🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣4⃣ *PERPECAHAN KELUARGA*
_______________________
THALIB dan Aqil, putra² Abu Thalib yang lebih tua, tidak mengikuti jejak saudara² mereka yang lebih muda, Ja'far dan 'Ali. Mereka tetap seperti ayahnya, tidak masuk Islam tetapi bersikap toleran. Sangat berbeda dengan sikap Abu Lahab: sejak konfrontasi terakhir dengan para pemuka Quraisy, ia terang²an menunjukkan sikap permusuhannya; begitu pula istrinya, Umm Jamil, saudara perempuan Abu sufyan, pemimpin Abd al-Syams, yang memendam kebencian kepada Nabi. Mereka memaksa kedua anak mereka untuk menceraikan Ruqayyah dan Umm Kultsum –tidak dapat dipastikan kapan pernikahan itu berlangsung, atau apakah mereka masih dalam taraf pertunangan. Namun rasa puas Umm Jamil atas perceraian itu pudar ketika ia mendengar keponakannya yang kaya raya dari Bani Umayyah, 'Utsman ibn Affan, telah meminang Ruqayyah dan menikahinya. Pernikahan ini sangat membahagiakan Nabi dan Khadijah. Putri mereka bahagia dan menantunya itu tidak hanya setia kepada istrinya, tetapi juga kepada mereka. Ada hal lain yang juga membuat mereka bersyukur: Ruqayyah adalah putri mereka yang paling cantik dan wanita tercantik pada masanya di seluruh Mekah, dan 'Utsman pria yang sangat tampan. Melihat mereka berduaan merupakan suatu kebahagiaan. "Allah itu indah dan mencintai keindahan". Tak lama setelah mereka menikah, dan saat keduanya tidak berada di Mekah, Nabi mengutus seseorang menemui mereka, dan orang itu kembali lebih lama dari yang diperkirakan. Ketika ia mulai mengajukan permohonan maaf, Nabi memotongnya, "Aku tahu apa yang telah menahanmu lebih lama: engkau berdiri disana menatap 'Utsman dan Ruqayyah. Engkau terpesona oleh keindahan mereka".
Bibi Nabi, Arwa, kini berencana masuk Islam. Keputusannya itu disebabkan putranya, Thulayb, yang baru berusia 15 tahun, telah menyatakan keimanannya di rumah Arqam. Ketika Thulayb menceritakan kepada ibunya, ibunya berkata: "Jika kami dapat melakukan apa yang dilakukan orang² itu, kami akan melindungi putra saudara kami." Namun Thulayb menolak ketidakjelasan sikap semacam itu dan berkata, "Apa yang manghalangimu untuk masuk Islam dan mengikuti Nabi? Saudaramu, Hamzah telah masuk Islam." Ketika ibunya beralasan hendak menunggu saudara² perempuannya, Thulayb memotong perkataannya, "Demi Allah aku memohon agar engkau pergi dan memberikan salam kepada Nabi. Katakan bahwa engkau memercayainya, dan bersaksi bahwa _tiada tuhan selain Allah."_ Arwa melakukan apa yang diucapkan anaknya itu. Setelah melakukannya, ia berani menentang perlakuan saudaranya, Abu Lahab, terhadap keponakan mereka.
Mengenai kerabat Khadijah, tak lama setelah Islam tersebar di Mekah, saudara tirinya, Nawfal, menjadi musuh Islam yang paling jahat dan kejam. Namun, hal itu tidak menghalangi putranya, Aswad, untuk masuk Islam, sehingga Khadijah dibenci oleh Nawfal. Namun, yang sangat mengecewakan Khadijah, keponakannya yang tersayang, Abu al-Ash –dari Bani Abd al-Syams, yg telah beberapa tahun menjadi menantunya– belum masuk Islam, sementara istrinya, Zaynab, telah memeluk Islam. Kini ia didesak para pemimpin kabilahnya untuk menceraikan istrinya itu. Bahkan, mereka menyarankan agar ia mencari wanita yang terkaya, terbaik nasabnya, dan tercantik di Mekah. Mereka berjanji akan berusaha menyelenggarakan pernikahan tersebut, asalkan Zaynab dicerai. Namun, Zaynab dan Abu al-Ash saling mencintai: Zaynab senantiasa berharap dan berdoa agar suaminya mau bergabung dengannya dalam Islam; sementara Abu al-Ash dengan tegas mengatakan kepada kaumya bahwa dirinya telah mendapatkan istri pilihannya dan tidak menginginkan yang lain.
Hakim, keponakan Khadijah yang lain –putra saudaranya, Hizam, yang hampir dua puluh tahun lalu memberinya Zayd– sebagaimana Abu al-Ash, tetap bersilaturrahim dengan bibinya dan keluarganya sekalipun belum berpaling dari tuhan² yang disembah kaum Quraisy. Sementara Khalid, saudara Hakim, telah masuk Islam.
_Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk orang yang engkau cintai, melainkan Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya._(Q.S. 28: 56)
Kebenaran yang dinyatakan ayat ini terus menerus diulang dalam Alquran. Kendatipun wahyu semacam itu membantu meringankan beban rasa tanggung jawab Nabi, hal itu tetap tidak menepis rasa sedih atas permusuhan sepupunya, Abd Allah dari Bani Makhzum. Kasus lain yang barangkali lebih menyedihkan beliau adalah Abu Sufyan, anak pamannya, Harits. Ia juga saudara angkat, sepupu, dan pernah menjadi temannya. Beliau berharap Abu Sufyan mau menerima dakwahnya, namun sebaliknya, justru memicu perpecahan diantara mereka. Lama² Abu Sufyan kian menjauh, mungkin karena dipengaruhi paman mereka, Abu Lahab. Beberapa hal lain membuktikan kebenaran ayat di atas: jejak keislaman Abu Bakr telah diikuti istrinya, Umm Ruman, juga oleh Abd Allah dan Asma', putra dan putrinya dari almarhum istrinya yang lain. Umm Ruman baru saja melahirkan putri keduanya, yg dinamai 'A'isyah. Ia –seperti putra Zayd, Usamah– menjadi anak² pertama yang lahir dalam Islam. Namun, meskipun telah membuat banyak orang masuk Islam, Abu Bakr tidak dapat menundukkan anak sulungnya sendiri, Abd al-Ka'bah, yang menentang agama kedua orang tuanya itu.
Jika kaum mukmin diliputi kekecewaan, musuh mereka merasa sangat gusar berhadapan dengan kenyataan baru, yang kehadirannya tidak diperhitungkan di Mekah, sebuah kenyataan yang mengancam runtuhnya cara hidup mereka dan menghancurkan semua proyek masa depan mereka, terutama yang berkaitan dengan rencana pernikahan anak mereka. Bani Makhzum merasa senang ketika seorang warganya, Abd Allah, menentang keras sepupunya, Muhammad, di dalam majelis. Saudara Abd Allah, Zuhayr, meskipun kebenciannya tidak terlalu besar terhadap agama baru itu, juga tidak mau masuk Islam. Seperti Abd Allah, ia adalah putra Atikah, putri Abd al-Muththalib, namun almarhum ayah mereka memiliki istri kedua yang juga bernama Atikah. Dengan istri ini, ia mempunyai seorang anak perempuan. Hindun, nama anak itu, adalah wanita cantik jelita yg kini berumur 19 tahun, dan baru² ini menikah dengan sepupu saudara tirinya, Abu Salamah dari Bani Makhzum. Seluruh anggota kabilah bangga dengan hubungan kekerabatan di antara mereka. Namun mereka kemudian menjadi cemas ketika keislaman Abu Salamah diketahui. Rasa cemas ini berlipat ganda ketika Hindun –atau Umm Salamah, begitu ia dipanggil– bukannya meninggalkan suaminya, malah mengikutinya menjadi salah seorang pengikut setia Nabi.
Setelah ayah Abu Salamah meninggal, ibunya, Barrah, menikah dengan laki² Quraisy dari bani Amir, yang dengannya ia memiliki putra kedua yg dikenal dengan Abu Sabrah. Suhayl, pemimpin Bani Amir, telah menikahkan putrinya Umm Kultsum dengan Abu Sabrah. Barrah berbeda dengan saudara perempuannya, Arwa, belum masuk Islam. Namun Abu Sabrah dipengaruhi tidak hanya melalui saudara tirinya, Abu Salamah, namun juga melalui ibu tirinya, istri kedua ayahnya, Maymunah. Kepada Maymunah dan ketiga saudara perempuannya itulah –yaitu istri² dari Abbas, Hamzah dan Ja'far– Nabi mengatakan tentang mereka: "Sesungguhnya mereka adalah orang² mukmin sejati". Pernikahan Maymunah membawa pengaruh munculnya iman yang kuat di kalangan Bani Amir.
Suhayl memiliki putri lain, Sahlah, yang menikah dengan Abu Hudzayfah, putra pemimpin Bani Abd al-Syams, Utbah. Kekuasaan Bani Amir meningkat pesat, dan pernikahan ini dianggap sebagai sebuah keberuntungan bagi kedua kabilah tersebut. Namun, tidak lama sesudahnya, pasangan itu masuk Islam; lalu mereka diikuti oleh pasangan lainnya, Abu Sabrah dan Umm Kultsum. Suhayl telah kecolongan dua putrinya yang masuk agama baru, dan dua menantu pilihan. Ia juga kehilangan tiga saudara lelakinya: Hathib, Salith dan Sakran, juga istri Sakran, sepupu mereka, Sawdah. Dan yang terburuk bagi Suhayl adalah putra sulungnya Abd Allah, juga menjadi pengikut setia Nabi. Abd Allah berharap agar suatu hari ayahnya akan bergabung dengan mereka. Nabi sendiri berharap demikian, karena Suhayl lebih taat dan cerdas dibandingkan para pemimpin lainnya, dan juga dikenal orang yang suka melakukan uzlah spiritual. Namun, Suhayl justru menunjukkan dirinya –meski tidak kejam, tapi tegas– sebagai musuh penentang keyakinan baru itu. Dan, ketidakpatuhan anak²nya tampaknya membuatnya semakin keras.
Di Kabilah Abd al-Syams, Abu Hudzayfah bukanlah satu²nya putra pemimpin yang berani menentang otoritas orang tuanya. Khalid, yg bermimpi Nabi menyelamatkannya dari api, telah masuk Islam secara sembunyi². Ketika ayahnya mendengar hal itu, ia menyuruhnya untuk murtad. Khalid menjawab: "Lebih baik aku mati lebih cepat daripada murtad dari agama Muhammad." Segera ia dipukul tanpa ampun dan dipenjara dalam suatu ruangan tanpa makanan dan minuman. namun, setelah 3 hari, Khalid kabur dan ayahnya pun tidak mengakuinya sebagai anaknya lagi, tanpa bertindak lebih jauh. Utbah lebih sabar dan tidak begitu keras kepada Abu Hudzayfah. Abu Hudzayfah lebih akrab dengan ayahnya dan ia berharap ayahnya menyadari kekeliruannya sebagai penyembah berhala.
Sedangkan Bani Umayyah, Cabang Abd al-Syams, disamping keislaman Utsman, dan pernikahannya dengan Ruqayyah, juga mengalami kehilangan lain yang serius. Beberapa orang sekutu mereka dari Bani Asad ibn Khuzaymah juga menyatakan keimanan mereka kepada agama baru itu. Ada sekitar 14 orang, termasuk keluarga Jahsy yang –seperti halnya para sepupu Nabi– juga merupakan para tokoh. Dengan masuk Islamnya para sekutu berharga ini, maka Abu Sufyan, pemimpin bani Umayyah, juga kehilangan putrinya sendiri, Umm Habibah, yang ia nikahkan dengan 'Ubaydillah ibn Jahsy, adik Abd Allah.
Pada Bani 'Adi, di salah satu keluarga pemimpinnya, terjalin kekuatan ikatan kebenaran yang menghancurkan ikatan yang lebih kecil pada generasi terakhir. Bersama dua istrinya, Nufayl memiliki dua orang putra, Khattab dan 'Amr. Setelah Nufayl meninggal dunia, ibu Khattab menikah dengan anak tirinya, 'Amr, dan melahirkan seorang putra, Zayd. Jadi, Khattab dan Zayd adalah saudara seibu. Zayd termasuk orang yg menyaksikan praktek penyembahan berhala oleh kaum Quraisy –seperti halnya Waraqah– tetapi ia tidak saja menolak untuk ikut serta, bahkan ia tidak mau memakan apa saja yang dipersembahkan bagi berhala. Ia menyatakan dirinya penganut agama Ibrahim. Ia tidak ragu² mengkritik kaumnya di muka umum. Di sisi lain, khattab pendukung setia praktek kebiasaan Quraisy itu. Ia merasa direndahkan oleh sikap Zayd yang tidak menghormati dewa-dewi yang mereka sembah. Oleh karena itu, ia mengintimidasi Zayd, mengusirnya dari kota Mekah, dan menyuruhnya tinggal di atas perbukitan, bahkan, ia menggalang sekelompok pemuda yang diperintahkan untuk mencegah Zayd datang ke tanah suci. Orang yang terusir itu akhirnya meninggalkan Hijaz dan pergi sampai ke Mosul, di sebelah utara Iraq. Dari sana, ia berjalan ke barat laut, ke Syria, senantiasa menanyakan para pendeta tentang agama Ibrahim. Akhirnya, ia bertemu dengan seorang pendeta yang memberitahukan bahwa saat kedatangan seorang nabi dari negeri yang ia tinggalkan hampir tiba; nabi yang akan mengajarkan agama yang dicarinya. Zayd kemudian berbalik arah. Tetapi dalam perjalanannya melewati wilayah Lakhm, di perbatasan sebelah utara Syria, ia diserang dan dibunuh. Ketika Waraqah mendengar kematiannya, ia menuliskan sebuah elegi sebagai ungkapan duka cita dan doa untuknya. Nabi juga mendoakannya dan berkata bahwa kelak di hari kiamat, "ia akan dibangkitkan seorang diri, tapi nilainya sama dengan keseluruhan manusia".
Beberapa tahun setelah kematian Zayd, Khattab juga meninggal dunia. Putranya, 'Umar, memiliki hubungan baik dengan putra Zayd, Sa'id, yang menikahi saudara perempuan 'Umar, Fathimah. Pertentangan antara kedua cabang keluarga itu telah berakhir. Namun, sejak Islam datang, Sa'id menjadi salah seorang pertama yang mengikutinya. Sedangkan 'Umar, –ibunya saudara perempuan Abu Jahl– menjadi salah seorang penentang terbesar. Fathimah mengikuti jejak suaminya, namun mereka tidak berani memberitahu saudaranya 'Umar, karena dikenal keras. Dari sisi manapun, 'Umar dikelilingi oleh Islam: istrinya, Zaynab, adalah saudara perempuan 'Utsman, putra al-Mazh'un dari Bani Jumah; dan pada dasarnya 'Utsman itu seorang zahid dan cenderung pada tauhid sejak sebelum turunnya wahyu. Ia beserta dua saudaranya termasuk para pemeluk Islam pertama; mereka dan Zaynab memiliki tiga orang keponakan yang telah masuk Islam. Mengenai Zaynab sendiri, istri 'Umar –tidak ada riwayat tentang keislamannya– tidak diragukan lagi karena ia memiliki alasan kuat untuk merahasiakannya. Saudaranya, 'Utsman, bahkan lebih tidak kompromi dibandingkan 'Umar, namun ia tidak begitu keras.
Zaynab dan saudaranya adalah adik sepupu pimimpin kabilah mereka, Umayyah bin Khalaf –salah seorang musuh Islam terbesar. Saudaranya, Ubayy, suatu hari membawa tulang busuk kepada Nabi dan berkata, "Muhammad, buktikan bahwa Tuhanmu dapat menghidupkan tulang ini?" Dengan senyum sinis, ia lantas meremuk²an tulang itu dan melemparkannya ke wajah Nabi. Beliau pun menjawab, "Memang demikian! Tuhan akan membangkitkannya, dan juga membangkitkan dirimu seperti sekarang ini, lalu akan melemparmu ke dalam neraka." Wahyu berikut ini ditujukan kepada Ubayy: _"Dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali.'"_ (Q.S. 36: 78-79)
*#025#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment