Sunday, May 31, 2020

Kisah Rasul bagian 84

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP*
🇳 🇦🇧 🇮  🇲 🇺 🇭 🇦 🇲 🇲 🇦 🇩
*SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
8⃣4⃣ *SUKSESI DAN PEMAKAMAN*
_______________________

TANDA yang pertama kali dilhat oleh Abbas segera merebak kepada orang lain. Sebelum prosesi pemakaman, Umm Ayman mengirim kabar kepada anaknya bahwa Nabi telah wafat. Para pasukan telah diperintahkan untuk melakukan ekspedisi ke utara, namun Usamah segera memerintahkan mereka agar kembali ke Madinah. Beberapa sahabat senior berada bersama pasukan tersebut, termasuk Umar. Setibanya di Madinah, mereka mendengar berita tentang kematian Nabi, Umar sama sekali tidak mau memercayainya. Ia keliru menafsirkan sebuah ayat Alquran, yang menurut pemahamannya, Nabi akan hidup lebih lama daripada mereka semua hingga datang generasi lain. Kini, ia berdiri di masjid dan berbicara di hadapan orang banyak, meyakinkan mereka bahwa Nabi hanyalah tidak ada ruhnya dan beliau akan kembali. Ketika ia berkata demikian, Abu Bakr datang dan Sunh dengan menunggang kuda. karena berita itu begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru oasis itu. Tanpa berbicara kepada siapa pun, Abu Bakar langsung ke kediaman putrinya dan membuka kain yang menutupi wajah Nabi. Ia memeluk Nabi dan menciuminya. "Wahai yang lebih kukasihi dari ibu dan ayahku," katanya, "engkau telah merasakan kematian yang Allah tetapkan padamu. Tidak ada lagi kematian yang akan menjemputmu sesudah ini." Dengan penuh hormat, ia menutupkan kembali kain itu di atas wajah Nabi, dan keluar menuju kerumunan orang yang masih mendengarkan pidato 'Umar. "Tenanglah, Umar!" katanya ketika ia mendekat. "Dengarkan aku berbicara" "Umar mengacuhkan dan tetap bergeming Namun, karena mengenali suara Abu Bakr, orang-orang meninggalkan Umar dan beralih mendengarkan apa yang hendak dikatakan orang yang lebih tua itu. Setelah memuji Tuhan, ia berkata, "Hai manusia! Barang siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal; dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Kemudian, ia membacakan ayat berikut yang diturunkan sesudah Perang Uhud:

_Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalk ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur_ (QS. 3: 144).

Orang-orang hampir tidak tahu ada ayat tersebut sampai Abu Bakr membacakannya pada hari itu. Mereka mendengarkannya dan mengulangi bacaan tersebut. Sesudah kejadian itu, Umar berkata, "Saat aku mendengar Abu Bakr membacakan ayat itu, aku begitu terkejut hingga tubuhku tersungkur ke tanah. Kedua kakiku tak mampu berdiri, dan aku tahu Rasulullah telah wafat."
😭😭😭😭😭

Ali telah kembali ke rumahnya, disertai Zubayr dan Thalhah. Sejumlah orang Muhajirin berkumpul mengelilingi Abu Bakr, Mereka ditemani oleh Usayd dan beberapa warga sukunya. Namun mayoritas orang Anshar, baik suku 'Aws maupun Khazraj. berkumpul di balai pertemuan Bani Sa'idah yang diketuai oleh Sa'd ibn Ubaydah. Menurut berita yang disampaikan kepada Umar dan Abu Bakar, mereka sedang memperdebatkan perlimpahan kekuasaan setelah Rasulullah wafat. Mereka menerima kekuasaan Nabi dengan senang hati; tetapi kini beliau telah wafat. Banyak di antara mereka berpendapat bahwa orang-orang Yatsrib tanpa kecuali seharusnya dipimpin oleh keturunan Qaylah. Mereka tampaknya akan memberi dukungan kepada Sa'd.

Umar mengajak Abu Bakr untuk pergi bersamanya ke ruang pertemuan itu, dan Abu 'Ubaydah mengiringi mereka. Sa'd sedang terbaring sakit di tengah-tengah balai pertemuan, diselimuti kain. Ketika ketiga orang Quraisy itu masuk, seorang Anshar –atas nama Sa'd-sedang berpidato di depan majelis. Maka, ia melibatkan mereka dalam pembicaraan, yang dimulai –setelah memuji Allah– dengan kalimat "Kami adalah penolong Allah dan pembela Islam. Dan kaum Muhajirin, kalian bagian dari kami, karena sebagian dari kalian telah bermukim bersama kami." Pembicara itu meneruskan dengan nada yang sama, memuja kaum Anshar dengan sedikit memuji orang Muhajirin. Ia mengabaikan kenyataan posisi khusus kaum Muhajirin: merekalah umat Islam yang pertama. Setelah ia selesai bicara, 'Umar hendak angkat bicara, namun Abu Bakr menyuruhnya diam. Abu Bakr sendiri yang akan berbicara. Dengan taktis namun tegas, ia mengulangi pujian terhadap kaum Anshar, namun menunjukkan bahwa umat Islam sekarang telah tersebar di seluruh jazirah Arab. Bangsa Arab secara keseluruhan tidak akan menerima kekuasaan dari seseorang yang bukan orang Quraisy karena Quraisy memiliki posisi khusus dan utama di antara mereka. Akhirnya, ia mengambil tangan 'Umar dan Abu Ubaydah sembari berkata, "Aku mengajukan kepada kalian salah satu dari dua orang ini. Berbaiatlah kepada siapa saja yang kalian inginkan di antara mereka berdua." Lantas seorang Anshar bangkit dan mengusulkan agar kekuasaan dibagi dua. Usulan ini mempersengit perdebatan, sampai akhirnya 'Umar menginterupsi: "Hai kaum Anshar, tidakkah kalian ketahui bahwa Rasulullah memerintahkan Abu Bakr untuk mengimami salat?" "Kami tahu itu," jawab mereka. "Lantas siapa di antara kalian yang ingin melangkahinya?" tanya Umar lantang "Allah melarang kami melangkahinya!" jawab mereka. "Umar langsung memegang tangan Abu Bakr dan berbaiat mendukungnya. Abu 'Ubaydah dan orang-orang Muhajirin yang lain mengikutinya. Kemudian, semua orang Anshar yang hadir juga membaiat Abu Bakar, kecuali Sa'd. Sa'd tidak pernah mengakuinya sebagai khalifah, dan akhirnya ia pindah ke Syria.

Apa pun yang mereka putuskan di balai Pertemuan, hanya Abu Bakr yang dapat diterima setiap orang untuk mengimami salat di Masjid Madinah, selama ia berada di sana. Pada keesokan harinya, di waktu fajar, sebelum mengimami salat, ia duduk di mimbar. Umar bangkit dan berbicara di hadapan majelis, mengajak mereka berbaiat kepada Abu Bakr, yang ia gambarkan sebagai "yang terbaik di antara kalian, sahabat Rasulullah," _"salah seorang di antara dua orang yang berada di dalam gua"_ (QS. 9: 40). Ayat ini menunjukkan keutamaan Abu Bakr sebagai sahabat Nabi dalam suasana genting. Dan seluruh anggota majelis serentak berbalat kepadanya semuanya, kecuali Ali yang melakukannya belakangan.

Kemudian, Abu Bakr memuji dan bersyukur kepada Allah dan berpidato di hadapan mereka:

```Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku; dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskanlah aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan, dan pengingkaran terhadap kebenaran adalah penghianatan. orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga kuserahkan haknya kepadanya, insya Allah; dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga aku ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya Namun, jika aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah salat kalian, Tuhan merahmati kalian!```

Sesudah menyalatkan jenazahnya, keluarga Nabi dan kerabatnya yang lain memutuskan untuk menyiapkan pemakaman, namun mereka berbeda pendapat tentang pelaksanaannya. Kemudian, Allah membuat mereka semua mengantuk. Dalam tidurnya, setiap orang mendengar suatu suara: "Basuhlah Nabi dengan pakaian yang di milikinya." Maka, mereka pergi ke rumah Aisyah yang saat itu telah dikosongkan. 'Aws ibn Khawli, seorang lelaki Khazraj, memohon untuk menjadi wakil kaum Anshar. "Demi Allah dan demi kesertaan kami pada Rasulullah, aku memohonmu dengan sangat, hai 'Ali!" 'Ali membolehkannya masuk. 'Abbas dan putranya, Fadhl serta Qitsam membantu 'Ali membalikkan jenazah. Sementara, Usamah menyiramkan air di atasnya, dibantu oleh Syuqran, salah seorang bekas budak Nabi. Ali mengusap setiap bagian kain wol panjang itu. "Wahai orang yang lebih kukasihi daripada ayah dan ibuku," katanya, "betapa sempurnanya engkau, di waktu hidup dan mati!" Bahkan, setelah berlangsung satu hari, jenazah Nabi tampak seperti hanya tengah tidur berbaring, cuma tidak ada lagi napas, denyut, dan kehangatan badan.

Para sahabat kembali berbeda pendapat mengenai di mana beliau akan dimakamkan. Sebagian besar berpendapat bahwa makamnya harus dekat dengan makam tiga putrinya dan Ibrahim, juga para sahabatnya yang gugur dan disalatkan oleh Nabi sendiri, yaitu di Baqi al-Ghardaq. Yang lain berpendapat, beliau harus dimakamkan di masjid. Abu Bakr ingat mendengar Nabi pernah berkata, "Setiap nabi meninggal, akan dimakamkan di tempat ia meninggal." Oleh karena itu, digalilah kuburan di ruangan 'A'isyah, di dekat tempat pembaringan Nabi

Kemudian, seluruh penduduk Madinah melayatinya dan berdoa baginya. Mereka datang bergiliran, dan masing-masing kelompok melakukan salat jenazah. Pertama-tama kaum pria, lalu kaum wanita, dan kemudian anak-anak Malam itu juga jenazah Nabi di masukkan ke dalam kubur oleh 'Ali bersama yang lain.

Seluruh umat tenggelam dalam duka di Kota Cahaya –demikian Madinah kini disebut. Para sahabat saling mengingatkan untuk tidak menangis, namun mereka sendiri tak dapat menahan tangisnya. "Aku bukan menangisinya," kata Umm Ayman, sewaktu ditanya tentang air matanya. "Bukankah aku tahu, beliau pergi ke tempat yang lebih baik dari dunia ini? Aku menangis karena janji-janji surga yang telah terputus dari kita." Sesungguhnya, kejadian itu ibarat sebuah pintu besar telah tertutup. Mereka ingat, beliau pernah berkata, "Apa yang harus aku lakukan terhadap dunia ini? Aku dan dunia ini ibarat seorang pengembara dan sebatang pohon tempat ia berteduh. Lantas, ia pergi meneruskan perjalanannya dan meninggalkan pohon itu di belakangnya." Beliau berkata bahwa mereka –setiap orang– mesti mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri. Jika pintu kini telah tertutup, maka akan terbuka karena keimanan akan kematian. Mereka masih terngiang oleh kata-kata beliau, "Aku akan pergi mendahului kalian, dan aku menjadi saksi bagi kalian. Pertemuan kalian denganku adalah di dalam surga." Setelah menyampaikan risalahnya di dunia ini, beliau pergi untuk memenuhi janjinya di akhirat, di tempat yang akan beliau lanjutkan sebagai Kunci Kasih Sayang, Kunci Surga, Roh Kebenaran, Kekasih Allah, bagi mereka dan bagi seluruh manusia, tapi tanpa batasan waktu seperti di bumi.
😭😭😭😭😭

_Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat atas Nabi. Hai orang- orang yang beriman, bersalawatlah atasnya dan ucapkanlah keselamatan atasnya._

*اللهم صل على محمد وعلى ال محمد. كما صليت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انك حميد مجيد*
_ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMAD, WA 'ALA AALI MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA 'ALAA IBRAHIM, WA 'ALAA AALI IBRAHIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID._

*اللهم بارك على محمد وعلى ال محمد. كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم انك حميد مجيد*
_ALLAAHUMMA BAARIK 'ALAA  MUHAMMAD, WA 'ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA BAARAKTA 'ALAA IBRAHIM, WA 'ALAA AALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID._

*T A M A T*

*#136#*

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

*T A M A T*

No comments:

Post a Comment