🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣7⃣ *REKONSILIASI*
_______________________
SETELAH pasukan Nabi tiba di Ji'ranah, para tawanan berjejer di tebing lembah yang luas, berlindung dari sengatan matahari. Mereka kira-kira enam ribu wanita dan anak-anak. Kebanyakan mereka compang-camping. Nabi mengutus seorang Khuza'ah ke Mekah untuk membeli baju baru bagi masing-masing mereka yang dibayar dengan perak hasil rampasan perang. Ada sebanyak 24.000 ekor unta. Sedangkan domba dan kambing, tidak ada yang berusaha menghitungnya, namun mereka memperkirakan jumlahnya sekitar 40.000 ekor.
Beberapa orang sudah tidak sabar untuk menerima bagian harta rampasan perang itu, namun Nabi tidak mau membaginya saat itu untuk mengantisipasi kemungkinan adanya serangan balik suku Hawazin. Walaupun demikian, ada sektor distribusi yang tidak ingin ditunda oleh Nabi, yaitu bagiannya sendiri sebesar seperlima dari harta itu yang biasa dilakukan seperti mengeluarkan zakat dari uang yang diperoleh. Saat itulah turun wahyu memperkenalkan kategori baru orang yang berhak mendapat bagian: mereka yang hatinya perlu dibujuk _(al-mu'allafah qulubuhum)._ Ayat itu berbunyi:
_Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir miskin, para pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak dan tawanan, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sadang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana_ (QS. 9: 60).
Contoh mereka yang hatinya perlu dibujuk adalah orang-orang Quraisy yang baru saja memeluk Islam dalam keadaan terpaksa, di mana lingkungan mereka –dunia paganisme Arab– telah dihancurkan oleh tumbuhnya agama baru itu di Mekah. Nabi memberi Abu Sufyan seratus unta, dan ketika ia meminta agar kedua anaknya Yazid dan Mu'awiyah, jangan dilupakan, mereka masing-masinh diberi seratus unta. Jadi, Abu sufyan menerima tiga ratus unta. Hal ini diikuti oleh yang lainnya. Ketika keponakan Khadijah, Hakim diberi seratus unta, ia meminta dua ratus lagi. Beliau pun segera memberinya. Pada kasus Abu Sufyan, keengganan atau penolakan permintaannya akan merusak tujuan pemberian hadiah itu. Namun kepada Hakim, Nabi berkata, "Barang ini adalah rerumputan hijau. Barang siapa mengambilnya dengan hati tulus akan diberkahi; namun siapa yang mengambilnya dengan hati pongah, tidak akan diberkahi; ia akan meminta terus dan tidak pernah terpuaskan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah engkau memberi pada kerabatmu dan orang yang berada dalam tanggunganmu." "Demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menerima apa pun dari orang lain sesudahmu," kata Hakim yang memutuskan bahwa tangannya setelah itu tidak akan berada di bawah (meminta–pent). la hanya mengambil seratus, membatalkan klaimnya atas sisa unta lainnya.
Termasuk dalam kategori penerima zakat adalah mereka yang hampir, tetapi belum, masuk Islam. Sebagian mereka juga diberi seratus unta. Orang terpenting di antara mereka adalah Shafwan dan Suhayl. Mereka berdua telah bertempur di Hunayn. Ketika salah seorang kafir Mekah menyatakan kegembiraannya pada waktu serangan pertama terhadap muslim, ia diingatkan dengan keras oleh Shafwan, "Jika aku harus punya majikan," katanya, "biarkanlah ia dari orang Quraisy dan bukan dari Hawazin!" Setelah menerima seratus unta, Shafwan menemani Nabi saat beliau berkendaraan menyusuri lembah Ji'ranah untuk mengawasi harta rampasan lainnya Banyak sisi lembah yang terbentang di luar lembah utama, dan di salah satunya, rerumputan begitu berlimpah, sehingga penuh dengan unta, domba, dan kambing, bersama para penggembalanya. Melihat Shafwan begitu terpesona menyaksikan pemandangan tersebut, Nabi berkata kepadanya, "Apakah lembah ini membuatmu senang?" Ketika Shafwan dengan hangat mengiyakan, beliau menambahkan, "Ambillah untukmu semuanya." "Aku bersaksi," kata Shafwan, tidak ada jiwa yang begitu baik seperti ini, jika itu bukan jiwa seorang nabi. Aku bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan engkau adalah Utusan-Nya."
Begitu pula dengan Suhayl, keraguannya berakhir di Ji'ranah Entah karena memperbarui kedekatannya dengan putranya, Abd Allah, atau karena menyaksikan mukjizat kemenangan Perang Hunayn, atau berkat pengalamannya bersama Nabi dan keluhuran budinya, atau karena semua kejadian di atas sekaligus, ia masuk Islam dengan tulus. Tiga tahun kemudian, ketika Abd Allah terbunuh di medan perang, dan Abu Bakr menenangkan ayah yang berduka itu, ia menjawab, "Aku telah diberi tahu bahwa Rasulullah bersabda, 'Para syahid dapat memohonkan ampun bagi tujuh puluh orang dekatnya.' Aku berharap, anakku tidak akan melakukannya untuk orang lain sebelum untuk diriku."
Di antara mereka yang masuk Islam di Ji'ranah adalah para tokoh Makhzum: dua saudara Abu Jahl: saudara tiri Khalid, yaitu Hisyam, saudara kandung Walid yang telah meninggal dunia; dan putra kedua bibi Nabi, Atikah, Zuhayr, yang saudaranya telah gugur di Tha'if. zuhayrlah yang sepuluh tahun lalu –dalam rangka menentang Abu Jahl menjadi orang pertama yang berbicara di majelis agar pemboikotan atas Bani Hasyim dan Bani Muththalib itu dibatalkan. Ibunya, Atikah, telah lebih dahulu masuk Islam sebelum kedua putranya itu.
Setelah beberapa hari pasukan muslim berada di lembah ini, delegasi Hawazin belum datang juga. Akhirnya, Nabi mengalokasikan kepada setiap orang bagiannya masing-masing. Tidak lama setelah dibagikan, delegasi itu datang. Pemimpinnya adalah saudara ayah tiri Harits. Empat belas orang di antara mereka telah menjadi muslim. Sisanya sekarang masuk Islam, dan meminta agar seluruh anggota suku Hawazin dianggap sebagai saudara angkat Nabi. Mereka memohon kebaikannya dan berkata, "Kami telah mengurusmu di pangkuan kami dan telah menyusuimu." Kemudian Nabi menjelaskan bahwa beliau telah menunggu mereka, sampai mengira tidak akan datang, sehingga harta rampasan perang telah dibagi bagikan. Lantas, meskipun mengetahui jawabannya, beliau bertanya kepada mereka, mana yang lebih mereka sayangi, anak dan istri atau harta benda mereka. Ketika mereka menjawab, "Kembalikanlah anak dan istri kami," beliau berkata, "Seperti tawanan yang ada padaku dan keturunan Abd al-Muththalib, mereka adalah menjadi milik kalian. Kemudian, atas nama kalian, akan aku umumkan kepada yang lain. Nanti, seusai aku mengimami salat zuhur, katakanlah "Kami memohon agar Rasulullah menjadi perantara kami dan kaum muslim, dan kami meminta kaum muslim untuk menjadi perantara kami dan Rasulullah."
Mereka melaksanakan seperti yang diperintahkan. Nabi menghadap jamaah dan menjelaskan bahwa mereka meminta agar anak dan istri mereka dikembalikan. Kaum Muhajirin dan Anshar segera menyerahkan para tawanan mereka kepada Nabi. Begitu pula dengan suku-suku lain, beberapa dari mereka melakukan hal yang sama, namun sebagian lagi menolak. Mereka yang menolak tetap dibujuk untuk mengembalikan tawanan dengan mendapatkan ganti rugi di masa datang. Maka, semua tawanan kembali ke kaum mereka kecuali seorang wanita muda yang menjadi milik sepupu Nabi dari pihak ibu, Sa'd dari Zuhrah. Ia ingin tetap bersama Nabi.
Sesuai janjinya, Nabi memberi saudara perempuan angkatnya. Syayma, tambahan unta, domba, dan kambing, dan mengucapkan salam perpisahan. Ketika delegasi Hawazin hendak berangkat, beliau menanyakan kabar pemimpin mereka, Malik. Mereka memberitahukan bahwa Malik bergabung dengan Tsaqif di Tha'if. "Sampaikan padanya," kata beliau, "jika ia datang kepadaku sebagai muslim, aku akan kembalikan keluarganya, harta bendanya, juga akan kuberi seratus ekor unta." Beliau telah menitipkan keluarga Malik pada bibinya, 'Atikah di Mekah. Sedangkan harta bendanya tidak dibagi-bagikan.
Ketika pesan itu sampai pada Malik di Tha'if, ia tidak menceritakannya kepada orang Tsaqif Sebab, ia takut mereka akan memenjarakannya bila dirinya diketahui tertarik dengan tawaran tersebut. Maka, ia meninggalkan kota itu di malam hari, pergi ke perkemahan Nabi dan masuk Islam. Nabi mengangkatnya sebagai pemimpin kaum muslim Hawazin yang telah banyak dan bertambah. Pembatalan pengepungan Thaif hanya penundaan sejenak. Kini perlu dicari bentuk pengepungan lain, yang lebih halus tapi berdampak nyata.
Nabi tahu, meskipun agama memiliki kekuatan yang berpengaruh pada jiwa manusia, namun kekuatan ini bergantung pada tingkat komitmen penerimaannya terhadap agama itu dan bukan sekadar formalitas. Oleh karena itu, prinsip pemberian zakat bagi _mereka yang perlu dibujuk hatinya_ adalah untuk menghilangkan halangan kepada komitmen itu, seperti keengganan atau frustasi. Namun, prinsip ini pada mulanya tidak dimengerti oleh beberapa sahabat senior, apalagi sahabat yang lain. Selain yang disebutkan di atas, hadiah besar juga diberikan kepada tokoh-tokoh Badui yang keislamannya masih sangat dipertanyakan, padahal biasanya orang-orang terhormat dari gurun ini diabaikan. Sa'd dari Zuhrah bertanya kepada Nabi, mengapa ia memberi seratus ekor unta masing- masing kepada 'Uyaynah dari Ghathafan dan 'Aqra dari Tamim, tapi tidak kepada orang setaat Ju'ayl dari Damrah yang sebenarnya lebih miskin dari mereka berdua. Nabi menjawab, "Demi Allah yang menguasai jiwaku, Ju'ayl jauh lebih kaya dari orang seperti 'Uyaynah dan 'Aqra; namun kulunakkan hati mereka agar mereka bersedia patuh dan tunduk kepada Allah sementara aku percaya Ju'ayl telah tunduk dan patuh kepada-Nya."
Di kalangan kaum Muhajirin tidak ada lagi keberatan seperti itu. Namun, di akhir pemberhentian Nabi di Ji'ranah, muncul keluhan di kalangan empat ribu kaum Anshar. Hanya beberapa di antara mereka yang menjadi pengecualian, mendapatkan empat unta atau sepadan dengan itu dalam bentuk domba atau kambing. Bagian tawanan yang mereka dapatkan telah dikembalikan tanpa ragu kepada Nabi. Sementara itu, mereka menyaksikan betapa berlimpahnya bagian yang diberikan kepada enam belas tokoh Quraisy dan empat orang kepala suku lainnya. Padahal, semua yang menerima itu adalah orang yang kaya raya. Namun, tidak ada seorang Anshar pun yang menerima bagian dari Nabi. Hal serupa memang terjadi pada kaum Muhajirin, tapi itu tidak membuat tenang penduduk Madinah, karena kebanyakan harta itu diberikan kepada orang Quraisy, yang nota bene kerabat kaum Muhajirin. "Rasulullah telah berpihak pada kerabatnya," demikian kata-kata yang beredar di kalangan Anshar. "Di medan perang, kamilah yang menjadi sahabatnya, namun ketika harta rampasan diberikan, sahabatnya adalah keluarga dan kaumnya sendiri. Kami ingin tahu dari mana asal sikap ini: jika berasal dari Allah, kami akan terima dengan sabar; namun jika ini hanyalah pendapat Rasulullah, maka kami memintanya agar memihak kepada kami juga."
Di saat kegelisahan mereka ini semakin meningkat. Sa'd ibn 'Ubadah menghadap Nabi dan menceritakan apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka gunjingkan. "Bagaimana pendapatmu dalam hal ini, wahai Sad?" tanya Nabi. "Hai Rasulullah," jawabnya, "aku salah seorang dari mereka. Kami ingin tahu dari mana perintah ini berasal." Nabi menyuruhnya untuk mengumpulkan semua orang Anshar di suatu tempat yang biasa digunakan sebagai penampungan para tawanan. Beberapa orang Muhajirin ikut bersama mereka atas izin Sa'd. Nabi menemui mereka. Setelah memuji dan bersyukur kepada Allah, beliau berkata, "Wahai kaum Anshar, aku mendengar kabar bahwa hati kalian sangat menentangku. Bukankah aku mendapati kalian tersesat dan Allah membimbing kalian? Bukankah kalian miskin dan Allah memberi kalian kekayaan? Bukankah kalian saling bermusuhan dan Allah mendamaikan kalian?" "Ya, benar," sahut mereka, Allah dan Rasul-Nya yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih." "Tidakkah kalian akan membantahku?" tanya belau. "Bagaimana kami membantah?" tanya mereka dengan agak bingung. "Jika kalian mau," jawabnya, "kalian dapat mengatakannya padaku, berkata sejujurnya, 'Engkau datang kepada kami dengan tidak dipercaya dan kami memercayaimu, engkau nyaris berputus asa dan kami membantumu, engkau diusir dan kami menerimamu, engkau melarat dan kami memberimu kenyamanan.' Hai Kaum Anshar, apakah hati kalian dipenuhi keinginan terhadap kekayaan dunia yang kugunakan untuk membujuk jiwa-jiwa mereka agar mau tunduk dan patuh kepada Allah, sedangkan keislaman kalian telah kupercayai? Apakah kalian tidak berbahagia, wahai kaum Anshar, orang lain membawa domba dan unta, sementara kalian membawa Rasulullah ke rumah kalian? Jika semua orang, kecuali kaum Anshar pergi ke suatu jalan dan orang Anshar ke jalan yang lain, aku akan pergi ke jalan orang Anshar. Allah Maha Pengasih terhadap kaum Anshar, dan terhadap anak cucunya." Mereka menangis hingga janggut mereka basah dengan air mata. Serentak mereka berkata, *"Kami berbahagia dengan Rasulullah sebagai bagian kami."*
*#126#*
Bersambung.....
😭 😭 😭
*اللهم صل على محمد وعلى ال محمد. كما صليت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انك حميد مجيد*
*اللهم بارك على محمد وعلى ال محمد. كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انك حميد مجيد*
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment