🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
0⃣9⃣ *DUA KEHILANGAN*
_______________________
Halimah dan Harits yakin bahwa kedua anak mereka telah berkata benar. Karena itu, mereka sangat ketakutan. Harits sangat khawatir jika anak angkatnya terkena suatu guna² roh jahat atau terserang sihir. Ia pun mengajak istrinya untuk segera mengembalikan anak itu kepada ibunya sebelum ditimpa kejadian yang mengerikan. Maka, Halimah membawanya kembali ke Mekah. Ia berniat tidak akan mengatakan apa alasan sebenarnya yang mengubah pikirannya. Namun, perubahan itu terjadi terlalu tiba² dan Aminah tak bisa mereka bohongi. Akhirnya ia menceritakan seluruh kejadiannya. Setelah mendengarnya, Aminah menenangkan Halimah agar tidak perlu takut dan berkata, "Peristiwa² besar telah terjadi pada putraku." Kemudian Aminah bercerita bahwa ketika mengandungnya, ia sangat sadar ada secercah cahaya memancar di dalam tubuhnya. Halimah menjadi tenang, tetapi sejak itu Aminah memutuskan untuk mengasuh sendiri putranya. "Tinggalkan ia bersamaku," katanya, "dan pulanglah dengan tenang".
Anak itu hidup bahagia di Mekah bersama ibunya selama 3 tahun. Ia mendapatkan perhatian lebih dari kakek, paman, bibi, dan sepupunya yang tinggal bersamanya. Yang paling menyayanginya adalah Hamzah dan Shafiyyah, dua anak Abd al-Muththalib dari perkawinan terakhirnya yang dilangsungkan bersamaan dengan perkawinan orang tua Muhammad. Hamzah seusia dengannya, sedangkan Shafiyyah lebih muda darinya –paman dan bibi dari garis ayahnya dan sepupu dari garis ibunya– dan terjalin suatu ikatan yang sangat erat diantara mereka bertiga.
Ketika Muhammad berusia 6 tahun, Aminah mengajaknya mengunjungi seorang kerabatnya di Yatsrib. Mereka turut dalam satu kafilah ke arah utara, mengendarai 2 ekor unta. Aminah menunggangi untanya, dan anaknya menaiki unta yg lain bersama budak perempuannya yang setia, Barakah. Di kemudian hari, Muhammad menceritakan kegembiraannya saat belajar berenang di rumah saudaranya, keluarga Khazraj, dan bagaimana saudaranya itu mengajarinya bermain layang². Namun, tak lama kemudian, saat perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit. Mereka pun berhenti dan ditinggal oleh rombongan. Setelah sakit beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa' –tidak jauh dari Yatsrib– dan disanalah ia dikuburkan. Barakah melakukan banyak hal untuk menghibur Muhammad, yang kini telah menjadi yatim piatu. Ia membawanya kembali ke Mekah bersama satu kafilah yg lain.
Sekarang, Muhammad diasuh sepenuhnya oleh kakeknya. Dan, kecintaan Abd al-Muththalib kepada 'Abd Allah pun segera tercurahkan kepada anaknya. Abd al-Muththalib sangat senang tinggal di dekat Ka'bah, seperti saat² ia mendapat perintah untuk menggali Zamzam. Karena itu keluarganya selau menghampar tikar untuknya di bawah naungan Ka'bah. Karena sangat menghormati ayah mereka, anak² Abd al-Muththalib, termasuk Hamzah, tidak berani turut duduk di atas tikar itu. Tapi, cucu kecilnya itu tak segan² duduk di atasnya. Jika para pamannya menyuruhnya pergi, Abd al-Muththalib akan berkata, "Biarkan cucuku tinggal bersamaku. Demi Tuhan, masa depan yang gemilang ada di tangannya!" Muhammad biasa duduk di samping Abd al-Muththalib di atas tikar itu, dan menunggangi punggungnya. Abd al-Muththalib merasa senang dengan semua kelakuan cucunya itu. Hampir setiap hari mereka tampak berduaan: bergandengan tangan di Ka'bah atau di mana pun mereka berada di kota Mekah. Abd al-Muththalib sering membawa Muhammad datang ke majelis –tempat berkumpulnya para kepala suku di kota itu, yang jumlahnya lebih dari 40 orang– untuk mendiskusikan berbagai masalah. Bahkan, laki² berusia 80 tahun itu tak malu² menanyakan pendapat bocah berumur 7 tahun itu tentang banyak hal. Saat Abd al-Muththalib ditanya oleh para sahabatnya yang terkemuka, ia selalu berkata, "Masa depan cucuku ini sungguh gemilang".
Dua tahun setelah kematian ibunya, anak yatim piatu itu juga kehilangan kakeknya. Sesaat sebelum meninggal dunia, Abd al-Muththalib memercayakan cucunya kepada Abu Thalib, saudara kandung ayah Muhammad. Abu Thalib melanjutkan perhatian dan rasa sayang kepada kemenakannya, yang telah diamanatkan ayahnya kepadanya. Sejak saat itu si bocah dianggap anaknya sendiri, dan istrinya, Fathimah, berusaha sebisa mungkin untuk menggantikan posisi ibunya. Di kemudian hari, Muhammad sering mengatakan tentang Fathimah, bahwa ia membiarkan anak kandungnya sendiri lebih lapar ketimbang dirinya, sang kemenakan.
*#010#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment