Sunday, May 31, 2020

Kisah Rasul bagian 82

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣2⃣ *HAJI PERPISAHAN*
_______________________

KETIKA berada di Madinah selama bulan Ramadan, Nabi dan para sahabat biasanya beriktikaf di masjid selama sepuluh hari pertengahan bulan. Namun pada tahun ini, setelah sepuluh hari tersebut, beliau mengajak para sahabatnya untuk terus beriktikaf selama sepuluh hari lagi hingga akhir bulan. Setiap tahun di bulan Ramadan, Jibril datang menemui Nabi untuk memastikan bahwa wahyu-wahyu yang telah diturunkan sedikit pun tak ada yang luput dari ingatan Nabi. Tahun ini, setelah iktikaf, Nabi mengungkapkan suatu rahasia kepada Fathimah, yang belum boleh diceritakan kepada orang lain, "Jibril membacakan Alquran kepadaku dan aku membacakan kepadanya sekali setahun; tapi tahun ini, ia membacakannya dua kali. Aku menduga, waktuku telah tiba".

Bulan Syawal berlalu. Pada bulan kesebelas diumumkan di seluruh Madinah bahwa Nabi sendiri yang akan memimpin jamaah haji. Berita ini disebarkan ke berbagai suku di padang pasir, dan orang datang berbondong-bondong ke oasis itu dari segala penjuru. Dalam setiap langkahnya, mereka bergembira mendapat kesempatan berhaji bersama Nabi. Ibadah haji kali ini berbeda dengan yang dilakukan beratus-ratus tahun silam: seluruh jamaah akan menyembah hanya pada satu Tuhan, dan tidak ada lagi para penyembah berhala yang akan mencemari Rumah Suci dengan mengadakan ritus- ritus kemusyrikan. Lima hari sebelum akhir bulan, Nabi keluar dari Madinah memimpin 30.000 lelaki dan perempuan. Para istri turut serta, masing-masing di dalam hawdahnya, ditemani oleh Abd al-Rahman ibn Awf dan 'Utsman ibn Affan. Abu Bakr ditemani istrinya, Asma'. Di salah satu tempat pemberhentian, istrinya melahirkan seorang anak yang diberi nama Muhammad. Abu Bakr hendak mengirimnya pulang ke Madinah, tapi Nabi memberi tahu Abu Bakr agar istrinya disuruh melakukan mandi hadas besar, kemudian bersuci untuk melakukan ibadah haji, dan pergi bersama mereka seperti yang telah direncanakan.

Saat matahari terbenam pada hari kesepuluh sejak meninggalkan Madinah, Nabi sampai di jalan yang beliau lintasi saat memasuki Mekah pada Hari Kemenangan. Di sanalah beliau bermalam, dan paginya beliau menuruni lembah. Ketika sampai di dekat Ka'bah, beliau mengangkat tangannya, berdoa hingga tali pelana untanya jatuh, yang kemudian beliau ambil kembali dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap menengadah dan berdoa, "Ya Allah, tambahkanlah pada Rumah Suci-Mu ini kemuliaan, keagungan, kemakmuran, dan kehormatan serta ketaatan bagi manusia!" Beliau memasuki masjid dan bertawaf di Ka'bah tujuh kali, lalu salat di makam Ibrahim. Kemudian beliau pergi ke Shafa, berlari-lari kecil tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Orang-orang yang bersamanya merekam baik-baik dalam ingatan mereka pelbagai bacaan pujian dan doa yang beliau lantunkan di setiap tempat.

Kembali ke masjid, beliau kini memasuki Ka'bah bersama penjaganya, "Utsman dari Abd al-Dar, juga disertai Bilal dan Usamah. Namun, sore harinya, di saat menemui Aisyah di tendanya, beliau tampak bersedih dan Aisyah menanyakannya. "Aku telah melakukan sesuatu hari ini," kata beliau "yang tidak akan kaulakukan. Aku memasuki Rumah Suci; dan mungkin umatku tidak akan dapat memasukinya –beliau maksudkan pada tahun-tahun mendatang. Kita hanya diperintahkan untuk mengitarinya, tidak diperintahkan untuk memasukinya."

Nabi menolak setiap permintaan untuk mampir di rumah mana pun di Mekah, kecuali di rumah Umm Hani'. Pada hari kedelapan bulan baru itu, beliau pergi ke lembah Mina, diikuti oleh para jamaah. Setelah bermalam di sana, besoknya beliau berangkat ke Arafah: sebuah lembah luas, tiga puluh mil di sebelah timur Mekah, di luar perbatasan Tanah Suci. 'Arafah terletak di jalan menuju Tha'if dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh perbukitan Tha'if. Namun, terpisah dari tempat ini –sekitarnya dikelilingi lembah– ada sebuah bukit yang juga diberi nama Arafah atau Jabal Rahmah. Arafah adalah bagian utama dari lokasi ibadah haji; dan hari itu Nabi berpidato di bukit tersebut.

Beberapa penduduk Mekah tampak heran melihat Nabi pergi sejauh itu. Sementara jamaah lainnya terus ke Arafah, orang-orang Quraisy terbiasa tetap di dalam Tanah Suci, mereka berkata, "Kami adalah umat Tuhan." Namun, beliau menjelaskan bahwa Ibrahim menjadikan hari Arafah sebagai bagian terpenting dari ibadah haji, dan Quraisy telah mengabaikan pelaksanaannya. Nabi menegaskan pula bahwa hari Arafah adalah ritus haji masa dahulu. dan kata-kata "napak tilas Ibrahim" sering kali beliau ucapkan.

Untuk mengingatkan seluruh suku-suku itu bahwa mulai saat ini semua pertumpahan darah di seluruh komunitas Islam telah berakhir dan hidup dan harta setiap orang itu suci beliau menunjuk Rabi'ah –saudara Shafwan, yang memiliki suara lantang– untuk mengumumkan: "Rasulullah berkata, 'Tahukah kalian, bulan apa sekarang?' Mereka terdiam, dan ia menjawab, 'Bulan suci.' Lalu beliau bertanya, 'Tahukah kalian, tanah apakah ini?' Kembali mereka terdiam dan ia menjawab, 'Tanah suci,' Lalu beliau berkata, 'Tahukah kalian, hari apakah ini?' Kembali ia yang menjawab. 'Hari haji besar,'" Lalu, ia mengumumkan sesuai dengan instruksi Nabi, "Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci antar satu sama lain, hingga kalian menemui Tuhanmu, sebagaimana sucinya hari ini, tanah ini, dan bulan ini."

Ketika matahari terbenam, Nabi berpidato yang dimulai –sesudah memuji Tuhan–  dengan kata-kata, "Hai manusia! Simaklah baik-baik apa yang hendak kukatakan, karena aku tidak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini". Kemudian beliau menasihati mereka agar memperlakukan satu sama lain dengan baik, dan mengingatkan mereka apa yang diperintahkan dan dilarang. Akhirnya, belau berkata, "Aku tinggalkan untuk kalian dua petunjuk yang jelas jika kalian berpegang teguh padanya, maka akan terhindar dari semua kesalahan. Keduanya adalah Kitab Allah dan sunnahku. Hai umatku, dengarkanlah kata-kataku dan pahamilah." Beliau lalu membacakan sebuah ayat yang baru saja diterima. Ayat itu menyempurnakan Alquran, karena merupakan ayat yang turun terakhir:

_Pada hari ini, kaum kafir telah berputus asa untuk mengalahkan agamamu, maka janganlah kalian takut pada mereka, melainkan takutlah pada-Ku! Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agamamu_ (Q.S. 5:3).

Beliau mengakhiri pidato singkatnya dengan sebuah pertanyaan penting, "Hai manusia, bukankah risalah Tuhanku telah kusampaikan kepada kalian?" Jawaban serentak terdengar dari ribuan yang hadir, "Ya Allah, ya!" Kata-kata _Allahumma na'am_ bergemuruh meliputi lembah. Nabi mengangkat telunjuknya dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah!"

Kemudian, mereka mendirikan salat. Sisa hari Arafah diisi dengan beriktikaf. Namun, begitu matahari terbit, Nabi menaiki untanya dan menyuruh Usamah membonceng di belakangnya. Beliau menuruni bukit dan melintasi lembah menuju Mekah, diikuti oleh para jamaah. Sudah menjadi tradisi untuk memacu kendaraan dengan cepat pada bagian ini, namun pada perbatasan pertama beliau berteriak, "Pelan-pelanlah, pelan-pelanlah! Dengan ketenangan jiwa! Biarkanlah yang terkuat di antara kalian melindungi yang lemah!" Mereka bermalam di Muzdalifah, yang berada di kawasan Tanah Suci. Di sana mereka mengumpulkan batu-batu kerikil untuk melempar setan, yang disimbolkan dengan tiga pilar di Aqabah, di lembah Mina. Sawdah meminta izin kepada Nabi untuk meninggalkan Muzdalifah sebentar. Mengingat tubuhnya yang besar dan lebih gemuk dari rata-rata wanita lainnya, ia berkeringat banyak dan merasa kelelahan selama perjalanan, dan ia cemas untuk melaksanakan ritual melempar jumrah sebelum gelombang jamaah lain tiba. Maka, beliau mengirimnya ke barisan terdepan, ditemani oleh Umm Sulaym, dikawal oleh Abd Allah, salah seorang putra Abbas.

Nabi sendiri salat subuh di Muzdalifah, kemudian memimpim jamaah haji di Aqabah, bersama Fadhl yang duduk di belakangnya. Di tempat inilah, persis pada hari yang sama dua belas tahun lalu beliau bertemu dengan enam orang suku Khazraj yang menyatakan keislamannya, lalu menyiapkan jalan bagi Perjanjian Aqabah Pertama dan Kedua. Setelah melempar jumrah dan menyembelih hewan-hewan kurban, Nabi menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya. Para Jamaah mengerumuni beliau, berharap mendapatkan beberapa helai rambutnya. Abu Bakr kemudian menuturkan perbedaan antara Khalid saat di Uhud dan parit dengan Khalid yang kini berkata, "Hai Rasulullah! Rambut di ubun-ubunmu, jangan kau berikan kepada orang lain, selain kepadaku, ayah dan ibuku menjadi tebusannya!" Ketika Nabi memberikan rambut itu kepadanya. ia lekatkan dengan takzim ke mata dan bibirnya.

Nabi kini mengajak para jamaah berkunjung ke Ka'bah dan kembali bermalam di Mina hingga dua malam berikutnya. Beliau sendiri menunggu hingga sore hari. Kemudian, beliau pergi ke Mekah ditemani semua istrinya, kecuali Aisyah, yang sedang tidak suci untuk beribadah. Beberapa hari berikutnya, beliau segera mengirimnya keluar dari Tanah Suci, dikawal oleh saudaranya, Abd al- Rahmin. Di sana. 'Aisyah bersuci dan pergi ke Mekah, lalu bertawaf di Ka'bah.

Seusai penaklukan di Yaman, tiga ratus pasukan berkuda yang diutus Nabi keluar di bulan Ramadan kini telah mendekati Mekah dari arah selatan. Ali berada di depan pasukannya, ingin sekali bertemu Nabi selekas mungkin dan melaksanakan ibadah haji bersama beliau, yang kini telah dilaksanakan. Di antara seperlima bagian yang ditetapkan dari harta rampasan perang terdapat baju yang cukup bagi seluruh pasukan. Namun, Ali tak mau menyentuhnya sebelum diserahkan terlebih dahulu kepada Nabi. Pada saat ia tidak ada, orang yang diserahi tanggung jawab untuk menjaganya dibujuk agar meminjamkan setiap orang satu baju untuk ganti pakaian. Baju ganti itu sangat dibutuhkan karena mereka telah jauh dari rumah hampir tiga bulan. Ketika mereka dekat gerbang kota, Ali menemui mereka dan terkejut melihat apa yang telah terjadi. "Aku telah memberi mereka baju," kata penanggung jawab itu, "agar saat masuk kota, penampilan mereka tampak lebih pantas di tengah penduduk." Semua orang tahu bahwa untuk menghormati peristiwa besar itu, setiap orang di Mekah akan mengenakan pakaian terbaiknya dan mereka berharap dapat menunjukkan penampilan terbaik. Namun, Ali tidak setuju dan mereka disuruh mengenakan baju lamanya dan mengembalikan baju yang baru. Seluruh anggota pasukan pun merasa dongkol. Ketika Nabi mendengar hal itu, beliau berkata, "Hai umatku, janganlah menyalahkan Ali, karena ia terlalu hati-hati di jalan Allah." Namun kata-kata itu tidaklah cukup, atau barangkali hanya sedikit yang mendengarnya, sehingga kemarahan mereka pun tetap berlanjut.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, salah seorang anggota pasukan dengan keras mengeluhkan perilaku Ali kepada Nabi hingga raut wajahnya berubah. "Tidakkah aku lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri? tegasnya. Ketika orang itu mengiyakan, beliau menambahkan, "Barang siapa yang dekat denganku, maka juga dekat kepada Ali." Dalam perjalanan berikutnya, saat mereka berhenti di Ghadir al-Khumm semua orang dikumpulkan bersama. Belau memegang tangan Ali, mengulangi kata-kata tersebut dan berdoa, "Ya Allah, jadikanlah sahabat-Mu siapa saja yang menjadi sahabatnya, dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya." Keluhan terhadap 'Ali pun berhenti.

Salah satu deputasi pada tahun lalu berasal dari kaum Kristen Yamamah, Bani Hanifah, yang wilayahnya terbentang sepanjang perbatasan timur Najd. Mereka sepakat untuk masuk Islam. Namun, kini salah seorang dari mereka, bernama Musaylimah, mengklaim dirinya sebagai seorang nabi. Tidak lama seusai kembalinya para jamaah dari Mekah, datang surat yang dibawa ke Madinah oleh dua orang utusan dari Yamamah: "Dari Musaylimah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah, keselamatan atasmu! Telah ditentukan kepadaku pembagian kekuasaan denganmu. Sebagian tanah ini milik kami, sebagiannya lagi milik Quraisy, meskipun mereka telah masuk Islam." Nabi bertanya kepada utusan itu, apa pendapat mereka tentang surat itu. Mereka menjawab, "Kami sependapat dengannya." "Demi Tuhan," kata Nabi, "seandainya seorang utusan boleh di bunuh, akan kupenggal kepalamu." Beliau kemudian mendiktekan sepucuk surat kepada mereka untuk diberikan kepada tuannya :

```Dari Muhammad Rasulullah kepada Musaylimah si pembohong. Keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk! Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dialah yang berkuasa memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-Nya; dan keputusan akhir adalah kemenangan bagi orang-orang yang taat.```

Waktu itu ada dua orang lagi yang mengaku nabi, Thulayhah kepala Bani Asad, dan Aswad ibn Ka'b dari Yaman. Orang Yaman meraih kesuksesan dalam waktu yang singkat dan cepat menguasai wilayah yang luas, namun kebanggaannya segera berbalik karena ditentang banyak pengikutnya; dan setelah beberapa bulan, ia di bantai. Thulayhah akhirnya dikalahkan oleh Khalid. Dengan menarik kembali berbagai klaimnya, ia menjadi kekuatan bagi lslam. Sedangkan Musaylimah, akhirnya ditusuk Wahsyi dengan tombaknya, dan ditikam Abd Allah, putra Nusaybah, dengan pedangnya. Namun, kekalahan ini terjadi beberapa bulan kemudian. Pada saat itu, seiring dengan habisnya bulan haji dan mulai masuk tahun ke 8 Hijriah, semua pembohong pengaku nabi itu berpotensi membahayakan bagi Islam. Terdapat pula seorang wanita dari Tamim, bernama sajah, yang mengaku dirinya sebagai nabi. Namun, Nabi tidak segera mengambil tindakan terhadap seorang pun dari mereka. Perhatian beliau tertuju ke arah utara. Pada hari-hari terakhir bulan Safar, bulan kedua di tahun itu, bertepatan dengan akhir Mei 632 M, beliau memutuskan bahwa telah tiba waktunya untuk membalas kekalahan perang Mu'tah. Setelah memerintahkan untuk melakukan persiapan perang melawan suku-suku Arab Syria yang telah berpihak kepada pasukan kerajaan pada hari terbunuhnya Zayd dan Ja'far, beliau memanggil anak Zayd, Usamah, untuk menghadapnya. Meskipun masih muda, ia diangkat sebagai panglima pasukan sejumlah tiga ribu orang.

*#133#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment