🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣2⃣ *UMRAH DAN DAMPAKNYA*
_______________________
BULAN demi bulan berlalu, hampir setahun semenjak penandatanganan perjanjian Hudaybiyah. Kini saatnya pergi ke Mekah. Sesuai dengan janji Quraisy, Nabi dan para sahabatnya boleh memasuki Tanah Suci dengan aman untuk melaksanakan umrah. Ada hampir dua ribu jamaah, termasuk jamaah tahun sebelumnya, kecuali beberapa yang wafat atau terbunuh dalam peperangan. Di antara yang tidak turut serta dalam Hudaybiyah adalah Abu Hurayrah, lelaki Bani Daws. Dia tiba di Madinah bersama beberapa orang sukunya pada masa penaklukan Khaybar, dan karena hidup miskin, ia bergabung dengan _Ahl al-Shuffah._ Ketika masuk Islam, namanya diganti menjadi Abd al-Rahman, namun lebih dikenal sebagai Abu Hurayrah, "bapak kucing", karena seperti Nabi, ia sangat menyayangi kucing dan sering bermain-main dengannya. Ia langsung disukai Nabi, yang kali ini dibayar dengan beberapa unta kurban.
Ketika para jamaah hampir tiba di perbatasan Tanah Suci, kaum Quraisy mengosongkan seluruh kota Mekah dan mereka menyingkir ke puncak bukit-bukit sekitarnya. Para pemuka Quraisy berkumpul di bukit Abu Qubays. Dari sana, mereka dapat melihat masjid dan dapat memandang secara leluasa ke sekeliling negeri. Dan mereka kini menyaksikan barisan panjang para jamaah muncul dari arah barat daya, turun menuju lembah kota. Telinga mereka mendengar sayup-sayup alunan, yang kemudian segera dikenal sebagai seruan jamaah haji di masa lalu: _labbayk Allahumma labbayk, Ya Tuhan, aku datang memenuhi panggilan-Mu._
Gelombang pawai jamaah dengan kepala terbuka dan berjubah putih itu dipimpin oleh Nabi yang menunggangi Qashwa', dan Abd Allah ibn rawahah yang berjalan kaki, memegang kendali unta itu. Jamaah yang lain, sebagian mengendarai unta dan sebagian berjalan kaki. Mereka langsung menuju Rumah Suci melalui jalur terdekat. Masing-masing mengenakan jubahnya. Namun, begitu memasuki masjid, Nabi meletakkannya di bawah lengan kanannya, punggungnya dibiarkan telanjang, dan kedua ujungnya disilang di atas pundak kirinya, dibiarkan menggantung. Para jamaah lain mengikutinya. Masih mengendarai unta, beliau menuju ke sisi tenggara Ka'bah dan menyentuh Hajar Aswad dengan penuh hormat. Kemudian, beliau mengitari Ka'bah tujuh kali putaran, lalu menuju kaki bukit Shafa dan Marwah. Beliau berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, berakhir di Marwah, tempat hewan-hewan kurban kini diletakkan. Di situlah beliau menyembelih seekor unta dan rambutnya dicukur oleh Khirash, orang yang juga mencukurnya di Hudaybiyah. Dengan demikian, selesailah pelaksanaan ibadah umrah.
Nabi kembali ke masjid, bermaksud memasuki Ka'bah yang di penuhi banyak berhala. Namun, pintunya terkunci, dan kuncinya dipegang oleh salah seorang Bani Abd al-Dar. Nabi mengutus seseorang untuk memintanya, tapi pemuka Quraisy menolak, karena memasuki Ka'bah tidak termasuk dalam perjanjian mereka, dan bukan bagian ritus ibadah umrah. Maka, tidak ada seorang pun yang memasukinya pada tahun itu. Meskipun demikian, ketika magrib tiba, Nabi menyuruh Bilal naik ke atap Ka'bah dan mengumandangkan azan. Gema suaranya memenuhi seluruh lembah Mekah melambung hingga ke puncak bukit; pertama bertakbir (menyerukan kebesaran Allah), lalu dua syahadat, _"Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah."_ Dari Abu Qubays, para tokoh Quraisy dapat dengan jelas mendengarkan suara Bilal, dan mereka sangat marah melihat budak hitam itu berada di atap Ka'bah. Namun demikian, mereka sadar bahwa hal itu merupakan kemenangan pihak musuh yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Mereka agak menyesal telah menandatangani perjanjian tersebut, yang setahun lalu tampaknya menguntungkan pihak mereka.
Jamaah berada di kota yang dikosongkan itu selama tiga hari. Tenda Nabi berdampingan dengan masjid. Sepanjang malam, penduduk Mekah yang muslim turun dari bukit secara diam-diam dan terdapat pertemuan yang penuh kegembiraan. Abbas, yang keislamannya ditolerir kaum Quraisy, bebas menghabiskan waktu tiga hari bersama Nabi. Pada saat itu, ia menawari Nabi agar menikahi saudara perempuan istrinya, Maymunah, seorang janda, dan Nabi menerimanya. Maymunah adalah saudara kandung Umm al-Fadhl. Bersama mereka, di kediaman Abbas, tinggal pula saudara tirinya, Salma –janda Hamzah– dan putrinya, 'Umarah. Ali menyarankan agar keponakan mereka, anak perempuan Hamzah, tidak ditinggalkan bersama kaum musyrik. Nabi dan Abbas setuju; dan karena Fathimah turut serta dalam jamaah, maka ditetapkan sebaiknya ia menemani 'Umarah di hawdahnya
Ketika hari ketiga berakhir, Suhayl dan Huwaythib turun dari Bukit Abu Qubays dan berkata kepada Nabi yang sedang duduk bersama Sa'd ibn Ubadah dan para sahabatnya yang lain, "Waktumu telah habis, maka pergilah dari kami." Nabi menjawab, "Apa jeleknya jika kalian memberi kami sedikit tenggang waktu untuk merayakan pernikahanku di tengah-tengah kalian, dan menyiapkan jamuan makan untuk kalian?" "Kami tidak butuh jamuanmu," jawab mereka. "Pergilah dari kami. Demi Tuhan dan demi perjanjian yang kita buat, kami mendesakmu, hai Muhammad, agar meninggalkan negeri kami. Ini adalah malam ketiga, yang kini telah berlalu." Sa'd marah atas ketidaksopanan mereka, namun Nabi menenangkannya. "Hai Sa'd, tidak perlu ada kata-kata buruk bagi siapa pun yang bertamu ke kemah kita." Lantas, beliau memerintahkan seluruh jamaah untuk meninggalkan kota begitu malam tiba. Namun, beliau mengecualikan Abu Rafi', pembantunya, yang beliau suruh berangkat belakangan dan membawa Maymunah. Pernikahan akhirnya dilangsungkan di Sarif, beberapa mil di luar Tanah Suci.
Pernikahan ini mewujudkan hubungan lain yang tak terduga dengan pihak musuh. Maymunah dan Umm al-Fadhl, saudara tiri Salma dan Asma', adalah anak perempuan yang dilahirkan dari satu ibu. Tetapi, Maymunah dan Umm al-Fadhl memiliki saudara tiri lain dari pihak ayah, bernama Ashma', janda yang mulia Walid dari Makhzum. Dialah yang melahirkan Khalid, yang kini menjadi keponakan Nabi lewat pernikahan.
Sehari setelah tiba di Madinah, Nabi terbangun dari tidur siangnya mendengar perdebatan yang agak sengit. Beliau mengenali suara Ali, Zayd, dan Jafar, dan jelas sekali, mereka saling berselisih satu sama lain. Dan tampak sekali, semakin mereka berargumentasi, semakin menjauhkan mereka dari kesepakatan. Nabi membuka pintu, memanggil mereka masuk, dan menanyakan apa yang menyebabkan mereka berselisih. Mereka menegaskan bahwa itu menyangkut kehormatan: siapa di antara mereka yang paling berhak mengasuh putri Hamzah yang kini berada di rumah Ali sejak kedatangannya dari Mekah. "Kemarilah," ajak Nabi, "aku akan memberi keputusan di antara kalian." Setelah mereka semua duduk pertama-tama beliau menoleh ke Ali dan menanyakan apa yang hendak dikatakannya. "Dia putri pamanku," katanya, "dan akulah yang membawanya dari Mekah, maka aku paling berhak mengasuhnya." Lalu Nabi berpaling ke Ja'far. Ja'far berkata, "Dia juga putri pamanku, dan bibinya tinggal di rumahku." Istrinya, Asma' adalah bibi Umarah dari pihak ibu. Sedang Zayd berkata, "dia putri saudaraku." Zayd telah dipersaudarakan oleh Nabi dengan Hamzah ketika mereka tiba di Madinah dan Hamzah telah berwasiat menyerahkan semua urusannya kepada Zayd. Tidak diragukan lagi, masing-masing mengaku paling berhak. Maka, sebelum memutuskan, Nabi memuji mereka masing-masing. Beliau mengatakan kepada Ja'far, "Engkau mirip denganku dalam rupa dan karakter ". Setelah melihat mereka bahagia, beliau menetapkan keputusannya dengan memenangkan Jafar. "Engkau paling berhak atasnya," kata Nabi, "Kedudukan seorang bibi sama dengan ibu." Jafar tidak berkata apa-apa, melainkan bangkit dan berputar mengelilingi Nabi sambil menari. "Jafar, apa-apaan ini?" tanya Nabi. Dia menjawab: "Inilah yang kulihat dilakukan orang-orang Abyssinia untuk menghormati raja mereka. Jika Negus membuat seseorang senang, maka orang itu akan berdiri dan menari di sekelilingnya."
Tak lama kemudian, Nabi menyelenggarakan pernikahan antara Umarah dan anak tirinya sendiri, Barrah, keponakan salamah –ayah Abu Salamah adalah putra saudara perempuan Hamzah. Pada saat itu, Nabi berkata, "Bukankah saat ini telah kubayar kembali kepada Salamah?" Maksudnya, beliau berhutang kepada Salamah karena ibunya, Umm salamah, telah diberikan kepada Nabi untuk dinikahi, dan sebagai gantinya, kini beliau memberi Salamah seorang pengantin perempuan.
Masuknya Nabi ke Mekah disaksikan tokoh-tokoh terpenting Quraisy Namun, ada dua pengecualian: Khalid dan Amr tidak berada di bukit Abu Qubays, dan tidak pula berkemah di bukit lainnya di atas Mekah. Sebelum Nabi tiba, keduanya menyingkir dari kota. Keputusan mereka untuk tidak hadir adalah atas kemauan mereka sendiri. Sebab, tidak ada alasan bagi mereka untuk melakukan hal yang sama seperti yang lain. Namun, mereka sepenuhnya sepakat dalam satu hal: perjanjian Hudaybiyah merupakan kemenangan moral terbesar bagi Nabi, dan kedatangan Nabi ke Mekah menjadi akhir perlawanan kepadanya. Meski demikian, kebencian Amr terhadap Islam tidak berkurang, sementara Khalid selama bertahun- tahun hingga kini menjadi seorang yang berpikiran ganda. Kehebatannya berperang membuatnya selalu dipercaya untuk memimpin semua peperangan Quraisy melawan Nabi. Namun, belakangan, ia mengakui bahwa sejak pulang dari Perang Uhud dan Parit perasaannya tidak tenang; peperangan ini sia-sia dan Muhammad pada akhirnya meraih kemenangan. Saat Nabi menarik pasukannya dari Hudaybiyah, Khalid memproklamirkan, "Orang ini dilindungi!" itulah tindakan terakhirnya terhadap Islam. Kemudian, datanglah kemenangan yang menakjubkan pada Perang Khaybar.
Namun, terdapat pula beberapa pertimbangan lain: hampir dalam setiap pandangannya, Khalid memiliki kesukaan kepada Nabi secara pribadi. Dari surat yang ditulis adiknya, Walid, sebelum meninggal, ia mendengar bahwa Nabi terkadang menanyakannya dan mengatakan, "Kalau saja dia mau mengerahkan kehebatannya di pihak Islam melawan kaum musyrik, itu akan lebih baik baginya; dan kami akan memberinya keistimewaan daripada yang lain." Untuk itu, Walid menambahkan, "Lihatlah saudaraku, apa yang telah engkau abaikan!"
Di samping itu, ada pula pengaruh dari kerabatnya. Ibu Khalid, Asma', telah lama mengikuti Nabi dan masuk Islam; dan sekarang Maymunah, telah menjadi istri Nabi. Tidak lama sesudah pernikahan tersebut, Khalid bermimpi: dia berada di suatu negeri yang di semua sisinya tertutup dan sangat tandus. Lalu ia keluar dari kurungan tersebut, pergi ke lahan yang hijau dan subur, dengan padang rumput yang luas dan panjang. Ia tahu bahwa itu adalah sebuah mimpi yang benar dan mengandung makna ramalan, maka ia memutuskan untuk pergi ke Madinah. Namun, ia lebih suka pergi dengan seorang teman. Adakah orang lain yang sepikiran dengannya? Selain Amr, yang tidak ia jumpai, ada dua kawan seperjuangannya, 'Ikrimah dan Shafwan. Dia mengajak keduanya, namun Shafwan berkata, "Meskipun seluruh orang Quraisy mengikuti Muhammad, aku tidak akan pernah mengikutinya." 'Ikrimah mengatakan hal yang hampir sama; dan Khalid teringat bahwa kedua ayah mereka terbunuh di Perang Badr, dan Shafwan juga kehilangan saudara laki-lakinya. Dengan sangat menyesal, ia terpaksa sendirian. Akan tetapi, setelah meninggalkan rumahnya, ia bertemu 'Utsman, putra Thalhah dari Bani Abd al-Dar –orang yang setahun lalu menemani Umm Salamah dari Mekah ke Madinah. 'Utsman adalah teman baik Khalid, bahkan lebih dekat dari Shafwan ataupun Ikrimah. Namun, pengalaman Khalid dengan dua orang itu membuatnya menjadi segan; dan ia teringat 'Utsman telah kehilangan ayahnya; dua pamannya; dan empat saudaranya pada Perang Uhud.
Mereka berkendaraan bersama dalam suasana diam dan hening. Kemudian, Khalid tiba-tiba memutuskan untuk bicara, dan dengan tatapan penuh perhatian ia berkata, "Keadaan tidak lebih baik dari seekor rubah di bumi. Mengalir tapi hanya seember air dan akhirnya harus tumpah!" Ia segera melihat 'Utsman mengerti maksudnya maka ia mengatakan kemana dan mengapa ia akan pergi. 'Utsman, yang secara berangsur-angsur berkeputusan sama, memutuskan untuk menemaninya. Khalid dengan gembira setuju untuk menunggu ia pulang ke rumah untuk mengambil perbekalan dan pakaian. Esoknya, pagi-pagi mereka berangkat ke Madinah bersama-sama.
Sedangkan Amr, ia seide dengan Shafwan dan Ikrimah tentang Islam, tapi ia bisa melihat dengan lebih jelas bahwa mereka berada dalam situasi yang genting. Segenap pemuda sukunya, Sahm, dan suku lainnya yang menganggapnya sebagai pemimpin, ia kumpulkan dan dibujuk agar pergi bersamanya ke Abyssinia. Ia menyatakan, jika Muhammad menang dalam perebutan kekuasaan, maka mereka akan mencari suaka keamanan; dan jika Quraisy menang, mereka dapat kembali ke Mekah. "Kita lebih baik berada di bawah kekuasaan Negus daripada Muhammad," katanya. Mereka pun menyetujuinya.
'Amr seorang politisi yang cerdik, keras hati, dan tidak mudah menyerah. Meskipun gagal meruntuhkan pengaruh kuat Jafar dan teman-temannya, ia tetap saja bersusah payah memenuhi tuntutan Negus selama ia perlukan, dan dengan penuh perhatian mempertahankan hubungan dengannya bertahun-tahun, tidak menyinggung sedikit pun tentang para pengungsi muslim itu. Namun, sekarang mereka telah meninggalkan negeri itu dan bergabung ke Madinah. Dengan kepergian mereka, Amr keliru menyimpulkan bahwa prasangka Negus berpihak pada agama baru itu. Pada audensi pertamanya, hadiah kulitnya yang mewah diterima Negus dengan senang hati. Negus tampaknya mempersilakan Amr datang kembali untuk memohon suaka. Namun, ternyata ia merendahkan Nabi yang membuat raja itu murka. 'Amr sama sekali tercengang: jelas dari apa yang dikatakan Negus bahwa cara terbaik untuk membangun masa depan dirinya sendiri –jauh lebih baik dari hadiah kulit itu– adalah menjadi pengikut Muhammad. Ia menghindari Islam hanya karena Islam telah membuatnya gagal mendapat perlindungan yang dia harapkan dan meruntuhkan rencana pertahanannya. "Apakah engkau percaya kepadanya, wahai Raja?," tanyanya –maksudnya adalah percaya terhadap kenabian Muhammad. "Aku bersaksi di hadapan Tuhan", jawab Negus tegas. "Lakukan apa yang telah kukatakan padamu, hai 'Amr, dan ikutilah dia. Demi Tuhan, ajarannya benar dan dia akan memenangkan setiap upaya perlawanan terhadap dirinya, seperti Musa menang atas Fir'aun dan pengikutnya."
Sejarah tidak mencatat nama-nama pengikut Amr atau apa yang mereka lakukan. Namun, Amr sendiri menaiki kapal yang mengantarnya ke pelabuhan di pantai Yamani. Di sana ia membeli seekor unta dan berjalan ke utara. Setibanya di Haddah, salah satu pemberhentian pertama di rute pesisir dari Mekah ke Madinah, ia bertemu Khalid dan 'Utsman, lalu mereka melanjutkan sisa perjalanan bersama-sama.
Mereka di Madinah disambut dengan gembira. Khalid berkomentar tentang Nabi, "Ketika beliau menjawab salamku, wajahnya berseri-seri." Dialah yang pertama kali menyatakan keislamannya, _"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Engkau adalah Utusan Allah."_ "Segala puji bagi Allah yang telah memberimu petunjuk," kata Nabi, "aku pernah melihat dalam dirimu ada kecerdasan yang aku berharap akan mengantarmu kepada kebaikan." "Wahai Rasulullah," kata Khalid, "engkau telah menyaksikan semua pertempuran di mana aku turut serta melawanmu dalam mengingkari kebenaran. Mohonkan kepada Allah agar Dia mengampuniku." "lslam menghapus semua yang terjadi sebelumnya," kata Nabi. "Meskipun sebanyak itu?" tanya Khalid, masih meragukannya; dan Nabi berdoa, "Ya Allah, ampunilah Khalid atas semua yang menghalangi Jalan menuju jalan-Mu." Kemudian, 'Utsman dan Amr menyatakan keislamannya. Sesudah itu, Amr bercerita bahwa ia tak sanggup membuka matanya melihat wajah Nabi, karena begitu takzimnya kepada Nabi ketika itu.
Keponakan 'Umar, Hisyam –saudara Amr– telah melarikan diri dari Mekah ke Madinah sesaat setelah Perang. Sejak itu, ia ditemani keponakannya, Abd Allah, putra Amr. Abd Allah kini berusia enam belas tahun, sangat taat dan sering berpuasa. Ia juga orang yang paling terpelajar di antara para sahabat, dan diberi izin mencatat banyak hadis Nabi. Abd Allah dan Hisyam sama-sama mendoakan keislaman Amr, dan kembalinya Amr kepada mereka di Madinah sangat menyenangkan kedua belah pihak.
Dua peristiwa menyenangkan lainnya pada bulan ini adalah keislaman Aqil, saudara Jafar dan Ali, dan Jubayr, putra Muth'im. Keimanan telah berakar pada hati Jubayr, ketika ia datang untuk menebus beberapa tawanan Perang Badr, dan keimanan itu sekarang tumbuh tidak dapat ditepis lagi. Kepada Aqil, ketika ia menyatakan keislamannya, Nabi berkata, "Aku mencintaimu dengan dua alasan: karena engkau kerabat dekatku dan karena kasih sayang pamanku yg pernah kulihat padamu."
Awal pertengahan tahun ini –delapan tahun sesudah hijrah– tidak saja tahun suka cita, melainkan juga masa duka cita. Kematian pertama menimpa rumah tangga Nabi, yaitu putrinya, Zaynab. Pada detik-detik terakhir, beliau bersamanya dan menenangkan menantu dan cucu kecilnya. Lantas, ia menyuruh Umm Ayman, Sawdah, dan Umm Salamah, agar menyiapkan pemakaman. Selesai memandikan jenazahnya, Nabi melepaskan jubah yang sedang beliau pakai, dan menyuruh menutupkannya ke jenazah Zaynab sebelum dikafani Kemudian, mereka menyalatinya dan berdoa di samping makamnya.
Khadijah satu-satunya istri Nabi yang dikaruniai anak. Masyarakat Madinah mendambakan seorang anak dilahirkan untuk Nabi di kota mereka. Di antara istrinya hanya dua –Umm Salamah dan Umm Habibah– yang melahirkan anak dari suami pertama mereka. Namun, pada setiap kali Nabi menikah, masyarakat dipenuhi harapan baru, yang lama-lama pupus karena tidak ada istri Nabi sesudah Khadijah yang melahirkan anak. Namun, tak lama setelah kematian putri sulungnya itu, beliau akan kembali menjadi seorang ayah. Mariyah, istrinya yang Kristen Koptic, tengah mengandung. Mariyah menjadi pusat perhatian warga Madinah, yang mereka tahu persis betapa besar perhatian Nabi kepadanya.
*#114#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment