Saturday, May 2, 2020

Kisah Rasul bagian 74

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣4⃣ *PELANGGARAN GENCATAN SENJATA*
_______________________

MESKPUN ada perjanjian, beberapa orang Bakr tetap melanjutkan perseteruan mereka dengan Khuza'ah. Tak lama setelah penaklukan Amr ke Syria, suatu kabilah Bakr menyerang Khuza'ah di malam hari, hingga seorang di antara mereka terbunuh. Dalam pertempuran selanjutnya, ada yang terjadi di dalam kawasan suci. Quraisy menolong sekutu mereka itu dengan memberi senjata; dan satu-dua orang Quraisy terlibat dalam pertempuran di tengah kegelapan malam itu. Bani Ka'b dari Khuza'ah segera mengirim deputasi ke Madinah untuk menginformasikan apa yang terjadi kepada Nabi dan meminta pertolongannya. Beliau mengatakan kepada mereka supaya menyerahkan persoalan itu kepadanya dan menyuruh mereka pulang ke wilayahnya. Ketika mereka pergi, beliau menemui 'A'isyah yang melihat beliau tampak geram. Beliau meminta air untuk berwudu dan 'A'isyah mendengar beliau berkata--seakan berkata pada dirinya sendiri, "Aku tak akan ditolong jika aku tidak menolong keturunan Ka'b".

Sementara itu, penduduk Mekah menghadapi kesulitan besar sebagai konsekuensi dari apa yang terjadi. Karena Abu Sufyan telah kembali dari Syria, mereka mengirimnya untuk membujuk Nabi, jika perlu. Dalam perjalanannya, ia bertemu orang-orang Khuza'ah kembali dari Madinah. Ia khawatir dirinya telah terlambat. Lebih khawatir lagi, ketika melihat sikap Nabi yang tidak acuh. "Wahai Muhammad," katanya, "aku tidak hadir pada saat perjanjian gencatan senjata Hudaybiyah, maka marilah kita sekarang memperkuat perjanjian tersebut dan memperpanjang masa berlakunya." Nabi menjawab, "Bukankah pihakmu yang melanggar perjanjian tersebut?" "Tuhan melarangnya!" kata Abu Sufyan tegang. "Demikian pula kami," kata Nabi, "menjaga gencatan senjata sampai pada periode yang ditentukan pada Hudaybiyah. Kami tidak akan mengubahnya, tidak pula menerima perubahannya."

Karena jelas-jelas Nabi tidak mau membicarakan hal itu lagi, maka Abu Sufyan pergi menemui putrinya, Umm Habibah, berharap ia mau turut campur demi kepentingannya. Keduanya tidak bertemu selama lima belas tahun. Tempat duduk yang terbaik adalah tikar Nabi. Maka, ketika Abu Sufyan hendak duduk di atas tikar itu, putrinya segera menariknya. "Putri kecilku," katanya, "apakah kau pikir tikar ini terlalu bagus untukku, atau aku terlalu bagus untuknya?" "Ini tikar Nabi", katanya, "dan engkau seorang musyrik, orang yang tidak suci." Lalu ia menambahkan, "Ayahku, engkau pemimpin Quraisy, Bagaimana bisa engkau tidak masuk Islam, dan engkau menyembah batu yang tidak dapat mendengar ataupun melihat?" "Mengherankan," sahut Abu Sufyan, "haruskah aku mengabaikan apa yang disembah nenek moyangku untuk mengikuti agama Muhammad?" Setelah dirinya merasa tak akan mendapat bantuan dari putrinya itu, ia menemui Abu Bakr dan sahabat yang lain, meminta campur tangan mereka untuk memperbaharui perianjian tersebut. Sebab, ia sekarang yakin, meskipun Nabi tidak mengatakannya tapi beliau menganggap perjanjian itu telah batal karena pertempuran yang baru terjadi itu. Meskipun demikian, ia tetap berharap penjanjian itu diperbarui sehingga dapat mencegah terjadinya pertumpahan darah. Itu akan terjadi jika beberapa orang yang berpengaruh mau memberikan perlindungan umum kepada setiap orang. Abu Sufyan mengusulkan alternatif ini kepada Abu Bakr, namun ia hanya menjawab, "Aku menjamin perlindungan hanya sesuai dengan yang dijamin oleh Rasulullah".

Karena yang lain juga menjawab sama, akhirnya Abu Sufyan pergi ke rumah Ali, mengingat kedekatan hubungan antara mereka, keduanya sama-sama keturunan dua bersaudara, Hasyim dan Abd al-Syams. Namun 'Ali menjawab, "Kasihan engkau hai Abu Sufyan! Rasulullah telah memutuskan untuk tidak menerima permintaanmu, dan tidak ada seorang pun berani berbicara kepadanya untuk memenangkan sesuatu yang telah beliau putuskan." Para sahabat betul-betul tahu bahwa Allah berkata kepada Nabi, _"Tanyailah mereka rentang urusan mereka dan jika engkau telah memutuskan, maka percayalah pada Tuhan";_ dan berdasarkan pengalaman, mereka juga tahu bahwa ketika Nabi mencapai satu keyakinan tertentu, maka akan sia-sia untuk mengubah pendapatnya. Abu Sufyan kini beralih kepada Fathimah, yang saat itu duduk di lantai bersama putranya, Hasan. "Wahai putri Muhammad," katanya, "tawarkan putramu untuk memberikan perlindungan kepada setiap orang, ia akan menjadi raja kaum Arab selamanya." Namun Fathimah menjawab bahwa anak kecil tidak dapat memberikan perlindungan. Abu Sufyan kembali ke Ali dengan putus asa, dan memohonnya agar mengusulkan apa yang mesti dilakukan. "Aku lihat tidak ada faedahnya," kata Ali, "tapi engkau harus bangkit dan menjamin perlindungan setiap orang. Engkau adalah penguasa Kinanah." "Akankah itu tidak membantuku sama sekali?" tanya Abu Sufyan. "Demi tuhan, aku tidak berpikir begitu," kata Ali, "namun aku lihat tidak ada lagi yang dapat kaulakukan." Akhirnya, Abu Sufyan pergi ke masjid dan berteriak dengan lantang, "Lihatlah, aku menjamin perlindungan setiap orang, dan aku pikir Muhammad akan mendukungku." Kemudian, ia menemui Nabi dan berkata, "Wahai Muhammad, aku kira engkau tidak akan mengabaikan perlindunganku." Nabi hanya menjawab, "Itu menurut pikiranmu, Abu Sufyan:"" dan pemimpin Bani Umayyah itu dengan sangat was-was kembali ke Mekah.

Nabi mulai mempersiapkan suatu kampanye. Abu Bakr bertanya, apakah ia harus bersiap-siap. Nabi mengatakan, mereka harus keluar melawan Quraisy. "Apakah kita tidak menunggu habisnya waktu gencatan senjata?" tanya Abu Bakr. "Mereka telah mengkhianati kita dan melanggar perjanjian," kata Nabi, "dan aku harus menyerang mereka. Akan tetapi, rahasiakanlah apa yang kukatakan padamu. Biarkan mereka berpikir bahwa Rasulullah akan memerangi Syria dan biarkan yang lain mengira untuk Tsaqif dan yang lainnya mengira untuk Hawazin. Ya Tuhan, ambillah semua pandangan Quraisy atas kami dan semua kabar dari kami, di mana pun kami berada, sehingga kami bisa mendekati wilayah mereka secara tiba-tiba."

Sebagai jawaban atas permohonan tersebut, datanglah wahyu bahwa salah seorang Muhajirin, bernama Hathib, telah mendengar rahasianya dan menulis surat kepada Quraisy untuk memperingatkan mereka tentang adanya kemungkinan ancaman serangan. Dia memberikannya kepada seorang wanita, bernama Muzaynah, yang berangkat ke Mekah, dan surat itu disembunyikan dirambutnya. Nabi mengutus Ali dan Zubayr untuk menyusul wanita itu. Ketika gagal menemukan surat itu di tasnya, mereka mengancam akan menggeledahnya jika ia tidak mau menunjukkannya. Maka, ia menyerahkan surat tersebut dan mereka mengambilnya untuk diserahkan kepada Nabi, yang kemudian ditunjukkan kepada penulis surat itu. "Apa yang membuatmu melakukan hal ini, Hathib?" tanya Nabi. "Wahai Rasulullah, aku tidak bermaksud menukar keimananku dan tidak ada yang dapat menggantikannya. Namun, aku seorang pria tak mempunyai apa-apa di tengah masyarakat Mekah, tanpa kekuatan pengaruh. Demi anak dan saudaraku yang berada di sana, di tengah-tengah mereka, aku bermaksud menyelamatkan mereka. "Wahai Rasulullah," 'Umar berkata, "izinkanlah aku memenggal kepalanya. Lelaki ini seorang munafik" Namun, Nabi berkata, "Bagaimana engkau tahu hai 'Umar, Tuhan mengangkat anggota pasukan Badr dan berfirman, 'Lakukanlah apa yang engkau inginkan, karena aku telah mengampunimu?'"

Nabi mengirim beberapa utusan kepada suku-suku yang dianggap dapat dimintai bantuan, mengundang mereka ke Madinah pada awal bulan depan, yaitu bulan Ramadan. Penduduk Badui menanggapi undangan itu dengan penuh kesetiaan. Pada hari yang ditentukan, telah siap pasukan bersenjata terbesar yang pernah keluar dari Madinah. Tidak ada seorang muslim pun yang tertinggal di belakang. Kaum Muhajirin tujuh ratus orang dengan tiga ratus kuda; kaum Anshar empat ribu orang dengan lima ratus kuda; dan dari berbagai suku, termasuk yang menyertai mereka di perjalanan, berjumlah hampir sepuluh ribu orang. Pasukan yang menunggang unta di belakang, mengiringi kuda-kuda mereka. Dan selain beberapa sahabat Nabi terdekat, mereka tidak tahu di mana pihak musuh berada.

Di tengah pejalanan, mereka bertemu dengan Abbas dan Umm al-Fadhl serta anak-anak mereka. Abbas memutuskan, inilah saatnya untuk meninggalkan Mekah dan tinggal di Madinah. Nabi mengajak mereka bergabung dalam ekspedisinya, dan mereka pun melakukannya. Hal itu menggembirakan Maymunah yang datang bersama Nabi.

Umm Salamah juga bersama Nabi. Pada salah satu pemberhentian berikutnya, ia diberi tahu bahwa ada dua orang laki-laki Quraisy di kemah ingin berbicara dengannya. Salah satunya adalah saudara tirinya, Abd Allah, anak ayahnya dengan bibi Nabi, 'Atikah; yang lain adalah putra paman tertua Nabi, Harits, penyair Abu Sufyan, yang pernah menjadi anak asuh Halimah. Dia bersama anaknya, Jafar. Kedua lelaki itu dekat dengan Nabi sampai kenabian. ketika mereka mulai berbalik menentangnya. Mereka kini datang untuk memohon maaf, dan meminta Umm Salamah menjadi perantara mereka. Umm Salamah menemui Nabi dan berkata, "saudara istrimu sendiri, putra bibimu, di sini, dan putra pamanmu, yang juga saudara tirimu." Namun beliau berkata, "Aku tidak ingin menemui mereka. Menyangkut saudaraku –maksudnya saudara Umm Salamah, Abd Allah– ia mengatakan tentang aku apa yang dikatakannya di Mekah; dan tentang putra pamanku, ia telah menghinaku." Abu Sufyan pernah merendahkan Nabi di dalam syairnya. Umm Salamah memohon untuk mereka, namun tidak ada tanggapan. Ketika ia sampaikan hal ini kepada mereka, Abu Sufyan berkata, "Ia harus menemuiku atau aku akan mengambil anakku, dan pergi ke padang pasir hingga mati kehausan dan kelaparan. Dan engkau –maksudnya Nabi– senantiasa lelaki yang paling menderita, karena hubunganmu terputus denganku." Ketika Umm Salamah menyampaikan pernyataan ini kepada Nabi, beliau jatuh iba dan setuju untuk menemui mereka di tendanya, tempat mereka berdua menyatakan keimanannya dan masuk Islam.

Dalam perjalanan, suatu hari Nabi melihat seekor induk anjing berbaring di sisi jalan dengan anaknya yang baru lahir. Anjing itu sedang memberi makan anaknya, dan beliau khawatir gelombang pasukan akan mengganggunya. Maka, beliau menyuruh Ju'ayl dari Damrah agar menjaganya sampai setiap kontingen lewat. Nama Ju'ayl tetap melekat padanya, meskipun namanya telah diganti oleh Nabi dengan Amr.

Di Qudayd, pasukan itu bergabung dengan Bani Sulaym, sembilan ratus tentara berkuda. "Hai Rasulullah," kata salah seorang juru bicara mereka, "engkau kira kami ini pengecut, kami adalah pamanmu dari pihak ibu –merujuk pada ibu Hasyim, 'Atikah, yang berasal dari suku mereka– "maka kami datang kepadamu dan engkau dapat menguji kami. Kami setia dalam peperangan, cerdik dalam pertempuran, dan penunggang kuda yang hebat."

Sebagaimana pasukan lain yang datang dengan kekuatan utama dari Madinah, mereka membawa bendera, tapi tidak dikibarkan. Mereka meminta Nabi untuk mengibarkannya dan menyerahkannya kepada orang yang beliau pilih di antara mereka, tapi belum waktunya untuk mengibarkan bendera. Beliau juga tidak memberitahukan ke mana mereka akan menuju.

Mula-mula Nabi mengirim seseorang ke tengah-tengah pasukan untuk mengumumkan, "Siapa yang ingin tetap berpuasa, berpuasalah! Dan barang siapa ingin berbuka, berbukalah!" Dalam perjalanan di bulan Ramadan, diperbolehkan untuk berbuka puasa dan diganti di waktu lain. Nabi sendiri dan beberapa orang lainnya tetap berpuasa sampai mereka tiba pada jarak tertentu dari Tanah Suci, Setelah itu beliau memerintahkan untuk berbuka puasa. Ketika mereka berkemah di Marr al-Zhahran, beliau memberitahukan bahwa berbuka puasa bertujuan untuk mengumpulkan kekuatan guna menghadapi musuh. Ini menimbulkan rasa penasaran banyak orang. Dari Marr al-Zhahran, Mekah dapat dicapai dalam satu atau (jika santai) dua hari perjalanan. Namun, mengingat ada perjanjian gencatan senjata, tidak mungkin mereka akan menyerang Quraisy. Perkemahan mereka juga berada di jalan menuju wilayah suku penentang Islam, Hawazin. Ataukah, setelah menguasai tanah subur di Hijaz utara, Nabi kini berpaling ke tanah subur di selatannya, Thaif, pusat penyembahan al-Lat yang masih bertahan hingga saat ini?

Pertanyaan "siapakah gerangan musuhnya" menjadi pusat perhatian setiap orang. Ka'b ibn Malik secara sukarela pergi menemui Nabi dan menanyakannya. Ia tidak bertanya secara langsung, melainkan duduk di hadapan Nabi dan melantunkan syair yang ia gubah saat itu. Poin utamanya adalah orang-orang telah mengarahkan pedang mereka dan menginterogasinya, siapa musuh yang akan dituju; dan seandainya pedang dapat berkata, mereka akan menanyakan hal yang sama. Namun, Nabi hanya menjawab dengan senyuman, dan Ka'b kembali ke pasukan dengan tangan hampa.

Kalau mereka penasaran ke mana tujuan mereka, Quraisy dan Hawazin lebih penasaran lagi. Suku terbesar Hawazin tersebar terutama pada salah satu lereng negeri perbukitan, itulah Tsaqif, penduduk Tha'if dan penjaga kuil itu, yang berinisiatif mengirimkan pesan penting kepada pengikut mereka dari suku Hawazin bahwa sepuluh ribu pasukan bersenjata dari Yatsrib sedang dalam perjalanan ke selatan, dan mereka harus menyiapkan diri atas terjadinya kemungkinan terburuk. Sebagian besar suku-suku tersebut segera bertindak dan tentara-tentara mulai berkumpul di tempat strategis, di utara Thaif.

Begitu pula Quraisy Meskipun mereka berpikir bahwa Tha'if sedang dalam bahaya lebih besar daripada Mekah, mereka sadar telah melanggar perjanjian. Kejadian ini dan penolakan Nabi untuk memperbaruinya membuat mereka putus asa. Nabi menyadari semua ini. Dan untuk membuat mereka lebih takut lagi, beliau memerintahkan pasukannya untuk menyebar dan setiap orang menyalakan api. Dari perbatasan Tanah Suci, terlihat sepuluh ribu perapian. Berita segera menyebar ke Mekah bahwa pasukan Muhammad lebih besar dari yang mereka khawatirkan. Setelah berunding dengan tergesa-gesa, Quraisy menyepakati tawaran Abu Sufyan untuk keluar dan menemui Nabi kembali. Ia disertai Hakim, sepupu Khadijah, yang melakukan sesuatu yang terbaik untuk menghentikan peperangan Badr, dan Budayl dari Khuza'ah yang membantu Nabi pada Hudaybiyah dan yang baru-baru ini menemani beberapa orang sukunya ke Madinah berkaitan dengan runtuhnya perjanjian itu.

ketika tiba di perkemahan, mereka melihat seorang penunggang kuda mendatangi mereka. Itulah Abbas, yang kabur dari perkemahan, berharap dalam perjalanannya ke kota bertemu seseorang yang dapat menyampaikan pesannya kepada Quraisy. Suatu perintah, pikirnya, bahwa mereka harus mengirim seorang perwakilan kepada Nabi sebelum terlambat. Ketika mereka sudah saling mengenali dan memberi salam, 'Abbas mengantar mereka ke tenda Nabi. Abu Sufyan berkata, "Muhammad, engkau datang dengan berbagai orang asing –sebagian dikenal dan sebagian tidak– untuk melawan kerabatmu sendiri." Namun, Nabi memotong perkataannya, "Engkaulah yang melampaui batas, melanggar perjanjian Hudaybiyah dan membantu penyerangan terhadap Bani Ka'b. Dengan demikian, kalian berdosa telah melanggar batas suci dari Tuhan." Abu Sufyan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Celaka," katanya, "engkau telah membuat marah kerabatmu dan ubah strategimu untuk menyerang Hawazin! Sebab, hubungan kekerabatan mereka lebih jauh denganmu dan lebih besar kebenciannya terhadapmu." "Aku berharap", kata Nabi, "Tuhanku akan menjamin semua itu –dengan kemenangan atas Mekah, kejayaan Islam, dan penaklukan Hawazin– dan bahwa Tuhan akan memperkaya aku dengan harta mereka sebagai rampasan perang, dan keluarga mereka sebagai tawanan. Kemudian beliau berkata kepada tiga orang itu, "Bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku adalah Utusan-Nya." Hakim dan Budayl langsung menyatakan keimanannya, tapi Abu Sufyan bersaksi bahwa "tidak ada tuhan selain Allah" dan kemudian diam. Ketika diminta untuk mengucapkan syahadat kedua, ia berkata, "Hai Muhammad, di hatiku masih ada ganjalan tentang hal ini, berilah aku waktu." Maka, Nabi meminta pamannya agar membawa mereka ke tendanya untuk bermalam. Pada waktu subuh, panggilan azan memenuhi seluruh perkemahan, dan Abu Sufyan sangat tergetar dengan suara itu. "Apa itu?" tanyanya. "Salat," kata 'Abbas. "Berapa kali mereka salat sehari semalam?" tanya Abu Sufyan. Ketika diberi tahu bahwa salat sebanyak lima kali, ia berkata, "Demi Tuhan, itu terlalu banyak!" Setelah itu ia melihat orang-orang berdesakan satu sama lain, berharap mendapatkan limpahan air wudu Nabi atau sekadar cipratannya. "Hai Abu al-Fadhl, aku tidak pernah melihat kewibawaan seperti ini," katanya. "Lebih di atasmul" kata Abbas. "Berimanlah!" "Bawalah aku padanya," kata Abu Sufyan. Setelah salat, Abbas membawanya kembali menghadap Nabi, dan ia bersaksi, Muhammad adalah Utusan Allah. 'Abbas mendekati Nabi dan berkata, "Hai Rasulullah, engkau sangat tahu Abu Sufyan mencintai kehormatan dan kemuliaan. Berikanlah ia suatu kehormatan." "Aku akan memberinya," sahut Nabi. Beliau menemui pemimpin Bani Umayyah itu, menyuruhnya agar kembali ke Quraisy, dan berkata kepada mereka, "Barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan akan selamat; barang siapa menutup pintunya akan selamat, dan barang siapa memasuki masjid akan selamat."

*#119#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment