🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣8⃣ *PADANG PASIR*
_______________________
Sudah menjadi kebiasaan seluruh keluarga besar Arab kota untuk mengirimkan anak² mereka yang baru lahir ke daerah gurun untuk disusui hingga disapih, serta menghabiskan masa kanak² mereka ditengah² suku badui. Tak terkecuali Mekah, apalagi sejak musim wabah penyakit dan tingginya angka kematian bayi disana. Tapi, bukanlah semata² udara segar sahara yang mendorong mereka mengirim anak² mereka ksana. Itu memang berguna untuk jasmani mereka. Tetapi, gurun pasir juga memiliki manfaat bagi perkembangan jiwa. Kaum Quraisy baru² ini saja mulai hidup menetap, yaitu sejak Qushay memerintah kaumnya membangun tempat tinggal di sekitar Ka'bah. Sebelumnya mereka hidup secara nomaden. Hidup menetap mungkin memang tak terhindarkan, namun cara hidup seperti itu berbahaya. Gaya hidup nenek moyang mereka adalah pengembara, tinggal di tenda² dan seringkali berpindah². Pengembaraan dan kebebasan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di padang pasir, seseorang sadar bahwa dirinya adalah penguasa suatu tempat, dan dengan kesadaran itu, ia terhindar dari keterikatan dengan waktu. Dengan membongkar tendanya, ia menanggalkan kehidupan yang kemarin, dan menatap hari esok dengan pasti. Sedangkan seorang penduduk kota adalah seorang tahanan; menetap di suatu tempat yang sama –kemarin, sekarang, dan yg akan datang– hanya menjadi bulan²an waktu, menampung segala keburukan. Perkotaan adalah sarang kecurangan. Kemalasan dan hura² tersembunyi di balik dinding²nya, siap untuk setiap saat merenggut dan menghilangkan ketajaman penglihatan dan kewaspadaan manusia. Segala sesuatu membusuk disana, termasuk keindahan berbahasa, suatu hal yg sangat menentukan kualitas manusia. Sebagian orang arab dapat membaca. Tetapi keindahan berbahasa merupakan dambaan setiap orang tua terhadap anak² mereka. Nilai seseorang umumnya dilihat dari kefasihan dalam bertutur kata, dan puncak kefasihan itu adalah puisi. Mempunyai seorang penyair hebat adalah kebanggaan bagi keluarga. Dan, penyair² terkenal hampir selalu berasal dari suku² padang pasir, karena bahasa sehari² mereka memang puitis.
Maka dari itu, tali ikatan dengan padang pasir harus selalu diperbarui dalam setiap generasi yg baru lahir –udara segar untuk pernafasan, bahasa arab yang fasih untuk lidah, kebebasan bagi jiwa. Dan, anak² Quraisy dipelihara di padang sahara hingga 8 tahun agar kebiasaan itu lebih membekas di dalam jiwa mereka, meskipun sebenarnya beberapa tahun saja sudah cukup. Beberapa suku memiliki reputasi yang baik dalam menyusui dan mengasuh anak, diantaranya adalah Bani Sa'd ibn Bakr, suku Hawazin terpencil, yang tinggal di sebelah tenggara Mekah. Aminah ingin memercayakan putranya untuk diasuh seorang wanita dari suku tersebut. Mereka biasanya datang secara periodik kepada kaum Quraisy untuk menawarkan pengasuhan, yang akhir² ini memang sering dibutuhkan. Perjalanan mereka kali ini ke Mekah diceritakan –setelah bertahun²– oleh salah seorang dari mereka Halimah putri Abu Dhu'ayb, yang berangkat bersama suaminya, Harits, dan baru saja dikaruniai seorang bayi laki² yang mereka rawat sendiri.
Halimah menuturkan:
```Tahun ini musim kemarau. Kami tidak memiliki apa². Aku berangkat dengan mengendarai keledai betinaku yang kurus berwarna abu². Kami juga membawa seekor unta betina tua yang tak lagi bisa mengeluarkan susu setetes pun. Kami terbangun setiap malam oleh tangis kelaparan anak kami, karena susuku tak cukup membuatnya kenyang. Keledaiku begitu lemah dan kurus sehingga aku sering ketinggalan rombongan di perjalanan.```
Ia juga menceritakan bahwa mereka begitu mengharapkan curahan air hujan agar unta² dan keledai dapat merumput sehingga air susunya dapat keluar. Namun, hingga sampai di Mekah, tak setetes pun air hujan turun. setelah tiba, mereka segera menawarkan jasa pengasuhan anak, dan aminah pun menawarkan anaknya untuk diasuh mereka. Namun tak satupun menerima tawarannya. Halimah menjelaskan, "Itu karena kami berharap mendapatkan sesuatu yang berharga dari ayah anak itu. _Seorang anak yatim!_ Apa yang bisa diharapkan dari ibu dan kakeknya untuk kami?"
Mereka tidak mengharapkan pembayaran tunai dari jasa yang ditawarkan, karena seorang wanita dianggap tidak terhormat bila mengambil bayaran dari susu yang diberikannya kepada seorang anak. Balasan yang mereka harapkan, meskipun tidak diperoleh langsung, mencakup hal² yang lebih luas. Pertukaran manfaat antara penduduk kota dengan kaum nomaden ini adalah sesuatu yang alamiah; setiap ada yang miskin, pasti ada yang kaya. Demikian pula sebaliknya. Kaum nomad memiliki suatu cara hidup kuno yang di berikan oleh Tuhan untuk ditawarkan, cara hidup Abel. Sementara, putra² Cain –Cain adalah orang yg membangun desa pertama– memiliki harta dan kekuatan. Keuntungan yang diinginkan orang² Badui adalah memiliki ikatan dengan salah satu dari keluarga² besar ini. Seorang ibu angkat mengasuh seorang anak yg diharapkan menganggapnya sebagai ibu kedua dan merasa berkewajiban memeliharanya di akhir hayatnya. Anak itu juga akan menganggap dirinya sebagai saudara dari anak² kandungnya sendiri. Dan, bukan hanya suatu hubungan bendawi. Orang² Arab menganggap air susu dapat membuat suatu hubungan nasab, dan dapat juga menurunkan sifat² sang ibu kepada anak yang disusuinya. Namun, hanya sedikit atau hampir tak ada anak angkat yang mampu memelihara sendiri ibu angkatnya sebelum ia tumbuh dewasa. Maka, selama waktu itu, ayahnyalah yg dapat memenuhi kewajiban anaknya untuk memelihara ibu angkatnya. Seorang kakek terlalu jauh untuk itu; dan pada kasus ini, telah diketahui bahwa Abd al-Muththalib telah berusia lanjut, tak dapat dijamin hidup lebih lama lagi. Jika ia meninggal, putra²nya lah, bukan cucunya, yg akan menerima warisannya. Sementara, Aminah adalah wanita miskin; lalu si anak sendiri, ayahnya masih terlalu muda untuk dapat memiliki banyak harta; ia mewariskan kepada putranya tdk lebih dari 5 ekor unta, sejumlah anak domba dan kambing, dan seorang budak perempuan. Putra Abd Allah itu memang keturunan sebuah keluarga besar, namun sejauh ini, ia adalah anak paling miskin yg ditawarkan kepada para wanita tersebut pada tahun itu.
Di sisi lain, meskipun para orang tua angkat tidak mengharapkan untuk kaya, namun mereka juga tidak mau terlalu dililit kemiskinan. Dan, telah jelas bahwa Halimah dan suaminya adalah pasangan yg paling miskin diantara pasangan yg lain. Siapa pun yang dipilihnya, ia selalu kalah dengan pasangan yg lain; sehingga tak lama kemudian semua wanita Bani Sa'd telah memiliki anak asuh, kecuali Halimah sendiri. Tinggal seorang pengasuh termiskin yang tak mendapatkan titipan anak, dan hanya seorang anak termiskin yang tak mendapatkan pengasuh.
Halimah menuturkan:
```Saat kami memutuskan untuk meninggalkan Mekah, aku bilang kepada suamiku, "Aku enggan kembali ke rombongan teman² kita tanpa mendapatkan seorang bayi untuk disusui. Aku akan kembali ke anak yatim itu dan akan membawanya." "Terserah engkau lah", kata suamiku. "Mudah²an Allah memberikan berkah-Nya kepada kita lewat anak itu!" Maka aku pun pergi untuk mengambilnya, tak lain karena aku tak mendapatkan asuhan lain kecuali dia. Aku membawanya kembali ke tempat kendaraan kami ditambatkan. Tak lama setelah kudekap ia di dadaku, tiba² payudaraku penuh air susu untuk menyusuinya. Ia meminumnya sampai kenyang, dan saudara angkatnya pun sampai kenyang. Setelah itu, mereka tertidur nyenyak. Suamiku mendekati unta betina tua kami dan, astaga, susunya penuh! Ia pun meminumnya dan aku juga turut minum hingga begitu kekenyangan. Kami menjalani malam yg begitu menyenangkan, dan di pagi harinya suamiku berkata, "Demi Tuhan, Halimah, engkau telah mengambil makhluk yang diberkahi Tuhan!" "Begitulah harapanku", kataku. Selanjutnya, kami bersiap² untuk berangkat, dan aku kembali menaiki keledaiku sambil menggendong anak itu. Keledaiku berjalan dengan cepat menyalip rombongan yang lain; tak seekorpun dari keledai mereka yang dapat menyamai langkahnya. "Hebat sekali kalian!" kata mereka. "Tunggulah kami! Bukankah keledai yang kau tunggangi itu sama dengan keledai yang kemarin kalian naiki saat berangkat kemari?" "Ya, tentu saja", jawabku, "ia memang keledai yang sama." "suatu mukjizat telah datang kepadanya", komentar mereka.```
Halimah melanjutkan:
```kami sampai di perkemahan daerah Bani Sa'd, dan aku tahu bahwa tak ada tempat lain yang lebih gersang di muka bumi ini kecuali tempat tinggal kami itu. Namun, setelah kami datang membawa bayi laki² itu untuk tinggal bersama kami, domba² kami pulang setiap petang dengan ambing penuh air susu. Kami memerasnya dan meminumnya, sementara yang lain tak dapat menghasilkan air susu sedikit pun; hingga para tetangga kami berkata kepada para penggembalanya, "Gembalakan kambing² kami di dekat kambing² mereka merumput." Meskipun hal itu telah dilakukan, kambing² mereka tetap pulang dalam keadaan lapar dan tidak menghasilkan air susu, sementara kambing² kami tampak sehat dengan air susu yang cukup. Dan, kami tak pernah berhenti mensyukuri nikmat dari Tuhan ini hingga bayi itu telah berusia dua tahun, dan aku pun menyapihnya.
Ia tumbuh dengan baik, dan tak ada anak laki² lain yang dapat menyaingi pertumbuhannya. Setelah mencapai usia dua tahun, ia tumbuh menjadi anak yg cakap, dan kami membawanya kembali ke ibunya, meskipun kami sangat mengharapkan dia tetap tinggal untuk mendatangkan berkah bagi keluarga kami. Maka, akupun memohon kepada ibunya, "biarkan ia tinggal bersama kami hingga ia tumbuh lebih kuat, karena aku khawatir ia diserang penyakit di Mekah." Kami meminta kepada Aminah dengan sangat agar kami diberi kesempatan sekali lagi untuk memelihara dan mengasuh anak itu. Kamipun membawanya kembali pulang.
Suatu hari, beberapa bulan setelah kami kembali, ketika ia dan saudara laki² angkatnya sedang bermain dengan beberapa anak biri² di belakang kemah kami, saudara angkatnya itu lari mendekati kami dan berteriak, "Saudara Quraisy-ku! Dua laki² bergamis putih mengambilnya, membaringkannya, dan membelah dadanya. Lalu tangan mereka mengeluarkan isi dadanya." karena itu, aku dan ayahnya menemui anak itu dan melihatnya berdiri, tapi wajahnya pucat pasi. Kami memeluknya dan bertanya, "apa yg telah terjadi padamu anakku?" ia menjawab, "Dua orang berbaju putih mendatangiku, membaringkan aku dan membelah dadaku untuk mencari sesuatu yg aku sendiri tidak tahu."```
Halimah dan Harits berkeliling melihat sekitarnya, namun tak menjumpai dua laki² itu. Mereka juga tak melihat darah atau luka pada tubuh anak angkat mereka. Juga tak ada sedikitpun goresan pada dada anak angkat mereka itu atau cacat pada tubuhnya yang sehat. Hanya ada gambaran tak biasa di antara kedua punggungnya: satu tanda berbentuk oval, kecil tapi jelas, namun tanda itu telah ada sejak lahir.
Setelah beberapa tahun, Muhammad lebih mampu menceritakan kejadian itu dengan lebih jelas dan lengkap:
```Ada dua laki² datang kepadaku, berbaju putih, dengan sebuah baskom emas yang penuh dengan salju. Setelah itu mereka membaringkan tubuhku dan membelah dadaku, kemudian mengambil jantungku. Tampaknya, mereka membukanya dan mengambil segumpal darah hitam dari jantungku dan membuangnya. Lantas, mereka mencuci jantungku dan isi dadaku dengan salju itu.```
Ia juga berkata: "Setan menyentuh setiap anak adam pada saat ibunya melahirkannya, kecuali Maryam dan putranya."
*#009#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment