Friday, January 3, 2020

Kisah Rasul bagian 03

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣3⃣ *QURAISY LEMBAH*
(Sambungan....)
_______________________

Abd Manaf mematuhi keinginan ayahnya tanpa protes. Tetapi pada generasi berikutnya, separo kaum Quraisy berdiri di belakang putra Abd Manaf, Hasyim, lelaki yang paling terkemuka saat itu, dan menuntut agar pemerintahan dialihkan dari klan Abd al-Dar ke klannya. Mereka yg mendukung Hasyim dan saudara²nya itu adalah keturunan Zuhrah dan Taym dan seluruh anak cucu Qushay selain dari anak pertama. Keturunan Makhzum dan para sepupu yang lebih jauh menerima pemerintahan Bani Abd al-Dar. Kaum wanita dari Bani Abd manaf kemudian membawa secawan minyak wangi dan meletakkannya di sebelah Ka'bah. Hasyim dan saudara²nya serta seluruh pengikutnya mencelupkan tangan mereka ke dalam cawan itu dan mengangkat sumpah bersama untuk tidak saling mengganggu satu sama lain. Masing² menggosokkan tangannya yang harum ke atas batu Ka'bah sebagai tanda tercapainya kesepakatan. Kelompok ini, karenanya, dikenal sebagai Kelompok Harum. Para pengikut Abd al-Dar juga mengangkat sumpah membentuk suatu kelompok yang kemudian dikenal dengan Kelompok Sekutu. Peperangan benar² dilarang tidak hanya di Ka'bah, tetapi juga didalam kawasan Mekah dengan diameter beberapa mil. Kedua pihak harus menegakkan perjanjian demi menghindari pertumpahan darah. Disepakati bahwa keturunan Abd Manaf berhak menetapkan pajak dan menyediakan makanan dan minuman bagi para jamaah haji; keturunan Abd al-Dar berhak memegang kunci Ka'bah dan hak² mereka yg lain, dan tempat tinggal mereka harus diteruskan fungsinya sebagai Rumah Majelis.

Saudara² Hasyim setuju bahwa dia yang bertanggung jawab atas kebutuhan para jamaah haji. Saat musim haji segera tiba, Hasyim mengumumkan di Rumah Majelis: "Wahai kaum Quraisy! Kamu sekalian adalah tetangga Tuhan, penjaga Rumah–Nya dan Tanah Suci. Mereka yang datang berziarah adalah tamu Tuhan dan pengunjung Rumah–Nya. Mereka itulah para tamu yang paling patut dihormati. Pada musim haji, sediakanlah makanan dan minuman sampai mereka pulang kembali. Bila harta saya sendiri mencukupi, saya tidak akan membebani kalian semua."

Hasyim sangat dihormati, baik di dalam maupun di luar negeri. Dialah yang membangun dua rute perjalanan kafilah besar dari Mekah: kafilah pada musim dingin ke Yaman dan kafilah pada musim panas ke barat laut Arab, dan diantara dua musim itu ke Palestina dan Syria, yang dimasa pemerintahan Byzantium merupakan bagian dari Kerajaan Romawi. Kedua rute perjalanan itu mengikuti rute minyak wangi kuno; dan salah satu pemberhentian utama dari kafilah musim panas adalah oasis di Yatsrib, sebelas hari perjalanan unta ke utara Mekah. Dulu oasis tersebut dikuasai kaum Yahudi, tetapi sekarang dikuasai suku bangsa Arab dari Arabia Selatan. Banyak kaum Yahudi masih bermukim di sana dengan kekayaan berlimpah. Mereka terlibat dalam kehidupan masyarakat yang tetap menjalankan agamanya sendiri. Seperti masyarakat Arab Yatsrib, mereka juga memiliki tradisi matriarkal dan secara kolektif dikenal sebagai Bani Qaylah, merujuk ke nama salah seorang leluhur mereka. Namun, mereka sekarang terbagi ke dalam dua suku yang disebut 'Aws dan Khazraj, merujuk ke dua putra Qaylah.

Salah seorang wanita bani Khazraj yang sangat berpengaruh adalah Salma putri 'Amr dari suku Najjar. Hasyim melamar untuk menikahinya. Salma mau asalkan ia tetap diperbolehkan memimpin masyarakatnya. Ketika melahirkan seorang putra, ia mengasuhnya di Yatsrib hingga berumur kira² empat belas tahun. Hasyim tidak melarangnya agar si anak tahan terhadap berbagai penyakit padang pasir yang lebih berbahaya bagi pendatang baru ketimbang bagi penduduk asli. Sebab, penduduk daerah tropis lebih kuat dibandingkan dengan penduduk Mekah. Selain itu, ia sering pergi bolak-balik ke Syria sehingga dapat bertemu dan tinggal bersama Salma dan putranya dalam perjalanan pulang dan pergi. Tetapi Hasyim tidak hidup lama. Pada suatu perjalanan, ia jatuh sakit di Gaza, Palestina, dan di sana ia meninggal dunia.

Hasyim memiliki dua saudara kandung, Abd al-Syam dan Muththalib, dan saudara tiri, Nawfal. Abd al-Syam sangat sibuk dengan kegiatan perdagangan di Yaman, dan belakangan juga di Syria, sementata Nawfal sibuk dengan perdagangannya di Irak, sehingga keduanya jarang berada di Mekah untuk waktu yang lama. Atas dasar itu, dan mungkin berdasarkan alasan² lain juga, Muththalib, saudara Hasyim yg lebih muda, ditunjuk untuk mengatur persediaan air bagi para jamaah haji dan memungut pajak untuk memberi makan mereka. Dan kini, ia merasa bahwa menjadi tugasnya memikirkan siapa kelak yang akan menjadi penggantinya.

Hasyim memiliki tiga orang putra dari beberapa istrinya selain Salma. Tapi konon tak seorangpun dari anak² ini –yg berarti tak seorangpun dari anaknya sendiri– yg dapat dibandingkan dengan anak Salma. Meskipun masih muda, Syaibah –demikian nama putra Salma tersebut– menunjukkan bakat kepemimpinannya. Desas-desus tentang kepandaiannya disebarkan hingga ke Mekah oleh para musafir yang melewati oasis itu. Akhirnya, Muththalib pergi untuk melihatnya sendiri. Setelah mengamati pemuda itu, Muththalib memohon kepada Salma agar memercayakan pengasuhan kemenakannya itu kepadanya. Salma tidak ingin melepas putranya, dan pemuda itupun menolak untuk meninggalkan ibunya. Tetapi Muththalib tidak berkecil hati. Ia meyakinkan mereka berdua bahwa berbagai kelebihan  yang ditawarkan Yatsrib tak ada artinya dibandingkan Mekah. Sebagai penjaga Rumah Suci, pusat agung kegiatan haji dari seluruh jazirah Arabia Quraisy menduduki derajat tertinggi dibandingkan suku² lain di seluruh Arab. Dan suatu hari nanti, Syaibah memiliki kemungkinan yang sangat besar menduduki jabatan almarhum ayahnya sebagai pemimpin Quraisy. Namun untuk itu, pertama² ia harus bergaul dan bergabung dengan kaum yang akan dipimpinnya. Tidak ada orang asing dari luar yang punya peluang mendapatkan kehormatan itu. Salma tertarik pada argumen² Muththalib. Dan, jika putranya pergi ke Mekah, akan mudah baginya untuk mengunjungi anaknya itu dan begitu pula sebaliknya. Maka ia pun mengizinkan putranya pergi.

Muththalib membawa kemenakannya di atas punggung untanya. Ketika memasuki kota Mekah, ia mendengar orang² yang ditemuinya di jalan menyapa pemuda asing yang dibawanya itu dengan "Abd al-Muththalib", yg berarti "budak Muththalib". "Bersukarialah kalian", jawab Muththalib, "ia tak lain adalah putra saudaraku, Hasyim". Mendengar jawaban itu, orang² menyambutnya dengan gembira, sehingga berita itu tersebar di seantero kota, menjadi bahan pembicaraan dari mulut ke mulut. Sejak hari itu, pemuda itu terkenal dengan nama 'Abd al-Muththalib.

Tak lama setelah kedatangannya, 'Abd al-Muththalib terlibat perselisihan tentang tanah pertanian milik ayahnya dengan pamannya, Nawfal. Tetapi dengan bantuan paman asuhnya, dan pengaruh yg ia bawa dari Yatsrib, 'Abd al-Muththalib berhasil mendapatkan hak²nya. Anak muda itu juga tidak mengecewakan harapan² yg sudah melekat pada bakatnya sejak awal. Setelah beberapa tahun, ketika Muththalib telah meninggal dunia, tak seorangpun menyoal kualifikasi keponakannya itu untuk memegang tanggung jawab menyediakan makan dan minum bagi jamaah haji. Bahkan, disebut² bahwa 'Abd al-Muththalib berhasil mengungguli ayah maupun pamannya dalam menunaikan tugas ini.

*#003#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah2an ada manfaatnya bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment