🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣0⃣ *SESUDAH TABUK*
_______________________
SEPERTI saat kembali dari Badr, kembalinya Nabi dari Tabuk diliputi kesedihan. Putri Nabi yang lain, Umm Kultsum, telah meninggal ketika Nabi, juga suaminya, sedang tidak ada. Nabi berdoa di makamnya dan berkata kepada 'Utsman bahwa seandainya beliau masih memiliki putri lain yang belum menikah, akan beliau nikahkan dengannya.
Orang-orang munafik yang tidak ikut dalam ekspedisi itu, kini menghadap Nabi dan meminta maaf. Beliau menerima mereka meski tetap mengingatkan bahwa Allah tahu apa yang disembunyikan dalam hati mereka. Namun, terhadap tiga orang mukmin yang tidak ikut peperangan itu, Nabi mengusir mereka sampai Allah memutuskan perkaranya. Beliau juga memerintahkan semua orang agar tidak berbicara dengan mereka. Selama lima puluh hari, mereka hidup sebagai orang buangan. Tetapi, setelah salat subuh pada hari yang kelima puluh, Nabi mengumumkan di masjid bahwa Tuhan telah mengampuni mereka. Wahyu yang baru turun berkata:
_Dan tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga bumi menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada- Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka kembali. Sesungguhnya Allah Maha penerima tobat lagi Maha Penyayang (Q.S. 9: 118)._
Jamaah pun bergembira dan banyak dari mereka langsung keluar dari masjid untuk menyampaikan berita gembira itu kepada ketiga orang tersebut. Yang termuda di antara mereka, Ka'b ibn Malik, telah membuat tenda sendirian di luar kota. Beberapa tahun kemudian, Ka'b menuturkan bahwa ia mendengar derap kuda berlari kencang menujunya dan suara berteriak, "kabar baik, Ka'b," sehingga ia bersimpuh di hadapan Allah. Sebab, selama di sana tidak ada berita yang baik selain itu. Kemudian, ia pergi ke masjid. "Ketika mengucapkan salam kepada Nabi," katanya, "wajahnya berseri-seri bahagia dan berkata, 'Berbahagialah di hari terbaik sejak engkau dilahirkan ibumu.' Aku bertanya, 'Apakah itu berasal darimu, hai Rasulullah, atau dari Allah?' 'Tidak, itu dari Allah,' jawabnya. Ketika Rasulullah gembira karena berita ini, wajahnya sangat cerah laksana rembulan'".
Sejak masuk Islam, Malik, pemimpin Hawazin, tidak pernah bersikap malas. Bani Tsaqif mungkin masih membanggakan diri mereka karena mampu mempertahankan Thaif. Namun, sekarang mereka telah dikepung oleh kaum muslim dari semua penjuru, dan setiap kabilah yang mereka utus keluar dapat diserang dan dirampas Bahkan, mereka tidak dapat menggembala unta dan domba ke padang rumput tanpa risiko akan dirampas oleh orang-orang Malik. Malik telah mengumumkan bahwa setiap orang Tsaqif yang tertangkap akan dibunuh, kecuali jika bersedia melepaskan keyakinan politeismenya. Setelah beberapa bulan, mereka memutuskan, tidak punya pilihan selain mengutus delegasi kepada Nabi, menyatakan bahwa mereka menerima Islam, dan membuat penjanjian yang menjamin keamanan rakyat, hewan ternak, dan tanah mereka.
Kaum muslim pulang dari Tabuk pada awal Ramadan. Pada bulan yang sama, delegasi dari Tha'if tiba. Mereka disambut dengan ramah dan sebuah tenda untuk mereka dipasang tak jauh dari masjid. Sebuah ketentuan menyusul bahwa jika mereka masuk Islam, wilayah mereka akan berada di bawah perlindungan negara Islam. Namun, Nabi tidak setuju terhadap permintaan mereka yang kedua. Mereka meminta beliau agar membiarkan berhala al-Lat tidak dirusak selama tiga tahun. Ketika beliau menolak, mereka meminta dua tahun, lalu satu tahun, sampai akhirnya mereka mengurangi permintaannya hingga satu bulan, yang juga ditolak. Kemudian, mereka meminta agar jangan mereka sendiri yang menghancurkan berhala mereka itu dan memberi mereka keringanan untuk tidak salat. Beliau bersikeras bahwa mereka harus salat, "Tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada salatnya." Namun, beliau setuju berhala mereka tidak akan dihancurkan oleh tangan mereka sendiri. Beliau memerintahkan Mughirah, keponakan 'Urwah, agar pergi bersama delegasi untuk menghancurkan al-Lat. Mughirah dibantu Abu Sufyan dari Mekah.
Setelah masuk Islam, delegasi itu sebagian berpuasa Ramadan di Madinah, kemudian kembali ke Tha'if. Abu Sufyan bergabung dengan suatu kelompok di Mekah, maka Mughirah menghancurkan berhala sendirian. Sukunya mengambil langkah-langkah untuk melindunginya, karena khawatir ia akan bernasib seperti 'Urwah. Namun, tidak ada seorang pun yang berusaha untuk membalas dendam, meskipun banyak kutukan dari sejumlah wanita yang meratapi kehilangan berhala itu.
Dua orang yang paling berduka atas penaklukan kota bukanlah warga setempat ataupun penyembah berhala. Ketika Nabi berangkat ke Mekah, Abu Amir, ayah Hanzhalah, dan Wahsyi, sang pelempar tombak itu, telah melarikan diri ke Thaif, daerah yang dikira tak dapat ditaklukkan. Namun, sekarang –setelah Tha'if menyerah– kemana lagi mereka dapat melarikan diri? Abu Amir pergi ke Syria, dan di sanalah ia meninggal dunia, "seorang pelarian, kesepian dan gelandangan seperti kutukan yang tidak disangka menimpa dirinya sendiri. Wahsyi masih ragu-ragu, ke mana ia akan pergi ketika seorang Tsaqif meyakinkannya bahwa Nabi tidak akan membunuh orang yang masuk Islam. Maka, ia pergi ke Madinah, menghadap Nabi, dan bersyahadat. Waktu itu salah seorang mukmin yang hadir mengenali pembunuh Hamzah itu dan berkata, "Hai Rasulullah Wahsyi inilah yang membunuh Hamzah." "Biarkanlah ia," kata Nabi, "karena keislaman seseorang lebih aku sukai daripada membunuh seribu orang kafir." Mata Nabi menatap si wajah hitam di hadapannya. "Apakah engkau benar-benar Wahsyi?" tanya beliau. Ketika lelaki itu mengiyakan, beliau menambahkan, "Duduklah, dan ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah." Ketika budak itu selesai bercerita, Nabi berkata, "Celaka, pergilah engkau dariku, jangan sampai aku melihatmu lagi!"
Sedangkan sepupu Abu Amir, Ibn Ubayy, sebulan sesudah Tabuk, ia menderita sakit keras; beberapa minggu kemudian meninggal dunia. Memang terdapat riwayat yang berbeda tentang kematiannya, karena ia dikenal munafik. Namun, semua sepakat bahwa Nabi menyalatkannya dan berdoa di samping makamnya setelah dikuburkan. Menurut salah satu hadis, ketika Nabi telah berdiri hendak berdoa, 'Umar memprotesnya karena beliau memberikan kehormatan semacam itu terhadap seorang munafik. Tetapi, Nabi menjawab dengan senyum, "Berdirilah di belakangku, hai Umar! Aku diberi pilihan dan aku telah memilih. Telah dikatakan kepada- ku, _'maafkanlah mereka atau sama sekali tidak; meskipun engkau memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka'_ (Q.S. 9: 80). Dan aku tahu, Allah akan mengampuninya jika aku berdoa lebih dari tujuh puluh kali, maka aku akan menambah jumlah doaku." Lalu beliau memimpin salat, mengiringi jenazah ke tempat pemakaman, dan berdiri di samping makamnya. Tak lama sesudahnya, turun ayat berkaitan dengan orang-orang munafik:
_Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik._ (QS. 9: 84)
Namun demikian, menurut hadis yang lain, ayat ini telah di turunkan sebagai bagian dari wahyu yang datang segera setelah kaum muslim kembali dari tabuk. Ayat itu juga tidak dapat diberlakukan terhadap Ibn Ubayy, karena saat Nabi menjenguknya ketika ia sakit, beliau melihat _sakrat al-mawt_ telah mengubahnya. Ia meminta Nabi agar jubah beliau diberikan kepadanya untuk kain kafan, untuk menemani jasadnya di dalam kubur, dan Nabi memberikannya. Pada saat itu, ia berkata, "Hai Rasulullah! Aku berharap engkau mau berdoa di samping kuburku dan memohonkan ampun atas dosa-dosaku." Nabi kembali mengiyakan. Setelah Ibn Ubayy meninggal, beliau menunaikan janjinya. Putra Ibn Ubayy, Abd Allah, hadir pada semua peristiwa itu.
Tidak hanya Tsaqif yang mengirim utusan kepada Nabi. Pada tahun "perutusan" ini –tahun ke-9 Hijriah– banyak utusan lain datang ke Madinah dari seluruh penjuru Arab. Di antaranya berasal dari pelbagai daerah di Yaman, termasuk surat dari empat pangeran Himyar yang menyatakan bahwa mereka menerima Islam dan menolak politeisme. Nabi membalasnya dengan hangat. Beliau menekankan berbagai kewajiban dalam Islam dan meminta mereka agar memperlakukan para utusannya dengan baik. Para utusan itu akan beliau kirim untuk mengumpulkan zakat atas kaum muslim, Kristen dan yahudi. Khusus orang Yahudi atau Kristen yang tetap memeluk agamanya, mereka tidak akan diganggu, namun harus membayar pajak. Dengan demikian, mereka akan mendapat perlindungan dari Tuhan dan Rasul-Nya." Ayat-ayat terakhir yang berkaitan dengan perbedaan agama menegaskan:
_Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja... maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan apa yang telah kamu perselisihkan itu_ (Q.S. 5: 48).
Tidak semua utusan itu datang dengan tulus. 'Amir ibn Thufayl--orang yang bertanggungjawab atas pembantaian di sumur ma'unah dan sekarang pimpinan Bani Amir –datang ke Madinah karena dipaksa warga sukunya. Ia sendiri kasar dan sangat sombong. Ketika masuk Islam, ia meminta Nabi agar ditunjuk sebagai pengganti beliau. "Itu bukanlah untukmu, juga bukan untuk kaummu," sahut Nabi. "Kalau begitu, serahkan padaku para penghuni tenda itu dan jadikan aku pengawalmu untuk orang-orang desa," kata Amir. "Tidak juga itu," kata Nabi, "tapi akan kuserahkan tali kekang kuda perang kepadamu, karena engkau penunggang kuda yang handal." Itu tidaklah cukup bagi kepala suku Badui itu. "Apakah aku tidak mendapatkan apa-apa?," katanya melengos pergi, "akan kupenuhi seluruh daratan ini dengan pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk menyerangmu." Setelah ia pergi, Nabi berdoa, "Ya Allah, tunjukilah Bani Amir, dan selamatkanlah Islam dari Amir ibn Thufayl." Amir terserang infeksi dan mati sebelum sampai ke rumahnya. Sukunya mengirim delegasi yang lain; dan suatu perjanjian akhirnya disepakati. Penyair Labid menjadi salah satu dari delegasi itu, dan sekarang ia masuk Islam. Ia dilaporkan sudah berniat akan berhenti menjadi penyair. "Sebagai gantinya, Tuhan telah memberiku Al-quran," tuturnya. Ia tidak lagi menggubah syair-syair hingga meninggal dunia, dan digantikan dengan pengabdian kepada agamanya.
Waktu pelaksanaan haji hampir tiba. Nabi menunjuk Abu Bakr sebagai wakilnya. Abu Bakr berangkat dari Madinah bersama tiga ratus orang. Namun, tak lama setelah keberangkatan, turunlah wahyu penting bahwa seluruh jamaah haji, baik muslim maupun musyrik, harus mendengarnya. "Tidak ada yang akan menjadi perantaraku kecuali seseorang dari ahli baitku," kata Nabi. Beliau menyuruh 'Ali agar segera menyusul jamaah. Beliau membacakan ayat-ayat yang diturunkan di lembah Mina, dan juga menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun sesudah tahun ini yang diperbolehkan tawaf di Ka'bah dengan telanjang. Tahun ini adalah kesempatan terakhir bagi kaum musyrik.
Ketika Ali menyusul para jamaah yang lain, Abu Bakr bertanya, apakah ia datang untuk memimpin ekspedisi itu; namun ia menjawab, dirinya berada di bawah perintah Abu Bakr. Maka, mereka berangkat bersama-sama. Abu Bakr mengimami salat dan memberi khotbah. Pada hari raya, saat seluruh jamaah haji berkumpul di Mina untuk menyembelih hewan kurban mereka, 'Ali mengumumkan pesan Tuhan. Inti pesan itu menyatakan bahwa kaum musyrik diberi waktu selama empat bulan untuk datang dan pergi sesuka mereka dengan aman. Namun, setelah itu, Allah dan Rasul-Nya akan lepas kewajiban terhadap mereka. Perang dinyatakan terhadap mereka, dan mereka akan dibunuh atau ditawan di mana saja mereka berada. Dua pengecualian dibuat: terhadap kaum musyrik yang memiliki perjanjian khusus dengan Nabi dan menjaganya dengan amanah, perjanjian itu dianggap sah sampai batas waktu berlakunya; dan jika seorang musyrik meminta perlindungan, ia akan diberi perlindungan dan akan dibawa ke tempat yang aman. Itulah yang pertama kali diperintahkan dalam Islam. Terdapat juga ayat yang ditujukan khususnya kepada para mualaf baru dari Mekah yang khawatir bahwa perginya kaum musyrik bukan saja akan menghilangkan keuntungan perdagangan mereka, namun juga merasa kehilangan banyak hadiah besar:
_Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati majidil haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kapadamu dari kanunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana_ (QS. 9: 28).
Hampir sepanjang tahun berikutnya –tahun kesepuluh sejak beliau hijrah– Nabi tinggal di rumah. Ibrahim sudah dapat berjalan dan mulai dapat berbicara. Hasan dan Husayn sekarang telah memiliki adik perempuan yang dinamai dengan nama bibinya, Zaynab. Fathimah tengah mengandung anak yang keempat. Anggota keluarga lainnya adalah ketiga anak Ja'far. Mereka kini anak tiri Abu Bakr yang menikahi ibu mereka, Asma, yang juga tengah mengandung. Yang paling disayang Nabi adalah saudara perempuannya, Umm al-Fadhl. Di Mekah, beliau biasa mengunjunginya, dan sejak Abbas pindah ke Madinah, beliau lebih sering lagi berkunjung ke rumah mereka. Putra sulung mereka, kini telah tumbuh dewasa, dan menerima banyak perhatian. Setidaknya, pada suatu musim, ketika Maymunah kembali ke rumah Nabi, ia mengajak keponakannya Fadhl, untuk tinggal bersamanya.
Para utusan masih terus berdatangan seperti tahun sebelumnya. Salah satunya berasal dari kaum Kristen Najran, yang bermaksud membuat perjanjian dengan Nabi. Mereka berasal dari wilayah bagian Byzantium. Di masa lalu, mereka telah menerima banyak subsidi dari Konstantinopel. Para utusan itu, berjumlah enam puluh orang, diterima oleh Nabi di masjid. Tatkala waktu sembahyang mereka tiba, beliau mengizinkan mereka melaksanakannya di dalam masjid. Mereka pun melakukannya dengan menghadap ke arah timur.
Selama tinggal bersama Nabi di Madinah, banyak pokok ajaran Islam yang menyentuh mereka, dan ada beberapa perbedaan antara beliau dengan mereka berkaitan dengan Nabi 'Isa. Lalu turunlah wahyu:
_Sesungguhnya penciptaan 'Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah ia. Itulah yang benar datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah ini sesudah datangnya ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta_ (Q.S. 3: 59-61).
Nabi membacakan ayat ini kepada kaum Kristen tersebut dan mengundang mereka untuk bertemu dengannya dan keluarganya dan untuk menyelesaikan perbedaan di kalangan mereka seperti yang disarankan dalam ayat tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka akan memikirkannya. Esok harinya, saat datang ke Nabi, mereka melihat Ali bersamanya. Di belakangnya ada Fathimah dan kedua putranya. Nabi mengenakan jubah besar, dan cukup besar untuk melingkupi mereka semua, termasuk beliau sendiri. Karena alasan ini, kelima orang itu dihormati dan dikenal sebagai "Orang-orang jubah". Delegasi Kristen berkata, mereka tidak siap membawa perselisihan mereka sedemikian jauh sampai menjadi suatu kutukan. Nabi membuat suatu perjanjian dengan mereka, bahwa sebagai imbalan pembayaran pajak, negara Islam akan memberi perlindungan penuh bagi semua orang, gereja-gereja, dan harta kekayaan mereka.
Kebahagiaan pada awal bulan tahun ini berakhir dengan sakitnya Ibrahim. Jelas, Ibrahim tidak dapat bertahan hidup lagi. Ia dirawat oleh ibunya dan saudara perempuannya, Sirin. Nabi terus-menerus menjenguknya dan bersamanya saat kematiannya. Ketika anak itu menghembuskan nafas terakhir, Nabi memeluknya dan air mata membasahi pipinya. Larangan beliau meratapi kematian telah menyebarkan ide bahwa semua ekspresi kesedihan atas kematian seseorang harus dihindari. Kesalahpahaman tersebut masih banyak melekat di benak orang. "Hai Rasulullah," kata Abd al-Rahman ibn Awf yang hadir waktu itu, "bukankah ini telah kaularang? Kalau kaum muslim melihat engkau menangis, mereka akan menangis juga." Nabi tetap menangis. Setelah mampu berbicara, beliau berkata, "Bukan ini yang kularang. Ini merupakan ekspresi kasih sayang Barang siapa tidak memiliki kasih sayang, maka baginya tidak akan mendapatkan kasih sayang. Hai Ibrahim, jika saja tidak ada janji pertemuan kembali dan ini adalah jalan yang harus dialami oleh setiap orang, serta orang yang kemudian menggantikan orang yang terdahulu, sungguh kami akan sangat berduka terhadapmu. Kami sangat berduka bagimu, Ibrahim. Mata penuh air mata dan hati penuh duka, tidak juga dikatakan kami akan menyinggung Tuhan."
Nabi menenangkan Mariyah dan Sirin, meyakinkan mereka bahwa Ibrahim berada di surga. Beliau meninggalkan mereka sejenak, dan kembali ke Abbas dan Fadhl. Lelaki muda itu membasuh jasad Ibrahim dan membaringkannya, sementara dua lelaki yang lebih tua duduk dan menatapnya. Kemudian, jenazahnya dibawa ke pemakaman dalam usungan kecil. Nabi mengimami salat jenazah dan berdoa di tepi kuburan putranya itu setelah ia dimakamkan oleh Usamah dan Fadhl. Ketika semuanya tertimbun tanah, beliau masih tetap di samping makam, dan meminta air. Beliau mengajak mereka menyiramkan air di atas kaburannya. Ada gundukan tanah yang belum rata di atas kuburan itu, dan melihat itu beliau berkata, "kalau kalian melakukan sesuatu, lakukanlah dengan sempurna". Sembari meratakan tanah itu, beliau mengomentari perbuatannya sendiri, "Ini tidak merugikan, juga tidak membawa manfaat, tapi dapat meringankan jiwa yang tengah berduka".
Nabi telah berulangkali menekankan pentingnya menyempurnakan tujuan seseorang dalam setiap perbuatan duniawinya. Beberapa hadis menunjukkan bahwa tujuan ini haruslah bersifat spiritual. Ali menyimpulkan arahan Nabi itu sebagai berikut "Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah akan mati besok." Selalu bersiap untuk mati berarti juga bersiap untuk berpisah. "Jadilah di dunia ini seperti seorang asing yang numpang lewat," kata Nabi.
Pada hari kematian Ibrahim, tak lama setelah pemakamannya terjadi gerhana matahari. Ketika sebagian orang mengaitkannya dengan peristiwa kematian putra Nabi, beliau berkata, "Matahari dan bulan adalah dua tanda dari sekian tanda kebesaran Allah. Cahaya mereka tidak redup karena kematian seseorang. Jika engkau melihat gerhana bulan atau matahari, dirikanlah salat hingga gerhana itu hilang."
*#130#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment