Monday, April 27, 2020

Kisah Rasul bagian 70

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
7⃣0⃣ *SIAPA YANG PALING ENGKAU CINTAI ?*
_______________________

KETIKA pasukan pemenang itu sampai di Madinah, setelah pergi selama tujuh minggu, mereka menemukan Jafar dan sahabat sahabatnya telah berada di sana. Dia berangkat ke Abyssinia ketika berusia 27 tahun, dan sekarang usianya sudah 40 tahun. Dia tidak bertemu Nabi selama tiga belas tahun, meskipun tetap saling berkomunikasi. Nabi menyalami tangannya dan mencium keningnya. Kemudian beliau berkata, "Aku tidak tahu, mana yang lebih membahagiakan aku: kedatangan Ja'far atau kemenangan Khaybar." Bersama Ja'far turut pula istrinya, Asma, dan tiga putra mereka, Abd Allah, Muhammad, dan Awn, yang lahir di Abyssinia.

Umm Habibah juga turut bersama Jafar, yang kediamannya telah dipersiapkan. Sebuah pesta pernikahan kedua dilangsungkan untuk merayakan perjumpaannya dengan Nabi. Umm Habibah kini berusia 35 tahun. Istrinya yang lain, kecuali Aisyah, telah mengenalnya di Mekah. Ia saudara ipar Zaynab. Sawdah dan Umm Salamah telah menjadi sahabat dekatnya di hari-hari pertama di Abyssinia. Kedatangannya telah diperkirakan, sehingga hanya menyebabkan sedikit keributan. Pusat keprihatinan istri-istri Nabi itu adalah hadirnya sosok yang tak diduga di rumah tangga mereka, Shafiyyah yang belia dan cantik. Saat mereka tiba di Madinah, Nabi menempatkan Shafiyyah untuk sementara waktu di salah satu rumah Haritsah, yang senantiasa menyambutnya dengan ramah. Mendengar tentang kecantikannya, 'A'isyah menanyakan Umm salamah tentang teman baru mereka itu. "Ia memang benar-benar cantik", kata Umm Salamah, "dan Rasulullah sangat mencintainya." "A'isyah pergi ke rumah Haritsah dan masuk bersama sekelompok wanita yang sedang mengunjungi pengantin baru itu. Ia sendiri bercadar, dan tanpa menyatakan identitasnya, ia berdiri agak di belakang, namun cukup dekat untuk melihat sendiri bahwa yang dikatakan Umm Salamah itu memang benar. Kemudian, ia meninggalkan rumah itu. Akan tetapi, Nabi yang berada di sana mengenalinya, menyusulnya keluar, dan berkata, "Hai Aisyah, bagaimana pendapatmu tentangnya?" "Kulihat ia seorang Yahudi seperti orang yahudi lainnya," tukas Aisyah "Jangan berkata begitu," kata Nabi, "karena ia telah masuk Islam dan berbuat baik."

Meskipun demikian, Shafiyyah menjadi bahan ejekan di antara istri-istri Nabi karena ayahnya. "Hai putri Huyay," yang sejatinya gelar penghormatan, dengan nada suara lain berubah menjadi sebuah hinaan. Suatu ketika, ia menemui Nabi dengan air mata berlinang. karena salah seorang teman barunya itu berupaya merendahkan dirinya. Beliau berkata, "Bilang kepada mereka, Ayahku Harun dan pamanku Musa."

Di antara semua istri Nabi, Shafiyyah yang terdekat usianya dengan 'A'isyah, bahkan lebih dekat dari Hafshah, yang kini berusia 22 tahun. Semula, hal ini semakin mencemaskan Aisyah; tapi lama-kelamaan, dua istri yang termuda ini saling bersimpati, dan Hafshah pun menjadi teman baik pendatang baru itu. "Di antara kami ada dua kelompok," tutur Aisyah beberapa tahun kemudian, "kelompok yang satu, aku sendiri, Hafshah, Shafiyyah dan Sawdah, dan di kelompok lainnya, Umm Salamah dan istri-istri yang lain."

Pada saat itu, "Aisyah berusia enam belas tahun. Dalam beberapa hal, seusia itu sudah tua, namun tidak pada berbagai hal lainnya. Perasaannya senantiasa terpancar dari wajahnya, dan hampir selalu tampak dari tutur katanya. Suatu ketika, Nabi berkata, "Hai Aisyah, aku pasti tahu saat engkau marah kepadaku, juga saat engkau senang." "Wahai yang lebih kukasihi dari ayah dan ibuku," katanya, "bagaimana engkau dapat mengetahuinya?" "Saat senang." kata beliau, "engkau berkata dalam bersumpah, 'Tidak, demi Tuhannya Muhammad', tapi jika sedang marah, engkau berkata, 'Tidak, demi Tuhannya Ibrahim.'" Pada kesempatan lain, ketika Nabi datang kepadanya lebih telat dari yang diharapkan, ia berkata kepada beliau, Kemana saja engkau seharian hingga sekarang?" "Hai yang mungil cantik," kata beliau aku bersama Umm Salamah." "Apakah engkau tidak memenuhi kewajibanmu terhadap Umm Salamah?" katanya, dan ketika beliau tersenyum tanpa menjawab, ia menambahkan, "Hai Rasulullah, katakan kepadaku pendapatmu. Jika engkau berjalan di antara dua turunan pada sebuah bukit, yang satu belum disentuh dan belum dimakan tanamannya, sebaliknya yang lain sudah, pada yang mana engkau akan gembalakan hewanmu?" "Pada yang belum," kata Nabi. "Begitulah," katanya, "aku tidak seperti istri-istrimu yang lain. Mereka semua pernah mempunyai suami sebelummu, kecuali aku sendiri." Nabi diam dan tersenyum.

'Aisyah benar-benar sadar bahwa ia tak dapat memiliki Nabi untuk dirinya sendiri. Ia seorang wanita, sedangkan beliau bagaikan dua puluh pria. Wahyu mengatakan tentang beliau, _"Sesungguhnya kemuliaan yang sebenar-benarnya adalah pada tabiatmu,"_ Aisyah sering menyatakan, jika ada gelegar guntur, sekalipun pada jarak yang jauh, wajahnya dapat berubah; desau angin topan sepertinya akan menggerakkannya. Setidaknya, suatu ketika, saat hujan turun lebat, beliau bertelanjang kepala, punggung dan dada, lalu keluar ke tempat terbuka agar dapat berbagi kesenangan duniawi dengan menerima keberkahan dari langit melalui kulitnya.

'Aisyah lebih cemburu lagi karena keistimewaan beliau dari lelaki lainnya. Namun, ia tahu bahwa kecemburuan, tidak seperti cinta, hanya untuk hidup ini semata. Berbicara tentang surga, wahyu telah menjanjikan lebih dari sekali, _"Dan kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka"_ (QS. 7: 43; 15: 47). Suatu hari, ia bertanya kepada Nabi, "Hai Rasulullah, siapakah di antara istri²mu yang masuk surga?" "Engkau salah satunya," kata beliau, dan kata² ini ia simpan sepanjang hidupnya, sebagaimana beliau juga pernah berkata kepadanya, "Jibril berada di sini, ia menyampaikan salam padamu. "Keselamatan atasnya, rahmat Allah dan keberkahan-Nya!" jawabnya.

Mengenai kecemburuannya, beberapa tahun kemudian ia menuturkan, "Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain sebagaimana aku cemburu kepada Khadijah. Sebab beliau tak henti-hentinya membicarakannya dan Allah telah menawarkan bagi Khadijah berita baik tentang sebuah istana di surga. Setiap kali mengurbankan seekor domba, beliau mengirimkan bagian yang terbaik kepada sahabat-sahabat dekat Khadijah. Beberapa kali kukatakan kepadanya, "Sepertinya tidak pernah ada seorang wanita pun di dunia ini, kecuali Khadijah'".

Persepsi dan reaksi 'Aisyah sangatlah cepat. Segera sesudah Khaybar, atau mungkin tak lama sebelumnya, Halah, ibu Abu al Ash, berkunjung ke Madinah untuk menengok putranya dan menantunya, Zaynab, serta cucu kecilnya, Umamah. Suatu hari, ketika Nabi berada di kediaman 'A'isyah, pintu diketuk, dan terdengar suara wanita meminta izin masuk. Nabi menjadi pucat dan gemetar. 'Aisyah cemburu dan marah. Sebab, ia tahu, pada suara Halah, beliau mendengar suara saudaranya, Khadijah. Setelah itu beliau membenarkannya dan berkata bahwa cara Halah meminta izin masuk juga sama dengan kebiasaan almarhum istrinya itu.

Sawdah, kini semakin tua. Ia memberikan jatah harinya bersama Nabi kepada "Aisyah. Sebab, ia yakin hal itu akan sangat menyenangkan beliau. Dan sebagian umat, termasuk istri-istri yang lain, tidak ragu lagi bahwa di antara para istri yang sekarang masih hidup. 'Aisyahlah yang paling dicintai Nabi. Ini bukan sekadar dugaan, karena dari waktu ke waktu, beberapa sahabat menanyakan beliau, "Ya Rasulullah, siapakah yang paling engkau cintai di seluruh dunia ini?" Meskipun beliau tidak selalu memberikan jawaban yang sama atas pertanyaan ini, karena beliau merasakan cinta yang besar lebih dari satu –kepada putri-putrinya dan anak-anaknya, kepada Ali, Abu Bakr, Zayd, dan Usamah– terkadang jawabannya adalah 'A'isyah, tapi tidak pernah menyebutkan salah seorang istrinya yang lain.

Karena alasan ini, menjadi kebiasaan di Madinah bahwa jika seseorang meminta persetujuan Nabi, dan ia ingin memberikan hadiah kepadanya karena permohonannya ternyata direkomendasikan oleh Alquran, maka ia akan menunda pemberian itu sampai Nabi berada di rumah Aisyah. Asumsinya, bahwa beliau sedang berada dalam keadaan sangat senang. Hal ini menimbulkan perasaan tidak nyaman di rumah tangga Nabi. Umm Salamah menghadap Nabi, atas nama dirinya dan istri yang lain, meminta beliau untuk mengumumkan bahwa barang siapa ingin memberikan hadiah, lakukanlah, tanpa harus menunggu Nabi berada di satu rumah tertentu. Nabi tidak memberikan jawaban. Sekali lagi Umm Salamah memohon, dan beliau tetap diam. Kemudian, ia meminta ketiga kalinya, dan beliau berkata, "Tentang 'Aisyah, jangan persulit aku! Karena sesungguhnya wahyu tidak datang kepadaku ketika aku berada di selimut seorang istri, melainkan pada 'Aisyah." Umm Salamah berkata, "Aku bertobat kepada Allah karena telah menyulitkanmu Namun, istri-istri yang lain tidak puas berhenti sampai di situ Mereka memanggil Fathimah dan memintanya untuk ikut campur untuk mereka dan mengatakan kepada beliau, "Istri-istrimu sangat menganjurkanmu, demi Allah, untuk memberikan mereka keadilan berkaitan dengan putri Abu Bakr itu." Fathimah dengan enggan menyetujuinya, namun menunda sampai beberapa hari, hingga akhirnya keponakannya, Zaynab, putri Jahsh, menemuinya dan mengingatkannya. Maka, ia pergi ke ayahnya dan mengatakan apa yang mereka perintahkan. "Putri kecilku," kata Nabi, "tidakkah engkau mencintai orang yang kucintai? Ketika ia mengangguk, beliau berkata, "Maka cintailah ia" –maksudnya 'Aisyah. Kemudian, beliau bertanya, "Zaynab yang telah mengutusmu, bukan?" "Zaynab dan yang lainnya," kata Fathimah "Aku bersumpah", tegas Nabi "dialah yg mengatur hal ini", Ketika Fathimah mengakuinya, beliau tersenyum.

Fathimah kembali kepada para istri itu, dan menceritakan apa yang teriadi. "Wahai putri Rasulullah," kata mereka, "engkau sama sekali tidak membantu kami!" Mereka memaksanya untuk menghadap Nabi sekali lagi, tapi ia menolak. Maka, mereka berkata kepada Zaynab, "Engkau sajalah yang pergi!" zaynab pun menghadap Nabi, yang akhirnya meminta Aisyah untuk berbicara padanya. Aisyah mengajukan argumentasi yang menyebabkan Zaynab tidak dapat berkata apa-apa. "Nabi memang harus bersikap adil dan memperlakukan sama semua istrinya, dan menjadi teladan bagi yang lain. Namun, beliau tidak bertanggung jawab atas perlakuan sama orang lain terhadap istri-istrinya sendiri. Kehalusan perasaannya tidak akan memperbolehkan dirinya untuk turut campur. Kewajibannya hanya menerima hadiah dengan rasa syukur, dan kalau tidak, mengembalikan semuanya kepada sang pemberi." Ketika Zaynab telah pergi beliau berkata kepada Aisyah, "Engkau benar-benar putri Abu Bakr."

Kecemburuan memang tak dapat dihindari di rumah tangga Nabi, dan untuk mengatasinya, beliau melakukan yang terbaik. Suatu ketika beliau memasuki sebuah ruangan di mana para istri dan keluarganya yang lain tengah berkumpul, menggenggam sebuah kalung onik yang baru saja diberikan kepadanya. Sembari menunjukkan kalung itu kepada mereka, beliau berkata, "Kalung ini akan kuberikan kepada orang yang paling kukasihi di antara kalian." Beberapa istrinya mulai berbisik-bisik satu sama lain, "la pasti memberikannya kepada putri Abu Bakr." Namun, setelah membiarkan mereka cukup lama, beliau memanggil cucu kecilnya, Umamah, dan memasang kalung itu ke lehernya. Beliau juga sangat mencintai cucu-cucunya, putra Ali dan Fathimah. "Yang paling kucintai dari keluargaku adalah Hasan dan Husayn," kata Nabi sambil menggendong keduanya dan berdoa, "Ya Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah mereka!"

*#109#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment