Thursday, January 16, 2020

Kisah Rosul bagian 26

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣6⃣ *TIGA PERTANYAAN*
_______________________

DALAM setiap pertemuan kaum Quraisy, setidaknya, terdapat beberapa perbincangan tentang sesuatu yang mereka anggap sebagai persoalan terbesar. Kini mereka memutuskan untuk mengutus dua orang ke Yatsrib untuk berkonsultasi dengan para rabi Yahudi. "Tanyakan kepada mereka tentang Muhammad," kata mereka kepada dua utusan itu, "gambarkan siapa dia, dan ceritakan apa yang dikatakannya; karena mereka adalah para Ahli Kitab pertama dan mengetahui perihal nabi yang tidak kita ketahui." Para rabi Yahudi itu menjawab, "Tanyakan kepadanya tentang tiga hal!  Setelah itu kami akan memberikan informasi kepada kalian. Jika ia menceritakan kepada kalian tentang ketiga hal itu, maka ia memang seorang nabi yang diutus Tuhan. Namun, jika tidak, maka ia pendusta. Tanyakan kepadanya kisah sekelompok pemuda yang meninggalkan kaum mereka pada zaman dahulu, dan bagaimana kejadian yang menimpa mereka. Sebab, kisah mereka adalah sebuah kisah yang mengagumkan. Tanyakan pula berita² mengenai petualang yang sampai pada ujung bumi di timur dan di barat. Lalu tanyakanlah tentang roh, apa itu roh? Jika ia menceritakan kepada kalian ketiga hal itu, maka ikutilah ia, karena ia seorang nabi."

Ketika para utusan itu kembali ke Mekah dengan membawa kabar itu, para pemimpin Quraisy datang kepada nabi dan menanyakan tiga pertanyaan tersebut. Beliau berkata, "Esok akan kujelaskan kepada kalian," namun beliau tidak mengucapkan "in sya Allah". Ketika mereka datang menuntut jawaban, beliau tak dapat menjawabnya. Begitulah hari demi hari berlalu, hingga lima belas malam, beliau masih belum mendapatkan wahyu. Jibril juga tidak pernah datang sejak mereka mengajukan pertanyaan kepada beliau. Masyarakat Mekah mengejek dan menantangnya. Beliau pun gusar dan sangat sedih dengan apa yang mereka ucapkan karena beliau belum menerima bantuan yang diharapkan. Lalu Jibril membawakan sebuah wahyu yang mengingatkan Nabi yang sedih karena apa yang dikatakan kaumnya, dan memberinya jawaban atas tiga pertanyaan mereka. Penantian panjang yang beliau alami dijelaskan dalam kalimat: _"Dan jangan kamu sekali² mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali mengucapkan In sya Allah'"_(Q.S. 18: 23-24).

Kendatipun penangguhan wahyu ini menyedihkan Nabi dan pengikutnya, kenyataannya malah menambah kekuatan. Musuh² terbesarnya memang tidak mau menerimanya. Tetapi, bagi sebagian besar orang Quraisy yang berada dalam keraguan, hal itu sangat mengukuhkan kebenaran pernyataan Nabi bahwa wahyu datang kepadanya dari langit. Beliau tidak turut campur dalam wahyu dan tidak mampu mengaturnya. Bukankah tidak masuk akal jika Muhammad telah membuat wahyu yang terdahulu, ia juga menangguhkan begitu lama wahyu yang terakhir ini, terutama ketika banyak hal dipertaruhkan?

Kaum mukmin juga menjadi semakin teguh, seperti biasanya, akibat wahyu itu sendiri. Ketika Quraisy bertanya tentang kisah para pemuda yang meninggalkan kaumnya pada zaman dahulu –sebuah kisah yang tidak seorang pun di Mekah pernah mendengarnya– mereka tidak tahu bahwa kisah itu menunjuk pada situasi saat ini: mendiskreditkan mereka sendiri dan meninggikan martabat kaum mukmin. Kisah itu sering disebut sebagai kisah orang² Ephesus yang tidur, karena pada pertengahan abad ketiga Masehi, ada beberapa pemuda yang beriman dan menyembah Tuhan yang esa, di saat kaum mereka menjadi penyembah berhala dan jika tidak mengikuti kaumnya, mereka akan dihukum. Untuk menghindari hukuman ini, mereka bersembunyi di dalam gua. Di tempat itu secara ajaib mereka tertidur selama lebih 300 tahun.

Sebagai tambahan terhadap apa yang telah diketahui oleh kaum Yahudi, cerita dalam versi Alquran menguraikan secara rinci bahwa tidak ada mata manusia yang dapat melihat mereka, sebagaimana para pemuda yang tertidur itu tidak terlihat di gua berabad², dan bagaimana anjing mereka yang setia menjulurkan kedua lidahnya di depan pintu gua (Q.S. 18: 9-25).

Sedangkan terhadap pertanyaan kedua, petualang besar itu bernama Dzulqarnayn, _pemilik dua tanduk._ Wahyu menyebutkan bahwa perjalanannya ke barat dan ke timur jauh, dan kemudian –menjawab lebih dari yang ditanyakan– menceritakan perjalanan ketiga yang misterius ke suatu tempat yang terletak diantara dua gunung. Masyarakat meminta agar Dzulqarnayn membuat sebuah penghalang yang dapat melindungi mereka dari Ya'juj dan Ma'juj serta jin lainnya yang akan merusak negeri mereka. Tuhan memberinya kekuasaan untuk dapat memenjarakan roh² jahat dalam sebuah ruang sehingga mereka tidak akan dapat keluar sampai pada hari yang ditentukan Tuhan, yaitu ketika –menurut Nabi– mereka akan melakukan perusakan hebat di atas muka bumi (Q.S. 18: 93-99). Kehancuran benteng itu akan terjadi sebelum hari kiamat tiba. Dan, kejadian itu menjadi satu pertanda bahwa hari akhir telah dekat.

Dalam menjawab pertanyaan ketiga, wahyu menyatakan  bahwa persoalan roh itu diluar jangkauan pikiran manusia: _"Dan, mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: 'roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'"_(Q.S. 17: 85).

Kaum Yahudi sangat berhasrat mendengarkan jawaban Muhammad terhadap pertanyaan² yang mereka ajukan. Berkaitan dengan pernyataan terakhir tentang pengetahuan, mereka bertanya kepadanya –kesempatan pertama bagi mereka– apakah hal itu ditujukan kepada kaumnya atau kepada mereka. "Kepada kalian semua", kata Nabi. Mereka langsung protes karena mereka merasa telah diberi pengetahuan tentang segala sesuatu; karena mereka telah membaca Taurat yang merupakan _penjelasan dari segala sesuatu,_ sebagaimana dinyatakan oleh Alquran sendiri (Q.S. 6: 154). Nabi menjawab: "Dalam pengetahuan Allah, Taurat hanyalah sekelumit. Namun demikian, cukuplah bagi kalian, jika kalian benar² mengamalkannya." Kemudian, turun wahyu mengenai "kalimat² Tuhan", yang mengungkapkan sebagian saja dari ilmu-Nya:

_Dan seandainya pohon² di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis²nya kalimat Allah dituliskan_(Q.S. 31: 27).

Para pemuka Quraisy tidak mau terikat dengan nasehat para rabi itu. Para rabi itu sendiri tidak mau mengakui Nabi, kendatipun jawaban beliau melampaui apa yang mereka harapkan. Tetapi jawaban² tersebut menyebabkan pihak² lain masuk Islam. Semakin bertambahnya pengikut Nabi, maka para musuh beliau merasa komunitas dan cara hidup mereka semakin terancam, sehingga mereka lebih keras lagi melancarkan penganiayaan dan perlakuan buruk terhadap pemeluk Islam. Masing² kabilah sepakat menghukum orang² muslim dari pihak mereka sendiri: mereka akan memenjarakan dan menyiksa kaum muslim dengan pukulan, membiarkan mereka dalam kelaparan dan kehausan. Mereka kemudian menyeret kaum muslim itu ke tanah gersang di Mekah saat terik panas matahari berada pada puncaknya, agar mereka keluar dari Islam.
Pemimpin Jumah, Umayyah, memilki seorang budak Afrika bernama Bilal, yang telah menjadi mukmin. Pada siang hari, Umayyah menyeretnya ke tempat terbuka. Ia memakunya ke tanah sambil menindihkan sebongkah batu besar di atas dadanya. Ia bersumpah bahwa budaknya itu akan diperlakukan seperti itu sampai mati, atau sampai murtad dari Muhammad dan kembali menyembah al-Lat dan al-'Uzzah. Selama menahan penyiksaan ini, Bilal mengucapkan "Ahad! Ahad!" saat itulah, kebetulan Waraqah lewat. "Sesungguhnya Dia itu Ahad! Ahad, wahai Bilal," kata Waraqah. Kemudian dia menghadap ke Umayyah dan berkata: "Aku bersumpah, demi Tuhan! Jika engkau membunuhnya maka aku akan menjadikan kuburannya sebagai tempat suci."

Tidak semua orang Quraisy tinggal di tengah² kabilahnya sendiri. Abu Bakr menempati sebuah rumah di tengah permukiman Bani Jumah. Hal ini berarti mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk melihat Nabi, dibandingkan kabilah² lainnya, karena Nabi biasa mengunjungi Abu Bakr di setiap sore hari. Diriwayatkan, sebagian risalah Nabi selalu ditulis di hadapan Abu Bakr. Kehadiran Abu Bakr di permukiman Mekah yang pada awalnya disambut sebagai aset bagi semua kabilah, kini menjadi sumber ancaman bagi para pemimpinnya. Melalui dirinyalah Bilal masuk Islam. Ketika melihat bagaimana mereka menyiksa Bilal, ia berkata kepada Umayyah, "tidak takutkah engkau kepada Allah memperlakukan orang lemah ini seperti itu?" "Engkaulah yang telah memengaruhinya", sahut Umayyah, " karenanya, selamatkanlah ia dari apa yang engkau saksikan." "Aku akan membebaskannya", kata Abu Bakr. "Aku mempunyai seorang budak hitam yang lebih tegap dan lebih kuat dari dia, orang dari agamamu. Akan kuserahkan dia kepadamu sebagai ganti Bilal." Umayyah setuju, kemudian Abu Bakr membawa Bilal dan membebaskannya.

Abu Bakr juga telah membebaskan enam orang lainnya. Yg pertama adalah 'Amir ibn Fuhayrah, orang yang sangat teguh beragama, salah seorang pemeluk Islam awal. 'Amir seorang penggembala. Setelah dibebaskan, 'Amir bertanggung jawab atas binatang piaraan Abu Bakr. Budak lain yang ia bebaskan adalah budak wanita milik 'Umar. Budak itu telah masuk Islam, dan 'Umar memukulnya supaya ia murtad. Ketika Abu Bakr secara kebetulan lewat dan menanyakan apakah 'Umar bersedia menjual budak wanita itu kepadanya, 'Umar menyetujuinya. Abu Bakr segera membeli dan kemudian membebaskannya.

Di antara para penyiksa yang paling kejam adalah Abu Jahl. Jika pemeluk Islam itu memiliki keluarga yang berkuasa untuk melindunginya, Abu Jahl hanya akan menghinanya, berjanji akan menjatuhkan reputasinya, dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Namun, jika ia pedagang, maka Abu Jahl mengancam akan menghentikan perdagangannya dengan mengatur pemboikotan massal terhadap barang² dagangannya sampai bangkrut. Jika ia orang yang lemah, tidak mempunyai pelindung, dan berasal dari kabilahnya, maka Abu Jahl akan menindasnya. Abu Jahl memiliki berbagai sekutu yang berkuasa di beberapa kabilah lain. Ia mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama terhadap pemeluk Islam yang lemah dan tidak memiliki pelindung dari kabilah mereka sendiri.

Melalui dia lah warga kabilahnya menyiksa tiga orang sekutu mereka yang lemah: Yasir, Sumayyah dan anak mereka, Ammar. Mereka tidak mau murtad dari Islam. Sumayyah meninggal karena disiksa mereka. Namun, beberapa korban dari Makhzum dan kabilah lainnya tidak dapat menahan penderitaan yang mereka alami. Penyiksa mereka akan mengurangi penganiayaan bila mereka setuju terhadap sesuatu yang dikatakan kepada mereka: "Bukankah al-Lat dan al-Uzza tuhan²mu di samping Allah?" Mereka mengatakan "ya"; dan ketika seekor serangga terbang melewati mereka dan mereka ditanya "Bukankah serangga ini tuhanmu selain Allah?" mereka mengatakan "ya", semata² untuk menghindari penderitaan yang tak dapat ditahan lagi.

Pengakuan ini hanyalah di mulut, bukan dari hati. Namun mereka yang melakukannya tidak dapat lagi melaksanakan ajaran Islam kecuali sembunyi². Sebagian mereka bahkan sama sekali tidak memiliki privasi lagi. Namun demikian, bagi mereka ada contoh dalam wahyu yang baru saja diturunkan. Wahyu itu berkisah tentang para pemuda yang meninggalkan kaum mereka dan melarikan diri di jalan Tuhan daripada mengalah untuk menyembah tuhan² lainnya.

Ketika Nabi melihat itu –meskipun ia sendiri terhindar dari penyiksaan, namun sebagian pengikutnya tidak demikian– beliau berkata: "Jika kalian pergi ke negeri Abyssinia, disana engkau akan mendapatkan seorang raja yang adil dan bijaksana. Suatu negeri yang kalian bebas dan leluasa dalam beragama. Sampai suatu saat Allah memberikan jalan yang dapat menghindarkan penderitaan yang kalian tanggung sekarang ini." Maka, beberapa sahabatnya berangkat ke Abyssinia. Ini adalah imigrasi pertama dalam Islam.

*#027#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment