Monday, April 27, 2020

Kisah Rasul bagian 71

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣1⃣ *SETELAH KHAYBAR*
_______________________

Setelah penaklukan Khaybar, terjadi enam kali ekspedisi yang relatif kecil, dua –berturut-turut dipimpin Umar dan Abu Bakr– melawan berbagai suku Hawazin yang wilayahnya menutup jalan utama ke Yaman; dan ekspedisi lainnya ke timur dan utara, melawan suku-suku Ghathafan. Di antaranya melawan Bani Murrah, yang wilayahnya berdekatan dengan oasis Fadak yang kini telah dikuasai oleh Nabi. Karena telah ditaklukkan, kaum yahudi Fadak menuntut agar diberi perlindungan melawan kaum Badui; tapi kekuatan penyerang ini di Madinah dianggap remeh. Karenanya, pada ekspedisi pertama hanya dikirim tiga puluh orang, dan mereka semuanya nyaris terbunuh. Nabi segera mengirim kekuatan kedua sebanyak dua ratus orang sehingga musuh melarikan diri demi menyelamatkan jiwa mereka. Ada beberapa tawanan, juga sejumlah unta dan domba. Usamah yang berusia tujuh belas tahun diizinkan turut serta dalam ekspedisi ini. Ia telah ikut pada Perang Parit, namun kali ini merupakan penaklukan pertama dalam pengertian yang sebenarnya. Selama pertempuran, ia diejek seorang Murrah karena usianya yang masih muda. Orang itu segera menyesali ucapannya itu. Karena punya alasan untuk menunjukkan keberaniannya, Usamah kini geram dan mengejar lelaki itu jauh sampai ke gurun pasir, padahal sebelum pertarungan semua pasukan telah diperintahkan agar bersatu padu. Ia akhirnya berhasil menangkap orang itu dan melukainya. Serta merta orang Murrah itu berteriak, La ilaha illallah tiada tuhan selain Allah. Namun, sekalipun mengucapkan syahadat, Usamah memberinya pukulan mematikan.

Ekspedisi kali ini dipimpin oleh Ghalib ibn Abd Allah.' Seusai peperangan, pertama-tama yang ia pikirkan adalah, "Dimana Usamah?" Ia dan semua pasukan tahu, putra Zayd itu sangat dicintai Nabi. Meskipun menang, perkemahan sangat terganggu. Usamah baru kembali satu jam setelah matahari terbenam. Ghalib dengan keras menegurnya. "Aku pergi mengejar seseorang yang mengejekku," kata pemuda itu, "dan setelah kutangkap dan kulukai, ia mengucapkan la ilaha illallah." "Lalu kau sarungkan pedangmu tanya Ghalib?". "Tidak," jawab Usamah, "sampai ia dijemput kematiannya". Saat itu, seluruh yang hadir di perkemahan riuh memakinya, dan ia langsung menundukkan kepalanya, mengatasi rasa malu. Ia juga tidak mau makan apa-apa selama perjalanan pulang. Ada sebuah ayat –yang telah diketahui orang yang lebih tua– berkaitan dengan satu-dua kasus di mana seorang mukmin membunuh seorang kafir yang saat itu menyatakan Islam. Karena khawatir kehilangan harta rampasan perang dan persenjataan yang menjadi miliknya, pemenang itu berkata, "Engkau bukan seorang beriman," lalu ia membunuhnya. Pada kasus Usamah, motivasinya bukan karena harta rampasan melainkan kehormatan, namun prinsipnya sama. Ayat yang turun adalah:

_Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu, "Karena kamu bukan seorang mukmin" lalu kamu membunuhnya, dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._ (Q.S. 4: 94).

Setibanya mereka di Madinah, Usamah langsung menghadap Nabi yang memeluknya erat-erat. Kemudian beliau berkata, "Sekarang ceritakan kepadaku tentang kampanyemu." Maka, Usamah menceritakan semua yang terjadi sejak berangkat. Ketika sampai pada cerita di mana ia telah membunuh seseorang, Nabi berkata, "Hai Usamah! Apakah kaubunuh ia setelah mengucapkan _la ilaha illallah?_" "Hai Rasulullah," jawabnya, "ia melakukan itu hanya untuk mengelak agar tidak dibunuh." "Kalau begitu, engkau harus membelah dadanya untuk mengetahui apakah ia berkata benar atau berbohong," kata Nabi. "Aku tidak akan pernah lagi membunuh orang yang mengucapkan _la ilaha illallah_," tukas Usamah. Sesudah itu ia berkata, "Aku berharap, aku laksana orang baru masuk Islam pada hari itu." Sebab, Nabi menyatakan bahwa masuknya seseorang ke dalam agama Islam menghapuskan segala kesalahan dan dosa yang terdahulu.

Setelah kembali dari Khaybar, Nabi sendiri tinggal di Madinah selama sembilan bulan. Walaupun dilakukan kampanye-kampanye kecil, gencatan senjata dengan pihak selatan dan kemenangan di utara membuat bulan-bulan ini menjadi masa yang relatif damai dan sejahtera, sekalipun kekayaan yang diperoleh dari kebun Hijaz juga menimbulkan pelbagai persoalan tertentu.

Suatu pagi, Umar datang ke rumah Rasulullah. Ketika mendekat, ia mendengar suara ribut para wanita membujuk Nabi, yang menurutnya tidak pantas. Lagi pula, mereka adalah para wanita Quraisy, dari kaum Muhajirin. Ini memastikan pendapat 'Umar bahwa mereka telah meniru kebiasaan buruk perempuan Madinah yang selama beberapa generasi lebih tegas daripada perempuan Mekah Sebagaimana mereka ketahui, Nabi tidak suka menolak sebuah permintaan. Mereka kini tengah menuntut beliau agar diberi berbagai macam pakaian yang diperoleh dari seperlima harta rampasan perang. Di ruangan itu ada gorden terbentang. Ketika suara Umar terdengar meminta izin untuk masuk, tiba-tiba semuanya terdiam dan para wanita itu cepat-cepat bersembunyi di balik gorden itu, sehingga 'Umar melihat Nabi tertawa-tawa. "Semoga Allah memenuhi hidupmu dengan tawa, hai Rasulullah," katanya. "Itu menakjubkan," kata Nabi, "bagaimana wanita-wanita yang baru saja bersamaku, langsung bersembunyi di balik gorden begitu mendengar suaramu!" "Seharusnya engkau lebih berhak untuk mereka hormati, bukannya aku," kata 'Umar. Kemudian, "Umar berseru kepada para wanita itu, "Hai musuh dirimu sendiri, apakah kalian takut kepadaku, dan tidak takut kepada Rasulullah?" "Tentu saja," kata mereka, "karena engkau lebih keras dan lebih kasar dari Rasulullah." "Itu benar, wahai putra Khattab," tukas Nabi. Lantas beliau menambahkan, "Demi Dia yang menguasai jiwaku, jika setan melihatmu berjalan melewati suatu jalur, ia akan pergi lewat jalur yang lain."

Kekayaan yang baru saja diperoleh dari hasil kemenangan itu dan disusul amannya situasi, mendorong Umm Ayman untuk meminta hadiah kepada Nabi. Sudah lama ia merasa perlu memiliki seekor unta. Sekarang, ia menemui Nabi dan meminta agar diberi seekor unta. Beliau menatapnya dengan serius dan berkata, "Aku akan memberimu seekor anak unta." "Hai Rasulullah," serunya, berpikir bahwa yang beliau maksud adalah unta muda, itu tidak cocok bagiku. Aku tidak menginginkan itu "Aku tidak akan memberimu kecuali seekor anak unta," kata Nabi. Dan begitulah perselisihan berlanjut, sampai seulas senyum Nabi menyadarkan Umm Ayman bahwa beliau tengah menggodanya, karena setiap unta pada dasarnya adalah anak seekor unta.

Akan tetapi, pada hari yang lain, 'Umar melihat Nabi dalam keadaan tidak menyenangkan dengan kepala ditopang tangannya "Hai 'Umar," katanya, "mereka meminta sesuatu yang tidak kumiliki." Saat perjalanan ke Khaybar, beliau sudah mengatakan tentang meningkatnya kekayaan hasil kemenangan yang akan dibawa pulang ke Madinah: "Itu tidak akan baik bagimu." Terjadilah seperti yang dikatakan beliau, baik di rumah tangganya sendiri ataupun di tempat lain. Selama ini, Nabi dan keluarganya hidup dengan sangat prihatin. 'A'isyah menuturkan, sebelum Khaybar, ia tidak pernah merasakan makan kurma sampai kenyang. Kemiskinan seperti itu akibat bertambahnya anggota keluarga sehingga istri-istri Nabi hanya meminta kepadanya apa yang dibutuhkan, dan itu pun tidak selalu dipenuhi. Barang-barang yang dapat dilepas, dihadiahkan, atau yang lainnya dijual, lalu uangnya disedekahkan. Namun, Nabi sekarang suka memberi hadiah kepada istri-istrinya, dan mereka berebut meminta bagian lebih banyak, yang terkadang menimbulkan masalah karena masing-masing saling menuntut.

Pada saat yang sama, mereka mulai memanfaatkan kelembutan dan kemurahan hati Nabi dengan berbagai cara lain. Suatu hari, 'Umar memarahi istrinya karena suatu hal dan sang istri dengan pedas membantahnya. Ketika Umar memprotesnya, ia menjawab bahwa istri-istri Nabi terbiasa membantah, lalu mengapa ia tidak boleh melakukan hal yang sama. "Dan di antara mereka", tambahnya, yang ia maksud putri mereka, "menyatakan pendapatnya dengan bebas dari pagi hingga malam." Karena sangat terusik dengan hal ini, 'Umar pergi menemui Hafshah yang ternyata membenarkan perkataan ibunya. "Engkau tidak semenarik A'isyah, juga tidak secantik Zaynab," kata Umar, berharap agar putrinya dapat mengurangi rasa percaya dirinya. Ketika melihat tak ada perubahan, ia menambahkan, "Apakah engkau yakin, jika engkau memarahi Nabi, Allah tidak akan menghancurkan dirimu dengan murka-Nya?" kemudian, ia pergi menemui sepupunya, Umm Salamah, dan berkata, "benarkah engkau mengemukakan pendapatmu kepada Rasulullah dan menjawabnya dengan tidak sopan?" "Sungguh mengherankan", kata Umm Salamah, "apa gerangan yang mengundangmu untuk mencampuri urusan Rasulullah dengan istri-istrinya?" Ya, demi Allah, kami memang menyatakan pendapat kami kepadanya, dan jika beliau tersinggung, itu urusannya; dan jika beliau menolak, kami akan lebih menaatinya daripada menaatimu." 'Umar merasa dirinya sudah terlalu jauh, dan itu memang pantas ditegur. Namun, tak dapat diragukan lagi, dalam rumah tangga Nabi tidak semua berlangsung dengan baik.

Peristiwa keluarga yang terjadi secara bergantian dan tiba-tiba merupakan peristiwa yang tidak diharapkan. Surat Nabi kepada Muqawqis yang mengajaknya agar memeluk Islam, ditolak; tetapi pemerintah Mesir membalas dengan mengirimkan hadiah yang banyak: seribu keping emas, dua puluh jubah terbuat dari bahan yang bagus, seekor bagal, seekor keledai betina, dan hadiah persembahan, dua budak wanita Kristen Koptik Mesir yang dikawal oleh seorang pertapa tua. Kedua gadis itu bersaudara, Mariyah dan Sirin, dan keduanya sama-sama cantik, tapi Mariyah lebih cantik lagi; dan Nabi sangat mengaguminya. Sirin dinikahkan dengan Hassan ibn Tsabit, dan Mariyah dinikahi Nabi sendiri. Ia ditempatkan di rumah yang dulu dihuni Shafiyyah ketika rumahnya yang dekat masjid belum dibangun. Di sanalah Nabi mengunjunginya siang dan malam. Namun, istri-istrinya menjadi cemburu secara terang-terangan hingga Mariyah merasa tidak nyaman. Akhirnya, ia ditempatkan di Madinah Atas. Pada mulanya, 'Aisyah dan istri yang lain merasa lega, tapi mereka segera merasa sia-sia, karena Nabi tetap saja berkunjung kepada Mariyah; dan bertambahnya jarak justru memperlama ketidakhadiran Nabi dari sebelumnya.

Mereka semua tahu bahwa Nabi sepenuhnya berada dalam haknya –hak yang dikenal sejak zaman Ibrahim dan sebelumnya. Bukankah mereka, kecuali Shafiyyah, merupakan keturunan dari pernikahan Ibrahim dengan budaknya, Hajar? Lagi pula, hukum yang diturunkan kepada Musa membenarkan hak semacam itu, dan Alquran sendiri secara tegas memperbolehkan seorang majikan mengambil budaknya sebagai istri asalkan mendapat persetujuannya. Meski demikian, para istri itu juga tahu bahwa Nabi sangatlah peka dan perasa. Mereka berusaha supaya seluruh kehidupan domestiknya kini dipenetrasi oleh reaksi-reaksi terbuka mereka yang disengaja. Lebih-lebih, Hafshah yang mencurahkan perasaan semacam itu sehingga Nabi akhirnya terpengaruh untuk bersumpah bahwa beliau tidak akan menengok Mariyah lagi. 'Aisyah dalam hal ini menjadi kaki tangan Hafshah.

Wahyu yang kini turun dikenal sebagai surah _al-Tahrim,_ "pengharaman," karena dibuka dengan sebuah teguran terhadap Nabi yang telah mengharamkan Mariyah dari hidupnya, _"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan, bersenang-senang dengan istri-istrimu, yang Allah halalkan bagimu?"_ Kemudian, setelah secara resmi membebaskan beliau dari sumpahnya, ayat itu mengacu kepada Hafshah dan 'Aisyah, meskipun tidak menyebutkan nama:

_Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong untuk menerima kebaikan; dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu, malaikat-malaikat adalah penolongnya pula._

Ayat berikutnya ditujukan kepada semua istri beliau, _"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberikan ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan"_ (Q.S. 66).

Surah itu diakhiri dengan berbagai contoh dari sejarah suci dua wanita jahat dan dua wanita yang mulia:

_Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari siksa Allah; dan dikatakan kepada keduanya, "Masuklah ke neraka bersama para penghuni neraka." Dan Allah membuat istri Firaun penumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan dia termasuk orang-orang yang taat._

Setelah Nabi membacakan wahyu ini kepada istri-istrinya, beliau meninggalkan mereka supaya mereka merenungkannya. Beliau menyendiri di sebuah beranda yang beratap, satu-satunya ruangan yang dimiliki selain rumah-rumah mereka. Berita segera merebak ke seluruh Madinah bahwa beliau telah menceraikan istri-istrinya, dan berita itu sampai ke telinga 'Umar pada malam itu. Saat fajar menyingsing, seperti biasanya, Nabi pergi ke masjid, namun begitu selesai salat, sebelum 'Umar menemuinya, Nabi masuk ke dalam beranda itu. "Umar pergi menemui Hafshah dan ia melihatnya sedang menangis. "Mengapa kamu menangis?" Bukankah telah kuingatkan, hal ini akan terjadi? Apakah Rasulullah telah mencerai- kanmu?" "Aku tidak tahu," sahutnya, "namun beliau berada di sana, menyendiri di beranda." Jalan masuk ke beranda itu melalui masjid, maka "Umar kembali ke sana. Di sana sekelompok orang berkumpul, duduk mengitari mimbar. Di antara mereka banyak yang menangis, 'Umar duduk bersama mereka sebentar. Karena tak dapat menahan perasaannya, ia kemudian pergi ke pintu di mana seorang pemuda hitam Abyssinia, pembantu Nabi, sedang berdiri. "Mintakan izin 'Umar untuk masuk," katanya kepada pemuda itu. Pemuda itu masuk, dan setelah beberapa saat, keluar seraya berkata, "Permintaanmu telah kusampaikan, tetapi beliau diam." Umar kembali ke tempat ia duduk. Kemudian, ia pergi lagi untuk meminta izin masuk, dan pemuda itu kembali mengatakan bahwa tidak ada tanggapan dari Nabi. Hal ini terulang sampai ketiga kalinya. Tetapi, baru saja Umar berbalik, pemuda itu memanggilnya dan mengatakan bahwa Nabi memperbolehkan ia masuk. Umar masuk dan melihat beliau sedang berbaring di atas sebuah tikar rumput. Di punggungnya, yang setengah telanjang, tampak sekali bekas-bekas tikar yang melekat di kulitnya. Beliau berbaring di atas sebuah bantal kulit yang diisi dengan serat kurma. Matanya merunduk, dan tidak memandang Umar ketika ia masuk. "Hai Rasulullah," kata Umar, apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?" Nabi mengangkat pandangannya, menatap Umar. "Tidak, aku tidak menceraikan mereka," katanya. "Allahu Akbar!" seru Umar dengan lantang, hingga terdengar di seluruh tetangga masjid. Belakangan, Umm Salamah menuturkan, "Aku sedang menangis ketika orang-orang datang kepadaku dan bertanya, 'apakah Rasulullah telah menceraikanmu' dan kujawab, 'Demi Allah, aku tidak tahu.' Hal ini berlanjut sampai 'Umar datang kepada Nabi. Kami mendengar ia mengucapkan takbir –kami semua berada di kediaman kami– dan kami tahu bahwa Rasulullah menjawab 'tidak' pada pertanyaan itu." Pada kenyataannya, hanya ada satu pertanyaan di benak setiap orang, dan mereka yakin, 'Umar akan menanyakan hal itu secara khusus, karena menyangkut salah seorang putrinya.

"Aku berdiri di sana," kata 'Umar, "merasakan apa yang dikatakan Rasulullah, dan aku berkata, 'Kami, orang-orang Quraisy, sudah terbiasa berada di atas para istri kami, namun setelah datang ke Madinah, kami memasuki sebuah masyarakat yang para istrinya berada di atas mereka."' Ia melihat sekilas senyum di wajah Nabi. Karenanya, ia menceritakan kepada beliau apa yang pernah ia katakan kepada Hafshah sebagai suatu peringatan, dan kembali Nabi tersenyum, maka ia segera berani duduk. Sekali lagi, ia terkejut dengan kosongnya ruangan –selembar tikar di atas lantai, tiga bantal kulit, dan tidak ada yang lain. Ia menyarankan agar Nabi membiarkan dirinya hidup lebih senang, dan ia menunjukkan kekontrasan dengan menyebut orang Yunani dan Persia, tapi beliau menyelanya, "Apakah kau masih ragu, hai putra Khattab? Kemewahan yang mereka miliki telah mengikat mereka pada kehidupan yang fana ini."

Kini waktunya bulan baru. Nabi telah memberi tahu istri-istri nya bahwa beliau akan menemui mereka setelah satu bulan berlalu. Ketika bulan telah terbenam sama sekali, beliau pertama-tama mengunjungi kediaman 'A'isyah. Saking gembiranya melihat beliau dan terkejut, ia berkata, "Ini baru 29 malam." "Bagaimana engkau tahu?" tanya beliau, dan ia menjawab, "Aku telah menghitungnya!" "Tapi, bulan ini hanya 29 malam," tegas beliau. "Aisyah lupa bahwa peredaran bulan terkadang 29 hari, tidak selalu 30 hari. Kemudian, beliau menyampaikan wahyu yang beliau terima. Wahyu tersebut membuat Nabi harus memberi 'A'isyah pilihan di antara dua kemungkinan. Beliau mengatakan bahwa beliau telah meminta ayah Aisyah untuk membantu menasihatinya dalam persoalan ini. "Tidak," kata 'A'isyah, "tak ada seorang pun yang akan membantumu tentang urusanku, melainkan katakan saja apa itu, hai Rasulullah." Beliau menjawab, "Allah telah memberimu pilihan ini." Lantas beliau membacakan:

_Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridaan Allah dan rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar_ (QS. 33: 28-29).

Aisyah berkata, "Sesungguhnya Aku menghendaki _Allah dan Rasul-Nya dan kebahagiaan di negeri akhirat."_ Semua istri yang lain mengatakan hal yang sama.

*#111#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment