🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣5⃣ *KIAMAT*
_______________________
SALAH satu pernyataan yang paling sering dikemukakan orang² kafir adalah bahwa seandainya Tuhan benar² ingin menyampaikan risalah kepada mereka, tentu Dia akan mengutus malaikat. Untuk hal ini, Alquran menjawab: _"Kalau seandainya ada malaikat yang berjalan² sebagai penghuni bumi, niscaya kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul."_(Q.S. 17: 95).
Turunnya Jibril dari waktu ke waktu tidak membuatnya menjadi seorang rasul dalam pengertian Alquran. Untuk menjadi rasul, perlu menetap di bumi, ditengah orang² yang menjadi sasaran risalah itu. Wahyu juga berkata:
_Berkatalah orang² yang tidak mengharapkan pertemuannya dengan Kami: "mengapa tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita tidak melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya, mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar² telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang² yang berdosa dan mereka berkata: "hijran mahjuura"_(Q.S. 25: 21-22).
Demikianlah yang mereka minta, namun sebuah hijab menghalangi antara langit dan bumi. Hal itu akan berakhir ketika terjadi benturan langsung dengan langit, yang menyebabkan kondisi duniawi ruang dan waktu lenyap, bahkan bumi itu sendiri akan hancur berjeping²: _"Pada hari itu manusia akan seperti anai² yang bertebaran, dan gunung² seperti bulu yg dihambur²kan"_(Q.S. 101: 4). Suatu _hari yang menjadikan rambut anak² beruban_(Q.S. 73: 17). Hari akhir ini dinyatakan berulang² dalam Al-Quran. Itulah kiamat, yang telah dekat– _amat berat (huru hara bagi makhluk) yang di langit dan di bumi_(Q.S. 7: 187). Saat itu belumlah tiba. Ketika kitab suci mengatakan bahwa waktunya _dekat_haruslah diingat bahwa _"sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu"_(Q.S. 22: 47). Namun, masa kerasulan tidak lain hanyalah persiapan menghadapi kiamat.
Ini sesuai hakikat segala sesuatu, bukan sesuatu yang duniawi saja, melainkan dalam konteks yang lebih luas. Sebab, jika ada campur tangan Tuhan untuk memantapkan sebuah agama baru, maka perlu ada perantara yang melintasi antara langit dan bumi. Tidak perlu ada sesuatu yang hebat untuk mentransformasi kondisi duniawi, namun cukup menjadikan masa kerasulan Nabi itu istimewa, seperti pada masa Isa, Musa, Ibrahim dan Nuh.
Alquran berkata mengenai _laylat al qadr_ (Malam Kemuliaan), suatu malam ketika Jibril datang kepada Muhammad di gua Hira: _Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril"_(Q.S. 97: 3-4). Sesuatu yang tidak ada taranya itu meliputi seluruh periode hubungan antara Nabi dan malaikat yang utama.
Mengantisipasi kiamat adalah mengantisipasi Pengadilan: Alquran menyatakan dirinya sebagai _al-furqan,_ pembeda antara yang benar dan yang batil. Demikian pula setiap kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Sebab, wahyu merupakan perwujudan Keabadian dalam kehidupan yang sementara, atau dengan kata lain, perwujudan dari pengadilan terakhir. Hal ini berarti pada banyak kasus –baik Nabi sendiri telah memprediksikannya atau tidak– tujuan akhir surga dan neraka tampak jelas. Kebaikan dan kejahatan yang tersembunyi dalam² akan diungkap ke permukaan. Kehadiran rasul juga membawa dampak yang sama, karena daya tarik dakwah Nabi telah mengeluarkan semua orang² yang mengingkarinya dan menarik orang² yang menerimanya ke dalam orbit kesempurnaannya.
Segera dapat dipahami bahwa wahyu itu akan menyebabkan kebaikan itu akan mengatasi diri mereka. Namun, hal itu bukan hanya menyusahkan, melainkan juga mengejutkan banyak kaum mukmin: beberapa orang yang selama ini dikenal orang baik, tiba² menjadi sangat jahat. Alquran mengatakan bahwa mereka harus menerima hal ini, karena ayat² Alquran dapat meningkatkan perlawanan dari musuh terburuk mereka.
_Sesungguhnya dalam Alquran ini Kami telah mengulang-ulangi peringatan², agar mereka selalu ingat. Dan, ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari dari kebenaran (Q.S. 17: 41)._
_Dan, Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka (Q.S. 17: 60)._
Sebelumnya, tak ada seorangpun yang tahu tabiat Abu Lahab yang sebenarnya. Sebagai contoh lain, Abd al-Rahman ibn Awf, bahkan bertemu dengan pemimpin Jumah, Umayyah ibn Khalaf. Alquran mengajukan cerita yang sama, bagaimana Nuh mengeluh kepada Tuhan bahwa dakwahnya hanyalah semakin memperlebar jurang antara dirinya dengan mayoritas kaumnya. _"Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)"_(Q.S. 71: 6).
*#026#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment