Monday, April 27, 2020

Kisah Rasul bagian 73

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣3⃣ *SYRIA*
_______________________

SEKITAR tiga bulan setelah kembali dari umrah, Nabi mengirim lima belas orang sebagai pendakwah Islam ke salah satu suku di perbatasan Syria; tetapi salam persahabatan mereka dibalas dengan hujan panah. Mereka pun terpaksa bertempur, semua terbunuh kecuali satu orang.

Ada kemunduran lain, meskipun hanya seorang yang meninggal, namun secara politis cukup berarti. Seorang pendakwah ke Bostra ditangkap oleh kepala suku Ghassan dan dibunuh. Perbuatan seperti itu tidak dapat dibiarkan tanpa hukuman, meskipun orang-orang Ghassan, yang mayoritas Kristen, mungkin akan meminta bantuan dari perwakilan Kaisar.

Nabi mengerahkan tiga ribu pasukan bersenjata dan mengangkat Zayd sebagai komandan mereka dengan instruksi: jika Zayd terbunuh, maka posisinya diganti Jafar. Abd Allah ibn Rawahah ditunjuk sebagai orang ketiga. Jika ketiga-tiganya gugur, mereka pilih sendiri salah seorang dari mereka. Nabi menyerahkan sebuah bendera putih kepada Zayd. Bersama para sahabatnya, beliau mengantar pasukan ke tempat pelepasan di suatu lembah di antara bukit-bukit sebelah utara Uhud.

Abd Allah membonceng seorang anak yatim yang ia asuh. Di perjalanan, anak itu mendengarnya melantunkan syair –yang ia gubah sendiri– yang mengungkapkan keinginan untuk tinggal di Syria setelah pasukan kembali. "Ketika mendengar syair tersebut, aku menangis," kata anak tersebut, "dan ia menjepitku dengan pahanya dan berkata, 'Apa yang menyulitkanmu, anak yang malang, jika Tuhan mentakdirkan aku mati syahid, maka aku meninggalkan dunia ini dengan segala kefanaan, penderitaan, dan kepedihannya, dan engkau pulang dengan selamat?' Sesudah itu, selama perhentian di waktu malam, ia salat dua rakaat, dilanjutkan dengan doa permohonan yang panjang. Kemudian, ia memanggilku dan aku berkata, 'Aku di sini, melayanimu.' 'Jika Tuhan berkenan,' katanya, 'aku mendambakan kesyahidan.'"

Ketika pasukan tiba di perbatasan Syria, mereka mendengar bukan saja suku-suku utara yang mengerahkan kekuatan, namun perwakilan Kaisar telah menambah kekuatan mereka dengan tentara kerajaan. Diriwayatkan, seluruhnya musuh itu berjumlah seratus ribu kekuatan. Karena memperkirakan kemungkinan terburuk, Zayd memutuskan untuk berhenti dan membentuk dewan perang. Sebagian besar mereka sepakat untuk segera menginformasikan kejadian ini kepada Nabi, dan menyerahkan persoalan ini kepadanya, apakah mereka akan ditarik pulang atau diberi bantuan bala tentara. Tetapi, Abd Allah sangat menentang usulan tersebut. Dengan argumentasi yang tak dapat disanggah, sebagaimana juga dikemukakan di Uhud, dan seterusnya diulang-ulang, ia mengakhiri pidatonya dengan kata-kata, "Di hadapan kita ada dua hal yang sama-sama baik: menang atau syahid –bergabung dengan saudara-saudara kita dan menjadi teman mereka di surga, maka berjihad lah!"

Usulan Abd Allah diterima. Pasukan pun meneruskan perjalanan ke utara. Kini mereka tidak jauh dari ujung selatan Laut Mati, berada di lembah yang luas, di balik bukit-bukit yang terletak di sebelah timur pantai. Setelah beberapa jam bergerak, mereka dapat melihat musuh. Berapapun jumlah yang pasti gabungan pasukan Arab dan Byzantine itu, pihak muslim dapat melihat sekilas bahwa jumlah mereka jauh lebih besar. Mereka belum pernah menyaksikan tentara sehebat prajurit kerajaan yang membentuk barisan di tengah rombongan, dan diapit pasukan Arab di kedua sisinya. Kekuatan Quraisy yang mereka hadapi di bukit Aqanqal pada Perang Badr, sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan kelengkapan senjata dan kekayaan pasukan kuda yang kini mereka lihat. Mendekatnya mereka telah diantisipasi, dan pasukan muslim siap menyerbu mereka dengan formasi pertempuran.

Untuk menghindari serangan secara tiba-tiba, mengingat lahan yang berlereng terjal dihadapan mereka, Zayd memberi komando agar mundur ke selatan, ke Mu'tah, di mana mereka mendapat keuntungan, dan dapat mengonsolidasi posisi mereka. Pasukan musuh, menyadari besarnya pasukan yang mereka miliki, menyusul pasukan muslim itu ke Mu'tah. Begitu mereka mendekat, bukannya menjauh seperti yang mereka perkirakan, Zayd memberi komando untuk menyerang.

Pada saat itu, ruang antara Mu'tah dan Madinah terpantau oleh Nabi. Beliau melihat Zayd dengan bendera putihnya memimpin pasukannya bertempur. Beliau menyaksikan Zayd terluka berkali-kali hingga akhimya terkapar di tanah. Ja'far mengambil bendera dan bertempur hingga menemui ajalnya pula, akibat luka yang menciderainya. Lantas Abd Allah mengambil bendera dan bertempur dengan penuh semangat, melawan musuh yang dibalas dengan serangan hebat. Ia pun tewas dan pasukannya mundur dengan kocar kacir. Sahabat lainnya, Tsabit ibn Arqam, mengambil bendera dan menyatukan pasukan kembali. Namun, ia kemudian memberikan bendera itu kepada Khalid yang semula menolak kehormatan tersebut karena Tsabit lebih berhak. "Ambillah," kata Tsabit. "Aku memang mengambilnya, tapi untuk diberikan kepadamu". Maka, Khalid mengambil alih komando dan menyatukan kembali barisan. Sementara itu, musuh telah mundur, sehingga ada kesempatan bagi pihak muslim mengatur siasat untuk menyelamatkan pasukan. Itu sebuah kemenangan bagi musuh, namun mereka tidak mendapatkan keuntungan darinya. Sedangkan di pihak muslim, selain tiga pemimpinnya, hanya lima orang yang terbunuh. Itu merupakan kemenangan bagi Khilid. Saat menceritakan perang itu dan tentang kematian Zayd, Ja'far, dan Abd Allah, kepada para sahabatnya, Nabi berkata, "Lalu salah satu dari pedang Allah mengambil bendera, dan Tuhan membuka jalan bagi mereka" –jalan bagi kaum muslim untuk meraih keselamatan; dan sejak itulah Khalid dipanggil dengan gelar "Pedang Allah".

Ketika Nabi menggambarkan peperangan tersebut, air mata membasahi pipinya. Saat waktu salat tiba. beliau mengimaminya, lalu segera keluar dari masjid tanpa menoleh kepada jamaah seperti biasanya. Demikian pula pada salat magrib dan isya.

Sementara itu, beliau menuju kediaman Jaffar. "Wahai Asma," katanya, "mana anak-anak Ja'far?" Dengan perasaan was-was yang tampak di wajahnya, Asma' membawa ketiga anak laki-laki itu. Nabi menciumi mereka dan matanya kembali digenangi air mata dan beliau pun menangis. "Wahai Rasulullah, yang lebih kukasihi dari ayah dan ibuku," tanya Asma', "apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau telah mendengar kabar tentang Jafar dan rekan-rekannya?" "Begitulah", jawab Nabi. "Mereka hari ini diserang". Asma menangis sedih dan para wanita bergegas mendampinginya. Nabi kembali ke rumahnya dan memerintahkan agar dipersiapkan makanan bagi keluarga Jafar untuk beberapa hari nanti. "Duka cita akan menyibukkan mereka," katanya, "bahkan untuk mengurusi kebutuhan mereka sendiri."

Umm Ayman, Usamah dan keluarga Zayd lainnya berada di rumah. Nabi telah menyatakan bela sungkawa kepada mereka. Ketika beliau kembali, anak perempuan Zayd yang masih kecil lari ke jalan sambil menangis. Begitu melihat beliau, ia lari ke dalam pelukannya. Air mata beliau kini mengucur deras tak tertahankan. Saat memeluk anak tersebut, badan beliau bergetar karena terharu. Pada saat itu, Sa'd ibn 'Ubadah kebetulan lewat dan mencoba mencari kata-kata yang menghibur, ia berbisik, "Wahai Rasulullah, ada apa?" "Ini", sahut Nabi, "adalah ungkapan cinta seseorang kepada yang dicintainya."

Malam itu Nabi bermimpi melihat surga, dan beliau melihat Zayd berada di sana, juga Ja'far, Abd Allah, dan syuhada lainnya. Beliau melihat Jafar melayang dengan sayap laksana malaikat. Pagi harinya, beliau menuju masjid, para sahabat merasa bahwa kesedihan beliau telah hilang. Setelah salat, beliau seperti biasanya menolehkan wajahnya; lalu pergi ke rumah Asma', untuk mengabarkan apa yang beliau lihat dalam mimpinya, dan Asma' begitu bersuka cita.

Ketika Khalid dan pasukannya kembali ke Madinah, Nabi datang menyambut mereka dengan mengendarai kuda putihnya, Dul-dul, yang diberi oleh Muqawqis. Beliau menaikkan anak tertua Ja'far di pelana depannya. Banyak pria dan wanita telah berbaris di sepanjang jalan. Saat tentara lewat, mereka menyambut dengan cemoohan dan melemparkan debu ke wajah para prajurit itu. "Pengecut!" teriak mereka. "Bukankah kalian lari dari berjuang di jalan Allah?" "Tidak!" sahut Nabi. "Mereka tidak melarikan diri, tapi akan kembali berjuang, jika Allah menghendaki."

Kekalahan di Mu'tah memacu orang Arab Utara untuk memperkuat perlawanan mereka terhadap negara Islam baru itu. Beberapa bulan berikutnya, ada kabar bahwa suku Bali dan Qudha'ah berkumpul di perbatasan Syria dalam jumlah besar. bermaksud akan bergerak ke selatan. Namun, kali ini tampaknya tidak ada bala bantuan dari Kaisar. Nabi mengutus Amr mengepalai tiga ratus orang dengan instruksi untuk bertempur di kala perlu dan menjalin persekutuan jika memungkinkan. Di antara alasan pemilihan komandan barangkali adalah kedekatan hubungan, di mana ibu Amr berasal dari suku Bali. Perjalanan malam hari dan perkemahan yang tersembunyi dilakukan untuk menghindari apa pun yang menarik perhatian. Mereka tiba di perbatasan Syria dalam tempo sepuluh hari. Musim dingin datang lebih awal tahun itu. Biasanya, begitu sampai di persinggahan terakhir, orang Mekah dan Madinah mengumpulkan kayu bakar. Namun, Amr melarang menyalakan api, sehingga mereka mengeluh. Keluhan mereka berhenti ketika Amr berkata, "Kalian diperintahkan untuk mendengarkan aku dan menaatiku, maka lakukanlah!"

Setelah diketahui bahwa jumlah pasukan musuh jauh lebih besar dari yang diperkirakan, dan sedikit harapan akan mendapat bantuan dari pihak setempat, Amr mengutus seorang Juhaynah kepada Nabi untuk meminta penambahan kekuatan. Abu 'Ubaydah segera dikirim bersama dua ratus orang. Sebagai salah seorang sahabat terdekat Nabi dan orang yang selalu ikut dalam pertempuran, ia berharap menjadi pimpinan. Akan tetapi, Amr bertahan karena pendatang baru itu baginya hanyalah pasukan bantuan dan dirinyalah yang memegang posisi komandan. Nabi telah menyuruh Abu Ubaydah agar menjalin kerja sama yang baik dan menghindari perpecahan di antara dua kekuatan itu. Maka, ia berkata kepada Amr, "Jika engkau tidak menaatiku, demi Tuhan, aku akan menaatimu." Ketika Nabi mendengar hal ini, beliau memuji Abu Ubaydah.

Amr sekarang memimpin lima ratus pasukan melintasi perbatasan Syria. Begitu mereka mendekat, pihak musuh bubar. Hanya ada perang panah singkat; dan yang lain usul untuk mengepung perkemahan-perkemahan, yang ternyata telah ditinggalkan penghuninya. Dengan tidak adanya berbagai suku yang bermusuhan, pihak-pihak yang bersahabat –secara individu dan kelompok– berani menampakkan diri mereka. Maka, 'Amr dapat mengklaim, dalam suratnya kepada Nabi, ia telah menegakkan kembali pengaruh Islam di perbatasan Syria.

Pengaruh itu sekarang tumbuh pesat meliputi semua suku di seluruh penjuru Yatsrib. Alasannya tidak semata-mata spiritual: Nabi sekarang dikenal sebagai musuh yang berbahaya dan tidak dapat diabaikan; Nabi juga dikenal sebagai sekutu yang baik hati dan dapat diandalkan, dibandingkan dengan sekutu lainnya yang kurang menarik dan lebih beresiko. Dalam banyak kasus, motif politik dan agama tak dapat dipisahkan; namun ada juga faktor, yang lambat laun menguat dan mengendap yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan politik, melainkan karena keinginan besar kaum muslim untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal ini ditandai sccara jelas dengan mempraktekkan agama baru itu. Alquran, firman Allah, adalah kitab mulia dan kitab surga. Membaca ayat-ayat Alquran, ditambah dengan sunah Nabi, telah mengilhami kaum mukmin dengan pasti bahwa mereka akan mudah meraih –sesuai dengan kemampuan masing-masing– kepuasan abadi dari setiap keinginan. Hasil kebahagiaan adalah suatu ukuran keimanan. Nabi bersabda, "Segala sesuatu, apa pun keadaannya, adalah baik bagi orang beriman.

Sementara itu, di Syria sendiri terdapat suatu peristiwa yang tampaknya belum didengar oleh Nabi, meskipun jelas sebagian karena kesuksesan penaklukan Amr. Biar bagaimanapun juga, dapat dijelaskan mengapa suku-suku Arab yang melawan tentara muslim harus sepenuhnya mengandalkan kekuatannya sendiri, tanpa bala bantuan dari kerajaan.

Heraklius telah menerima berita tentang kemenangan akhir pasukannya atas bangsa Persia dan pengambilalihan kembali Rood dari Yerusalem. Saat itu, ia berada di Homs dan kemudian melakukan perjalanan ke Kota Suci dengan berjalan kaki, sebagai ungkapan syukur atas apa yang telah diraih kembali. Suatu malam, ketika berada di sana, ia bermimpi bahwa dirinya tahu pasti masa-masa kedaulatan Byzantine atas Syria dan Palestina akan berakhir. Esok paginya, orang-orang yang menyertainya melihat rasa gundah terpancar di wajahnya. Sebagai jawaban atas pertanyaan mereka, ia berkata, "Dalam mimpi, aku melihat kejayaan kerajaan seorang laki-laki yang dikhitan." Lalu ia bertanya tentang khitan dan siapa yang melakukan khitan. Para jenderal dan pejabat lainnya yang hadir mengatakan bahwa hanya pengikut yahudi yang dikhitan. Ketika seorang utusan Gubernur Ghassan datang, yang disertai seorang Badui, mereka berusaha membujuk raja agar menindak orang-orang Yahudi. "Orang ini, wahai raja," kata utusan tersebut, "berasal dari Arab, sebuah suku domba dan unta. Ia berbicara tentang keajaiban yang menimpa negerinya, maka mintalah ia menceritakan hal itu". Heraklius menyuruh juru bicaranya untuk menanyai orang badui itu dan ia menjawab, "Seorang laki-laki telah hadir di tengah-tengah kami dan ia mengaku sebagai nabi. Beberapa orang menjadi pengikutnya dan memercayainya, sebagian lagi menentangnya. Di beberapa tempat terjadi peperangan antara mereka. Aku meninggalkan mereka dalam keadaan seperti itu." Heraklius lalu memerintahkan pembantunya untuk memeriksa laki-laki itu apakah dikhitan atau tidak, dan ternyata ia dikhitan. Maka, raja itu berkata, "Inilah, demi Tuhan, apa yang kulihat dalam mimpiku, bukan apa yang kalian katakan." Kemudian, ia mengutus kepala polisi untuk mencari lelaki yang mengaku nabi tersebut.

Kini –saat kaum muslim Madinah melakukan umrah– Abu Sufyan, kepala Bani Abd al-Syam, tidak ada di Mekah. Ia menggunakan masa gencatan senjata untuk melakukan perdagangan bersama satu-dua pedagang lain dari Quraisy ke Syria. Di Gaza, tempat mereka berdagang, orang kerajaan menjumpai mereka. Dari sana mereka dibawa ke Yerusalem. Begitu berhadapan dengan raja, mereka ditanya siapa yang paling dekat hubungannya dengan orang yang mengaku sebagai nabi itu. Abu Sufyan menjawab bahwa dirinya yang terdekat. Kemudian, Heraklius menanyainya dan menyuruhnya duduk di hadapannya. Ia berkata kepada yang lainnya, "Aku akan bertanya padanya, dan jika ia berbohong, bantahlah ia." Ketika ditanya tentang keponakan Hasyim itu, Abu Sufyan mulai merendahkannya dengan mengatakan, "Jangan biarkan ia membuatmu takut. Kebesarannya tidak sebesar yang engkau dengar." Namun raja dengan tidak sabar menyelanya dengan pertanyaan yang lebih spesifik. Raja memperoleh jawaban tertentu atas setiap pertanyaannya, dan ia menyimpulkan sebagai berikut:

```Aku bertanya kepadamu tentang garis keturunannya, dan kaujawab, ia bersih dan terbaik di antara kalian; Tuhan tidak memilih nabi melainkan orang yang memiliki garis ketununun yang paling mulia. Lalu aku menanyakan, adakah saudaranya yang mengaku seperti itu dan engkau mengatakan tidak. Lalu aku bertanya, apakah ia kehilangan kekuasaan dan mengaku nabi demi meraihnya kembali. Jawabannya tetap tidak. Lalu aku bertanya tentang pengikutnya dan engkau mengatakan, mereka adalah kaum lemah dan miskin, para budak laki-laki dan perempuan, begitulah pengikut para nabi sepanjang masa. Kemudian aku bertanya, apakah ada pengikutnya yang meninggalkannya dan engkau menjawab tidak ada. Begitulah manisnya iman: ketika merasuk ke dalam hati, ia tidak akan pergi. Lalu aku bertanya, apakah ia tidak dapat dipercaya, engkau menjawab tidak. Jika apa yang kaukatakan kepadaku itu benar, ia akan mengalahkan aku; dan seandainya aku berada besertanya, aku akan membasuh kakinya. Sekarang, pergilah sesuka hatimu.```

Nabi menulis surat kepada Heraklius seperti yang ditulis kepada penguasa Persia dan Mesir, mengajak mereka memeluk Islam. Surat ini, yang dikirimkan oleh Dihyah dari Kalb kepada Gubernur Bostra, disampaikan ke Yerusalem tak lama setelah Abu Sufyan datang meyakinkan penguasa tersebut, bahwa orang yang mengaku nabi itu memang benar-benar nabi. Surat dari Madinah itu membenarkan hal ini: namun untuk memastikan lebih jauh. Heraklius mencatat apa yang ia dengar, termasuk memperhitungkan mimpinya, dan mengirimkannya kepada seseorang di konstantinopel yang memiliki pengetahuan dan kebijakan yang dipercaya. Orang itu menjawab, "Dia adalah nabi yang telah kita tunggu-tunggu. Tidak ada lagi keraguan, karena itu, ikutilah dan berimanlah kepadanya." Sementara itu, Heraklius telah kembali ke Homs dan di sanalah ia mendapat jawaban tersebut. Setelah membacanya, ia mengundang semua petinggi Byzantine yang berada di kota itu untuk hadir dalam satu ruangan di istana. Ia memerintahkan agar pintunya dikunci. Kemudian, ia menyampaikan, "Kaum Roma, jika tujuan kalian adalah keberhasilan dan kebenaran, dan jika kalian menginginkan kedaulatan kalian tetap bertahan, maka berbaiatlah kepada Nabi ini". Karena surat Nabi telah mereka ketahui, mereka memahami ucapannya. Satu persatu berbalik menuju pintu dan mereka berusaha membukanya. Melihat penolakan besar mereka, Heraklius putus asa untuk meyakinkan mereka seperti yang diyakininya. Akhirnya, ia memanggil mereka kembali dan berkata, "Aku mengatakan hal tersebut untuk menguji kekuatan keyakinan kalian! Sekarang aku sudah tahu." Mereka pun membungkukkan diri di hadapannya dan rekonsiliasi. Heraklius yakin, Syria akan jelas-jelas dikalahkan oleh para pengikut Nabi. Tetapi, saat itu, merasa wajib menyembunyikan keyakinannya.

*#117#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment