🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣9⃣ *TABUK*
_______________________
TIDAK lama setelah Perang Hunayn, Kaisar Heraklius mengembalikan salib suci ke Yerusalem. Itu menandai tercapainya akhir kemenangan Byzantium atas Persia. Suatu kemenangan yang telah diprediksikan dalam Alquran, _"pada hari itu orang-orang beriman akan bergembira"_ (QS. 30: 4). Sungguh hal yang menggembirakan, karena orang Persia harus mengevakuasi tentaranya dari Syria dan Mesir, Namun, di Syria, suatu bahaya tampaknya akan digantikan oleh bahaya yang lain. Bahaya itu berasal dari negara Islam yang muncul sebagai ancaman. Tersebar desas-desus di Madinah bahwa Heraklius telah memajukan bayaran satu tahun untuk pasukannya dalam rangka kampanye jangka panjang melawan Yatsrib. Lebih jauh dikatakan bahwa Byzantium telah berangkat ke selatan sampai Balqa dan mengumpulkan suku-suku Arab Lakhm, Judham, Ghassan, dan 'Amilah. Sebagian kabar ini tampaknya dibesar-besarkan dan sebagian justru tidak benar. Suku-suku Arab Syria dan perbatasannya tidak sedang bersiap menyerang. Begitu pula Kaisar, perjalanannya ke selatan dan ultimatum pertahanannya terhadap Syria itu sendiri telah dirasuki mimpinya tentang "kemenangan kerajaan orang yang di khitan" dan ia yakin bahwa orang itu adalah Rasulullah. Ia tidak berupaya lebih jauh untuk meyakinkan rakyatnya tentang keyakinannya itu. Namun, ketika ia kembali ke Konstantinopel, ide itu menggumpal di benaknya Rasa tanggung jawabnya kepada kerajaan mendorongnya untuk mengusulkan kepada jenderalnya agar dibuat suatu peranjian damai dengan Nabi, dan memberikan propinsi Syria kepadanya. Idenya mengejutkan mereka dan mereka dengan keras menolaknya. Akhirnya ide itu dibatalkan. Tetapi, Kaisar sendiri tidak mungkin mengubah keyakinannya. Dalam perjalanan pulang, ketika mencapai terusan yang dikenal sebagai gerbang Cilician, ia menengok kembali ke selatan dan berkata, "Wahai tanah Syria, kuucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya."
Nabi juga yakin bahwa Tuhan akan membukakan Syria bagi pasukannya. Entah karena merasa waktunya telah tiba atau karena ingin memberikan semacam latihan bagi tentaranya untuk kampanye ke utara, beliau mengumumkan ekspedisi melawan Byzantium dan mengerahkan pasukan yang terbesar dan terbaik yang beliau pimpin sendiri. Sampai saat itu, beliau biasanya tidak menyatakan maksud yang sebenarnya dan tetap menjaga berbagai persiapannya serahasia mungkin. Namun, kali ini tidak ada upaya untuk merahasiakan gerakan ini. Perintah segera dikirim ke Mekah dan kepada berbagai suku sekutu untuk mengirimkan seluruh pasukan yang ada dan pasukan berkuda ke Madinah untuk mendukung penaklukan Syria.
Itu terjadi awal Oktober tahun 630M. Musim panas sedang berlangsung, tapi tahun itu, kemarau terasa lebih panas dari biasanya. Saat itu buah-buahan juga matang dan melimpah. Dengan demikian, ada dua alasan untuk tidak ikut dalam ekspedisi ini. Alasan ketiga adalah reputasi pasukan kerajaan yang menakutkan. Orang munafik dan mereka yang kurang beriman di antara kaum muslim datang menemui Nabi dengan berbagai alasan, meminta izin untuk tidak ikut ekspedisi. Beberapa orang Badui juga melakukan hal yang sama. Ada juga empat orang mukmin –Ka'b ibn Malik, dua orang dari Khazraj, dan seorang dari suku 'Aws– yang diam-diam memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak memberikan alasan. Tampaknya mereka tidak ingin meninggalkan Madinah pada musim itu. Maka, mereka tidak bersiap-siap, dan menunda-nunda tugas ini berhari-hari sampai fajar menyingsing dan tentara berangkat. Namun, kebanyakan telah mempersiapkan diri dengan segera. Orang orang kaya saling berlomba menyumbangkan harta mereka. 'Utsman sendiri memberi hewan kendaraan dan peralatan yang cukup bagi sepuluh ribu orang. Namun, itu belum cukup untuk semua yang akan berangkat. Ayat Alquran berikutnya mengingatkan peristiwa itu dengan menyebut "tujuh orang yang bersedih" –lima orang miskin Anshar dan dua Badui dari suku Muzaynah dan Ghathafan– mereka yang tidak mendapat bagian kendaraan, sehingga Nabi dengan terpaksa meninggalkan mereka. Saat ditinggal mata mereka berlinang air mata.
Setelah semua kontingen Badui tiba, kekuatan pasukan menjadi berjumlah 30.000 orang dengan 10.000 ekor kuda. Sebuah kemah telah didirikan di luar Madinah, Abu Bakr bertanggungjawab sampai semua pasukan sudah siap diberangkatkan. Nabi mengendarai unta di depan dan memimpin mereka sebagai panglima perang.
Beliau meninggalkan Ali di Madinah untuk menjaga keluarganya. Namun, kaum munafik menyebarkan isu bahwa Nabi memberi tugas itu untuk membebaskan Ali dari keawajiban berperang. Mendengar itu, Ali merasa sedih, lalu mengambil senjata dan perlengkapannya. Ia kemudian menyusul Nabi di tempat pemberhentian pertama dan meminta izin untuk bergabung bersama pasukannya. Ia menceritakan apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya. Nabi berkata, "Mereka berdusta. Aku memintamu untuk tinggal agar menjaga apa yang kutinggalkan. Maka, kembalilah dan lindungilah keluargaku dan harta bendaku. Tidakkah engkau berbahagia, wahai Ali, bahwa engkau di sisiku seperti Harun dan Musa; ingatlah sesudahku tidak ada nabi."
Selama perjalanan ke utara, pada waktu subuh, Nabi terlambat berwudu. Para jamaah telah berbaris untuk salat. Mereka tetap menunggu Nabi sampai khawatir matahari terbit, padahal mereka belum salat, Maka, mereka sepakat menunjuk Abd al-Rahman ibn Awf sebagai imam. Setelah mereka selesai rakaat pertama, Nabi muncul. Abd al-Rahman bermaksud mundur, namun beliau memberi isyarat untuk tetap di tempat, sementara Nabi bergabung dengan jamaah. Setelah mereka mengucapkan salam, Nabi bangkit dan melanjutkan satu rakaat yang ketinggalan. Selesai salat, Nabi berkata, "Kalian telah melakukan yang benar, karena kematian seorang nabi tidak terjadi sebelum ia salat diimami oleh orang yang paling saleh di antara umatnya."
Sementara itu, di Madinah, kira-kira sepuluh hari setelah keberangkatan pasukan, salah seorang dari keempat orang mukmin yang tidak ikut itu, Abu Khaytamah dari suku Khazraj, keluar menuju kebunnya yang rindang, bernaung dari teriknya matahari di bawah pepohonan. Di sana terdapat dua gubuk la melihat dua istri nya, masing-masing membawakan air dan makanan. Air minumnya telah didinginkan di kendi. Dia berdiri di pintu salah satu gubuk dan berkata, "Rasulullah berada di bawah terik matahari, diterpa angin panas, sedangkan Abu Khaytamah berteduh dengan makanan yang siap dihidangkan!" Kemudian ia berbalik kepada kedua istrinya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memasuki salah satu gubuk kalian sampai aku dapat menyusul Nabi, maka siapkanlah perbekalanku." Mereka melaksanakan permintaannya. Abu Khaytamah menunggang unta dan memacunya untuk menyusul tentara Nabi.
Kira-kira di tengah perjalanan antara Madinah dan Yerusalem, suatu malam Nabi berkata, "Besok, insya Allah, kalian akan tiba di sumur Tabuk. Kalian tidak akan sampai di sana hingga matahari sangat panas. Siapa pun yang tiba di sana, jangan sampai ada yang menyentuh airnya sampai aku datang." Namun, dua orang dari kelompok pasukan pertama yang tiba di sana meminum airnya. Ketika pasukan utama tiba, airnya tinggal tetesan-tetesan. Nabi mengingatkan dengan keras kedua orang itu dan menyuruh sebagian yang lain untuk mengumpulkan air sebisa mungkin di tangan mereka dan memasukkannya ke dalam kantong kulit tua. Ketika air telah cukup terkumpul, beliau mencuci tangan dan mukanya dengan air itu dan memercikkannya ke atas batu yang menutupi mulut sumur, mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah. Kemudian, seperti suara guntur, air memancar ke atas. Air itu tak henti-hentinya mengalir hingga kebutuhan air semua pasukan tercukupi. Beliau berkata kepada Mu'adz yang berada di sampingnya. "Semoga, hai Mu'adz, kelak engkau akan melihat lembah ini dipenuhi kebun- kebun." Dan hal itu menjadi kenyataan.
Beliau kecewa dan sedih dengan gagalnya empat orang mukmin yang tidak bisa ikut bersama pasukan, bahkan juga terhadap Abu Khaytamah yang berhasil menyusul mereka setelah beberapa hari di Tabuk. Ketika seorang pengendara unta itu terlihat mendekat, tapi belum tampak jelas, Nabi berkata seperti setengah berdoa "Itulah Abu Khaytamah! Kemudian, setelah lelaki itu berhenti dan mengucapkan salam, beliau berkata, "Celaka engkau, Abu Khaytamah!" Namun, ketika diberi tahu apa yang terjadi, Nabi memberkatinya.
Pasukan tinggal di Tabuk selama dua puluh hari. Kenyataannya, kabar burung tentang bahaya dari Byzantium tidak terjadi. Tidak juga penaklukan Syria. Namun, selama di sana, Nabi membuat perjanjian damai dengan kaum Kristen dan Yahudi yang tinggal di puncak Teluk Aqabah dan di sepanjang pesisir timur. Dengan membayar upeti tahunan, mereka akan mendapatkan perlindungan dari negara Islam. Setelah mengutus Khalid dengan empat ratus orang dan dua puluh kuda ke Dumat al Jandal, sebelah timur laut Tabuk, beliau kemudian kembali ke Madinah bersama sebagian besar tentaranya. Kekuatan terpenting wilayah ini berada pada jalan menuju Irak dari Madinah, seperti salah satu jalan menuju Syria. Ukaydir, pemimpin Kristen, terkejut ketika ditangkap Khalid dan dijadikan tawanan. Ia dibawa ke Madinah, kemudian menjalin persekutuan dengan Nabi dan masuk lslam.
*#128#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment