🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣4⃣ *MENEMUKAN KEMBALI SESUATU YANG HILANG*
_______________________
Di sebelah barat laut Ka'bah terdapat suatu daerah sempit yang dikelilingi tembok pendek berbentuk setengah lingkaran. Kedua ujung tembok itu berhenti di sudut sebelah utara dan barat Rumah Suci, menyisakan lorong sempit untuk lalu lintas para jamaah haji. Tetapi, kebanyakan jamaah haji memperlebar lingkaran mereka di sini dan memasukkan daerah sempit tersebut dalam tawafnya, melintasi jalur di luar tembok pendek itu. Ruang yg dibatasi tembok itu disebut Hijr Isma'il, karena bekas ibu jari kaki Isma'il dan Hajar berada di dekat batu yang melapisi ruang itu.
Abd al-Muththalib sangat suka berada di dekat Ka'bah. Seringkali ia menghampar tikar untuk berbaring di dalam Hijr tersebut. Pada suatu malam, ketika sedang tidur di situ, ada sosok bayangan menghampirinya dan berkata, "Galilah sumber air yg manis". "Apa itu?" ia bertanya, tetapi sosok itu segera lenyap. Ia penasaran dan hatinya tidak tenang saat terbangun. Maka, pada malam hari berikutnya, ia tidur kembali di sana. Dan sosok bayangan itu kembali datang dan berkata: "Galilah keberuntungan". Tetapi, pertanyaannya kembali tidak mendapatkan jawaban. Pada malam ketiga, ia diperintahkan: "Galilah timbunan harta karun!" seperti biasanya, bayangan itu segera menghilang. Baru pada malam yg keempat, perintah itu berubah menjadi, "Galilah Zamzam." kali ini, ketika ia bertanya, "Apakah Zamzam itu?" sosok itu menjawab:
_"Galilah ia, maka engkau tidak akan pernah menyesal, karena ia adalah pusaka yang amat kaya Dari nenek moyangmu yang paling luhur, Ia tidak akan pernah kering, tidak juga berkurang Dalam memenuhi kebutuhan semua jamaah haji."_
Kemudian, sosok itu memerintahkan untuk mencari suatu tempat yang lembab penuh darah, penuh kotoran, tempat semut² bersarang, dan burung gagak mematuk²nya. Akhirnya ia disuruh berdoa, "Demi air jernih yang melimpah dan akan memberi minum seluruh tamu Tuhan melalui hajinya."
Ketika fajar menyingsing, Abd al-Muththalib bangun dan meninggalkan Hijr di sebelah utara rumah suci yang disebut sudut Iraqi. Kemudian ia berjalan sepanjang dinding sebelah timur laut yang berujung di pintu Ka'bah. Beberapa langkah di depannya, ia berhenti dan dengan takzim mencium Hajar Aswad. Dari situ ia mulai tawaf, kembali berjalan menuju sudut Iraqi, melintasi Hijr menuju sudut sebelah barat –yaitu sudut Syria– dan kemudian menuju sudut Yaman yang mengarah ke selatan. Para keturunan Ibrahim, dari garis Isma'il dan Ishaq, bergerak mengelilingi Ka'bah melawan arah sinar matahari. Ketika berjalan dari sudut Yamani menuju Hajar Aswad, Abd al-Muththalib dapat melihat lembah gelap Abu Qubays dan di seberangnya perbukitan timur, yang tampak dipancari cahaya kemuning. Tujuh kali ia berkeliling, dan setiap kali pula cahayanya bertambah terang, karena fajar telah menyingsing di Arabia dan malam pun berakhir. Setelah tawaf, ia meninggalkan Hajar Aswad menuju pintu Ka'bah sambil menggenggam cincin logam yang tergantung di kunci, lalu memanjatkan doa yang telah diajarkan.
Tiba² terdengar suara kepakan sayap dan seekor burung hinggap di atas pasir di belakangnya. Kemudian burung lain pun hinggap. Setelah berdoa, ia menoleh dan melihat burung² itu bergerak menuju dua bongkahan batu besar berbentuk patung, yg terletak kira² 100 yard di depan pintu. Dua batu itu dianggap berhala. Dan di antara kedua batu itulah kaum Quraisy biasanya menyembelih kurban. Abd al-Muththalib benar² tahu _seperti juga kedua burung gagak tersebut– bahwa tempat berpasir itu selalu basah oleh darah. Di situ juga ada kotoran, dan di atasnya kini terlihat sebuah sarang semut.
Ia pulang ke rumahnya dan mengambil dua pangkur, satu dibawa anaknya Harits, yang diajak ke tempat dimana ia harus segera menggali. Suara gedebuk alat di atas pasir dan pemandangan yang aneh –ditempat terbuka yg dapat terlihat dari segala penjuru itu– segera mengundang perhatian orang, sehingga mereka berduyun² mengerumuni Abd al-Muththalib. Kendatipun mereka semua menaruh hormat terhadap Abd al-Muththalib, tak lama kemudian, ia diprotes karena telah melakukan pelanggaran dengan menggali tanah yang disucikan di antara kedua berhala mereka, dan penggalian itu harus segera dihentikan. Abd al-Muththalib bersikeras tidak akan berhenti dan menyuruh Harits agar tetap mendampinginya dan memerhatikan agar tak seorangpun menghalangi penggalian tersebut. Maka, suasana menjadi tegang, dan akibatnya bisa jadi akan sangat tidak menyenangkan. Tetapi, dua keturunan Hasyim itu telah bertekad dan sepakat untuk terus menggali, sementara para penonton menyaksikan dengan penuh keheranan. Berhala² itu, Isaf dan Na'ilah, berkedudukan tinggi di Mekah. Bahkan menurut beberapa orang, keduanya adalah bapak-ibu kaum Jurhum yang berubah menjadi batu dan mengotori Ka'bah. Abd al-Muththalib terus menggali tanpa henti. Dan ketika sebagian orang bergegas hendak meninggalkan Rumah Suci itu, tiba² ia memukul sebuah dinding peti batu dan seketika ia berteriak memanjatkan syukur kepada Tuhan. Massa pun kembali membeludak. Dan, ketika ia mulai mengangkat harta karun peninggalan Jurhum yang dipendam disitu, setiap orang mengaku berhak untuk mendapatkan bagian. Abd al-Muththalib setuju bahwa undian mesti dilakukan untuk beberapa alternatif: disimpan di Rumah Suci, dimiliki Abd al-Muththalib sendiri, atau dibagi di kalangan suku. Itulah cara yang dikenal saat itu untuk memutuskan sesuatu yang mengandung keragu²an, dan itu dilakukan dengan melepaskan anak panah di dalam Ka'bah, di depan berhala Moabit, Hubal. Dalam hal ini, hasilnya adalah sebagian harta karun disimpan di Ka'bah, sebagian diberikan ke Abd al-Muththalib, sementara tidak sedikitpun yang diberikan kepada kaum Quraisy. Sejak itu juga disepakati bahwa Bani Hasyim yg bertanggung jawab terhadap Zamzam sendiri, untuk dipergunakan sebagai penyedia kebutuhan air jamaah haji.
*#004#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment