Tuesday, May 5, 2020

Kisah Rasul bagian 75

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣5⃣ *PEMBEBASAN KOTA MEKAH*
(Sambungan ....)
_______________________

Selain mereka, di Abu Qubays ada Ikrimah, Shafwan, dan Suhay yang mengerahkan kekuatan Quraisy bersama sekutu mereka Bakr dan Hudzayl. Mereka memutuskan untuk berperang. Ketika melihat pasukan Khalid menuju Mekah melalui jalur bawah, mereka menghadang dan menyerang pasukan itu. Tetapi, mereka tidak sepadan dengan pasukan Khalid. Pihaknya kehilangan tiga puluh orang, sementara di pihak Khalid kehilangan dua orang. 'Ikrimah dan Shafwan melarikan diri dengan menunggang kuda menuju pantai, sementara Suhayl berlari ke rumahnya dan mengunci pintu.

Ketika Nabi masuk melalui jalan Adzakhir di dataran atas Mekah, pertempuran hampir selesai. Ketika menengok ke arah pasar, beliau terkejut melihat kilatan pedang. "Bukankah kalian kularang bertempur?" katanya. Setelah dijelaskan apa yang terjadi sebenarnya, beliau mengatakan bahwa Tuhan menakdirkan yang terbaik.

Beliau dapat melihat tenda kulitnya yang berwarna merah, yang kini didirikan oleh Abu Rafi' tidak jauh dari masjid. Beliau menunjukkannya ke Jabir yang berada di sampingnya, dan seusai mengucapkan pujian dan rasa syukur, beliau berjalan menuruni lembah. "Aku tidak akan memasuki rumah mana pun," katanya.

Umm Salamah, Maymunah, dan Fathimah sedang menunggu beliau di dalam tenda. Sejenak sebelum kedatangan beliau, Umm Hani' bergabung dengan mereka. Dalam hukum Islam dijelaskan bahwa perkawinan antara wanita muslim dengan pria musyrik dibatalkan, dan ini berlaku bagi pernikahan Umm Hani' dan Hubayrah –yang telah mengantisipasi keruntuhan Mekah dan pergi untuk tinggal di Najran. Namun, dua saudara iparnya, salah satunya kakak Abu Jahl, turut serta bertempur melawan Khalid dan sesudah itu kabur ke rumahnya. Ketika Ali datang untuk menyambut Umm Hani', dan melihat dua orang Makhzum itu, ia menghunus pedangnya dan akan membunuh mereka sekalipun telah diberi perlindungan resmi oleh Umm Hani'. Namun, Umm Hani' melempar lembing dan berdiri di antara mereka dan berkata, "Demi Tuhan, engkau harus membunuhku terlebih dahulu!" Ali langsung meninggalkan rumah itu. Dan kini, setelah mengunci pintu, Umm Hani' datang untuk memohon ampun kepada Nabi. Ia melihat Fathimah sama kerasnya seperti Ali. "Apakah engkau melindungi para penyembah berhala?" kata Fathimah. Namun, celaan Fathimah terpotong oleh kedatangan Nabi. Beliau mengucapkan salam kepada sepupunya itu. Setelah Umm Hani' menceritakan apa yang terjadi, beliau berkata, "Tidak boleh demikian. Siapa saja yang engkau selamatkan, akan kami selamatkan. Dan siapa yang engkau lindungi, akan kami lindungi."

Beliau berwudu dan salat delapan rakaat, lalu beristirahat sekitar sejam atau lebih. Kemudian, ia memanggil Qashwa dan meletakkan baju tentara dan penutup kepalanya di punggung unta itu, serta mengikat pedangnya; sementara tangannya menggenggam tongkat dan bertopi. Beberapa pengikutnya, pagi itu telah bersiap di luar tenda dan mengiringi beliau ke masjid. Beliau bercakap- cakap dengan Abu Bakr yang berada di sampingnya. Beliau berkuda menuju sudut tenggara Ka'bah dan dengan hormat menyentuh Hajar Aswad dengan surbannya sambil bertakbir. Orang-orang pun mengikutinya, _Allahu akbar, Allahu akbar_, dan diikuti oleh seluruh muslim di masjid. Seluruh Mekah menggemakannya, sampai Nabi memberi isyarat agar mereka berhenti. Lalu beliau bertawaf tujuh kali. Sementara itu, Muhammad ibn Maslamah memegang kendali unta beliau. Pada ibadah umrah, kehormatan itu diberikan kepada seseorang dari suku Khazraj, maka kali ini, penghargaan harus diberikan kepada seseorang dari suku Aws.

Nabi kini beralih dari Ka'bah menuju berhala-berhala yang mengelilingi Ka'bah, seluruhnya sekitar 360. Beliau bergerak di antara berhala dan Ka'bah dengan mengulang-ulang ayat, _"Kebenaran telah datang dan kebatilan telah hancur. Sesungguhnya kebatilan akan musnah selamanya"_ (QS. 17: 81), sembari menunjuk ke tiap berhala, satu per satu, dengan tongkatnya. Setiap berhala yang beliau tunjuk wajahnya jatuh tersungkur Selesai tawaf, beliau berhenti dan salat di makam Ibrahim, yang pada saat itu masih berdempetan dengan Ka'bah. Lalu beliau pergi ke sumur Zamzam di mana Abbas memberinya minum. Beliau menetapkan kebiasaan tradisional bagi keturunan Hasyim untuk memberi minum para jamaah haji. Namun, ketika Ali menyerahkan kunci Ka'bah kepada Nabi, dan Abbas memintanya untuk diberikan kepada keluarganya, beliau berkata, "Aku memberimu apa yang telah hilang darimu, bukan yang menjadi hak orang lain." Lantas beliau memanggil seseorang dari Abd al-Dar yang datang pertama kali di Madinah bersama Khalid dan 'Amr, yaitu Utsman ibn Thalhah. Kunci itu diserahkan kepadanya dan ditetapkan bahwa sukunya berhak menjaga Kabah selamanya. 'Utsman dengan hormat mengambil kunci tersebut dan pergi membuka pintu Ka'bah, dikuti oleh Nabi. Usamah dan Bilal berada di belakang Nabi, dan beliau mengajak mereka masuk, lalu menyuruh 'Utsman menutup pintu.

Selain gambar Perawan Maria, Yesus, dan sebuah lukisan seorang lelaki tua, disebut-sebut sebagai Ibrahim, dinding bagian dalam dipenuhi berbagai gambar tuhan berhala. Nabi dengan hati-hati meraba gambar-gambar itu dan menyuruh Utsman agar semuanya dihapus, kecuali gambar Ibrahim.

Beliau berdiri sejenak di dalam, kemudian mengambil kunci dari 'Utsman dan membuka pintu, berdiri di pintu dengan kunci di tangannya. Beliau berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya, membantu hamba-Nya, dan memberi petunjuk berbagai suku, hanya Allah." Penduduk Mekah yang berlindung di masjid bergabung dengan mereka yang berlindung di rumah masing-masing. Mereka duduk berkerumun, tidak jauh dari Ka'bah. Nabi bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian katakan dan kalian pikirkan?" Mereka menjawab, "Kami berkata yang baik dan berpikir yang baik: saudara yang mulia dan baik hati, putra saudara yang mulia dan baik hati, adalah hakmu untuk memerintah." Beliau lalu berbicara kepada mereka dengan kata-kata memaafkan, sesuai dengan ayat, di mana Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya ketika mereka menemuinya di Mesir, _"Sesungguhnya, aku berkata seperti saudaraku Yusuf berkata: 'Pada hari ini tak ada ceraan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dia Maha Pengasih di antara yang mengasihi"_ (QS. 12: 92).

Abu Bakr meninggalkan masjid untuk mengunjungi ayahnya, dan kini ia kembali dengan memapah Abu Quhafah, diikuti oleh saudara perempuannya, Quraybah. "Mengapa engkau tidak membiarkan orang tua ini di rumahnya?" tanya Nabi, "biar aku yang mendatanginya". "Hai Rasulullah," kata Abu Bakr, "ia lebih layak mendatangimu daripada engkau mendatanginya." Nabi menyambut tangan orang tua itu dan dibawa duduk di hadapannya. Beliau mengajaknya mengucapkan dua kalimat syahadat, ia pun melakukannya.

Setelah menyuruh menghancurkan dan menguburkan berhala terbesar, Hubal, Nabi mengumunkan bahwa setiap orang di seluruh kota yang memiliki berhala di rumahnya agar segera dihancurkan. Beliau kemudian pergi ke Bukit Shafa, tempat pertama kali beliau mendoakan keluarganya. Di tempat inilah beliau menerima penghormatan dari musuhnya yang kini ingin masuk Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka menghadapnya beratus-ratus. Di antara para wanita, ada Hindun, istri Abu Sufyan. Ia datang dengan bercadar, takut bila Nabi memberi perintah untuk membunuhnya sebelum ia memeluk Islam. Ia berkata, "Hai Rasulullah, puji bagimu yang telah memuliakan agama yang kupilih untuk diriku." Lalu ia membuka cadarnya dan berkata, "Hindun, putri Utbah." Nabi berkata, "Selamat datang." Wanita lain yang datang ke Shafa adalah Umm Hakim, Istri Ikrimah. Ketika masuk Islam, ia memohon kepada Nabi agar suaminya diberi perlindungan hukum. Beliau menyetujuinya, meskipun 'Ikrimah masih menjadi penentangnya; dan Umm Hakim tahu di mana suaminya itu berada dan ia mencarinya untuk dibawa kembali.

TENDA-TENDA telah dilipat dan diletakkan di atas unta-unta. Nabi meminta agar semua bendera dibawa kepadanya. Bendera-bendera itu beliau kumpulkan satu persatu dan masing-masing diserahkan ke tangan orang yang dipilihnya. Beliau menyuruh Abbas menemani Abu Sufyan sampai ke perbatasan lembah dan berdiri di sana agar ia dapat melihat sendi kebesaran pasukan yang lewat. Masih ada waktu baginya untuk kembali ke Quraisy dan menyampaikan pesannya, karena kalau sendirian akan lebih mudah dan lebih cepat mencapai Mekah daripada pasukan tentara.

"Siapakah itu" tanya Abu Sufyan, menunjuk kepada pemimpin pasukan yang kini tampak dalam pandangannya. "Khalid ibn Walid, kata Abbas. Ketika berada pada ketinggian yang sama dengan mereka, Khalid bertakbir, _Allahu Akbar,_ tiga kali. Bersama Khalid, ada pasukan berkuda Sulaym Kemudian disusul Zubayr yang berjubah kuning, mengepalai tiga ratus tentara Muhajirin dan lainnya la juga bertakbir ketika melintasi Abu Sufyan, seluruh lembah seakan menggemakan suara takbirnya. Pasukan demi pasukan melewati mereka berdua. Setiap kali lewat, Abu Sufyan menanyakan siapa mereka. Ia senantiasa merasa takjub, entah karena suku-suku yg ditanya itu selama ini berada jauh dari Jangkauan pengaruh Quraisy, atau karena mereka selama ini adalah para penentang Nabi, seperti Asyja', suku Ghathafan, yang benderanya dibawa oleh Nu'aym, mantan temannya sendiri, dan Suhayl.

"Dari semua suku Arab," kata Abu Sufyan, "mereka adalah musuh utama Nabi yang paling kejam." "Tuhanlah yang memasukkan Islam ke dalam hati mereka," kata 'Abbas, "semua ini karena rahmat-Nya."

Pasukan yang terakhir adalah pasukan Nabi, seluruhnya dari Muhajirin dan Anshar. Pantulan sinar baju baja mereka tampak hitam kehijauan, dan karena mereka bersenjata lengkap, hanya mata mereka yang terlihat. Nabi menyerahkan benderanya kepada Sa'd ibn 'Ubadah, yang memimpin barisan terdepan. Ketika melewati kedua orang itu di tepi jalan, Abu Sufyan dan Abbas, beliau berkata, "Abu Sufyan, ini adalah hari pembantaian! Hari di mana yang tidak dapat dilanggar dapat dilanggar! Hari Tuhan menghinakan Quraisy!" Nabi berada di tengah bala tentara, di punggung unta Qashwa, dan di kanan kirinya ada Abu Bakr dan Usayd. "Wahai Rasulullah," teriak Abu Sufyan, "apakah engkau memerintahkan pembantaian terhadap kerabatmu sendiri?" dan ia mengulangi kepada beliau apa yang dikatakan Sa'd. "Aku memohon kepadamu demi Allah," tambahnya, "atas nama kerabatmu, karena engkau manusia terbesar yang paling mulia, yang paling kasih!" "Hari ini adalah hari kasih," kata Nabi, "hari di mana Tuhan memuliakan Quraisy". Kemudian Abd al-Rahman ibn Awf dan 'Utsman berkata, "Rasulullah, kami ragu. Sa'd akan melakukan serangan tiba-tiba atas Quraisy" Karena tu, Nabi mengirim pesan kepada Sa'd untuk memberikan bendera kepada putranya, Qays, yang relatif lebih sabar, dan mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan. Menghormati anak berarti menghormati ayah, dan di tangan Qays, bendera akan tetap berada di Sa'd. Namun, Sa'd menolak menyerahkan bendera itu tanpa ada perintah langsung dari Nabi. Maka, beliau segera melepaskan surban merah dari penutup kepalanya dan mengirimnya kepada Sa'd. Sa'd menerimanya dan bendera diserahkan kepada Qays.

Saat pasukan telah berlalu, Abu Sufyan dengan cepat kembali ke Mekah dan berdiri di luar rumahnya. Ia berteriak untuk mengumpulkan orang-orang: "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad telah berada di sini dengan kekuatan yang tidak dapat kalian lawan. Muhammad bersama sepuluh ribu pasukan baja. Ia telah berjanji padaku bahwa siapa saja yang masuk ke rumahku akan aman." Hindun keluar dari rumahnya dan memegang janggut suaminya, "Bunuhlah kantung lemak lelaki ini!" teriaknya. "Engkau pelindung rakyat yang malang!" "Celaka kalian!" seru Abu Sufyan. "Jangan biarkan wanita ini meyakinkan kalian untuk melawan keputusan terbaik, karena di sana telah datang apa yang tidak dapat kalian lawan. Namun, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan aman." "Tuhan mengutukmu!" teriak mereka. "Apakah rumahmu akan muat untuk kami semua?" tanya mereka. "Barang siapa mengunci rumahnya akan aman," jawabnya, "dan barang siapa memasuki masjid akan aman." Segera kerumunan itu pun bubar, sebagian menuju rumah masing-masing dan sebagian lagi ke masjid.

Pasukan muslim berhenti di Dzu Thuwa, tidak jauh dari kota Mekah dan dapat terlihat. Inilah tempat Khalid ditunjuk untuk mencegah mereka mendekat dua tahun lalu. Namun, kini tidak ada tanda-tanda perlawanan. Layaknya sebuah kota yang kosong, seperti ketika kunjungan mereka tahun lalu, tapi kali ini tidak dibatasi tiga hari. Ketika Qashwa' tiba di pemberhentian, Nabi menundukkan kepalanya hingga janggutnya menyentuh pelana, bersyukur kepada Allah. Beliau kemudian mempersiapkan bala tentaranya, menunjuk Khalid sebagai komandan di sayap kanan dan zubayr di sayap kiri. Pasukan Nabi sendiri, yang berada di tengah, dibagi dua: sebagian dipimpin oleh Sa'd dan putranya, sebagian lagi, di mana beliau berada, dipimpin oleh Abu 'Ubaydah. Ketika diberi komando, mereka berpencar dan memasuki kota melalui empat penjuru. Khalid dari bawah dan yang lain dari bukit, melintasi tiga jalur yang berbeda.

Di puncak Bukit Abu Qubays, ada dua sosok yang jelas terlihat: seorang tua memegang tongkat, dipapah seorang wanita. Mereka adalah Abu Quhafah dan Quraybah, ayah dan saudara perempuan Abu Bakr. Pagi itu, ketika berita kedatangan Nabi tiba di Dzu Thuwa, orang tua buta itu menyuruh putrinya agar memapahnya ke puncak bukit itu dan menceritakan apa yang ia lihat. Dulu, sewaktu masih muda dan kuat, ia juga mendaki bukit di sisi lain Mekah untuk melihat tentara Abrahah dan gajahnya. Sekarang, ia sudah tua dan telah buta bertahun-tahun. Namun, setidaknya ia dapat melihat melalui mata putrinya, sepuluh ribu tentara yang di antara mereka ada putra dan dua cucunya. Quraybah menggambarkan apa yang dilihatnya ibarat sebuah massa padat berwarna hitam. Ayahnya mengatakan, itu adalah pasukan berkuda dalam formasi dekat, tengah menunggu perintah. Lalu, Quraybah melihat massa hitam itu menyebar menjadi empat bagian, dan ayahnya meminta untuk segera diantar ke rumah. Ketika pasukan berkuda lewat di hadapan mereka, mereka masih dalam perjalanan. Tiba-tiba seseorang melompat dari pelana kudanya dan mengambil kalung perak yang dikenakan Quraybah. Namun, mereka berdua tidak terluka dan pulang dengan selamat.

Nabi memandang kerumunan orang di hadapannya dan menoleh ke pamannya, "Wahai 'Abbas, dimana kedua putra saudaramu, 'Utbah dan Mu'attib? Aku tidak melihat mereka." Mereka adalah dua anak Abu Lahab yang masih hidup. Utbahlah yang tidak mau mengakui Ruqayyah atas tekanan ayahnya, dan tampaknya mereka takut untuk menampakkan diri. "Suruh mereka kemari!" seru Nabi. Abbas membawa keponakannya itu, yang kemudian masuk Islam. Nabi menggandeng tangan mereka masing-masing, berjalan di antara mereka, dan mengajak mereka ke tempat pemujaan yang besar, yaitu al-Multazam. Tempat itu menjadi bagian dinding Ka'bah di antara Hajar Aswad dan pintu. Di sana beliau lama berdoa dan wajahnya tampak cerah. Abbas bertanya tentang itu, beliau menjawab, "Aku memohon kepada Tuhanku agar kedua putra pamanku ini diberikan kepadaku dan Dia mengabulkan permohonanku.

Kuil berhala yang terdekat dengan Kabah dari tiga berhala paling terkenal adalah al-Uzza di Nakhlah. Nabi mengutus Khalid untuk menghancurkan pusat penyembahan berhala tersebut. Mendengar berita kedatangan Khalid, penjaga kuil itu menggantungkan pedangnya di patung dewa itu. Ia menyuruh dewa itu untuk menjaga dirinya sendiri dan membunuh Khalid atau menjadi seorang monoteis. Khalid menghancurkan kuil berikut berhalanya dan kembali ke Mekah. "Apakah engkau tidak melihat sesuatu?" tanya Nabi. "kembali dan hancurkan dia." Khalid kembali ke Nakhlah dan di antara puing reruntuhan kuil, ada seorang wanita hitam, telanjang, dan dengan rambut panjang dan acak-acakan. "Tulang belakangku luluh lantak," kata Khalid. Namun, ia berteriak "Uzza, penolakan untukmu, tidak penyembahan," dan ia mengangkat pedangnya dan memenggal wanita itu. Sewaktu kembali, ia berkata kepada Nabi, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kematian! Aku terbiasa melihat ayahku keluar untuk 'Uzza dengan membawa persembahan seratus unta dan domba. Ia mengurbankannya untuk 'Uzza dan tinggal selama tiga hari di kuil itu, lalu kembali kepada kami dengan gembira atas apa yang ia capai!"

Sementara itu, mayoritas penduduk Mekah telah bersyahadat, kecuali Suhayl. Namun, setelah berlindung di rumahnya, ia mengirim pesan kepada putranya, Abd Allah, memintanya menghadap Nabi atas namanya. Sebab, meskipun ada perlindungan umum, ia belum percaya bahwa perlindungan itu berlaku pula baginya. Ketika Abd Allah berbicara kepada Nabi, beliau segera menjawab, "la aman di bawah perlindungan Allah, maka biarkan ia menghadap." Lalu Nabi meminta kepada semua orang, "Jangan ada perlakuan kasar kepada Suhayl, jika kalian bertemu dengannya! Biarkan ia keluar dengan aman. Selama hidupku, ia orang yang cerdas dan terhormat, bukan orang yang buta terhadap kebenaran lslam." Oleh karena itu, Sulayl datang dan pergi dengan bebas. namun belum masuk Islam.

Mengenai Shafwan, melalui sepupunya, 'Umayr, ia mendapatkan tenggang waktu dua bulan dari Nabi. Kemudian, 'Umayr pergi menemuinya dan melihatnya di Syu'aybah, sebuah pelabuhan di Mekah, sedang menunggu kapal yang menurut rencana hari itu akan berlabuh. Shafwan curiga dan sama sekali menolak untuk merubah rencananya, maka 'Umayr kembali lagi kepada Nabi. Nabi memberikan surban bergaris-garis dari kain Yamani untuk diberikan kepada sepupunya itu sebagai tanda keselamatannya. Hal ini meyakinkan Shafwan yang memutuskan untuk kembali dan mencari kepastian lebih jauh bagi dirinya sendiri. "Wahai Muhammad," katanya, "Umayr mengatakan kepadaku bahwa jika aku menyetujui Sesuatu –maksudnya masuk Islam– itu akan baik, dan jika tidak, engkau memberiku tenggang waktu dua bulan." "Tinggallah di sini," kata Nabi. "Tidak, sebelum engkau memberi jawaban yang jelas," jawab Shafwan. "Engkau mendapatkan kelonggaran selama empat bulan," kata Nabi, dan Shafwan setuju untuk tinggal di Mekah.

'Ikrimah datang paling akhir di antara ketiga orang yang menghadap Nabi sesudah pembebasan Mekah itu, tapi orang pertama yang masuk Islam. Ia memutuskan untuk berlayar dari pantai Tihamah ke Abyssinia. Ketika ia naik ke kapal, kapten berkata kepadanya, "Bayarlah atas nama Tuhan." "Apa yang harus kuucapkan?" tanya Ikrimah. "Ucapkanlah, tiada tuhan selain Allah," jawabnya. Lelaki itu menjelaskan bahwa ia tak akan menerima penumpang yang tidak bersyahadat, karena takut karam. Empat kata _laa ilaaha illallaah_ merasuk ke dalam hati 'Ikrimah. Pada saat itu, ia sadar dapat mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Sekalipun demikian, ia tidak naik juga. Sebab, satu-satunya alasan ia hendak melakukan itu adalah justru ingin menghindari kata-kata tersebut –maksudnya ingin menghindari ajaran Muhammad yang terangkum dalam _laa ilaala illallaah._ Jika ia dapat menerima hidayah itu di atas kapal, ia dapat menerimanya di padang pasir. "Tuhan kami di laut adalah Tuhan kami di darat," katanya kepada dirinya sendiri. Kemudian, ia dijemput istrinya yang mengatakan bahwa Nabi telah menjamin keamanannya di Mekah. Mereka pun segera kembali. Nabi sudah tahu bahwa dia akan datang dan memberi tahu para sahabatnya, "Ikrimah putra Abu Jahl dalam perjalanan menuju kalian dan ia telah beriman. Karena itu, jangan mencerca ayahnya, karena mencerca yang telah mati berarti mencera yang hidup dan tidak berpengaruh bagi yang mati."

Setibanya di Mekah, "Ikrimah langsung menghadap Nabi Beliau mengucapkan salam dengan wajah penuh suka cita dan berkata kepadanya, setelah ia resmi masuk Islam, "Hari ini, engkau mestinya tidak meminta apa pun kepadaku, tapi aku memberimu kesempatan." "Aku mohon kepadamu," kata 'Ikrmah, "agar engkau memohonkan ampun kepada Allah atas permusuhanku kepadamu selama ini." Nabi berdoa seperti yang diinginkannya. Kemudian, Ikrimah berbicara tentang uang yang ia belanjakan, dan tentang berbagai peperangan yang bertujuan untuk menghalangi orang-orang mengikuti kebenaran. Ia berjanji akan membelanjakan dua kali lipat dari jumlah itu dan berperang dua kali lipat di jalan Allah; dan ia memenuhi janjinya.

*#122#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment