Friday, January 3, 2020

Kisah Rasul bagian 05

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣5⃣ *NAZAR MENGORBANKAN ANAK LAKI-LAKI*
_______________________

'ABD al-Muththalib disegani oleh kaum Quraisy atas kedermawanan, kemampuan dan kebijaksanaannya. Ia juga berwajah tampan, dengan penampilan yang berwibawa. Kekayaannya menjadi salah satu pendukung semua keberuntungannya; dan kini ditambah lagi oleh kehormatan sebagai orang yang berhak merestorasi Zamzam. Ia sangat bersyukur atas segala yang Allah berikan kepadanya, namun jiwanya masih belum tenang ketika membayangkan suatu saat nanti ia harus berhenti menggali (sumur Zamzam). Selama ini segalanya berjalan baik² saja, Alhamdulillah! Namun, baru kali ini ia merasa sangat miskin karena hanya memiliki seorang anak laki². Sepupunya, Umayyah, misalnya, kepala suku Abd al-Syam, dikaruniai banyak anak laki²; dan bila yang menggali adalah Mughirah, kepala suku Makhzum, maka anak²nya dapat menjadi pasukan pendukung yang besar dan kuat. Tetapi, ia sendiri, meskipun memiliki banyak istri, hanya mempunyai seorang anak laki² yg akan meneruskannya. Sebenarnya, ia telah pasrah atas kenyataan ini; namun Tuhan, yang telah memberinya Zamzam, juga meningkatkan derajatnya dalam hal² lain. Maka dengan berbesar hati ia memohon kepada Tuhan agar dikaruniai beberapa anak laki² lagi. Dan sebagai tambahan doanya, ia bernazar: bila dikaruniai 10 anak laki² yg tumbuh hingga dewasa, ia akan mengorbankan satu orang diantaranya bagi Tuhan di Ka'bah.

Doanya dikabulkan. Selang beberapa tahun, lahirlah sembilan anak laki². Ketika dulu ia berdoa dan mengucapkan nazarnya, hal itu tampaknya sesuatu yg mustahil bakal terjadi. Namun ketika menjadi kenyataan dan semua putranya telah tumbuh dewasa, kecuali sang bungsu, 'Abd Allah, maka nazar itu menghantui dirinya. Ia sangat bangga dengan semua putranya, kendati tak dapat dipungkiri bahwa si bungsu, 'Abd Allah, adalah anak yang paling ia sayangi. Mungkin Allah lebih menyayangi anak ini yang Dia karuniai dengan ketampanan, dan barangkali Allah akan memilihnya untuk dikurbankan. Bagaimanapun juga, Abd al-Muththalib adalah orang yang selalu menepati janji, dan tidak pernah terbetik untuk mengingkarinya. Ia juga orang yang sangat adil dan penuh rasa tanggung jawab, yang berarti ia harus menjalankan nazarnya itu. Ia sangat berat menentukan siapa diantara putra²nya yang akan dikorbankan. Maka, tak lama setelah 'Abd Allah menginjak dewasa, ia mengumpulkan seluruh putranya. Ia menyampaikan perjanjiannya dengan Tuhan dan meminta mereka mendukung pelaksanaan nazarnya. Mereka tak punya pilihan lain kecuali setuju; janji ayahnya adalah janji mereka juga. Lalu mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan. Ia menyuruh mereka membuat nama atau tanda pada anak panah masing². Sementara itu, ia mengundang pengundi panah resmi Quraisy untuk hadir di Ka'bah. Kemudian, ia menyuruh semua putranya untuk memasuki Rumah Suci itu. Ia pun menyampaikan keperluannya kepada pengundi panah itu berkenaan dengan nazarnya. Setiap anak menyerahkan anak panahnya dan Abd al-Muththalib berdiri menjadi saksi di sebelah Hubal, mengeluarkan sebilah pisau besar, dengan menyebut nama Allah. Kumpulan anak panah itu diundi, dan anak panah 'Abd Allah yg keluar. Ayahnya pun menggandengnya sambil menggenggam pisau besar tadi. Ia menuntun putranya itu ke pintu, langsung menuju tempat pengorbanan, seolah² tak mau berpikir panjang lagi.

Abd al-Muththalib tidak memperhitungkan istri²nya, khususnya ibu 'Abd Allah, Fathimah. Istri²nya yg lain berasal dari suku² luar dan hampir tdk memiliki pengaruh di Mekkah. Namun, Fathimah adalah wanita Quraisy, dari bani Makhzum yang kuat. Dan dari pihak ibu, ia keturunan 'Abd, salah satu putra Qushay. Seluruh keluarganya saling berdekatan, selalu berjaga dan siap sedia membantunya jika diperlukan. Tiga dari sepuluh anak itu adalah putranya: Zubayr, Abu Thalib, dan 'Abd Allah. Ia juga ibu dari lima orang anak perempuan Abd al-Muththalib, yg sangat menyayangi saudara laki² mereka. Para wanita itu tidak tinggal diam, dan para istri yang lain pun tanpa ragu² mendukung Fathimah, yang sebelumnya sangat khawatir menyaksikan kesepuluh anak mereka yang sama² mempunyai kemungkinan untuk dikorbankan.

Beberapa saat setelah pengundian dilakukan, orang telah berkumpul di halaman Ka'bah. Ketika Abd al-Muththalib dan 'Abd Allah muncul di ambang pintu dengan muka pucat pasi, terdengar riuh bisikan² keras dari kaum Makhzum setelah menyadari bahwa anak saudara perempuan mereka akan dikorbankan. "Untuk apa pisau itu?" tanya seseorang diantara mereka, meskipun mereka telah tahu jawabannya. Abd al-Muththalib mulai menceritakan nazarnya, namun segera dipotong oleh Mughirah, kepala suku Makhzum. "Jangan korbankan dia, kita akan mencari gantinya, walaupun penggantinya adalah seluruh kekayaan Makhzum." Pada saat itu, saudara2 'Abd Allah sudah keluar dari Ka'bah. Tadinya tak seorangpun dari mereka yg angkat bicara, namun kini mereka memohon kepada ayahnya agar 'Abd Allah dibiarkan hidup dan diganti dengan persembahan yang lain. Tak seorang pun dari orang² yg hadir pada saat itu yang berbeda pendapat, dan Abd al-Muththalib terus dibujuk agar membiarkan anaknya itu hidup, tapi ia masih ragu. Akhirnya ia setuju untuk mengonsultasikan masalah ini kepada seorang wanita bijak di Yatsrib yang dapat memberikan saran apakah persembahan lain dapat menggantikan putranya, dan dalam bentuk apa.

Bersama 'Abd Allah dan satu atau dua putranya yg lain, Abd al-Muththalib pergi ke negeri kelahirannya itu dan hanya mendapat kabar bahwa wanita bijak itu sudah pergi ke Khaybar, pusat permukiman Yahudi yang kaya raya –suatu daerah subur kira² 100 mil sebelah utara Yatsrib. Maka, mereka melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka berhasil bertemu dengan wanita itu dan menceritakan maksud kedatangannya, wanita bijak itu berjanji akan mengkonsultasikannya dengan roh² keluarganya, dan meminta mereka menemuinya lagi keesokan harinya. 'Abd al-Muththalib berdoa kepada Allah, dan keesokan harinya, wanita itu berkata, "Telah datang petunjuk kepadaku. Binatang apa yang kalian pelihara?" Mereka menjawab bahwa ada 10 ekor unta. "Kembalilah ke kotamu", pesannya, "dan tempatkanlah anak laki²mu dan 10 ekor unta itu berdampingan, lalu undilah mereka. Jika anak panah terjatuh di depan anak lelakimu,  tambahkan 10 unta lagi dan undi kembali; begitu seterusnya hingga Tuhan menerima unta² itu dan anak panahnya jatuh ke arah mereka  dan korbankanlah unta² itu, sementara biarkanlah anakmu hidup."

Mereka kembali ke Mekah segera, dan dengan khidmat membawa 'Abd Allah dan sepuluh unta ke halaman Ka'bah. Abd-Muththalib masuk ke dalam Rumah suci itu, dan berdiri disamping Hubal sambil memohon agar Tuhan menerima persembahannya. Pengundian pun dilakukan, dan anak panah terjatuh di depan 'Abd Allah. Maka, sepuluh ekor unta lagi ditambahkan, dan pengundian kembali dilakukan, namun sekali lagi anak panah terjatuh di depan 'Abd Allah. Begitu seterusnya, sepuluh demi sepuluh ekor unta ditambahkan hingga mencapai seratus ekor unta. Baru dalam jumlah itulah anak panah jatuh di depan unta² itu. Kendati demikian, Abd al-Muththalib adalah orang yang sangat berhati²; baginya sebuah anak panah belum cukup membuktikan untuk mengambil keputusan penting. Karena itu, ia meminta mereka mengulang pengundian hingga tiga kali pelepasan anak panah. Dan ternyata anak panah tetap terjatuh di depan unta² itu. Hal ini meyakinkan Abd al-Muththalib bahwa Tuhan telah menerima penebusannya, dan unta² itupun disembelih sebagai kurban.

*#005#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment