamaah dari Mekah, datang surat yang dibawa ke Madinah oleh dua orang utusan dari Yamamah: "Dari Musaylimah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah, keselamatan atasmu! Telah ditentukan kepadaku pembagian kekuasaan denganmu. Sebagian tanah ini milik kami, sebagiannya lagi milik Quraisy, meskipun mereka telah masuk Islam." Nabi bertanya kepada utusan itu, apa pendapat mereka tentang surat itu. Mereka menjawab, "Kami sependapat dengannya." "Demi Tuhan," kata Nabi, "seandainya seorang utusan boleh di bunuh, akan kupenggal kepalamu." Beliau kemudian mendiktekan sepucuk surat kepada mereka untuk diberikan kepada tuannya :

```Dari Muhammad Rasulullah kepada Musaylimah si pembohong. Keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk! Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dialah yang berkuasa memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-Nya; dan keputusan akhir adalah kemenangan bagi orang-orang yang taat.```

Waktu itu ada dua orang lagi yang mengaku nabi, Thulayhah kepala Bani Asad, dan Aswad ibn Ka'b dari Yaman. Orang Yaman meraih kesuksesan dalam waktu yang singkat dan cepat menguasai wilayah yang luas, namun kebanggaannya segera berbalik karena ditentang banyak pengikutnya; dan setelah beberapa bulan, ia di bantai. Thulayhah akhirnya dikalahkan oleh Khalid. Dengan menarik kembali berbagai klaimnya, ia menjadi kekuatan bagi lslam. Sedangkan Musaylimah, akhirnya ditusuk Wahsyi dengan tombaknya, dan ditikam Abd Allah, putra Nusaybah, dengan pedangnya. Namun, kekalahan ini terjadi beberapa bulan kemudian. Pada saat itu, seiring dengan habisnya bulan haji dan mulai masuk tahun ke 8 Hijriah, semua pembohong pengaku nabi itu berpotensi membahayakan bagi Islam. Terdapat pula seorang wanita dari Tamim, bernama sajah, yang mengaku dirinya sebagai nabi. Namun, Nabi tidak segera mengambil tindakan terhadap seorang pun dari mereka. Perhatian beliau tertuju ke arah utara. Pada hari-hari terakhir bulan Safar, bulan kedua di tahun itu, bertepatan dengan akhir Mei 632 M, beliau memutuskan bahwa telah tiba waktunya untuk membalas kekalahan perang Mu'tah. Setelah memerintahkan untuk melakukan persiapan perang melawan suku-suku Arab Syria yang telah berpihak kepada pasukan kerajaan pada hari terbunuhnya Zayd dan Ja'far, beliau memanggil anak Zayd, Usamah, untuk menghadapnya. Meskipun masih muda, ia diangkat sebagai panglima pasukan sejumlah tiga ribu orang.

*#133#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

Kisah Rasul bagian 81

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣1⃣ *MASA DEPAN*
_______________________

NABI berkata, "Umatku yang terbaik adalah generasiku; lalu orang orang yang datang sesudah mereka; kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka". Beliau bergembira dengan keutamaan generasinya, yang beliau anggap sebagai para sahabatnya. Sepuluh orang sahabat yang suatu ketika berkunjung kepadanya, dijamin masuk surga. Mereka itu adalah Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, Abd al-Rahman ibn Awf. Abu 'Ubaydah, Thalhah, Zubayr, Sa'd al-Zuhrah, dan Sa'id putra Zayd yang _hanif_. Beliau juga menjamin sebagian mereka sebelumnya. Kitab² hadis merekam pujian beliau terhadap "sepuluh orang yang dijamin itu" dan kepada sahabat lainnya yang diberi kabar gembira akan masuk surga, seperti saat beliau berkata, "Ketiga orang itu akan mendapatkan surga: 'Ali, Ammar dan Salman". Beliau berkata kepada Fathimah, "Engkau wanita terbaik di antara penduduk surga, selain Siti Maryam, putri Imran." Secara umum beliau berkata, "Sahabat-sahabatku laksana bintang gemintang: siapa pun di antara mereka kalian ikuti, kalian akan mendapat petunjuk yang benar."

Saat kaum muslim pulang dari Tabuk, mereka mengatakan di antara mereka sendiri bahwa hari-hari peperangan akan segera berakhir. Ide ini diperkuat oleh datangnya berbagai delegasi, terus- menerus selama sepuluh tahun, sehingga beberapa orang mukmin mulai menjual senjata dan perlengkapan perang mereka. Namun, ketika hal ini didengar oleh Nabi, beliau melarangnya, "Umatku tidak akan berhenti berjuang demi kebenaran hingga munculnya Dajal." Beliau juga berkata, "Jika kalian mengetahui apa yang kuketahui, kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis," dan "Tidak ada waktu yang datang kepadamu melainkan terjadi sesuatu yang lebih buruk." Beliau mengingatkan mereka bahwa umatnya akan mengikuti orang-orang Yahudi dan Kristen pada jalan kehancuran: "Kalian akan mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, hingga jika mereka masuk ke dalam lubang binatang berbisa, kalian akan mengikuti mereka juga." Dan berbicara tentang tingkat kemerosotan terendah yang akan terjadi dalam peradaban manusia sebelum hari akhir tiba, beliau berkata, "Islam datang sebagai agama yang asing dan kelak akan kembali terasing." Namun demikian, beliau memberi harapan bahwa Tuhan tidak akan mengabaikan mereka, "Allah akan mengutus bagi umat ini, pada permulaan setiap seratus tahun, seorang yang akan memperbarui agama mereka." Pada kesempatan lain, para sahabat mendengar Nabi berkali-kali berkata, "Hai saudaraku!" Mereka bertanya, "Hai Rasulullah, bukankah kami saudara-saudaramu?" Beliau menjawab, "Kalian sahabatku. Saudaraku adalah generasi yang belum datang" –dalam versi lain– "orang-orang yang akan datang pada hari-hari akhir." Cara beliau berbicara menegaskan bahwa beliau menunjuk kepada orang-orang yang teguh imannya.

Beliau juga meramalkan –kendatipun pada hari-hari akhir berbagai kejahatan merejalela– akan muncul seorang khalifah, yang disebut al-Mahdi (orang yang diberi petunjuk), "Al-Mahdi akan muncul dari keluargaku. Dahinya lebar dan hidungnya laksana paruh burung elang. Ia akan memenuhi bumi dengan kebaikan dan keadilan, biarpun telah dipenuhi kebatilan dan kezaliman. Ia akan berkuasa selama tujuh tahun."

Namun akhirnya, menjelang akhir kekuasaannya atau setelah itu, Dajal akan muncul, "seorang lelaki yang buta mata kanannya, seluruh putih matanya hilang, bahkan seperti sebuah anggur," dan "ia akan menyebarkan banyak kerusakan di muka bumi. Dengan kekuatannya yang menakjubkan, ia akan memiliki banyak pengikut. Namun, akan ada sekelompok orang beriman yang akan berjuang melawannya." "Ketika mereka terpaksa untuk berperang," kata Nabi, "saat mereka merapatkan barisan untuk salat, 'Isa putra Maryam akan turun dan mengimami salat mereka. Dan musuh Tuhan, ketika ia melihat 'Isa, akan meleleh bagaikan garam yang larut dalam air. Jika ia dibiarkan dalam keadaan demikian, maka ia akan menemui kematiannya; namun Allah akan membunuhnya melalui tangan 'Isa, yang darah di pedangnya akan ditunjukkan kepada mereka."

Beliau juga berbicara mengenai tanda-tanda hari akhir akan segera tiba. Salah satu tandanya yang beliau sebut adalah dibangunnya gedung-gedung pencakar langit oleh manusia. Ramalan tersebut diceritakan pada suatu kesempatan yang dicatat lebih utuh dalam hadis riwayat putra Umar, Abd Allah, yang diriwayatkan dari ayahnya. Umar berkata:

```Suatu hari, ketika kami tengah duduk bersama Rasulullah, datanglah kepada kami seseorang yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Jejaknya tidak kelihatan dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Dia duduk bersebelahan dengan Nabi. Sambil meletakkan telapak tangannya pada tangan Nabi, ia berkata, "Hai Muhammad, terangkanlah padaku apa itu Islam." Rasulullah menjawab, "Islam adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan melakukan ibadah haji ke tanah suci jika mampu." Orang itu berkata: "Engkau benar!" Kami heran karena ia yang bertanya dan ia pula yang membenarkan. Lalu ia bertanya lagi, "Teranganlah padaku apa itu iman". Rasulullah menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan pada hari akhir. Juga percaya pada takdir baik dan buruk." "Engkau berkata benar," katanya. "Teranganlah kepadaku apa itu _ihsan_". Nabi menjawab, "Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu." "Engkau berkata benar," katanya. "Jelaskan padaku tentang hari kiamat." "Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya," jawab Nabi. Ia berkata, "Kalau demikian, ceritakan padaku tanda-tandanya." Nabi menjawab, "Jika budak perempuan melahirkan anak majikannya, dan orang-orang yang dahulu bertelanjang kaki dan miskin membangun gedung-gedung pencakar langit." Lalu orang asing itu pun pergi, dan Nabi berkata kepadaku, "Hai 'Umar, tahukah engkau siapa penanya tadi?" Aku menjawab, "Allah dan Rasulnya lebih tahu." Beliau berkata, "Ia adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."```

*#131#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

Friday, May 15, 2020

Kisah Rasul bagian 80

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣0⃣ *SESUDAH TABUK*
_______________________

SEPERTI saat kembali dari Badr, kembalinya Nabi dari Tabuk diliputi kesedihan. Putri Nabi yang lain, Umm Kultsum, telah meninggal ketika Nabi, juga suaminya, sedang tidak ada. Nabi berdoa di makamnya dan berkata kepada 'Utsman bahwa seandainya beliau masih memiliki putri lain yang belum menikah, akan beliau nikahkan dengannya.

Orang-orang munafik yang tidak ikut dalam ekspedisi itu, kini menghadap Nabi dan meminta maaf. Beliau menerima mereka meski tetap mengingatkan bahwa Allah tahu apa yang disembunyikan dalam hati mereka. Namun, terhadap tiga orang mukmin yang tidak ikut peperangan itu, Nabi mengusir mereka sampai Allah memutuskan perkaranya. Beliau juga memerintahkan semua orang agar tidak berbicara dengan mereka. Selama lima puluh hari, mereka hidup sebagai orang buangan. Tetapi, setelah salat subuh pada hari yang kelima puluh, Nabi mengumumkan di masjid bahwa Tuhan telah mengampuni mereka. Wahyu yang baru turun berkata:

_Dan tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga bumi menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada- Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka kembali. Sesungguhnya Allah Maha penerima tobat lagi Maha Penyayang (Q.S. 9: 118)._

Jamaah pun bergembira dan banyak dari mereka langsung keluar dari masjid untuk menyampaikan berita gembira itu kepada ketiga orang tersebut. Yang termuda di antara mereka, Ka'b ibn Malik, telah membuat tenda sendirian di luar kota. Beberapa tahun kemudian, Ka'b menuturkan bahwa ia mendengar derap kuda berlari kencang menujunya dan suara berteriak, "kabar baik, Ka'b," sehingga ia bersimpuh di hadapan Allah. Sebab, selama di sana tidak ada berita yang baik selain itu. Kemudian, ia pergi ke masjid. "Ketika mengucapkan salam kepada Nabi," katanya, "wajahnya berseri-seri bahagia dan berkata, 'Berbahagialah di hari terbaik sejak engkau dilahirkan ibumu.' Aku bertanya, 'Apakah itu berasal darimu, hai Rasulullah, atau dari Allah?' 'Tidak, itu dari Allah,' jawabnya. Ketika Rasulullah gembira karena berita ini, wajahnya sangat cerah laksana rembulan'".

Sejak masuk Islam, Malik, pemimpin Hawazin, tidak pernah bersikap malas. Bani Tsaqif mungkin masih membanggakan diri mereka karena mampu mempertahankan Thaif. Namun, sekarang mereka telah dikepung oleh kaum muslim dari semua penjuru, dan setiap kabilah yang mereka utus keluar dapat diserang dan dirampas Bahkan, mereka tidak dapat menggembala unta dan domba ke padang rumput tanpa risiko akan dirampas oleh orang-orang Malik. Malik telah mengumumkan bahwa setiap orang Tsaqif yang tertangkap akan dibunuh, kecuali jika bersedia melepaskan keyakinan politeismenya. Setelah beberapa bulan, mereka memutuskan, tidak punya pilihan selain mengutus delegasi kepada Nabi, menyatakan bahwa mereka menerima Islam, dan membuat penjanjian yang menjamin keamanan rakyat, hewan ternak, dan tanah mereka.

Kaum muslim pulang dari Tabuk pada awal Ramadan. Pada bulan yang sama, delegasi dari Tha'if tiba. Mereka disambut dengan ramah dan sebuah tenda untuk mereka dipasang tak jauh dari masjid. Sebuah ketentuan menyusul bahwa jika mereka masuk Islam, wilayah mereka akan berada di bawah perlindungan negara Islam. Namun, Nabi tidak setuju terhadap permintaan mereka yang kedua. Mereka meminta beliau agar membiarkan berhala al-Lat tidak dirusak selama tiga tahun. Ketika beliau menolak, mereka meminta dua tahun, lalu satu tahun, sampai akhirnya mereka mengurangi permintaannya hingga satu bulan, yang juga ditolak. Kemudian, mereka meminta agar jangan mereka sendiri yang menghancurkan berhala mereka itu dan memberi mereka keringanan untuk tidak salat. Beliau bersikeras bahwa mereka harus salat, "Tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada salatnya." Namun, beliau setuju berhala mereka tidak akan dihancurkan oleh tangan mereka sendiri. Beliau memerintahkan Mughirah, keponakan 'Urwah, agar pergi bersama delegasi untuk menghancurkan al-Lat. Mughirah dibantu Abu Sufyan dari Mekah.

Setelah masuk Islam, delegasi itu sebagian berpuasa Ramadan di Madinah, kemudian kembali ke Tha'if. Abu Sufyan bergabung dengan suatu kelompok di Mekah, maka Mughirah menghancurkan berhala sendirian. Sukunya mengambil langkah-langkah untuk melindunginya, karena khawatir ia akan bernasib seperti 'Urwah. Namun, tidak ada seorang pun yang berusaha untuk membalas dendam, meskipun banyak kutukan dari sejumlah wanita yang meratapi kehilangan berhala itu.

Dua orang yang paling berduka atas penaklukan kota bukanlah warga setempat ataupun penyembah berhala. Ketika Nabi berangkat ke Mekah, Abu Amir, ayah Hanzhalah, dan Wahsyi, sang pelempar tombak itu, telah melarikan diri ke Thaif, daerah yang dikira tak dapat ditaklukkan. Namun, sekarang –setelah Tha'if menyerah– kemana lagi mereka dapat melarikan diri? Abu Amir pergi ke Syria, dan di sanalah ia meninggal dunia, "seorang pelarian, kesepian dan gelandangan seperti kutukan yang tidak disangka menimpa dirinya sendiri. Wahsyi masih ragu-ragu, ke mana ia akan pergi ketika seorang Tsaqif meyakinkannya bahwa Nabi tidak akan membunuh orang yang masuk Islam. Maka, ia pergi ke Madinah, menghadap Nabi, dan bersyahadat. Waktu itu salah seorang mukmin yang hadir mengenali pembunuh Hamzah itu dan berkata, "Hai Rasulullah Wahsyi inilah yang membunuh Hamzah." "Biarkanlah ia," kata Nabi, "karena keislaman seseorang lebih aku sukai daripada membunuh seribu orang kafir." Mata Nabi menatap si wajah hitam di hadapannya. "Apakah engkau benar-benar Wahsyi?" tanya beliau. Ketika lelaki itu mengiyakan, beliau menambahkan, "Duduklah, dan ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah." Ketika budak itu selesai bercerita, Nabi berkata, "Celaka, pergilah engkau dariku, jangan sampai aku melihatmu lagi!"

Sedangkan sepupu Abu Amir, Ibn Ubayy, sebulan sesudah Tabuk, ia menderita sakit keras; beberapa minggu kemudian meninggal dunia. Memang terdapat riwayat yang berbeda tentang kematiannya, karena ia dikenal munafik. Namun, semua sepakat bahwa Nabi menyalatkannya dan berdoa di samping makamnya setelah dikuburkan. Menurut salah satu hadis, ketika Nabi telah berdiri hendak berdoa, 'Umar memprotesnya karena beliau memberikan kehormatan semacam itu terhadap seorang munafik. Tetapi, Nabi menjawab dengan senyum, "Berdirilah di belakangku, hai Umar! Aku diberi pilihan dan aku telah memilih. Telah dikatakan kepada- ku, _'maafkanlah mereka atau sama sekali tidak; meskipun engkau memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka'_ (Q.S. 9: 80). Dan aku tahu, Allah akan mengampuninya jika aku berdoa lebih dari tujuh puluh kali, maka aku akan menambah jumlah doaku." Lalu beliau memimpin salat, mengiringi jenazah ke tempat pemakaman, dan berdiri di samping makamnya. Tak lama sesudahnya, turun ayat berkaitan dengan orang-orang munafik:

_Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik._ (QS. 9: 84)

Namun demikian, menurut hadis yang lain, ayat ini telah di turunkan sebagai bagian dari wahyu yang datang segera setelah kaum muslim kembali dari tabuk. Ayat itu juga tidak dapat diberlakukan terhadap Ibn Ubayy, karena saat Nabi menjenguknya ketika ia sakit, beliau melihat _sakrat al-mawt_ telah mengubahnya. Ia meminta Nabi agar jubah beliau diberikan kepadanya untuk kain kafan, untuk menemani jasadnya di dalam kubur, dan Nabi memberikannya. Pada saat itu, ia berkata, "Hai Rasulullah! Aku berharap engkau mau berdoa di samping kuburku dan memohonkan ampun atas dosa-dosaku." Nabi kembali mengiyakan. Setelah Ibn Ubayy meninggal, beliau menunaikan janjinya. Putra Ibn Ubayy, Abd Allah, hadir pada semua peristiwa itu.

Tidak hanya Tsaqif yang mengirim utusan kepada Nabi. Pada tahun "perutusan" ini –tahun ke-9 Hijriah– banyak utusan lain datang ke Madinah dari seluruh penjuru Arab. Di antaranya berasal dari pelbagai daerah di Yaman, termasuk surat dari empat pangeran Himyar yang menyatakan bahwa mereka menerima Islam dan menolak politeisme. Nabi membalasnya dengan hangat. Beliau menekankan berbagai kewajiban dalam Islam dan meminta mereka agar memperlakukan para utusannya dengan baik. Para utusan itu akan beliau kirim untuk mengumpulkan zakat atas kaum muslim, Kristen dan yahudi. Khusus orang Yahudi atau Kristen yang tetap memeluk agamanya, mereka tidak akan diganggu, namun harus membayar pajak. Dengan demikian, mereka akan mendapat perlindungan dari Tuhan dan Rasul-Nya." Ayat-ayat terakhir yang berkaitan dengan perbedaan agama menegaskan:

_Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja... maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan apa yang telah kamu perselisihkan itu_ (Q.S. 5: 48).

Tidak semua utusan itu datang dengan tulus. 'Amir ibn Thufayl--orang yang bertanggungjawab atas pembantaian di sumur ma'unah dan sekarang pimpinan Bani Amir –datang ke Madinah karena dipaksa warga sukunya. Ia sendiri kasar dan sangat sombong. Ketika masuk Islam, ia meminta Nabi agar ditunjuk sebagai pengganti beliau. "Itu bukanlah untukmu, juga bukan untuk kaummu," sahut Nabi. "Kalau begitu, serahkan padaku para penghuni tenda itu dan jadikan aku pengawalmu untuk orang-orang desa," kata Amir. "Tidak juga itu," kata Nabi, "tapi akan kuserahkan tali kekang kuda perang kepadamu, karena engkau penunggang kuda yang handal." Itu tidaklah cukup bagi kepala suku Badui itu. "Apakah aku tidak mendapatkan apa-apa?," katanya melengos pergi, "akan kupenuhi seluruh daratan ini dengan pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk menyerangmu." Setelah ia pergi, Nabi berdoa, "Ya Allah, tunjukilah Bani Amir, dan selamatkanlah Islam dari Amir ibn Thufayl." Amir terserang infeksi dan mati sebelum sampai ke rumahnya. Sukunya mengirim delegasi yang lain; dan suatu perjanjian akhirnya disepakati. Penyair Labid menjadi salah satu dari delegasi itu, dan sekarang ia masuk Islam. Ia dilaporkan sudah berniat akan berhenti menjadi penyair. "Sebagai gantinya, Tuhan telah memberiku Al-quran," tuturnya. Ia tidak lagi menggubah syair-syair hingga meninggal dunia, dan digantikan dengan pengabdian kepada agamanya.

Waktu pelaksanaan haji hampir tiba. Nabi menunjuk Abu Bakr sebagai wakilnya. Abu Bakr berangkat dari Madinah bersama tiga ratus orang. Namun, tak lama setelah keberangkatan, turunlah wahyu penting bahwa seluruh jamaah haji, baik muslim maupun musyrik, harus mendengarnya. "Tidak ada yang akan menjadi perantaraku kecuali seseorang dari ahli baitku," kata Nabi. Beliau menyuruh 'Ali agar segera menyusul jamaah. Beliau membacakan ayat-ayat yang diturunkan di lembah Mina, dan juga menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun sesudah tahun ini yang diperbolehkan tawaf di Ka'bah dengan telanjang. Tahun ini adalah kesempatan terakhir bagi kaum musyrik.

Ketika Ali menyusul para jamaah yang lain, Abu Bakr bertanya, apakah ia datang untuk memimpin ekspedisi itu; namun ia menjawab, dirinya berada di bawah perintah Abu Bakr. Maka, mereka berangkat bersama-sama. Abu Bakr mengimami salat dan memberi khotbah. Pada hari raya, saat seluruh jamaah haji berkumpul di Mina untuk menyembelih hewan kurban mereka, 'Ali mengumumkan pesan Tuhan. Inti pesan itu menyatakan bahwa kaum musyrik diberi waktu selama empat bulan untuk datang dan pergi sesuka mereka dengan aman. Namun, setelah itu, Allah dan Rasul-Nya akan lepas kewajiban terhadap mereka. Perang dinyatakan terhadap mereka, dan mereka akan dibunuh atau ditawan di mana saja mereka berada. Dua pengecualian dibuat: terhadap kaum musyrik yang memiliki perjanjian khusus dengan Nabi dan menjaganya dengan amanah, perjanjian itu dianggap sah sampai batas waktu berlakunya; dan jika seorang musyrik meminta perlindungan, ia akan diberi perlindungan dan akan dibawa ke tempat yang aman. Itulah yang pertama kali diperintahkan dalam Islam. Terdapat juga ayat yang ditujukan khususnya kepada para mualaf baru dari Mekah yang khawatir bahwa perginya kaum musyrik bukan saja akan menghilangkan keuntungan perdagangan mereka, namun juga merasa kehilangan banyak hadiah besar:

_Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati majidil haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kapadamu dari kanunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana_ (QS. 9: 28).

Hampir sepanjang tahun berikutnya –tahun kesepuluh sejak beliau hijrah– Nabi tinggal di rumah. Ibrahim sudah dapat berjalan dan mulai dapat berbicara. Hasan dan Husayn sekarang telah memiliki adik perempuan yang dinamai dengan nama bibinya, Zaynab. Fathimah tengah mengandung anak yang keempat. Anggota keluarga lainnya adalah ketiga anak Ja'far. Mereka kini anak tiri Abu Bakr yang menikahi ibu mereka, Asma, yang juga tengah mengandung. Yang paling disayang Nabi adalah saudara perempuannya, Umm al-Fadhl. Di Mekah, beliau biasa mengunjunginya, dan sejak Abbas pindah ke Madinah, beliau lebih sering lagi berkunjung ke rumah mereka. Putra sulung mereka, kini telah tumbuh dewasa, dan menerima banyak perhatian. Setidaknya, pada suatu musim, ketika Maymunah kembali ke rumah Nabi, ia mengajak keponakannya Fadhl, untuk tinggal bersamanya.

Para utusan masih terus berdatangan seperti tahun sebelumnya. Salah satunya berasal dari kaum Kristen Najran, yang bermaksud membuat perjanjian dengan Nabi. Mereka berasal dari wilayah bagian Byzantium. Di masa lalu, mereka telah menerima banyak subsidi dari Konstantinopel. Para utusan itu, berjumlah enam puluh orang, diterima oleh Nabi di masjid. Tatkala waktu sembahyang mereka tiba, beliau mengizinkan mereka melaksanakannya di dalam masjid. Mereka pun melakukannya dengan menghadap ke arah timur.

Selama tinggal bersama Nabi di Madinah, banyak pokok ajaran Islam yang menyentuh mereka, dan ada beberapa perbedaan antara beliau dengan mereka berkaitan dengan Nabi 'Isa. Lalu turunlah wahyu:

_Sesungguhnya penciptaan 'Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah ia. Itulah yang benar datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah ini sesudah datangnya ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta_ (Q.S. 3: 59-61).

Nabi membacakan ayat ini kepada kaum Kristen tersebut dan mengundang mereka untuk bertemu dengannya dan keluarganya dan untuk menyelesaikan perbedaan di kalangan mereka seperti yang disarankan dalam ayat tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka akan memikirkannya. Esok harinya, saat datang ke Nabi, mereka melihat Ali bersamanya. Di belakangnya ada Fathimah dan kedua putranya. Nabi mengenakan jubah besar, dan cukup besar untuk melingkupi mereka semua, termasuk beliau sendiri. Karena alasan ini, kelima orang itu dihormati dan dikenal sebagai "Orang-orang jubah". Delegasi Kristen berkata, mereka tidak siap membawa perselisihan mereka sedemikian jauh sampai menjadi suatu kutukan. Nabi membuat suatu perjanjian dengan mereka, bahwa sebagai imbalan pembayaran pajak, negara Islam akan memberi perlindungan penuh bagi semua orang, gereja-gereja, dan harta kekayaan mereka.

Kebahagiaan pada awal bulan tahun ini berakhir dengan sakitnya Ibrahim. Jelas, Ibrahim tidak dapat bertahan hidup lagi. Ia dirawat oleh ibunya dan saudara perempuannya, Sirin. Nabi terus-menerus menjenguknya dan bersamanya saat kematiannya. Ketika anak itu menghembuskan nafas terakhir, Nabi memeluknya dan air mata membasahi pipinya. Larangan beliau meratapi kematian telah menyebarkan ide bahwa semua ekspresi kesedihan atas kematian seseorang harus dihindari. Kesalahpahaman tersebut masih banyak melekat di benak orang. "Hai Rasulullah," kata Abd al-Rahman ibn Awf yang hadir waktu itu, "bukankah ini telah kaularang? Kalau kaum muslim melihat engkau menangis, mereka akan menangis juga." Nabi tetap menangis. Setelah mampu berbicara, beliau berkata, "Bukan ini yang kularang. Ini merupakan ekspresi kasih sayang Barang siapa tidak memiliki kasih sayang, maka baginya tidak akan mendapatkan kasih sayang. Hai Ibrahim, jika saja tidak ada janji pertemuan kembali dan ini adalah jalan yang harus dialami oleh setiap orang, serta orang yang kemudian menggantikan orang yang terdahulu, sungguh kami akan sangat berduka terhadapmu. Kami sangat berduka bagimu, Ibrahim. Mata penuh air mata dan hati penuh duka, tidak juga dikatakan kami akan menyinggung Tuhan."

Nabi menenangkan Mariyah dan Sirin, meyakinkan mereka bahwa Ibrahim berada di surga. Beliau meninggalkan mereka sejenak, dan kembali ke Abbas dan Fadhl. Lelaki muda itu membasuh jasad Ibrahim dan membaringkannya, sementara dua lelaki yang lebih tua duduk dan menatapnya. Kemudian, jenazahnya dibawa ke pemakaman dalam usungan kecil. Nabi mengimami salat jenazah dan berdoa di tepi kuburan putranya itu setelah ia dimakamkan oleh Usamah dan Fadhl. Ketika semuanya tertimbun tanah, beliau masih tetap di samping makam, dan meminta air. Beliau mengajak mereka menyiramkan air di atas kaburannya. Ada gundukan tanah yang belum rata di atas kuburan itu, dan melihat itu beliau berkata, "kalau kalian melakukan sesuatu, lakukanlah dengan sempurna". Sembari meratakan tanah itu, beliau mengomentari perbuatannya sendiri, "Ini tidak merugikan, juga tidak membawa manfaat, tapi dapat meringankan jiwa yang tengah berduka".

Nabi telah berulangkali menekankan pentingnya menyempurnakan tujuan seseorang dalam setiap perbuatan duniawinya. Beberapa hadis menunjukkan bahwa tujuan ini haruslah bersifat spiritual. Ali menyimpulkan arahan Nabi itu sebagai berikut "Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah akan mati besok." Selalu bersiap untuk mati berarti juga bersiap untuk berpisah. "Jadilah di dunia ini seperti seorang asing yang numpang lewat," kata Nabi.

Pada hari kematian Ibrahim, tak lama setelah pemakamannya terjadi gerhana matahari. Ketika sebagian orang mengaitkannya dengan peristiwa kematian putra Nabi, beliau berkata, "Matahari dan bulan adalah dua tanda dari sekian tanda kebesaran Allah. Cahaya mereka tidak redup karena kematian seseorang. Jika engkau melihat gerhana bulan atau matahari, dirikanlah salat hingga gerhana itu hilang."

*#130#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

Kisah Rasul bagian 79

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣9⃣ *TABUK*
_______________________

TIDAK lama setelah Perang Hunayn, Kaisar Heraklius mengembalikan salib suci ke Yerusalem. Itu menandai tercapainya akhir kemenangan Byzantium atas Persia. Suatu kemenangan yang telah diprediksikan dalam Alquran, _"pada hari itu orang-orang beriman akan bergembira"_ (QS. 30: 4). Sungguh hal yang menggembirakan, karena orang Persia harus mengevakuasi tentaranya dari Syria dan Mesir, Namun, di Syria, suatu bahaya tampaknya akan digantikan oleh bahaya yang lain. Bahaya itu berasal dari negara Islam yang muncul sebagai ancaman. Tersebar desas-desus di Madinah bahwa Heraklius telah memajukan bayaran satu tahun untuk pasukannya dalam rangka kampanye jangka panjang melawan Yatsrib. Lebih jauh dikatakan bahwa Byzantium telah berangkat ke selatan sampai Balqa dan mengumpulkan suku-suku Arab Lakhm, Judham, Ghassan, dan 'Amilah. Sebagian kabar ini tampaknya dibesar-besarkan dan sebagian justru tidak benar. Suku-suku Arab Syria dan perbatasannya tidak sedang bersiap menyerang. Begitu pula Kaisar, perjalanannya ke selatan dan ultimatum pertahanannya terhadap Syria itu sendiri telah dirasuki mimpinya tentang "kemenangan kerajaan orang yang di khitan" dan ia yakin bahwa orang itu adalah Rasulullah. Ia tidak berupaya lebih jauh untuk meyakinkan rakyatnya tentang keyakinannya itu. Namun, ketika ia kembali ke Konstantinopel, ide itu menggumpal di benaknya Rasa tanggung jawabnya kepada kerajaan mendorongnya untuk mengusulkan kepada jenderalnya agar dibuat suatu peranjian damai dengan Nabi, dan memberikan propinsi Syria kepadanya. Idenya mengejutkan mereka dan mereka dengan keras menolaknya. Akhirnya ide itu dibatalkan. Tetapi, Kaisar sendiri tidak mungkin mengubah keyakinannya. Dalam perjalanan pulang, ketika mencapai terusan yang dikenal sebagai gerbang Cilician, ia menengok kembali ke selatan dan berkata, "Wahai tanah Syria, kuucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya."

Nabi juga yakin bahwa Tuhan akan membukakan Syria bagi pasukannya. Entah karena merasa waktunya telah tiba atau karena ingin memberikan semacam latihan bagi tentaranya untuk kampanye ke utara, beliau mengumumkan ekspedisi melawan Byzantium dan mengerahkan pasukan yang terbesar dan terbaik yang beliau pimpin sendiri. Sampai saat itu, beliau biasanya tidak menyatakan maksud yang sebenarnya dan tetap menjaga berbagai persiapannya serahasia mungkin. Namun, kali ini tidak ada upaya untuk merahasiakan gerakan ini. Perintah segera dikirim ke Mekah dan kepada berbagai suku sekutu untuk mengirimkan seluruh pasukan yang ada dan pasukan berkuda ke Madinah untuk mendukung penaklukan Syria.

Itu terjadi awal Oktober tahun 630M. Musim panas sedang berlangsung, tapi tahun itu, kemarau terasa lebih panas dari biasanya. Saat itu buah-buahan juga matang dan melimpah. Dengan demikian, ada dua alasan untuk tidak ikut dalam ekspedisi ini. Alasan ketiga adalah reputasi pasukan kerajaan yang menakutkan. Orang munafik dan mereka yang kurang beriman di antara kaum muslim datang menemui Nabi dengan berbagai alasan, meminta izin untuk tidak ikut ekspedisi. Beberapa orang Badui juga melakukan hal yang sama. Ada juga empat orang mukmin –Ka'b ibn Malik, dua orang dari Khazraj, dan seorang dari suku 'Aws– yang diam-diam memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak memberikan alasan. Tampaknya mereka tidak ingin meninggalkan Madinah pada musim itu. Maka, mereka tidak bersiap-siap, dan menunda-nunda tugas ini berhari-hari sampai fajar menyingsing dan tentara berangkat. Namun, kebanyakan telah mempersiapkan diri dengan segera. Orang orang kaya saling berlomba menyumbangkan harta mereka. 'Utsman sendiri memberi hewan kendaraan dan peralatan yang cukup bagi sepuluh ribu orang. Namun, itu belum cukup untuk semua yang akan berangkat. Ayat Alquran berikutnya mengingatkan peristiwa itu dengan menyebut "tujuh orang yang bersedih" –lima orang miskin Anshar dan dua Badui dari suku Muzaynah dan Ghathafan– mereka yang tidak mendapat bagian kendaraan, sehingga Nabi dengan terpaksa meninggalkan mereka. Saat ditinggal mata mereka berlinang air mata.

Setelah semua kontingen Badui tiba, kekuatan pasukan menjadi berjumlah 30.000 orang dengan 10.000 ekor kuda. Sebuah kemah telah didirikan di luar Madinah, Abu Bakr bertanggungjawab sampai semua pasukan sudah siap diberangkatkan. Nabi mengendarai unta di depan dan memimpin mereka sebagai panglima perang.

Beliau meninggalkan Ali di Madinah untuk menjaga keluarganya. Namun, kaum munafik menyebarkan isu bahwa Nabi memberi tugas itu untuk membebaskan Ali dari keawajiban berperang. Mendengar itu, Ali merasa sedih, lalu mengambil senjata dan perlengkapannya. Ia kemudian menyusul Nabi di tempat pemberhentian pertama dan meminta izin untuk bergabung bersama pasukannya. Ia menceritakan apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya. Nabi berkata, "Mereka berdusta. Aku memintamu untuk tinggal agar menjaga apa yang kutinggalkan. Maka, kembalilah dan lindungilah keluargaku dan harta bendaku. Tidakkah engkau berbahagia, wahai Ali, bahwa engkau di sisiku seperti Harun dan Musa; ingatlah sesudahku tidak ada nabi."

Selama perjalanan ke utara, pada waktu subuh, Nabi terlambat berwudu. Para jamaah telah berbaris untuk salat. Mereka tetap menunggu Nabi sampai khawatir matahari terbit, padahal mereka belum salat, Maka, mereka sepakat menunjuk Abd al-Rahman ibn Awf sebagai imam. Setelah mereka selesai rakaat pertama, Nabi muncul. Abd al-Rahman bermaksud mundur, namun beliau memberi isyarat untuk tetap di tempat, sementara Nabi bergabung dengan jamaah. Setelah mereka mengucapkan salam, Nabi bangkit dan melanjutkan satu rakaat yang ketinggalan. Selesai salat, Nabi berkata, "Kalian telah melakukan yang benar, karena kematian seorang nabi tidak terjadi sebelum ia salat diimami oleh orang yang paling saleh di antara umatnya."

Sementara itu, di Madinah, kira-kira sepuluh hari setelah keberangkatan pasukan, salah seorang dari keempat orang mukmin yang tidak ikut itu, Abu Khaytamah dari suku Khazraj, keluar menuju kebunnya yang rindang, bernaung dari teriknya matahari di bawah pepohonan. Di sana terdapat dua gubuk la melihat dua istri nya, masing-masing membawakan air dan makanan. Air minumnya telah didinginkan di kendi. Dia berdiri di pintu salah satu gubuk dan berkata, "Rasulullah berada di bawah terik matahari, diterpa angin panas, sedangkan Abu Khaytamah berteduh dengan makanan yang siap dihidangkan!" Kemudian ia berbalik kepada kedua istrinya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memasuki salah satu gubuk kalian sampai aku dapat menyusul Nabi, maka siapkanlah perbekalanku." Mereka melaksanakan permintaannya. Abu Khaytamah menunggang unta dan memacunya untuk menyusul tentara Nabi.

Kira-kira di tengah perjalanan antara Madinah dan Yerusalem, suatu malam Nabi berkata, "Besok, insya Allah, kalian akan tiba di sumur Tabuk. Kalian tidak akan sampai di sana hingga matahari sangat panas. Siapa pun yang tiba di sana, jangan sampai ada yang menyentuh airnya sampai aku datang." Namun, dua orang dari kelompok pasukan pertama yang tiba di sana meminum airnya. Ketika pasukan utama tiba, airnya tinggal tetesan-tetesan. Nabi mengingatkan dengan keras kedua orang itu dan menyuruh sebagian yang lain untuk mengumpulkan air sebisa mungkin di tangan mereka dan memasukkannya ke dalam kantong kulit tua. Ketika air telah cukup terkumpul, beliau mencuci tangan dan mukanya dengan air itu dan memercikkannya ke atas batu yang menutupi mulut sumur, mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah. Kemudian, seperti suara guntur, air memancar ke atas. Air itu tak henti-hentinya mengalir hingga kebutuhan air semua pasukan tercukupi. Beliau berkata kepada Mu'adz yang berada di sampingnya. "Semoga, hai Mu'adz, kelak engkau akan melihat lembah ini dipenuhi kebun- kebun." Dan hal itu menjadi kenyataan.

Beliau kecewa dan sedih dengan gagalnya empat orang mukmin yang tidak bisa ikut bersama pasukan, bahkan juga terhadap Abu Khaytamah yang berhasil menyusul mereka setelah beberapa hari di Tabuk. Ketika seorang pengendara unta itu terlihat mendekat, tapi belum tampak jelas, Nabi berkata seperti setengah berdoa "Itulah Abu Khaytamah! Kemudian, setelah lelaki itu berhenti dan mengucapkan salam, beliau berkata, "Celaka engkau, Abu Khaytamah!" Namun, ketika diberi tahu apa yang terjadi, Nabi memberkatinya.

Pasukan tinggal di Tabuk selama dua puluh hari. Kenyataannya, kabar burung tentang bahaya dari Byzantium tidak terjadi. Tidak juga penaklukan Syria. Namun, selama di sana, Nabi membuat perjanjian damai dengan kaum Kristen dan Yahudi yang tinggal di puncak Teluk Aqabah dan di sepanjang pesisir timur. Dengan membayar upeti tahunan, mereka akan mendapatkan perlindungan dari negara Islam. Setelah mengutus Khalid dengan empat ratus orang dan dua puluh kuda ke Dumat al Jandal, sebelah timur laut Tabuk, beliau kemudian kembali ke Madinah bersama sebagian besar tentaranya. Kekuatan terpenting wilayah ini berada pada jalan menuju Irak dari Madinah, seperti salah satu jalan menuju Syria. Ukaydir, pemimpin Kristen, terkejut ketika ditangkap Khalid dan dijadikan tawanan. Ia dibawa ke Madinah, kemudian menjalin persekutuan dengan Nabi dan masuk lslam.

*#128#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

Kisah Rasul bagian 78

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣8⃣ *SETELAH KEMENANGAN*
_______________________

DARI Ji'ranah, Nabi melaksanakan umrah, kemudian kembali ke Madinah. Tak lama setelah tiba, beliau dikunjungi 'Urwah dari Tsaqif, orang yang sangat terkesan dengan rasa hormat kaum muslim terhadap pemimpin mereka itu ketika di Hudaybiyah. 'Urwah tidak hadir di Yaman selama penaklukan. Ketika kembali dan mendengar kabar kemenangan Hunayn, ia membulatkan tekadnya yang masih setengah hati untuk mengucapkan syahadat di hadapan Nabi. Setelah melakukannya, ia meminta izin untuk kembali ke Tha'if dan mengajak penduduk Tsaqif untuk masuk Islam. "Mereka akan membunuhmu," kata Nabi "Wahai Rasulullah," kata 'Urwah, "aku lebih disayangi mereka daripada anak sulung mereka." "Mereka akan membunuhmu," ulang Nabi. Meskipun demikian, ketika 'Urwah meminta izin yang ketiga kalinya, beliau berkata, "Pergilah jika engkau mau." Seperti yang dikatakan Nabi, mereka menghujani rumahnya dengan panah dan tak lama kemudian, ia wafat akibat luka panah. Ketika sekarat, keluarganya menanyakan pendapatnya tentang kematiannya. Ia menjawab, "Ini adalah kehormatan yang diberikan Allah –dengan kasih-Nya– kepadaku." Lalu ia meminta mereka agar dikuburkan bersama para syuhada yang telah gugur lebih dulu saat pengepungan Thaif. Mereka menunaikan permintaannya. Sewaktu Nabi diberi tahu tentang kematian Urwah, beliau berkata, "'Urwah adalah orang yang digambarkan dalam surah Yasin. Ia mengajak kaumnya kepada Allah, tetapi mereka membunuhnya." Setelah 'Urwah meninggal, anaknya dan keponakannya meninggalkan Tha'if, pergi menghadap Nabi di Madinah. Di sana mereka masuk Islam dan tinggal bersama sepupu mereka, Mughirah, salah seorang Muhajirin.

Kematian Abd Allah ibn Rawahah di Mu'tah membuat Nabi tidak saja merasa kehilangan seorang sahabat dekatnya, tetapi juga seorang penyair yang hebat. Beliau pemah mengatakan, syair Abd Allah setara dengan Hassan dan Ka'b ibn Malik. Namun, secara umum, ketika itu ada dua penyair Arab yang paling berkibar di antara penyair yang lain. Satu Labid satunya lagi Ka'b, putra seorang penyair generasi sebelumnya, Zuhayr ibn Abi Salma. Meskipun berasal dari Muzaynah, Ka'b lebih banyak hidup di Ghathafan, dan karenanya, ia tidak termasuk penyair yang terpengaruh oleh Islam, padahal pengaruh itu begitu kuat di sukunya sendiri. Kakaknya, Bujayr, telah masuk Islam sesudah Hudaybiyah. Namun, Kab dengan keras menolak agama baru itu dan menulis syair sindiran menentang Nabi. Bujayr telah –tapi sia-sia– menyarankan saudaranya itu untuk menghadap Nabi dan memohon maaf. "Ia tidak membunuh orang yang datang kepadanya dengan penyesalan," katanya. Sekarang, sesudah kemenangan Mekah, Ka'b melanjutkan pesan terdahulunya dengan sebait syair:

```Hanya kepada Allah, bukan kepada al-Uzza atau al-Lat, Dapat menjadi pelarianmu, jika engkau dapat melarikan diri. Pada suatu hari, ketika tidak ada pelarian, tak seorang pun dapat melarikan diri. Semoga selamat siapa saja yang hatinya tulus mengabdi kepada Allah.```

Banyaknya orang yang berduyun-duyun masuk Islam dari berbagai pihak, membuat Ka'b merasa seolah-olah penduduk bumi mengepungnya. Takut nyawanya melayang. ia pergi ke Madinah, ke rumah seorang temannya dari Juhaymah. Kepadanya Kab menyatakan masuk Islam. Esoknya, ia ikut salat jamaah subuh di masjid. Setelah itu, ia menemui Nabi, menyalaminya, dan berkata, "Hai Rasulullah, jika Ka'b ibn Zuhayr datang untuk bertobat, menjadi muslim, dan memohon kepadamu agar dijamin keselamatannya, bersediakah engkau menerimanya jika kuantar ia kepadamu?" Ketika Nabi mengiyakan, Ka'b berkata, "Hai Rasulullah, akulah Ka'b ibn Zuhayr." Salah seorang Anshar maju dan meminta izin Nabi untuk memenggal kepala Ka'b, tetapi Nabi berkata, "Biarkan dia, karena dia telah bertobat, dan tidak lagi seperti dulu." Ka'b kemudian melantunkan sebait syair liris yang ia gubah saat itu. Dengan gaya tradisi Badui, pembacaan syair itu bagus dalam diksi dan sangat merdu, melukiskan kejadian dengan hidup. Namun, inti utamanya adalah permohonan ampun. Syair itu diakhiri dengan kalimat pujian kepada Nabi dan Muhajirin:

```Utusan Allah adalah cahaya, sumber cahaya. Sebuah daun Indian, sebilah pedang terhunus dari pedang Tuhan. Di tengah sahabat-sahabat Quraisy Ketika mereka memilih lslam di lembah Mekah, orang-orang berkata: "Pergilah!" Mereka pergi, mereka bukan orang lemah, pula bukan orang yang melarikan diri Bergerak ke kiri dan ke kanan di atas kendaraan dan tidak bersenjata Melainkan para pahlawan, dengan bangga dan mulia, berpakaian cemerlang Laksana sulaman Dawd' untuk berperang.```

Setelah Ka'b selesai, Nabi mengambil jubah Yamannya yang bergaris-garis dan memakaikannya ke pundak sang penyair sebagai bentuk apresiasi atas kehebatan bahasanya. Namun, sesudah itu beliau berkata kepada sahabatnya, "Seharusnya ia melantunkan hal yang baik tentang Anshar, sesungguhnya mereka berhak untuk itu!" Hal ini dilaporkan kepada Ka'b. Ia pun menggubah syair lain berisi pujian bagi kaum Anshar: tentang keahlian militernya, keberaniannya dalam pertempuran, jaminan perlindungan, dan keramahannya sebagai tuan rumah.

Sekarang telah jelas, mereka tidak lama menunggu kelahiran anak Mariyah. Salma, yang menemani kelahiran semua anak Khadijah, saat ini telah lanjut usia. Sudah 25 tahun berlalu sejak ia membantu kelahiran Fathimah. Namun demikian, ia tetap bersikeras melakukan hal yang sama untuk kelahiran anak Nabi kali ini. Maka ketika kelahirannya diperkirakan, ia pergi ke tempat tinggal Mariyah, di dataran atas Madinah.

Anak itu lahir pada malam hari. Pada malam yang sama, Jibril datang kepada Nabi dan menyapa beliau tidak seperti biasanya, "Wahai Ayah Ibrahim." Begitu lahir, Salma mengutus suaminya, Abu Rafi', untuk memberi tahu Nabi bahwa anaknya laki-laki. Keesokan paginya, di masjid, seusai salat subuh, Nabi mengabarkan kelahiran putranya kepada para sahabatnya. "Dan aku telah memberinya nama," tambahnya "dengan nama 'ayahku', Ibrahim." Kegembiraan meliputi kota Madinah. Di kalangan wanita Anshar terjadi persaingan ketat siapa yang akan menjadi ibu asuhnya. Pilihan jatuh pada istri seorang semit hitam di dataran atas Madinah yang tinggal dekat ibu sang bayi. Nabi mengunjunginya hampir setiap hari dan sering tidur siang di sana.

Ibrahim kadang-kadang dibawa ke rumah ayahnya. Suatu hari Nabi menggendongnya ke rumah Aisyah. "Lihatlah kemiripannya denganku," kata beliau. "Aku tidak melihat kemiripannya," tukas 'Aisyah. "Tidakkah kau melihat betapa indah kulitnya dan sehat tubuhnya?" kata Nabi. "Semua yang diberi susu domba betina pasti sehat dan bagus kulitnya," jawabnya. Salah seorang penggembala telah disuruh mengirimkan susu setiap hari kepada ibu angkat sang bayi.

Setelah kembali dari Mekah, Nabi tinggal enam bulan di Madinah. Selama itu, beliau mengirim beberapa ekspedisi kecil. Salah satunya, di bawah kepemimpinan Ali, untuk melawan suku Thayy yang wilayah kekuasaannya membentang sampai ke timur laut Madinah. Ali sebelumnya pernah dikirim untuk menghancurkan kuil Manat di Qudayd di Laut Merah. Dengan demikian, dari ketiga pusat pemujaan berhala di Arab, kini tinggal kuil al-Lat di Tha'if yang masih berdiri. Namun, candi Fuls adalah pusat pemujaan berhala bagi masyarakat Thayy yang bukan Kristen. Tujuan utama penyerangan ini adalah untuk menghancurkan candi tersebut. Thayy adalah suku asal penyair Hatim. Setelah meninggal dunia, putranya, 'Adi, seorang penganut Kristen seperti ayahnya, menggantikan posisinya sebagai kepala suku.

Saat Ali dan pengikutnya melancarkan serangan tiba-tiba, Adi melarikan diri bersama kerabatnya kecuali saudara perempuannya, yang ditawan beserta warga suku yang lain. Ketika dibawa kepada Nabi di Madinah, ia bersimpuh memohon kepada beliau agar dibebaskan. "Ayahku senantiasa membebaskan tawanan," katanya, "memberi perlindungan bagi para tamu, memberi makan orang yang kelaparan, dan menenangkan orang yang sedang berduka. Ia tidak pernah menolak para pencari keuntungan. Aku adalah putri Hatim." Nabi menjawabnya dengan kata-kata yang lembut, dan menoleh kepada yang lain sembari berkata, "Biarkan ia pergi, karena ayahnya menyukai cara-cara yang mulia dan Tuhan mencintai kemuliaan."

Sementara itu, seorang lelaki dari suku wanita itu datang meminta pembebasannya. Nabi menyerahkan wanita itu dalam tanggung jawabnya. Beliau memberi wanita itu seekor unta dan pakaian yang bagus. Wanita itu pergi mencari kakaknya, Adi, dan mengajaknya pergi ke Madinah. Di sanalah Adi masuk Islam, bersyahadat di hadapan Nabi. Beliau pun mengukuhkan Adi sebagai kepala suku Thayy, yang kelak membuktikan diri sebagai sekutu yang beriman dan berpengaruh.

*#127#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳