🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣8⃣ *SETELAH KEMENANGAN*
_______________________
DARI Ji'ranah, Nabi melaksanakan umrah, kemudian kembali ke Madinah. Tak lama setelah tiba, beliau dikunjungi 'Urwah dari Tsaqif, orang yang sangat terkesan dengan rasa hormat kaum muslim terhadap pemimpin mereka itu ketika di Hudaybiyah. 'Urwah tidak hadir di Yaman selama penaklukan. Ketika kembali dan mendengar kabar kemenangan Hunayn, ia membulatkan tekadnya yang masih setengah hati untuk mengucapkan syahadat di hadapan Nabi. Setelah melakukannya, ia meminta izin untuk kembali ke Tha'if dan mengajak penduduk Tsaqif untuk masuk Islam. "Mereka akan membunuhmu," kata Nabi "Wahai Rasulullah," kata 'Urwah, "aku lebih disayangi mereka daripada anak sulung mereka." "Mereka akan membunuhmu," ulang Nabi. Meskipun demikian, ketika 'Urwah meminta izin yang ketiga kalinya, beliau berkata, "Pergilah jika engkau mau." Seperti yang dikatakan Nabi, mereka menghujani rumahnya dengan panah dan tak lama kemudian, ia wafat akibat luka panah. Ketika sekarat, keluarganya menanyakan pendapatnya tentang kematiannya. Ia menjawab, "Ini adalah kehormatan yang diberikan Allah –dengan kasih-Nya– kepadaku." Lalu ia meminta mereka agar dikuburkan bersama para syuhada yang telah gugur lebih dulu saat pengepungan Thaif. Mereka menunaikan permintaannya. Sewaktu Nabi diberi tahu tentang kematian Urwah, beliau berkata, "'Urwah adalah orang yang digambarkan dalam surah Yasin. Ia mengajak kaumnya kepada Allah, tetapi mereka membunuhnya." Setelah 'Urwah meninggal, anaknya dan keponakannya meninggalkan Tha'if, pergi menghadap Nabi di Madinah. Di sana mereka masuk Islam dan tinggal bersama sepupu mereka, Mughirah, salah seorang Muhajirin.
Kematian Abd Allah ibn Rawahah di Mu'tah membuat Nabi tidak saja merasa kehilangan seorang sahabat dekatnya, tetapi juga seorang penyair yang hebat. Beliau pemah mengatakan, syair Abd Allah setara dengan Hassan dan Ka'b ibn Malik. Namun, secara umum, ketika itu ada dua penyair Arab yang paling berkibar di antara penyair yang lain. Satu Labid satunya lagi Ka'b, putra seorang penyair generasi sebelumnya, Zuhayr ibn Abi Salma. Meskipun berasal dari Muzaynah, Ka'b lebih banyak hidup di Ghathafan, dan karenanya, ia tidak termasuk penyair yang terpengaruh oleh Islam, padahal pengaruh itu begitu kuat di sukunya sendiri. Kakaknya, Bujayr, telah masuk Islam sesudah Hudaybiyah. Namun, Kab dengan keras menolak agama baru itu dan menulis syair sindiran menentang Nabi. Bujayr telah –tapi sia-sia– menyarankan saudaranya itu untuk menghadap Nabi dan memohon maaf. "Ia tidak membunuh orang yang datang kepadanya dengan penyesalan," katanya. Sekarang, sesudah kemenangan Mekah, Ka'b melanjutkan pesan terdahulunya dengan sebait syair:
```Hanya kepada Allah, bukan kepada al-Uzza atau al-Lat, Dapat menjadi pelarianmu, jika engkau dapat melarikan diri. Pada suatu hari, ketika tidak ada pelarian, tak seorang pun dapat melarikan diri. Semoga selamat siapa saja yang hatinya tulus mengabdi kepada Allah.```
Banyaknya orang yang berduyun-duyun masuk Islam dari berbagai pihak, membuat Ka'b merasa seolah-olah penduduk bumi mengepungnya. Takut nyawanya melayang. ia pergi ke Madinah, ke rumah seorang temannya dari Juhaymah. Kepadanya Kab menyatakan masuk Islam. Esoknya, ia ikut salat jamaah subuh di masjid. Setelah itu, ia menemui Nabi, menyalaminya, dan berkata, "Hai Rasulullah, jika Ka'b ibn Zuhayr datang untuk bertobat, menjadi muslim, dan memohon kepadamu agar dijamin keselamatannya, bersediakah engkau menerimanya jika kuantar ia kepadamu?" Ketika Nabi mengiyakan, Ka'b berkata, "Hai Rasulullah, akulah Ka'b ibn Zuhayr." Salah seorang Anshar maju dan meminta izin Nabi untuk memenggal kepala Ka'b, tetapi Nabi berkata, "Biarkan dia, karena dia telah bertobat, dan tidak lagi seperti dulu." Ka'b kemudian melantunkan sebait syair liris yang ia gubah saat itu. Dengan gaya tradisi Badui, pembacaan syair itu bagus dalam diksi dan sangat merdu, melukiskan kejadian dengan hidup. Namun, inti utamanya adalah permohonan ampun. Syair itu diakhiri dengan kalimat pujian kepada Nabi dan Muhajirin:
```Utusan Allah adalah cahaya, sumber cahaya. Sebuah daun Indian, sebilah pedang terhunus dari pedang Tuhan. Di tengah sahabat-sahabat Quraisy Ketika mereka memilih lslam di lembah Mekah, orang-orang berkata: "Pergilah!" Mereka pergi, mereka bukan orang lemah, pula bukan orang yang melarikan diri Bergerak ke kiri dan ke kanan di atas kendaraan dan tidak bersenjata Melainkan para pahlawan, dengan bangga dan mulia, berpakaian cemerlang Laksana sulaman Dawd' untuk berperang.```
Setelah Ka'b selesai, Nabi mengambil jubah Yamannya yang bergaris-garis dan memakaikannya ke pundak sang penyair sebagai bentuk apresiasi atas kehebatan bahasanya. Namun, sesudah itu beliau berkata kepada sahabatnya, "Seharusnya ia melantunkan hal yang baik tentang Anshar, sesungguhnya mereka berhak untuk itu!" Hal ini dilaporkan kepada Ka'b. Ia pun menggubah syair lain berisi pujian bagi kaum Anshar: tentang keahlian militernya, keberaniannya dalam pertempuran, jaminan perlindungan, dan keramahannya sebagai tuan rumah.
Sekarang telah jelas, mereka tidak lama menunggu kelahiran anak Mariyah. Salma, yang menemani kelahiran semua anak Khadijah, saat ini telah lanjut usia. Sudah 25 tahun berlalu sejak ia membantu kelahiran Fathimah. Namun demikian, ia tetap bersikeras melakukan hal yang sama untuk kelahiran anak Nabi kali ini. Maka ketika kelahirannya diperkirakan, ia pergi ke tempat tinggal Mariyah, di dataran atas Madinah.
Anak itu lahir pada malam hari. Pada malam yang sama, Jibril datang kepada Nabi dan menyapa beliau tidak seperti biasanya, "Wahai Ayah Ibrahim." Begitu lahir, Salma mengutus suaminya, Abu Rafi', untuk memberi tahu Nabi bahwa anaknya laki-laki. Keesokan paginya, di masjid, seusai salat subuh, Nabi mengabarkan kelahiran putranya kepada para sahabatnya. "Dan aku telah memberinya nama," tambahnya "dengan nama 'ayahku', Ibrahim." Kegembiraan meliputi kota Madinah. Di kalangan wanita Anshar terjadi persaingan ketat siapa yang akan menjadi ibu asuhnya. Pilihan jatuh pada istri seorang semit hitam di dataran atas Madinah yang tinggal dekat ibu sang bayi. Nabi mengunjunginya hampir setiap hari dan sering tidur siang di sana.
Ibrahim kadang-kadang dibawa ke rumah ayahnya. Suatu hari Nabi menggendongnya ke rumah Aisyah. "Lihatlah kemiripannya denganku," kata beliau. "Aku tidak melihat kemiripannya," tukas 'Aisyah. "Tidakkah kau melihat betapa indah kulitnya dan sehat tubuhnya?" kata Nabi. "Semua yang diberi susu domba betina pasti sehat dan bagus kulitnya," jawabnya. Salah seorang penggembala telah disuruh mengirimkan susu setiap hari kepada ibu angkat sang bayi.
Setelah kembali dari Mekah, Nabi tinggal enam bulan di Madinah. Selama itu, beliau mengirim beberapa ekspedisi kecil. Salah satunya, di bawah kepemimpinan Ali, untuk melawan suku Thayy yang wilayah kekuasaannya membentang sampai ke timur laut Madinah. Ali sebelumnya pernah dikirim untuk menghancurkan kuil Manat di Qudayd di Laut Merah. Dengan demikian, dari ketiga pusat pemujaan berhala di Arab, kini tinggal kuil al-Lat di Tha'if yang masih berdiri. Namun, candi Fuls adalah pusat pemujaan berhala bagi masyarakat Thayy yang bukan Kristen. Tujuan utama penyerangan ini adalah untuk menghancurkan candi tersebut. Thayy adalah suku asal penyair Hatim. Setelah meninggal dunia, putranya, 'Adi, seorang penganut Kristen seperti ayahnya, menggantikan posisinya sebagai kepala suku.
Saat Ali dan pengikutnya melancarkan serangan tiba-tiba, Adi melarikan diri bersama kerabatnya kecuali saudara perempuannya, yang ditawan beserta warga suku yang lain. Ketika dibawa kepada Nabi di Madinah, ia bersimpuh memohon kepada beliau agar dibebaskan. "Ayahku senantiasa membebaskan tawanan," katanya, "memberi perlindungan bagi para tamu, memberi makan orang yang kelaparan, dan menenangkan orang yang sedang berduka. Ia tidak pernah menolak para pencari keuntungan. Aku adalah putri Hatim." Nabi menjawabnya dengan kata-kata yang lembut, dan menoleh kepada yang lain sembari berkata, "Biarkan ia pergi, karena ayahnya menyukai cara-cara yang mulia dan Tuhan mencintai kemuliaan."
Sementara itu, seorang lelaki dari suku wanita itu datang meminta pembebasannya. Nabi menyerahkan wanita itu dalam tanggung jawabnya. Beliau memberi wanita itu seekor unta dan pakaian yang bagus. Wanita itu pergi mencari kakaknya, Adi, dan mengajaknya pergi ke Madinah. Di sanalah Adi masuk Islam, bersyahadat di hadapan Nabi. Beliau pun mengukuhkan Adi sebagai kepala suku Thayy, yang kelak membuktikan diri sebagai sekutu yang beriman dan berpengaruh.
*#127#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment