🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮 🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣3⃣ *SEBUAH PILIHAN*
_______________________
NABI tak henti-hentinya berbicara tentang surga. Ketika menceritakannya, seolah-olah beliau melihat apa yang digambarkan tersebut. Kesan ini tampak diperkuat dalam berbagai bentuk, seperti suatu ketika beliau mengulurkan tangannya seolah akan mengambil sesuatu, kemudian menariknya kembali. Beliau tidak berkata apa- apa, tapi orang yang bersamanya mengamati dan menanyakan tindakannya itu. "Aku melihat surga," kata beliau, "dan aku menjangkau setangkai anggurnya. Jika aku mengambilnya, kalian baru dapat menghabiskannya selama usia bumi ini." Mereka menjadi terbiasa berpikir seolah-olah Nabi sudah berada di alam akhirat. Barangkali itulah sebabnya jika beliau berbicara tentang kematiannya, mereka tidak terlalu terpengaruh. Lebih-lebih, meski telah berusia 63 tahun secara fisik beliau masih terlihat jauh lebih muda, matanya masih terang, dan hanya ada sedikit uban di rambut hitamnya. Namun, indikasi dekatnya kematian beliau cukup tampak tatkala ditanya para istrinya, "Siapa di antara kami yang pertama kali akan menemanimu di alam barzakh?" Beliau menjawab, "Siapa yang tangannya terpanjang di antara kalian, dialah yang lebih dulu menemaniku." Lantas mereka mengukur dan membandingkan tangan mereka satu sama lain. Diperkirakan meskipun tidak tercatat, Sawdahlah yang menjadi pemenangnya. Sebab, dialah istri yang paling tinggi dan besar di antara mereka. Di lain pihak, Zaynab adalah wanita mungil dan berlengan pendek. Namun demikian, ternyata dialah yang pertama kali meninggal, sekitar sepuluh tahun kemudian. Dengan kejadian itu, mereka baru sadar bahwa yang dimaksud Nabi dengan "terpanjang tangannya" adalah yang paling dermawan. Zaynab wanita yang sangat murah hati. Seperti pendahulunya yang memiliki nama yang sama, ia juga dipanggil "Ibu orang-orang miskin"
Suatu malam, tak lama setelah Nabi memerintahkan persiapan penaklukan Syria, dan sebelum para pasukan berangkat, beliau memanggil Abu Muwayhibah, seorang bekas budaknya, dan berkata, "Aku telah diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para ahli kubur, ikutlah bersamaku." Mereka pergi bersama. Ketika sampai di Baqi, Nabi mengucapkan. "Keselamatan atasmu, wahai penghuni kubur. Bergembiralah di alammu, yang jauh lebih baik dari negeri yang kini dihuni manusia. Fitrah akan datang kepada mereka secara beruntun, seperti beruntunnya potongan-potongan malam yang gelap. Yang terakhir menyusul yang terdahulu, dan yang terakhir lebih jelek dari yang sebelumnya." Lalu Nabi menoleh ke Abu Muwayhibah dan berkata, "Baru saja aku ditawari seluruh kunci perbendaharaan dunia ini, yang aku akan kekal di dalamnya, kemudian surga, dan pertemuan dengan Tuhanku dan surga." "Wahai engkau yang lebih kukasihi dari ayah dan ibuku," kata Abu Muwayhibah, "ambillah kunci-kunci perbendaharaan itu, baru sesudah itu surga." Namun beliau menjawab. "Aku memilih pertemuan dengan Tuhanku dan surga." Kemudian beliau berdoa memohonkan ampun bagi para penghuni kubur Baqi itu.
Waktu fajar, atau mungkin keesokan harinya, Nabi merasakan sakit kepala yang tidak pernah dialami sebelumnya, tapi beliau tetap pergi ke masjid. Seusai mengimami salat, beliau naik ke mimbar dan mendoakan keselamatan bagi para syuhada Perang Uhud, seolah-olah beliau tengah melakukannya untuk yang terakhir kalinya. Lalu beliau berkata, "Ada seseorang di antara hamba Allah yang diberi pilihan antara dunia ini atau pertemuan dengan-Nya, dan hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya." Saat beliau mengatakan itu, Abu Bakr menangis, karena ia tahu Nabi sedang berbicara tentang dirinya sendiri dan pilihan yang dimaksud adalah kematian. Nabi tahu, Abu Bakr memahaminya dan menyuruhnya untuk tidak menangis. Beliau berkata, "Hai manusia! Orang yang terkasih dalam persahabatan denganku dan paling dermawan tangannya adalah Abu Bakr. Seandainya aku mengambil seorang teman yang tak bisa dipisahkan dari seluruh manusia, pastilah ia Abu Bakr. Tetapi, persahabatan dan persaudaraan dalam iman menjadi milik kita, sampai Allah mempersatukan kita di haribaan-Nya." Pada kesempatan itulah Nabi berkata, melihat sekeliling pintu masuk masiid dari rumah-rumah yang mengitarinya, "Tutuplah pintu-pintu yang mengarah ke masjid. Buatlah dinding, kecuali pintu rumah Abu Bakr." Sebelum meninggalkan mimbar, beliau berkata, "Aku pergi mendahului kalian, dan aku menjadi saksi kalian. Tempat pertemuan kalian denganku adalah di Telaga, yang sesungguhnya dapat kulihat dari tempat aku berdiri saat ini. Aku tidak mengkhawatirkan kalian akan menyembah tuhan lain selain Allah. Akan tetapi, yang kukhawatirkan kalian di dunia ini akan saling berlomba meraih kejayaan duniawi."
Dari masjid, beliau kembali ke rumah Maymunah, yang menjadi gilirannya untuk dikunjungi. Berupaya untuk berpidato bagi para jamaah, ternyata menambah rasa sakitnya. Setelah satu-dua jam, beliau berharap 'Aisyah tahu bahwa dirinya sakit, maka beliau pergi sejenak mengunjunginya. 'Aisyah juga terserang sakit kepala. Ketika beliau masuk ke dalam ruangannya, 'Aisyah merintih. "Oh kepalaku!" "Bukan, 'Aisyah," kata Nabi, "kepalaku yang sakit!" Meskipun demikian, Nabi memerhatikan 'Aisyah dengan saksama seolah mencari tanda sakit yang mengakibatkan kematian pada wajahnya, dan ternyata tidak menemukannya. Beliau berkata, "Aku berharap jika itu terjadi, –maksud beliau kematian 'Aisyah– sementara aku masih hidup, aku akan memohonkan ampun bagimu, memohon keberkahan bagimu, mengafanimu, menyalatimu dan menguburkanmu." 'Aisyah dapat melihat bahwa Nabi sedang sakit dan ia disadarkan oleh nada suaranya. Namun, ia tetap berusaha membuat riang dan berhasil membuat Nabi tersenyum sejenak. Lalu beliau mengulangi, "Bukan, tapi kepalaku," dan beliau kembali ke rumah Maymunah.
Beliau berusaha melakukan apa yang biasa dilakukan sewaktu sehat, dan tetap mengimami salat di masjid seperti biasanya. Namun, penyakitnya kian parah, sampai-sampai beliau hanya mampu salat dalam posisi duduk, dan memerintahkan para jamaah agar juga salat sambil duduk. Saat kembali ke rumah istrinya, beliau bertanya, "Dimana aku besok?" Maymunah menyebutkan nama istri yang akan beliau kunjungi. "Dan dimana esok lusa?" tanyanya. Kembali Maymunah menjawab. Namun, terkejut dengan pertanyaannya, ia menyadari bahwa Nabi tak sabar untuk segera bersama 'A'isyah. Ia mengatakan kepada para istri yang lain agar mereka semua datang kepada Nabi dan berkata, "Hai Rasulullah, kami memberikan jatah waktu kami bersamamu kepada saudara kami, 'Aisyah." Beliau menerima pemberian mereka. Namun, saat ini beliau terlalu lemah untuk berjalan tanpa bantuan. Abbas dan Ali pun membopongnya menuju rumah 'Aisyah.
Banyak kritik yang ditujukan kepada Nabi, karena beliau memilih orang semuda 'Usamah untuk memimpin pasukan penaklukan Syria, dan itulah yang mengakibatkan lemahnya persiapan mereka. Beliau merasa perlu menjawab kritikan tersebut, namun penyakitnya semakin parah. Karena itu, beliau berkata kepada para istrinya, "Kumpulkanlah untukku tujuh air dari sumur yang berbeda agar aku dapat menemui mereka dan memberi mereka nasihat." Hafshah membawakan bak ke ruangan Aisyah dan istri lainnya membawakan bak air, dan Nabi duduk di bak itu ketika yang lain membersihkan tubuhnya dengan air itu. Lalu mereka membantunya mengenakan pakaian dan menutupi kepalanya. Dua orang laki-laki memapah beliau menuju masjid. Di sana beliau duduk di mimbar dan berpidato kepada mereka yang hadir, "Hai manusia, bergegaslah bersama pasukan 'Usamah, karena bila kalian mempertanyakan kepemimpinannya, sama saja kalian mempertanyakan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Ia pantas memimpin, sebagaimana ayahnya pantas untuk itu." Beliau turun dari mimbar dan dipapah kembali ke rumah 'A'isyah. Segala persiapan dipercepat dan Usamah berangkat bersama pasukannya ke Jurf, tempat mereka berkemah sekitar tiga mil sebelah utara Madinah.
Pada azan berikutnya, Nabi merasa tak mampu lagi mengimami sekalipun dengan posisi duduk. Maka, beliau berkata kepada istrinya, "Suruhlah Abu Bakr mengimami salat." Namun, 'A'isyah khawatir hal itu akan membuat Abu Bakr sangat bersedih untuk menggantikan tempat Nabi. "Hai Rasulullah," katanya, "Abu Bakr orang yang sangat perasa, suaranya lemah dan lebih banyak menangis saat membaca Alquran." "Suruh ia mengimami salat," kata Nabi, mengabaikan pernyataan Aisyah. 'Aisyah mencoba lagi, kali ini ia mengusulkan Umar untuk menggantikan tempatnya. "Suruh Abu Bakr untuk mengimami salat," ulangnya. 'Aisyah melemparkan permintaannya kepada Hafshah, yang kini mulai angkat bicara, namun Nabi membuatnya terdiam dengan kata-kata "Kalian seperti para wanita yang mengelilingi Yusuf. Suruh Abu Bakr mengimami salat. Biarkan para pencela tahu kekeliruannya dan biarkan keinginan orang yang ambisius. Allah dan kaum mukmin tidak akan demikian." Beliau mengulangi kalimat terakhirnya sebanyak tiga kali, dan akhirnya Abu Bakr mengimami salat.
Nabi banyak berbaring dipangkuan 'A'isyah. Namun, ketika Fathimah datang. 'Aisyah mengundurkan diri sejenak untuk mempersilakan ayah dan putrinya itu bersama-sama. Pada kunjungan kali ini, Aisyah melihat Nabi membisikkan sesuatu kepada Fathimah hingga putrinya itu menangis. Di sela-sela tangisnya, beliau membisikkan rahasia lainnya dan Fathimah tersenyum. Ketika Fathimah keluar, 'Aisyah menanyakan apa yang dikatakan Nabi kepadanya, dan dijawab bahwa itu rahasia yang tidak boleh diungkapkan kepada orang lain. Namun di kemudian hari, ia menuturkan kepada 'Aisyah, "Nabi mengatakan kepadaku, beliau akan wafat dalam sakitnya ini sehingga aku menangis. Lalu beliau mengatakan, akulah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau, karena itu aku tertawa."
Beliau merasa sakitnya semakin parah. Suatu hari, ketika sakitnya mencapai kondisi terburuk, istrinya Shafiyyah berkata, "Hai Rasulullah, apakah aku akan merasakan seperti yang engkau rasa kan? Para istrinya yang lain saling bertukar pandang dan saling berbisik bahwa perkataan itu munafik. Nabi melihat mereka dan berkata, "Bersihkan mulut kalian." Mereka bertanya kepada beliau mengapa, beliau berkata, "Karena fitnah kalian terhadap saudara kalian ini. Demi Tuhan, ia berkata sejujurnya dengan ikhlas."
Umm Ayman selalu hadir dan senantiasa memberikan informasi kepada anaknya. Usamah memutuskan untuk tidak melanjutkan pejalanan dan tetap berada di baraknya, di Jurf, sampai Allah memutuskan sesuatu. Namun, suatu pagi terdapat kabar bahwa ia datang ke Madinah dan sambil menangis menemui Rasulullah yang hari itu sangat lemah untuk berbicara, meskipun masih sadar sepenuhnya. Usamah merangkul Nabi erat-erat dan menciuminya. Nabi mengangkat tangannya, telapak tangannya di angkat tinggi-tinggi, berdoa, memohon keberkahan dari langit. Lalu beliau memberi isyarat, seolah-olah mempersilakan Usamah pergi. Usamah pun kembali ke baraknya dengan sedih.
Esoknya adalah hari Senin 12 Rabiulawal. tahun ke-8 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi. Paginya, demam panas Nabi menurun. Mendengar adzan, beliau memutuskan untuk pergi ke masjid sekalipun kondisinya masih terlalu lemah. Ketika beliau masuk, salat telah dimulai. Para jamaah hampir saja bubar dari salatnya karena begitu gembira melihatnya. Namun, beliau memberi isyarat agar salat mereka diteruskan. Sejenak beliau berdiri menatap mereka dan wajahnya berseri-seri bahagia karena ketaatan mereka. Lalu masih dengan wajah yang berseri-seri, beliau maju ke depan dibantu oleh Fadhl dan Tsawban, bekas budaknya. "Aku belum pernah melihat wajah Rasulullah setampan saat itu," kata Anas. Abu Bakr sadar apa yang terjadi di belakangnya. Ia tahu hanya ada satu penyebab, dan lelaki yang kini mendekatinya pasti Nabi. Maka tanpa menoleh, ia mundur ke belakang. Tetapi, Nabi mendorong kembali pundaknya agar meneruskan salat jamaah. "Imamilah salat jamaahmu," katanya. Nabi sendiri salat di sebelah kanan Abu Bakr dengan posisi duduk.
Semua bergembira atas kesembuhan Nabi. Tak lama sesudah salat, Usamah datang dari baraknya, mengira Nabi dalam kondisi buruk. Ia begitu gembira melihat kondisi beliau membaik. "Bergeraklah dengan rahmat Allah," seru Nabi. Maka, Usamah mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke Jurf. Di sana ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap melakukan perjalanan ke utara. Pada saat yang sama, Abu Bakr telah pergi ke dataran atas Madinah. Sebelum menikahi Asma, ia telah lama menikah dengan Habibah, putri Kharijah, suku Khazraj, tempat ia tinggal sepuluh tahun yang lalu, saat kedatangannya di oasis itu. Habibah tetap tinggal bersama keluarganya di Sunh, tempat yang kini dikunjungi Abu Bakr.
Nabi kembali ke rumah 'Aisyah dipapah oleh Fadhl dan Tsawban. Ali dan Abbas mengikuti mereka ke sana, namun tidak tinggal lama. Ketika mereka berdua keluar, beberapa orang yang melintas bertanya kepada Ali tentang kondisi Nabi. _"Alhamdulillah,"_ jawab Ali, "beliau baik-baik saja." Namun, setelah para penanya itu berlalu, Abbas memegang tangan Ali dan berkata, "Aku bersumpah, aku melihat tanda kematian di wajah Rasulullah, sama seperti yang kulihat pada wajah orang-orang suku kita. Marilah kita pergi dan bicara dengannya. Jika kewenangannya dilimpahkan kepada kita maka kita harus mengetahuinya; dan jika kepada selain kita, maka kita akan meminta beliau agar mengakui kita di hadapan umat hingga kita diperlakukan dengan baik." Namun Ali menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan melakukannya. Sebab, jika kewenangan tidak diberikan kepada kita, maka kelak tidak ada seorang pun yang akan memberikannya kepada kita."
Nabi kini kembali ke tempat tidurnya dan berbaring di pangkuan Aisyah. Sepertinya, segenap kekuatannya telah melemah. Saat saudaranya, Abd al-Rahman, masuk ke dalam kamar sambil membawa siwak, 'A'isyah melihat Nabi menatap benda itu karena menginginkannya. Maka, ia ambil siwak itu dari saudaranya, lalu dibersihkan dan diberikan kepada Nabi. Beliau pun menyikat gigi nya dengan cekatan sekalipun kondisinya masih lemah.
Tak lama sesudah itu, kesadarannya hilang. 'A'isyah mengira beliau tengah sekarat. Akan tetapi, sejam kemudian, beliau membuka matanya. 'Aisyah ingat bahwa beliau pernah berkata "Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya sebelum ia ditunjukkan tempatnya di surga dan diberikan pilihan: ingin hidup atau mati". 'Aisyah pun mengerti bahwa itulah yang tengah terjadi. Nabi telah kembali dengan memiliki gambaran tentang alam akhirat. "Kali ini beliau tidak akan memilih kita!" katanya kepada dirinya sendiri. Lantas ia mendengar Nabi bergumam, "Dengan keutamaan penduduk surga, _mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para suhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang paling baik_ (Q.S. 4: 69). Ia mendengar Nabi kembali bergumam, "Ya Allah, bersama teman yang paling baik." Dan inilah kalimat terakhir yang ia dengar dari ucapan Nabi. Kepalanya berangsur-angsur bertambah berat di pangkuan 'Aisyah, hingga para istrinya yang lain menangis. 'A'isyah membaringkan kepala Nabi di atas bantal dan bergabung dengan mereka, menangis bersama-sama.
*#135#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment