🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
_______________________
7⃣6⃣ *PERANG HUNAYN DAN PENGEPUNGAN THA'IF*
(Sambungan....)
_______________________
Nabi memanggil yang lain untuk bergabung dengannya, namun suaranya tenggelam oleh suara riuh peperangan. Karena itu, beliau menoleh ke Abbas yang memiliki suara keras dan memintanya untuk berteriak: "Wahai para sahabat tanaman! Sahabat dari Akasia!" Segera panggilan itu disambut dari berbagai penjuru, _"Labbayk!_ Di sini, aku datang! –Anshar dan Muhajirin bergerak ke arah beliau. Ia bersama seratus orang berpencar melintasi jalan sempit, dan mereka segera dapat melawan serangan musuh. Abbas terus berteriak dan beberapa orang yang kabur kini kembali bertempur. Nabi berdiri di punggung kuda, lebih mudah melihat dan dilihat. Pihak musuh sedang menyiapkan serangan baru. Beliau berdoa, "Ya Allah, aku memohon engkau penuhi janji-Mu!" Lalu beliau menyuruh saudara angkatnya itu untuk memberinya beberapa batu kerikil. Beliau menggenggamnya, lalu melemparkannya ke muka musuh seperti yang dilakukan pada Perang Badr. Gelombang perang tiba-tiba berubah tanpa alasan yang nyata –atau setidaknya, hal itu tidak nyata bagi kaum mukmin, tapi nyata bagi pihak musuh, seperti yang dulu tampak bagi mata-mata mereka. Sesudah itu turunlah ayat :
_Sesungguhnya Tuhan telah menyelamatkan kamu pada banyak medan peperangan, dan pada peperangan Hunayn, yaitu di waktu kamu congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian, Allah menurunkan ketenangan kepada rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat orang-orang yang dikehendaki-Nya, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang_ (QS. 9: 25-27).
Kekalahan sangat besar: Malik bertempur dengan sangat berani, namun akhirnya bersama orang-orang Tsaqif mundur ke benteng mereka di Thaif. Pasukan utama Hawazin terpukul mundur sampai ke Nakhlah karena banyaknya pembantaian. Dari sana mereka kembali ke kemah di Awthas; namun, Nabi mengirim pasukan untuk mengusir mereka, dan mereka lari ke bukit.
Pihak muslim kehilangan banyak jiwa, terutama Bani Sulaym yang terkejut dengan serangan pertama yang begitu tiba-tiba. Namun sesudah serangan pertama itu, relatif sedikit yang terbunuh. Di antara yang sedikit itu adalah Ayman, kakak Usamah, yang gugur di sisi Nabi.
Para wanita Hawazin dan anak-anak yang berada di belakang barisan semuanya menjadi tawanan. Selain unta, domba, dan kambing, ada juga empat ribu ons perak yang menjadi harta rampasan perang. Nabi mengangkat Budayl sebagai penanggung jawab, dan ia diperintahkan agar semuanya dibawa, termasuk para tawanan, ke dekat lembah Ji'ranah, sekitar sepuluh mil dari Mekah.
Di antara divisi Hawazin adalah kontingen Bani Sa'd ibn Bakr, suku tempat Nabi menghabiskan masa bayi dan kanak-kanaknya. Salah satu tawanan yang sudah tua mengingatkan penangkapnya, "Demi Tuhan, aku saudara perempuan pemimpinmu." Mereka tidak memercayainya, tapi membawanya kepada Nabi. "Hai Muhammad, aku saudaramu," katanya. Nabi menatapnya dengan ragu: ia wanita tua, sekitar 70 tahun atau lebih. "Apakah engkau memiliki bukti?" tanyanya, dan wanita itu seketika memperlihatkan bekas gigitan. "Engkau telah menggigitku," katanya, "ketika aku menggendongmu di bukit Sarar. Di sana kita sama-sama menggembala domba. Ayahmu adalah ayahku, dan ibumu adalah ibuku." Nabi melihatnya berkata jujur; ia adalah Syayma', salah satu saudara angkatnya. Beliau menggelar tikar untuknya, dan mempersilakan duduk. Mata beliau mengucurkan air mata ketika diberi tahu bahwa Halimah dan Harits, orang tua angkatnya, telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Setelah mereka berbincang-bincang, beliau mengajaknya untuk tinggal bersamanya atau kembali ke Bani Sa'd. Ia menyatakan keinginannya untuk masuk Islam, namun memilih kembali ke sukunya. Nabi memberinya banyak hadiah, dan berniat memberinya lebih banyak lagi setelah beliau kembali nanti. Beliau memintanya untuk tinggal dengan sahabatnya yang berada di perkemahan. Kemudian beliau bersama pasukan berangkat ke Tha'if.
Penduduk Tsaqif memiliki persediaan yang cukup di dalam kota untuk kebutuhan mereka selama setahun. Mereka juga menyiapkan alat pertahanan perang yang cukup untuk melawan Nabi, yang siap digunakan bila segala cara yang dilakukan gagal; dan mereka adalah para pemanah ulung. Beberapa kali tejadi perang panah Namun, setengah bulan berlalu, dan pihak muslim tidak dapat maju lebih dekat untuk menaklukkan kota dari apa yang mereka capai di hari pertama. Yang dapat dicapai selama itu adalah masuknya beberapa orang ke dalam Islam. Sebab, Nabi pada suatu hari mengumumkan bahwa setiap budak Tsaqif yang bergabung dengan pihak muslim akan dibebaskan. Sekitar dua puluh budak berusaha keras keluar dari kota itu. Mereka datang ke kemah untuk mengucapkan syahadat. Seminggu berlalu, saat Nabi bermimpi diberi semangkuk kacang, lalu seekor burung datang menyambarnya dan menaburkannya. "Aku pikir engkau tidak akan mendapatkan apa yang engkau inginkan dari mereka hari ini," kata Abu Bakr, dan Nabi menyetujuinya. Barangkali beliau telah sampai pada kesimpulan bahwa untuk mengepung Tsaqif bukanlah cara terbaik untuk menaklukkan mereka. Malah, beliau kini memberi perintah agar pengepungan dihentikan dan berangkat menuju Ji'ranah. Ketika mereka keluar dari kota itu, beberapa orang meminta Nabi untuk mengutuk penduduknya. Tanpa menjawab, beliau mengangkat tangannya berdoa, "ya Allah, bimbinglah Tsaqif dan bawalah mereka kepada kami."
Diantara yang terbunuh di bawah benteng Tha'if adalah saudara tiri Umm Salamah, sepupu Nabi, 'Abd Allah, yang belakangan telah masuk Islam.
LANGKAH terakhir Nabi yang pasti melawan Quraisy tidak menghentikan Hawazin untuk terus mengonsolidasi kekuatan mereka. Lancarnya pembebasan Mekah dan runtuhnya semua berhala, juga menambah kekhawatiran mereka. Yang paling mengkhawatirkan mereka adalah nasib kuil al-'Uzza, sebagai kuil kembar milik Quraisy, al-Lat Ketika para penyerbu itu berada di Mekah selama dua minggu, Hawazin mengerahkan dua ribu tentara di lembah Awthas, sebelah utara Thaif.
Setelah menyerahkan tanggung jawab Mekah kepada 'Abd al-Syams dan menunjuk Mu'adz ibn Jabal –pemuda yang berpengetahuan luas dari suku Khazraj– untuk membimbing para mualaf di Mekah, Nabi bergerak bersama seluruh pasukannya yang telah bertambah dua ribu orang Quraisy. Sebagian besar mereka telah masuk lslam, kecuali beberapa orang saja –termasuk Suhayl dan Shafwan– yang hanya sekadar mempertahankan kota mereka dari serangan Hawazin. Sebelum mereka berangkat, Nabi telah mengirim pesan kepada Shafwan untuk meminjam seratus baju tentara dan senjata. "Hai Muhammad," kata Shafwan, apakah ini pertanyaan 'berilah atau aku dapat ambil lagi?"' "Itu berupa pinjaman yang akan dikembalikan," kata Nabi. Seketika Shafwan setuju, menyediakan sejumlah unta untuk mengangkut senjata yang diserahkan kepada Nabi saat mereka sampai di kemah terakhir mereka
Suku-suku Hawazin yang keluar untuk melawan mereka adalah Tsaqif, Nashr, Jusham, dan Sa'd ibn Bakr. Pemimpin mereka adalah lelaki berusia tiga puluh tahun dari suku Nashr, bernama Malik.
Meskipun masih muda, ia terkenal pemberani dan murah hati. Dengan menentang nasihat orang-orang yang lebih tua, ia memerintahkan mereka untuk membawa semua istri, anak dan harta benda mereka, karena hal itu akan lebih membangkitkan semangat tempur pasukan. Ia mengirim tiga mata-mata untuk menghimpun informasi tentang bala tentara yang datang dari Mekah. Namun, tidak lama kemudian, mereka kembali nyaris tak dapat berbicara, dalam kondisi yang sangat aneh, persendian tulang mereka luluh akibat teror, sebagian bahkan lepas dari persendiannya. "Kami melihat pasukan putih mengendarai kuda belang belang". kata yang satu, "dan seketika itu kami terserang seperti yang engkau lihat." "Kita tidak bertempur melawan manusia". kata yang lain, "melainkan makhluk dari langit. Ikutilah nasihatku, dan mundurlah, karena jika pengikut kita melihat apa yang kami lihat, mereka akan menderita seperti kami." "Kalian memalukan," teriak Malik, "kalian pengecut!" Karena jiwa dan raga ketiga mata-mata itu sangat buruk dan menyedihkan, ia memerintihkan agar mereka ditahan sejauh mungkin, karena dikhawatirkan akan menyebarkan kepanikan di kalangan tentara, Kemudian ia berkata kepada para pasukan, "Tunjukkan kepadaku lelaki pemberani." Namun, pria yang terpilih itu kembali dalam keadaan yang sama dengan mata-mata sebelumnya, melihat pasukan kuda yang menakutkan di barisan musuh. "Pandangan mereka sungguh tak tertahankan," katanya terengah-engah. Namun, Malik tidak mau mendengarnya. Ketika mulai gelap, ia memerintahkan pasukan untuk maju ke lembah Hunayn, melalui jalur yang, la ketahui, sulit untuk dilewati musuh. Ia menyuruh berhenti di ujung Hunayn, di mana jalan mulai menurun curam ke dataran lembah itu. Di setap sisi lembah ini terdapat jurang, beberapa di antaranya terdapat jalan masuk yang luas, yang dapat dilihat dari atas tapi sangat tertutup dari bawah. Pada satu atau dua tempat itulah ia menempatkan sebagian besar pasukan kudanya, dengan perintah untuk segera turun menyerang musuh saat ia memberi aba-aba. Sisa tentara yang lain bergerak naik ke jalan dekat puncak jurang itu.
Malam itu, Nabi berkemah tidak jauh dari ujung lembah tersebut. Seusai salat subuh berjamaah, beliau memberi semangat pasukannya dan memberi kabar gembira kemenangan jika mereka tetap tabah. Langit agak mendung, dan dalam keremangan itu mereka turun ke lembah itu. Khalid berada di barisan depan seperti sebelumnya, memimpin Sulaym dan suku-suku lainnya. Berikutnya datang pasukan muslim dari kontingen Mekah yang baru. Sedangkan Nabi, yang duduk di atas punggung Duldul, saat itu berada di tengah pasukan Muhajirin dan Anshar. Akan tetapi, kali ini lebih banyak dikelilingi kerabatnya sendiri, termasuk sepupunya, Abu Sufyan dan Abd Allah, yang bergabung dengannya dalam pejalanan ke Mekah, dua putra tertua Abbas, Fadhl dan Qitsam, dan dua putra Abu Lahab. Dan pasukan paling belakang adalah orang-orang Mekah yang belum masuk Islam.
Ketika pasukan muslim hampir seluruhnya menuruni lembah, tampak pasukan Hawazin tengah berbaris di lereng gunung seberangnya. Suatu pandangan yang luar biasa, karena di bagian sayap pasukan itu sendiri terdapat ribuan unta, yang tidak ditunggangi, atau sebagian ditunggangi oleh para wanita. Di keremangan fajar, mereka tampak seperti bagian dari pasukan itu sendiri. Jalan menuju arah itu jelas terhadang. numun belum lagi ada instruksi lebih lanjut, Malik mengomando pasukannya untuk menyerang. Bagaikan air bah, tentara Hawazin menuruni bukit dan menyerang Khalid dan pasukannya. Terhadap serangan yang tiba-tiba dan begitu mendadak ini, Khilid tidak bisa berbuat banyak untuk menyatukan kekuatan pasukan Bani Sulaym yang sedikit atau bahkan tidak melakukan perlawanan sama sekali. Akhirmya mereka berbalik dan kabur. Hal itu mengkocar-kacirkan barisan pasukan Mekah yang berada di belakang mereka dan kini berusaha berbalik menyusuri lereng yang baru saja mereka turuni. Kuda dan unta yang berkeliaran karena ketakutan itu menjepit mereka pada Jalan yang tersempit. Untungnya, Nabi berada di tempat yang memungkinkan beliau dapat bergeser sedikit ke arah kanan. dan kini beliau bergerak di sisi jalan bersama sejumlah kecil pasukan berkuda di dekatnya seperti Abu Bakr, 'Umar, dan orang Muhajirin yang lain, sebagian dari Anshar, dan keluarganya. Putra Harits, Abu Sufyan, berdiri di sampingnya dan memegang pelana kendali Duldul.
*#123#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment