🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣6⃣ *KEBUTUHAN AKAN SEORANG NABI*
_______________________
Abd al-Muththalib tidak menyembah Hubal; ia selalu menyembah Tuhan –Allah. Meskipun demikian, berhala Moabit telah berdiri di Rumah Allah selama beberapa generasi. Bagi kaum Quraisy, ia dianggap sebagai personifikasi 'barakah', berkah, suatu kekuatan spiritual yang melingkupi semua bagian Rumah Suci. Ada beberapa rumah suci lain yang lebih kecil disekitar Arabia. Diantaranya yang paling penting yang terletak di Hijaz adalah kuil tiga "putri Tuhan", demikian para penyembahnya menyebutnya, yaitu al-Lat, al-'Uzzah, dan al-Manat. Sejak tahun² awalnya, seperti penduduk arab di Yatsrib, Abd al-Muththalib memuja kuil al-Manat yg terletak di Qudayd, Laut Merah, hampir tepat di sebelah barat daerah oasis. Yang lebih penting bagi suku Quraisy adalah kuil al-'Uzzah yang terletak di lembah Nakhlah, sehari perjalanan unta ke arah selatan Mekah. Sehari lagi perjalanan pada jarak dan arah yang sama akan mengantarkan orang ke Tha'if, sebuah kota yg sangat subur, dihuni oleh suku Tsaqif, keturunan salah satu suku besar di Arab, Hawazin. Al-Lat adalah "Dewi Tha'if", dan patungnya di tempatkan di sebuah kuil mewah. Sebagai penjaga kuil itu, Tsaqif menganggap mereka sebagai rekanan kaum Quraisy; kaum Quraisy pun selalu menyebut "dua kota" untuk merujuk Mekah dan Tha'if. Namun, meskipun Tha'if sangat subur dan sangat sejuk –karena itu disebut "Taman Hijaz"– bukan berarti masyarakatnya tidak iri dengan lembah gersang di utara mereka. Sebab, mereka sadar bahwa kuil mereka, betapapun mereka mempromosikannya, tidak dapat menandingi Rumah Tuhan (Ka'bah). Bukan pula mereka sama sekali tidak mengharapkan bertukar tempat, karena mereka juga keturunan Isma'il dan memiliki akar²nya di Mekah. Sentimen² itu pun bercampur dan kadangkala meletupkan konflik. Sementara suku Quraisy tak pernah merasa iri terhadap siapapun. Mereka sadar bahwa mereka berada di pusat dunia dan di tengah² mereka terdapat sebuah magnet yang menarik para jamaah haji di seluruh penjuru. Hal itu menyebabkan mereka tak pernah berpikir untuk merusak hubungan baik dengan siapapun, baik diantara mereka sendiri maupun dengan suku² yang lain.
Jabatan Abd al-Muththalib sebagai tuan rumah jamaah haji yang datang ke Ka'bah menumbuhkan kesadaran dalam dirinya tentang hal² demikian. Fungsinya adalah sebagai pemersatu semua suku, dan pada tingkat tertentu, fungsi itu juga dipikul oleh seluruh orang Quraisy. Para jamaah harus dibuat merasa bahwa Mekah adalah rumah mereka, dan menyambut mereka berarti menghormati apa yang mereka sembah, termasuk berhala² yang mereka bawa. Justifikasi dan otoritas untuk menerima berhala² itu dan percaya terhadap keajaibannya adalah bagian dari tradisi; para leluhur mereka juga melakukan hal yang sama. Namun bagi Abd al-Muththalib sendiri, Allah adalah realitas tertinggi; dan ia, tak ragu lagi, lebih dekat dengan agama Ibrahim ketimbang ke kepercayaan kaum Quraisy, Khuza'ah, dan Hawazin, serta suku² Arab yang lain pada masanya.
Namun, ada –dan memang selalu ada– sejumlah orang yang menegakkan agama Ibrahim secara murni. Mereka lah yang menyadari bahwa itu jauh dari sikap tradisional; penyembahan berhala adalah suatu bid'ah –inovasi ciptaan manusia– suatu bahaya yang harus dijaga dan dilawan. Bila merunut sejarah yang lebih panjang, Hubal tidak lebih baik daripada anak sapi emas Bani Isra'il. Para kaum hanif –begitu mereka menyebut diri mereka– merasa tak bisa berbuat apa² berkaitan dengan berhala², yang kehadirannya di Mekah mereka anggap sebagai suatu kotoran dan polusi. Penolakan mereka untuk kompromi dan seringnya mereka bicara blak²an tentang agama itu, membuat mereka menjadi satu golongan pinggiran dalam masyarakat Mekah, dimana mereka dihormati, ditoleransi, ataupun diperlakukan buruk –sebagian disebabkan oleh kepribadian mereka sendiri dan sebagian yang lain ditentukan oleh apakah suku mereka bersedia melindungi mereka atau tidak.
Abd al-Muththalib mengenal 4 orang hanif, dan salah seorang yang paling dihormatinya adalah Waraqah, anak sepupu keduanya, Nawfal dari suku Asad. Waraqah memeluk agama kristen. Ada satu keyakinan di tengah² kaum kristen bahwa akan datang seorang nabi. Kepercayaan ini tidak tersebar secara luas, namun didukung oleh satu atau dua aliran besar gereja timur dan juga oleh para astrolog dan para peramal. Mengenai kaum Yahudi, karena menurut mereka garis kenabian baru berakhir pada Mesias, hampir semuanya sepakat mengharapkan seorang Nabi. Pendeta dan ulama mereka meramalkan bahwa tanda² kedatangan seorang Nabi telah tiba, dan tentu saja, Nabi tersebut adalah seorang Yahudi, karena mereka mengklaim diri mereka sebagai bangsa pilihan. Sementara kaum Kristen, termasuk Waraqah, meragukan hal itu. Mereka tidak melihat alasan mengapa Nabi terakhir itu harus bukan orang Arab. Bangsa Arab lebih membutuhkan seorang Nabi ketimbang kaum Yahudi, yang setidaknya masih mengikuti agama Ibrahim dan hanya menyembah satu Tuhan dan tidak menyembah berhala. Lalu siapa lagi yang bisa meluruskan bangsa Arab dan kesalahan agama mereka kecuali seorang Nabi? Di sekeliling Ka'bah, tidak seberapa jauh darinya, ada sekitar 360 berhala, ditambah lagi dengan berhala² kecil dan besar yang disimpan di setiap rumah di Mekah sebagai penjaga rumah mereka. Pada setiap gerak mereka, khususnya jika hendak bepergian jauh, mereka akan menghadap berhala dan bersujud di depannya untuk memohon berkah dan keselamatan. Demikian juga yang mereka lakukan pertama kali saat kembali. Bukan hanya orang² Mekah yg melakukan itu, melainkan hampir seluruh bangsa Arab. Ada juga sebagian masyarakat Arab Kristen di daerah selatan, yaitu di Najran dan Yaman, dan di daerah utara dekat perbatasan Syria. Namun intervensi Tuhan yang terakhir, yang telah memindahkan orang² Mediterania dan memperluas daratan Eropa, tidak memberikan, dalam kira² 600tahun, pengaruh apapun secara praktis bagi kaum penyembah berhala yang berpusat di kuil Mekah. Bangsa Arab di Hijaz dan dataran Najd ke timur tampaknya tidak tersentuh oleh pesan² dalam Injil.
Kaum Quraisy dan suku² pagan tidak memusuhi orang² Kristen. kaum Kristen kadang kala datang untuk memberikan penghormatan pada maqam Ibrahim, dan kaum Quraisy menerimanya dengan baik seperti terhadap tamu² yg lain. Lebih dari itu, seorang penganut Kristen dibolehkan, bahkan didorong, untuk membuat lukisan Perawan Maria dan anaknya, Kristus, pada salah satu bagian dalam dinding Ka'bah, yang jelas² akan tampak mencolok karena begitu berbeda dengan gambar² yg lain. Tetapi, kaum Quraisy tidak melihat perbedaan itu. Bagi mereka, hal itu hanya menandai bertambahnya jumlah berhala yang telah ada; hal itu juga merupakan wujud dari toleransi mereka yang membuat mereka begitu kokoh.
Tak seperti sebagian besar orang sukunya, Waraqah dapat membaca dan telah mempelajari Injil dan teologi. Ia mempunyai saudara perempuan yang sangat dekat dengannya, Qutaylah. Waraqah sering membacakan berbagai hal dengannya. Kata² Waraqah sangat membekas dalam batinnya bahwa akan datang seorang nabi. Akankah ia datang di tengah² mereka?
Pada saat pengorbanan unta bagi 'Abd Allah telah dilakukan dan diterima, Abd al-Muththalib berpikir untuk mencarikan istri bagi putra kesayangannya itu. Setelah menimbang², pilihannya jatuh kepada Aminah, putra Wahab, cucu Zuhrah, saudara Qushay. Wahab adalah pemimpin Bani Zuhrah, namun telah meninggal beberapa tahun silam. Kini, Aminah diasuh oleh pamannya, Wuhayb, yang meneruskan jabatannya sebagai pemimpin kabilah. Wuhayb sendiri memiliki seorang anak perempuan yang telah mencapai usia menikah, bernama Halah. Abd al-Muththalib melamar Aminah untuk dinikahkan dengan purtanya, dan Halah untuk dinikahi dia sendiri. Wuhayb setuju, maka segera dilakukan pelbagai persiapan untuk pesta dua pernikahan pada waktu dan tempat yang sama. Pada hari yg telah ditentukan, Abd al-Muththalib menggandeng putranya, dan bersama² mendatangi kediaman Bani Zuhrah. Dalam perjalanan itu, mereka mesti melewati kediaman Bani Asad. Ketika itu, Qutaylah, saudara perempuan Waraqah, berdiri di depan pintu rumahnya –mungkin ia berharap dapat menyaksikan perayaan yang telah diketahui oleh penduduk Mekah sebagai upacara pernikahan besar²an. Abd al-Muththalib saat itu telah berusia lebih dari 70 tahun, namun ia masih tampak lebih muda dari usianya. Langkah gontai kedua mempelai yang berwibawa dan anggun itu memperindah pemandangan saat itu.
Namun ketika mereka telah cukup dekat, Qutailah hanya memperhatikan yang lebih muda. 'Abd Allah, dalam hal ketampanan adalah Yusuf pada zamannya. Bahkan, orang² Quraisy yang sangat tua pun tak dapat lagi membedakan kesamaannya. Kini ia berusia 25 tahun, saat mekar²nya di usia mudanya. Namun, Qutailah terpesona –seperti yang terjadi pada kesempatan lain, namun tidak sedahsyat kali ini– pada cahaya yang memancar pada wajahnya, yang menurutnya memancar dari luar dunia ini. Apakah 'Abd Allah adalah nabi yang tengah dinanti²kan? Atau ia adalah bapak sang nabi?
Mereka telah melewati Qutaylah, dan tiba² terbersit keinginan padanya untuk menyapa. Ia berseru, "'Abd Allah!" Abd al-Muththalib melepaskan gandengannya, seakan² menyuruh putranya berbicara dengan sepupunya itu. 'Abd Allah mundur untuk menemuinya. Qutaylah bertanya kepada 'Abd Allah, kemana ia akan pergi. "Bersama ayahku", jawabnya singkat, bukan karena malu², namun ia yakin Qutaylah pasti tahu dirinya sedang dalam perjalanan menuju pelaminan. "Tetaplah disini dan jadikanlah aku istrimu", kata Qutaylah, "dan engkau akan memiliki sejumlah unta yg telah dikurbankan untukmu." Aku harus menuruti ayahku. Aku tak dapat melanggar keputusannya, dan aku tak mungkin meninggalkannya," jawab 'Abd Allah.
Pernikahanpun dilakukan sesuai rencana. Dua pasangan pengantin itu tinggal beberapa hari di kediaman Wuhayb. Pada waktu itu, 'Abd Allah keluar untuk mengambil sesuatu dari rumahnya sendiri, dan ia bertemu lagi dengan Qutaylah, saudara perempuan Waraqah. Maka Qutaylah menatap wajah 'Abd Allah dengan seksama ketika ia berhenti di dekatnya. 'Abd Allah berharap Qutaylah mengajaknya bicara. Ketika Qutaylah diam saja, 'Abd Allah bertanya mengapa dia tak berkata lagi seperti kemarin. Ia menjawab, "Cahaya yang ada padamu kemarin telah hilang. Hari ini, engkau tak lagi bisa memenuhi harapanku."
Pernikahan itu berlangsung tahun 569 M. Tahun setelah itu dikenal sebagai Tahun Gajah, dan itu sangat penting berdasarkan beberapa alasan.
*#006#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment