🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣7⃣ *TAHUN GAJAH*
_______________________
Pada saat itu, Yaman berada dibawah kekuasaan Abyssinia, dan Abrahah, seorang Abyssinia, menjadi gubernur disana. Ia membangun sebuah katedral megah di Shan'a, dengan harapan dapat menyaingi Mekah sebagai tempat ibadah haji terbesar di seluruh Arabia. Ia membangunnya dengan pualam yang diambil dari bekas istana Ratu Saba dan menghiasinya dengan emas dan perak. Mimbarnya dibuat dari gading dan kayu hitam. Ia menulis surat untuk rajanya, Negus: "Wahai Raja, aku telah membangun sebuah gereja untukmu. Kemegahannya tak pernah tertandingi oleh raja manapun sebelummu. Dan aku tak akan pernah berhenti hingga dapat mengalihkan pusat haji orang² Arab ke sana." Ia tidak merahasiakan sedikitpun niatnya, dan itu tentu mengundang kemarahan suku² yg tersebar di seluruh Hijaz dan Najd. Akhirnya seseorang dari suku Kinanah, yg memiliki hubungan nasab dengan Quraisy, pergi ke Shan'a dengan maksud meruntuhkan gereja itu. Ia melakukan itu hanya satu malam, kemudian kembali ke rumahnya dengan selamat
Ketika Abrahah mendengar itu, ia bersumpah akan membalas dendam dengan menghancurkan Ka'bah sampai rata dengan tanah. Ia pun menyiapkan pasukan besar²an untuk menyerang Mekah dengan menempatkan Seekor gajah di barisan terdepan. Beberapa suku Arab di utara Shan'a berusaha untuk menghalangi perjalanan mereka, tetapi pasukan Abyssinia berhasil mengalahkan mereka dan menangkap pemimpin mereka, Nufayl dari suku Khats'am. Sebagai tebusan nyawanya, ia diminta menjadi penunjuk jalan.
Ketika pasukan itu sampai di Tha'if, orang² Tsaqif keluar menemui mereka. Orang² Tsaqif khawatir Abrahah keliru menghancurkan kuil mereka, Al-Lat, karena dikira Ka'bah. Mereka segera menjelaskan kepadanya bahwa ia belum mencapai tujuan. Mereka juga memberi penunjuk jalan untuk mengantarkan pasukan tersebut. Meskipun telah memiliki Nufayl, Abrahah menerima tawaran itu. Tetapi penunjuk jalan itu meninggal dalam perjalanan, kira² dua mil dari Mekah, di sebuah tempat yang dikenal dengan Mughammis, dan ia dikuburkan disana. Belakangan, orang² Arab selalu melempari kuburan itu dengan batu. Bahkan orang² yg tinggal disekitarnya, tetap melakukannya hingga sekarang.
Abrahah berhenti di mughammis dan mengirimkan pasukan berkuda ke daerah pinggiran Mekah. Mereka merampas apa saja yang mereka temukan di perjalanan, dan mengirimkan hasil rampasannya kepada Abrahah, termasuk 200 unta milik Abd al-Muththalib. Quraisy dan suku² lain di sekitarnya mengadakan pertemuan dewan perang. Mereka memutuskan bahwa percuma saja mereka melawan serangan musuh. Sementara itu Abrahah mengirimkan seorang utusan ke Mekah untuk menemui pemimpin mereka disana. Ia berpesan bahwa mereka datang bukan untuk berperang, melainkan hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Dan jika ingin menghindari pertumpahan darah, maka pemimpin Mekah harus menemuinya di kemah pasukan Abyssinia.
Sebenarnya, tidak ada pemimpin resmi untuk semua suku Quraisy setelah seluruh hak² istimewa dan tanggung jawab kepemimpinan telah dibagi antara keluarga 'Abd al-Dar dan 'Abd Manaf. Tetapi sebagian besar masyarakat Mekah beranggapan bahwa pemimpin mereka adalah orang yg secara _'de facto'_ memang mengemban fungsi kepemimpinan. Kali ini utusan itu diantar menghadap Abd al-Muththalib, yang kemudian bersama seorang putranya mengikuti utusan tersebut ke pekemahan. Ketika Abrahah menyaksikan kedatangan Abd al-Muththalib ke perkemahannya, ia begitu terkesan sampai turun dari singgasana, menyambutnya dan duduk bersama di atas karpet. Ia menyuruh juru bicaranya menanyakan kepada Abd al-Muththalib permintaan apa yang hendak diajukan. Abd al-Muththalib meminta agar 200 ekor untanya yang telah dirampas oleh pasukan Abrahah dikembalikan. Abrahah tampak sangat terjejut mendengar permintaan itu. Ia sangat kecewa mendengarnya, karena menganggap Abd al-Muththalib jauh lebih mementingkan unta²nya ketimbang agamanya yang sedang terancam untuk dihancurkan. Abd al-Muththalib menjawab, "Aku adalah pemilik unta² itu, sementara Ka'bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya". "Tetapi sekarang ini, dia tak akan mampu melawanku", kata Abrahah. "Kita lihat saja nanti", jawab Abd al-Muththalib, "Tapi kembalikan unta²ku sekarang!" Dan Abrahah pun memerintahkan agar unta² itu dikembalikan.
Abd al-Muththalib kembali ke Quraisy dan menyarankan agar mereka menyelamatkan diri ke atas bukit di dekat kota. Kemudian, ia, disertai beberapa anggota keluarganya dan pemuka masyarakat yang lain, pergi ke Ka'bah. Mereka berdiri di sisi ka'bah, memohon pertolongan Tuhan melawan Abrahah dan pasukannya. Ia sendiri memegang cincin besi di pintu Ka'bah dan memohon, "Ya Allah, hamba²mu melindungi rumahnya, maka lindungilah rumah-Mu ini!" setelah memanjatkan doa, ia bersama dengan yang lain kembali ke atas bukit, di sebuah tempat yang memungkinkan mereka melihat apa yang terjadi di kota.
Keesokan harinya, Abrahah bersiap² memasuki kota untuk menghancurkan Ka'bah dan, setelah itu, kembali lagi ke Shan'a melalui jalan yang mereka tempuh sewaktu datang. Si gajah, yang diperlengkapi senjata, berada di barisan terdepan. Pemandunya, Unays, segera mengarahkannya berjalan menuju Mekah. Tetapi Nufayl, sang tawanan penunjuk jalan, selalu berjalan bersama Unays dan telah mempelajari aba² yg dimengerti gajah itu. Saat Unays memberikan aba² agar gajah itu bangun, Nufayl mendekati telinga besar sang gajah dan memberikan komando untuk duduk berlutut. Dengan sangat mengejutkan dan mencemaskan Abrahah dan pasukannya yang lain, gajah itupun perlahan² kembali berlutut ke tanah. Unays menyuruhnya untuk kembali berdiri, tetapi kata² Nufayl yang masuk berbarengan ke telinga gajah itu lebih dekat dan lebih berpengaruh, sehingga ia tak mau bergerak lagi. Pasukan Abrahah melakukan segala cara untuk menggerakkan kaki gajah itu, sampai mereka memukul kepala dan mukanya dengan besi, tetapi ia tetap diam bergeming. Selanjutnya mereka mencoba strategi lain dengan menyuruh seluruh pasukan berbalik arah dan berjalan beberapa langkah menuju Yaman. Gajah itu pun berdiri, berbalik dan bergerak mengikuti mereka. Dengan penuh harap, pasukan berbalik arah lagi, dan gajah itu pun mengikuti mereka. Namun, ketika mengarah ke Mekah, gajah itu kembali berlutut.
Sebenarnya itu sudah pertanda yang sangat jelas bahwa mereka tak akan berhasil maju selangkah pun. Namun, Abrahah telah dibutakan oleh ambisi pribadinya atas kejayaan tempat ibadah yang dibangunnya dan oleh nafsu untuk menghancurkan saingan besarnya. Jika mereka kembali lagi ke tempat kediamannya, mereka pasti akan luput dari sebuah bencana besar. Tetapi, mereka telah terlambat: langit di ufuk barat menghitam pekat, dan suara2 gemuruh terdengar; dengan suara yang semakin menggelegar, muncul gelombang kegelapan yang menyapu dari arah laut dan menutupi langit di atas mereka. Sejauh jangkauan pandangan mereka, langit dipenuhi beribu² burung –tak terhingga jumlahnya. Orang² yang berhasil selamat menceritakan bahwa burung² itu terbang secepat burung layang² dan masing² membawa 3 batu kecil yang membara, satu di paruhnya dan yang lain dijepit dengan cakar di kedua belah kakinya. Burung² itu menukik ke arah barisan, sambil menjatuhkan batu² itu, yang kemudian meluncur keras dan cepat menembus setiap baju. Setiap batu yang mengena pasukan, langsung mematikan. Mereka langsung jatuh terkapar dan tubuhnya langsung membusuk. Ada yang membusuk dengan sangat cepat, ada pula yang perlahan². Tak semua orang terluka, termasuk Unays dan gajahnya, tetapi semuanya terkena wabah. Sebagian pasukan yang selamat tetap tinggal di Hijaz dan bekerja sebagai pengembala atau pekerjaan lain. Tetapi sebagian besar tentara² itu, kembali ke Shan'a dalam keadaan kacau balau; banyak yg mati di tengah perjalanan, dan banyak pula, termasuk Abrahah yang mati begitu sampai di tempat. Sementara Nufayl, ia menyelinap pergi ketika tentara sibuk dengan gajah yang 'membangkang', dan menyelamatkan diri ke lereng bukit dekat Mekah.
Sejak peristiwa itu, Quraisy dikenal di jazirah Arab sebagai "Keluarga Tuhan", dan mereka semakin dikagumi karena Tuhan mengabulkan doa² mereka untuk melindungi Ka'bah dari kehancuran. Mereka tetap dihormati, namun lebih dihormati lagi karena peristiwa kedua –yg tak diragukan berkaitan dengan peristiwa yg pertama– yg terjadi pada saat yang sama, yaitu di Tahun Gajah.
Ketika mukjizat burung itu terjadi, Abd Allah putra Abd al-Muththalib, tidak berada di Mekah. Ia sedang pergi berdagang ke palestina dan Syria bersama suatu kafilah. Dalam perjalanan pulang, ia menginap di rumah keluarga neneknya di Yatsrib dan jatuh sakit di sana. Kafilah itu kembali ke Mekah tanpa Abd Allah. Mendengar putranya sakit, Abd al-Muththalib segera mengutus Harits untuk menemani adiknya pulang setelah keadaannya memungkinkan untuk melakukan perjalanan. Namun, ketika Harits sampai di tempat Abd Allah menginap, sepupu mereka yang tinggal disana menyampaikan ungkapan bela sungkawa, sehingga ia langsung mengerti bahwa adiknya telah meninggal dunia.
Ketika Harits kembali, kota Mekah diselimuti duka yg mendalam. Namun, pelipur lara Aminah adalah putra Abd Allah yang masih dalam kandungannya, dan ia semakin terhibur dengan semakin dekatnya waktu kelahiran sang bayi. Ia menyadari ada suatu cahaya ajaib yang memancar di dalam tubuhnya. Pada suatu hari, cahaya itu bersinar tetang benderang, hingga dengan cahaya itu, ia dapat melihat kastil² Bostra di Syria. Ia mendengar suara, "Engkau mengandung seorang pemimpin seluruh umat manusia. Jika ia telah lahir, katakanlah, 'aku menyerahkan perlindungan anak ini kepada Tuhan Yang Satu dari segala kejahatan orang² yg jahat, dan namailah ia Muhammad!'"
Beberapa minggu kemudian, bayi itupun lahir. Saat itu Aminah tinggal di rumah pamannya. Maka, ia mengirimkan kabar kepada Abd al-Muththalib dan memintanya untuk datang menjenguk cucunya yang baru lahir itu. abd al-Muththalib datang dan menggendong sang cucu tersayang. Ia membawanya ke Ka'bah dan masuk bersamanya ke dalam Rumah Suci itu. Ia memanjatkan doa syukur kepada Allah atas karunia-Nya. Setelah itu, ia membawanya kembali ke ibunya. Di perjalanan, ia mampir dulu ke rumahnya sendiri. Ia sendiri belum lama dikaruniai seorang anak laki² dari sepupu Aminah. Putra bungsunya itu telah berusia hampir 3 tahun yang ketika itu telah menanti di pintu rumahnya. "Hai, ini saudaramu, ciumlah dia!" katanya kepada putra bungsunya itu, sambil mendekatkan sang bayi yang baru lahir itu kepadanya, dan 'Abbas pun menciumnya.
*#007#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment