Sunday, January 12, 2020

Kisah Rosul bagian 23

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU  'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣3⃣ *KEKAGUMAN DAN HARAPAN*
_______________________

PEMUDA dan orang² yang kurang sukses tidak serta merta semuanya menerima wahyu Ilahi. Namun, setidaknya, rasa bangga diri tidak menutup pendengaran mereka terhadap panggilan keras dan lantang wahyu, yang telah menembus dunia mereka yang sempit seperti nada yang nyaring. Suara teriakan yang didengar 'Usman di padang pasir, "Orang yang tidur, bangunlah!" sama dengan wahyu itu sendiri. Dan, mereka yang kini menerima kebenaran wahyu, sesungguhnya bagaikan orang yang terbangun dari tidurnya dan telah memasuki suatu kehidupan baru.

Dari dulu sampai sekarang, sikap orang kafir terangkum dalam kalimat, _"Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali² tidak akan dibangkitkan"_ (Q.S. 6: 29). Terhadap hal itu, wahyu memberikan jawaban:
_Kami tidak ciptakan langit, bumi dan segala isinya dengan bermain²_ (Q.S.21:16; 44: 38).
_Maka, apakah kamu mengira, sesungguhnya Kami ciptakan kamu secara main² (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?_ (Q.S. 23: 115).

Bagi mereka yang kekafirannya belum mengkristal, kata² tersebut menyuarakan kebenaran. Demikian pula dengan seluruh wahyu lainnya yang menggambarkan dirinya sebagai seberkas cahaya yang mengandung kekuatan petunjuk. Faktor penting lain yang menyebabkan diterimanya wahyu itu adalah Nabi sendiri, sosok yang sangat jujur sehingga tak mungkin berdusta dan terlalu bijak sehingga tak mungkin menghianati diri sendiri. Wahyu berisi peringatan dan kabar gembira. Kalau peringatan mendorong mereka untuk berbuat, maka kabar gembira menebarkan kebahagiaan diantara mereka.

_Sesungguhnya orang² yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah merasa sediih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung²mu dalam kehidupan dunia dan akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."_(Q.S. 41: 30-32)

Ayat² lain mengenai surga yang telah diturunkan, salah satunya berbicara tentang _"surga keabadian yang dijanjikan bagi orang² yang bertakwa."_ Mengenai hal itu dikatakan, _"Bagi mereka, di dalam surga itu terdapat segala apa yang mereka kehendaki, dan mereka kekal didalamnya. Hal itu adalah janji dari Tuhanmu yg patut dimohonkan (kepada-Nya)"_ (Q.S. 25: 16)

Orang yang benar² beriman mendefinisikan sebagai _"orang² yang mengharapkan pertemuan dengan Kami,"_ sedangkan orang kafir adalah _"orang² yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami, dan orang² yang puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan mereka yang melalaikan ayat² kami"_(Q.S. 10: 7). Sikap orang beriman pasti berlawanan dengan semua itu. Salah satu aspek khayalan semu orang² kafir adalah memandang biasa saja anugerah alam. Menyadari realitas tidak hanya berarti mengubah harapan dari alam dunia ini ke alam akhirat nanti, melainkan juga mengagumi tanda² kebesaran Allah di alam ini:

_Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang², matahari, dan bulan yang bercahaya, Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur_ (Q.S. 25: 61-62).

Para pemuka Quraisy telah menantang Nabi agar menunjukkan tanda², seperti turunnya malaikat untuk mengukuhkan kenabiannya dan naiknya beliau ke langit. Pada suatu ketika, tepat di malam bulan purnama, tidak lama setelah bulan terlihat menggantung di langit, di atas bukit Hira, seorang kafir mendekati Nabi dan meminta beliau untuk membelah bulan menjadi dua sebagai bukti bahwa dirinya benar2 utusan Allah. Ada banyak orang lain juga yang hadir, termasuk kaum beriman dan mereka masih ragu². Ketika permintaan itu dikabulkan, semua mata memandang bulan. Mereka amat terpana melihat bulan terbelah dua, satu sama lain saling menjauh hingga masing² memancarkan sinarnya di dua sisi bukit. "Kalian telah menyaksikan", kata Nabi. Namun orang² yg mengajukan permintaan itu menolak mukjizat itu dan menganggap Nabi hanyalah tukang sihir, dengan menuduh bahwa beliau telah melemparkan ajian sihir kepada mereka. Sebaliknya kaum mukmin bergembira, dan beberapa orang yg ragu² akhirnya masuk Islam.

Pemenuhan yg segera dan memuaskan terhadap tantangan ini adalah sebuah pengecualian. Tanda² lain yang diminta orang Quraisy memang telah diberikan, namun tidak persis seperti yang mereka minta, dan tidak dalam waktu yang mereka tentukan, melainkan sesuai dengan kehendak Allah. Ada juga beberapa mukjizat yang lebih kecil dan hanya disaksikan oleh kaum mukmin. Namun mukjizat² itu bukan yang utama, karena Alquran yang diwahyukan itulah mukjizat utama dari Allah, sebagaimana Yesus Kristus menjadi mukjizat utama ajaran sebelumnya. Menurut Alquran, Yesus adalah _utusan Allah_ sekaligus _firman-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan tiupan dari roh-Nya_(Q.S. 4: 171). Kalau sebelumnya "firman Tuhan dalam bentuk manusia," maka kini, secara kiasan, kehadiran Tuhan di dunia ini melalui "firman dalam bentuk Kitab"-lah yang menjelaskan Islam sebagai agama yang sesungguhnya. Salah satu fungsi firman dalam bentuk kitab, dalam pandangan agama primordial sebagaimana yang diklaim oleh Islam, adalah untuk membangkitkan kembali rasa kekaguman purba manusia yang pudar dan menyimpang seiring dengan berlalunya waktu. Oleh karena itu, ketika orang Quraisy meminta mukjizat, tanggapan utama Alquran adalah menunjuk kepada sesuatu yang selalu berada di hadapan mereka tanpa mereka sadari keajaibannya:

_Apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung² bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia di hamparkan?_ (Q.S. 88: 17-20)

Kekaguman dan harapan yang diminta dari orang beriman adalah sikap kembali kepada Allah. Sakramen rasa syukur, dengan mengucapkan _"segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam",_ meliputi kekaguman dan menerima sesuatu yang dipuji. Dengan pujian tersebut, si pemuja berarti kembali kepada Sumber Transenden segala sesuatu. Sakramen penahbisan, dengan mengucapkan _"dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,"_ mendorong jiwa ke arah yang sama, menuju ke Sumber harapan. Pada jalan kembali ini, doa pokok dalam Islam terpusat pada al-Fatihah, Pembukaan –demikianlah surah itu disebut karena ia sebagai surah pertama Alquran–.

Termasuk ajaran pokok Islam yang sempurna adalah surah al-Ikhlas (surah kemurnian) –ditempatkan di akhir Alquran–, surah terakhir ketiga, yang diturunkan ketika kaum musyrik meminta Nabi agar menggambar Tuhannya.

*#024#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment