🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣9⃣ *KHAYBAR*
_______________________
PERJANJIAN gencatan senjata dengan Mekah memungkinkan untuk berkonsentrasi pada bahaya yang datang dari arah utara. Bahaya yang terbesar adalah kota Khaybar, tempat bermukim kaum Yahudi yang sangat membenci Islam. Tukang sihir, Labid, hampir dapat dipastikan disogok oleh mereka, meskipun bisa jadi merupakan upaya individual. Namun, terdapat bukti lebih jauh dan alasan umum untuk melakukan aksi terhadap Bani Nadhir yang terusir dan kerabat mereka, orang-orang Khaybar. Mereka mungkin tidak menyerang yatsrib. Kecuali satu atau dua orang, mereka tidak terlibat langsung pada Perang Parit, namun merekalah yang membakar semangat kaum Quraisy untuk menyerang, dan merekalah yang mendorong sekutu mereka, Ghathafan, agar berpihak pada Quraisy ketika itu. Juga sudah jelas, melalui merekalah sebenarnya Ghathafan masih tetap berperang melawan oasis itu. Selama Khaybar masih seperti itu, Madinah tidak pernah merasakan kedamaian yang sepenuhnya.
Sejak lama telah jelas, cepat atau lambat, sesuatu harus dilakukan pada arah ini. Sekarang tibalah saatnya, karena Nabi telah yakin pada janji _kemenangan yang dekat_ yang disebut di dalam Alquran –sebuah kemenangan yang akan mendatangkan limpahan harta rampasan perang– tidak lain kecuali menaklukkan Khaybar. Namun, hal ini tidak untuk disebarkan kepada semua orang yang mengaku Islam. Wahyu itu memperjelas bahwa orang-orang Badui tidak menanggapi ajakannya untuk berumrah melainkan lebih didorong oleh motivasi mendapatkan harta. Karena tidak ada harapan mendapatkan harta dari umrah, mereka tidak turut serta. Konsekuensinya, mereka tidak diperkenankan ikut serta dalam penaklukan tempat, yang tidak diragukan lagi, salah satu komunitas terkaya di seluruh jazirah Arabia.
Itu berarti membuat kekuatan lebih kecil. Kendati demikian, hal itu justru menguntungkan agar rencana mereka tetap dapat dirahasiakan sampai detik-detik terakhir. Namun, ketika rencana telah pasti dan diketahui, hal itu beredar dari mulut ke mulut, hanya dianggap mengadaada bukan sebagai fakta. Kekuatan tangguh Khaybar telah diketahui secara umum. Quraisy dan musuh-musuh Islam lainnya berharap kabar itu benar. Jika demikian, Muhammad pada akhirnya akan ditimpa kekalahan besar. Tetapi, mereka takut berita itu tidak benar, karena mereka tahu Muhammad tidaklah gila. Sementara, orang-orang Khaybar sendiri sangat percaya diri sehingga mereka tidak memercayai berita tersebut. Bahkan, mereka tidak terusik untuk meminta bantuan para sekutunya sampai berita kepastian datang dari Madinah bahwa Muhammad telah berangkat maju. Hanya Kinanah, pemimpin mereka yang sebenarnya, yang bergegas mengunjungi Ghathafan, menawarkan setengah dari panen kurma tahun itu asal mereka mau mengirimkan tentara mereka. Mereka setuju dan menjanjikan pasukan berkekuatan empat ribu orang. Setiap hari, kaum yahudi Khaybar telah terbiasa mengenakan perlengkapan perang mereka dan berbaris mengerahkan kekuatan untuk bertempur, seluruhnya sepuluh ribu pasukan. Bersama bantuan dari Ghathafan akan mencapai 14.000 orang; dan menurut berita dari Madinah, pasukan yang maju hanyalah 1600 orang.
Sebelum Nabi berangkat, salah seorang Aws, yang dikenal sebagai Abu Abs, datang membawa sebuah persoalan. Ia punya seekor unta untuk ditunggangi, namun bajunya sudah usang. Ia tidak punya harta untuk bekal perjalanan dan tidak ada sedikit pun yang dapat ditinggalkan bagi keluarganya, apalagi untuk membeli bajunya sendiri. Ada beberapa orang yang keadaannya sama, namun yang ini paling parah. Harta banyak digunakan saat umrah yang lalu. Sejauh ini, segala sesuatu yang didapat dari harta rampasan perang tak cukup karena meningkatnya jumlah mualaf miskin yang datang ke Madinah dari seluruh penjuru. Nabi memberi Abu Abs sehelai jubah panjang yang bagus. Itulah yang ada waktu itu. Namun, dalam perjalanan, satu dua hari berikutnya, Nabi mengamati Abu Abs mengenakan baju yang lebih jelek. Beliau bertanya kepadanya, "Mana jubah yang kuberikan padamu itu?" "Aku telah menjualnya seharga delapan dirham," kata Abu Abs, "dua dirham kubelikan kurma untukku sendiri, dua dirham kutinggalkan untuk keluargaku dan jubah ini kubeli seharga empat dirham." Nabi tertawa dan berkata, "Hai Abu Abs, engkau dan sahabatmu benar-benar miskin. Namun, demi yang manguasai jiwaku, jika engkau selamat dan bertahan sebentar lagi, engkau akan mendapatkan limpahan harta juga bagi keluargamu. Engkau akan memiliki banyak dirham dan budak; dan itu tidak akan baik bagimu!"
Pada salah satu tempat dalam perjalanan, di antara dua perkemahan, Nabi menghentikan pasukan dan memanggil seorang lelaki Aslam yang dikenal sebagai Ibn al-Akwa'. la memiliki suara yang merdu. "Turunlah," kata beliau, "dan nyanyikan bagi kami sebuah lagu dari lagu-lagu untamu," Orang Badui biasa bernyanyi untuk unta-unta mereka ketika menungganginya dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga melantunkan syair melodi kuno. membosankan, dan melankolis. Karena sedihnya irama salah satu syair ini, Ibn al-Akwa' kini mengalunkan sebait kata yang telah diajarkan Nabi ketika mereka menggali parit:
```Ya Tuhan, hanya kepada Engkau-lah kami diberi petunjuk, Memberikan amal dan mendirikan salat.```
Dimulailah senandung itu. Setelah selesai, Nabi berkata kepadanya, "Allah mengasihimu!" Lantas 'Umar memprotes, "Engkau telah membuatnya berhenti, hai Rasulullah! Maukah engkau membiarkan kami menikmatinya lebih lama lagi?" Yang dimaksud Umar, seperti mereka semua tahu, Nabi telah memperkirakan kesyahidan Ibn al-Akwa', karena berdasarkan pengalaman mereka, jika Nabi mengucapkan "kasih" kepada seseorang, berarti orang itu mungkin hidupnya tidak akan lama lagi.
Tinggal dua setengah hari mereka berada dalam perjalanan malam dari tujuan mereka. Saat ini penting mengambil posisi dengan menempatkan mereka sebagai penghalang antara Khaybar dan para sekutunya dari Ghathafan. Dengan pandangan ini, Nabi meminta seorang penunjuk jalan. Malam harinya, mereka sampai di ruang terbuka di depan benteng Khaybar. Malam itu sangat gelap, karena bulan sabit telah lenyap. Kedatangan mereka demikian tenang sehingga tidak ada seorang pun di dalam kota itu yang terbangun Tak ada burung setempat atau kelelawar yang memberikan tanda peringatan. Baru saat fajar menyingsing kesunyian itu pecah. Panggilan adzan menyejukkan suasana fajar di perkemahan muslim. Seusai salat, dalam keheningan, mereka memandang hamparan "Kebun Hijaz" yang diterpa cahaya yang kian cerah. Di sekitar benteng, tampak rumpun pohon kurma dan ladang gandum. Tatkala matahari telah naik, dan para petani keluar dengan memanggul pacul, sekop, dan keranjang, mereka terkejut berhadapan dengan sepasukan tentara yang tenang dan kuat. "Muhammad dan pasukannya," teriak mereka dan kabur kembali ke benteng. _"Allahu Akbar!"_ teriak Nabi. _Kharibat Khaybar_ (Khaybar ditaklukkan!).
Orang-orang Yahudi itu mengadakan pertemuan darurat dewan perang. Meskipun ada peringatan dari salah seorang pemimpin mereka, mereka tetap memutuskan untuk percaya kepada benteng pertahanan mereka. Menurut mereka, benteng yatsrib tidak dapat dibandingkan dengan benteng gunung –begitu mereka menamainya– milik mereka. Keputusan untuk berperang dalam kelompok-kelompok terpisah, sebagian besar didasarkan pada kelemahan terbesar mereka: kurang bersatu. Apa yang telah dikatakan wahyu tentang kaum yahudi di yatsrib serupa dengan kaum Yahudi di Khaybar: _"Permusuhan di antara sesama mereka sangatlah hebat. Kamu kira mereka bersatu sedang hati mereka berpecah belah"_ (QS. 59: 14). Merupakan musibah bagi mereka kini secara tiba-tiba berhadapan dengan pasukan yang meskipun kecil, namun menerapkan disiplin sebagaimana dinyatakan dalam ayat, _"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti sebuah bangunan yang tersusun kokoh"_ (Q.S. 61: 4), pasukan yang terdiri dari orang-orang yang jiwanya terpikat dengan janji-janji berikut, _"Berapa banyak yang terjadi, golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah! Dan Allah beserta orang-orang yang sabar"_ (Q.S. 2 249).
Pada hari pertama, ketika Nabi menyerang benteng terdekat, pasukan musuh tidak keluar untuk menyerang para pengepung itu, melainkan tetap bertahan di balik tembok dan menyibukkan diri dengan memperkuat kubu pertahanan mereka. Taktik ini mengurangi arti perbedaan jumlah, namun mereka menguji ketahanan pihak muslim untuk perang yang lama di wilayah asing. Orang-orang Khaybar adalah para pemanah ulung di seluruh Arabia. Sedangkan kaum muslim belum pernah mendapatkan latihan berat memanah seperti itu. Di balik arena pertempuran, wanita-wanita di perkemahan sibuk mengobati luka panah. Dari istri-istri Nabi, giliran jatuh untuk kedua kalinya pada Umm Salamah. Di antara kaum wanita lain yang menemani pasukan untuk merawat luka dan menjaga persediaan air di belakang barisan adalah bibi Nabi, Shafiyyah, Umm Ayman, Nusaybah, dan Umm Sulaym, ibu Anas.
Selama beberapa hari tidak ada kemajuan. Namun, pada malam keenam, ketika Umar diperintahkan untuk mengawasi, dan seorang mata-mata tertangkap di perkemahan. Sebagai tebusan nyawanya, ia memberikan informasi berharga tentang berbagai benteng dan memberitahukan benteng mana yang paling mudah ditaklukkan. la menyarankan agar dimulai dari benteng yang tidak dijaga ketat dan benteng yang menyimpan sejumlah senjata yang di bawah tanahnya sangat luas, termasuk beberapa mesin perang yang dahulu biasa digunakan melawan benteng-benteng lainnya, karena seperti halnya Yatsrib, Khaybar sering kali dilanda perang sipil. Keesokan harinya, benteng itu direbut dan mesin-mesin dibawa untuk digunakan pada penyerangan berikutnya, sebuah rudal penghancur batu-batu dan dua testudo untuk mengangkat orang ke atap benteng, sebuah atap yang tak dapat ditaklukkan, sehingga mereka dapat mendobrak gerbang masuk. Keberhasilan itu sebagian karena mesin-mesin perang tersebut. Benteng yang mudah ditaklukkan jatuh satu persatu. Pertahanan mereka yang penuh kekuatan utama berada pada benteng bernama Na'im. Di benteng ini, pasukan keluar dengan kekuatan besar, dan pada hari itu setiap serangan dari pihak muslim diserang balik. "Besok," kata Nabi, "aku akan menyerahkan bendera kepada seseorang yang dicintai Allah dan Rasul Nya. Allah akan memberikan kita kemenangan melalui tangannya."
Pada kampanye-kampanye sebelumnya, Nabi menggunakan bendera-bendera berukuran kecil. Namun, pada Perang Khaybar ini, beliau membawa bendera hitam berukuran besar terbuat dari gaun 'Aisyah. Mereka menyebutnya dengan "Sang Rajawali". Bendera itu beliau berikan kepada Ali. Kemudian, beliau dan para sahabat lainnya berdoa agar Allah memberikan kemenangan. Setelah hari pertempuran berikutnya, di mana Zubayr dan Abu Dujanah yang bersurban merah memainkan peran penting, Ali memimpin pasukan pada penyerangan terakhir, mendesak mundur pasukan musuh masuk ke benteng mereka sendiri. Namun, sebelumnya banyak di antara mereka yang melarikan diri melalui pintu belakang.
"Di mana Bani Ghathafan" adalah pertanyaan yang diajukan sepanjang Khaybar, namun tidak terjawab. Mereka memang telah berangkat bersama empat ribu tentara seperti yang dijanjikan. Namun, setelah sehari pejalanan, mereka mendengar sepanjang malam suara aneh –mereka tidak tahu apakah itu datang dari timur atau dari langit– dan suara itu berteriak tiga kali berturut-turut: "Kaummu! Kaummu! Kaummu!" mereka segera membayangkan bahwa keluarga mereka berada dalam bahaya. Mereka pun segera pulang, tapi ternyata semuanya baik-baik saja. Meski demikian, karena telah pulang, mereka tidak ingin berangkat lagi. Sebab, kebanyakan mereka yakin bahwa kini mereka telah terlambat untuk ikut andil mengalahkan musuh.
Benteng yang paling kokoh di Khaybar dikenal sebagai Benteng zubayr. Benteng itu berdiri di puncak bukit-bukit batu yang terjal. Banyak yang melarikan diri dari benteng lain telah bergabung dengan pasukan benteng itu, yang bertahan di dalam tembok. Nabi mengepung mereka selama tiga hari Kemudian, seorang Yahudi dari benteng lain menemui beliau dan mengatakan bahwa mereka memiliki sumber tersembunyi yang memungkinkan mereka bertahan sampai kapan pun. Asalkan nyawa, harta, dan keluarganya diselamatkan, ia menawarkan diri untuk menceritakan rahasia itu. Nabi setuju, dan orang itu menunjuki beliau tempat yang harus digali untuk membendung aliran kecil di bawah tanah yang mengalir di antara batu-batu benteng. Mereka memiliki terowongan ke tempat itu dari dalam. Dan karena aliran itu tidak pernah kering, mereka tidak memiliki tempat penyimpanan air. Maka, ketika aliran itu kemudian dibendung, mereka segera kehausan dan terpaksa keluar dan berperang. Setelah pertempuran yang dahsyat, mereka dapat dikalahkan.
Benteng terakhir yang menjadi tempat pertahanan adalah Qamus. Benteng ini dimiliki oleh keluarga Kinanah, salah satu suku terkaya dan paling berkuasa dari Bani Nadhir. Sebagian mereka telah lama tinggal di Khaybar, meskipun keluarga yang lain, termasuk Kinanah sendiri, baru tinggal di sana setelah mereka diusir dari Yatsrib. Merekalah terutama yang mengharapkan bantuan Ghathafan, yang gagal memenuhi janjinya. Hal itu mengecewakan dan melemahkan kekuatan mereka. Dan kini, mereka diperlemah lagi oleh berita buruk yang dibawa para pelarian yang kini berkerumun ke dalam Qamus. Mereka bertahan selama empat belas hari; lalu Kinanah mengirim pesan bahwa ia bermaksud datang untuk membuat kesepakatan dengan Nabi. Beliau pun bersedia bernegosiasi. Oleh karena itu, pemimpin itu keluar dari benteng bersama keluarganya yang lain. Disepakati bahwa tidak ada satu pun pasukan yang dibunuh atau dijadikan tawanan –baik diri mereka ataupun keluarganya– dengan syarat mereka harus meninggalkan Khaybar dan semua harta milik mereka harus diserahkan kepada sang pemenang. Nabi kemudian menambahkan: jika ada salah seorang yang mencoba menyembunyikan hartanya, kewajibannya untuk menyelamatkan jiwa mereka dan membebaskan mereka pergi harus dibatalkan. Kinanah dan yang lainnya setuju. Nabi memanggil Abu Bakr, 'Umar, Ali, Zubayr, dan sepuluh orang Yahudi sebagai saksi perjanjian tersebut.
Namun, belakangan menjadi jelas bagi kaum Yahudi dan kaum muslim bahwa ada banyak harta yang disembunyikan. Di manakah harta kekayaan yang terkenal dari Bani Nadhir itu? Bukankah mereka membawanya dari Madinah dan memamerkannya secara berlebihan di sepanjang jalan? Nabi menanyakan hal ini kepada Kinanah, dan ia menjawab bahwa sejak kedatangan mereka di Khaybar seluruh harta kekayaan itu telah dijual untuk membayar senjata, perlengkapan perang, dan perlengkapan pertahanan lainnya. Orang orang yahudi tahu bahwa Kinanah berdusta, dan mereka semua lebih khawatir karena banyak di antara mereka yang kini percaya terhadap kehadiran Nabi. Mereka memang tidak perlu mengikutinya, karena ia tidak diutus kepada mereka. Akan tetapi, jelas sia-sia bila mencoba membohonginya. Salah seorang dari mereka pergi menemui Kinanah, memintanya agar tidak menyembunyikan apa pun dari Muhammad, karena jika benar beliau itu seorang nabi, maka pastilah ia akan diberi tahu perihal tersebut. Kinanah dengan murka menolaknya. Namun, belum sampai sehari, harta kekayaan itu dapat ditemukan. Kinanah dibunuh bersama keponakannya yang ditemukan menyembunyikan harta, dan keluarga mereka dijadikan tawanan.
Setelah kejatuhan Qamus, masih ada dua benteng lagi yang menyerah dengan syarat yang sama. Kemudian, kaum Yahudi Khaybar berunding bersama, dan mengirim utusan kepada Nabi, meminta kepada beliau –karena mereka ahli manajemen pertanian dan perkebunan– agar mereka diperbolehkan tetap tinggal di rumah mereka, dan mereka akan membayar upeti setengah dari hasil panen setiap tahun. Nabi setuju, tapi mensyaratkan: jika dikemudian hari beliau memutuskan untuk mengusir mereka, mereka harus pergi. Kemudian, tersebar rumor bahwa kaum muslim bermaksud memperluas kampanye mereka ke Fadak, oasis kecil namun kaya di timur laut. Ketika kaum Yahudi Fadak mendengar syarat-syarat yang dibebankan terhadap Khaybar, mereka menawarkan hal yang sama. Fadak menjadi milik Nabi, sebagaimana aset yang lain, tidak diperoleh lewat kekuatan senjata.
Ketika semua syarat-syarat itu disepakati, dan para pasukan pemenang itu telah beristirahat, janda Sallam ibn Misykam memanggang daging domba muda dan membumbuhi setiap potongnya dengan racun yang mematikan, terutama di bagian pahanya. Ia telah mendengar bahwa Nabi lebih suka bagian paha daging domba muda daripada bagian lainnya. Kemudian, ia membawanya ke perkemahan dan menyuguhkannya di hadapan Nabi. Beliau segera mengucapkan terima kasih kepadanya dan mengundang para sahabatnya yang hadir untuk makan bersama.
Pada saat itu, yang duduk di dekat Nabi adalah seorang khazraj, bernama Bisyr, putra Bara' yang memimpin kaum muslim Yatsrib pada Aqabah Kedua dan yang pertama kali salat menghadap ke Mekah. Ketika Nabi menyantap daging domba itu, Bisyr melakukan hal yang sama dan menelannya; tapi Nabi memuntahkannya dan berkata, "Tahanlah tangan kalian! Paha domba ini menyatakan, ia di bubuhi racun." Beliau memanggil wanita itu dan menanyakan kalau ia meracuni daging itu. "Siapa yang memberitahumu?" tanyanya. "Paha domba itu sendiri," kata Nabi, "mengapa kaulakukan itu?" "Baiklah! Engkau sangat tahu apa yang telah kaulakukan terhadap kaumku. Engkau telah membunuh ayahku, pamanku, dan suamiku Karena itu, aku berkata pada diriku sendiri, Jika ia seorang raja, aku akan terbebas darinya; dan jika ia seorang nabi, ia akan diberi tahu tentang racun itu." Wajah Bisyr telah pucat pasi, dan ia mati tak lama sesudah itu. Sungguhpun demikian, Nabi memaafkan wanita itu.
Bukan wanita itu saja yang kehilangan ayah dan suaminya di tangan kaum muslim. Di antara para tawanan yang ditahan karena Kinanah menyembunyikan harta itu, ada seorang janda, Shafiyyah putri Huyay yang menghasut Bani Qurayzhah untuk melanggar perjanjian damai mereka dengan Nabi, dan terbunuh setelah Perang Parit. Janda itu berusia tujuh belas tahun dan baru menikah dengan Kinanah satu dua bulan sebelum Nabi berangkat dari Madinah Pernikahan itu –yang berakhir dengan singkat– bukanlah pernikahan yang bahagia. Tidak seperti ayah dan suaminya, Shafiyyah wanita yang saleh. Sejak kecil, ia telah mendengar kaumnya bercerita tentang nabi ang akan segera datang, dan hal itu menyelimuti pikirannya. Setelah itu mereka membicarakan seorang Arab di Mekah, seorang Quraisy, yang mengaku sebagai nabi; dan kemudian ada kabar bahwa ia telah tiba di Quba'. Itu terjadi tujuh tahun silam, ketika ia masih berusia sepuluh tahun. Ia masih ingat dengan baik, ayah dan pamannya keluar ke Quba' untuk meyakinkan diri mereka bahwa lelaki itu adalah pembohong. Namun, yang terekam dalam memorinya, saat kembali pada larut malam, keduanya mengalami depresi. Dari yang mereka katakan, jelas, mereka meyakini pendatang baru itu memang seorang nabi, tapi mereka bermaksud menentangnya; dan pikiran muda Shafiyyah dipenuhi kebimbangan.
Segera setelah pernikahannya, dan tak lama sebelum Nabi tiba di depan Khaybar, Shafiyyah bermimpi. Ia melihat rembulan terang benderang di langit, tepat di atas kota Madinah. Rembulan itu lalu bergerak menuju Khaybar. Di tempat itulah rembulan itu jatuh di pangkuannya. Ketika terbangun, ia menceritakan mimpinya kepada Kinanah. Kiranah langsung menampar wajahnya dan berkata, "Itu berarti engkau cuma sangat mendambakan raja Hijaz, Muhammad". Ketika Shafiyyah dibawa kepada Nabi sebagai tawanan, bekas tamparan itu masih terlihat. Beliau menanyakan penyebabnya, dan ia menceritakan mimpinya. Kini, Dihyah dari Bani Kalb –yang telah masuk Islam tak lama setelah Perang Badr– meminta agar Shafiyyah diberikan kepadanya sebagai bagiannya dari Peran Khaybar dan Nabi menyetujuinya. Namun, setelah mendengar mimpinya itu beliau mengirim pesan ke Dihyah dan memerintahkan agar ia mengambil keponakannya. Beliau kemudian mengatakan kepada Shafiyyah bahwa dia akan dibebaskan dan disuruh memilih antara tetap sebagai Yahudi dan kembali ke kaumnya atau masuk Islam dan menjadi istri beliau. "Aku memilih Allah dan Rasul-Nya," jawabnya. Merekapun menikah pada pemberhentian pertama dalam perjalanan pulang.
Kampanye belum selesai. Sebab, bukannya kembali lewat jalur langsung, Nabi malah melintasi jalur barat dan mengepung kaum Yahudi Wadi al-Qura di benteng mereka. Mereka telah menjadi sekutu Khaybar. Setelah dikepung tiga hari, mereka akhirnya menyerah dengan syarat-syarat yang sama.
Ibn al-Akwa', orang Aslam yang telah bersenandung dalam perjalanan mereka ke utara, telah terbunuh di Khaybar pada penyerangan Benteng Zubayr. Pedangnya sendiri, entah bagaimana, berbalik menyerang dirinya dan membuatnya terluka yang mematikan. Salah seorang Anshar menyatakan, ia tak dapat disebut sebagai syahid. "Orang yang mengatakan itu telah berdusta," kata Nabi, "sungguh ia telah melewati kebun surga seperti seorang perenang melintasi air". Pertanyaan lain seputar kesyahidan muncul di Wadi al-Qura, ketika budak hitam Nabi, Karkarah, terbunuh oleh anak panah saat sedang melepaskan sadel untanya. Namun, Nabi menjawab, "Sampai saat ini, ia sedang dibakar di neraka dengan jubah yang ia curi di Khaybar dan kini menjadi jubah api."
Telah menjadi kebiasaan Nabi untuk terus-menerus mengingatkan mereka bahwa keutamaan hidup bersama di komunitasnya diikuti dengan kewajiban-kewajiban, karena Allah Maha Adil dan akan menguji lebih berat orang-orang yang hidup di masa yang lebih buruk, ketika semakin sulit untuk bertahan dari setan. Beliau berkata, "Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang siapa saja mengabaikan sepersepuluh dari hukum akan dikutuk. Namun akan datang suatu zaman ketika siapa saja yang memenuhi sepersepuluh dari hukum akan diselamatkan."
*#107#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment