🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
1⃣0⃣ *PENDETA BAHIRA*
_______________________
Menjelang akhir hidupnya, kekayaan Abd Al-Muththalib merosot. Ketika meninggal, warisan yang ia tinggalkan untuk masing² anaknya hanya sedikit. Sebagian dari mereka, terutama 'Abd al-'Uzzah yg dikenal dengan Abu Lahab, telah memiliki kekayaan sendiri. Tetapi, Abu Thalib hidup miskin, dan kemenakannya perlu bekerja semampunya untuk mendapatkan nafkah sendiri. Muhammad banyak bekerja sebagai pengembala domba dan kambing. Dari hari ke hari, ia mengembala sendirian di perbukitan Mekah atau di lereng² pegunungan. Di samping itu, pamannya kadang² membawanya dalam berbagai perjalanan.
Suatu ketika, saat Muhammad sembilan tahun –atau menurut yang lain dua belas tahun– keduanya pergi bersama kafilah saudagar ke negeri Syria. Di Bostra, di dekat sebuah tempat persinggahan para saudagar Mekah, berdiri sebuah biara yang dihuni seorang pendeta kristen dari masa ke masa. Ketika sang pendeta meninggal, yang lain menggantikannya dan mewarisi semua yang ada dalam biara, termasuk manuskrip² kuno. Di antaranya ada satu manuskrip yang berisi ramalan tentang datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab. Bahira –pendeta yang sekarang hidup di biara itu–benar² menguasai kandungan kitab ini. Ramalan itu membuatnya sangat tertarik karena –seperti Waraqah– dia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.
Bahira sudah sering melihat kedatangan kafilah Mekah yang singgah tak jauh dari biaranya. Tetapi kali ini perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: segumpal awan bergelayut rendah bergerak pelan di atas kepala mereka sehingga awan itu selalu berada di antara matahari dan satu atau dua musafir dari kafilah itu. Dengan sangat tertarik, dia melihat dari dekat. Tiba² perhatiannya berubah menjadi kekaguman, karena begitu mereka berhenti, awan itupun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal di atas pohon yang di bawahnya mereka berteduh, sementara pohon itu merundukkan dahan²nya di atas mereka. Dengan demikian, mereka berteduh di bawah dua naungan. Bahira tahu bahwa pertanda itu, walaupun tidak menonjol, mempunyai signifikansi yang tinggi. Hanya orang yang punya kepekaan spiritual tinggi yang bisa menjelaskannya. Dan segera dia berpikir tentang nabi yang diharapkan itu. Benarkah akhirnya dia datang juga, dan berada diantara musafir² itu?
Biara itu baru saja mendapatkan berbagai persediaan makanan. Bahira menyuguhkan semua yang dimilikinya dan berkata kepada para musafir, "Wahai kaum Quraisy! Aku telah menyediakan makanan untukmu. Aku berharap kalian semua datang kepadaku, tua dan muda, budak ataupun orang merdeka." Maka, mereka pun datang ke biaranya. Tetapi sekalipun Bahira telah berkata demikian, mereka meninggalkan Muhammad di belakang untuk menjaga unta dan barang² mereka. Ketika mereka mendekat, Bahira menatap wajah mereka satu per satu. Namun, tak satupun yang ia lihat sesuai dengan penggambaran dalam kitabnya; tidak juga ada seorangpun diantara mereka yang pantas bagi kebesaran dua mukjizat itu. Barangkali mereka belum datang seluruhnya. "Wahai kaum Quraisy,", seru Bahira, "jangan sampai ada seorangpun dari kalian yang tertinggal." "Tidak ada seorang pun yang tertinggal", jawab mereka, "kecuali seorang lelaki yang masih kanak²!" "Jangan perlakukan dia seperti itu", kata Bahira. "Ajaklah dia kesini! Biarkan dia hadir bersama kita dalam perjamuan makan ini." Abu Thalib dan yang lain saling menyalahkan atas kecerobohan mereka. "Kita benar² terkutuk!" tukas salah seorang dari mereka. "Anak 'Abd Allah kita tinggalkan di belakang dan tidak turut makan bersama kita!" Segera ia menemui anak itu dan memeluknya, lalu membawanya duduk bersama yang lain.
Pandangan sekilas ke wajah pemuda itu telah cukup bagi Bahira untuk menjelaskan adanya mukjizat itu. Selama perjamuan itu, dia menatap Muhammad dengan seksama dan dia menemukan beberapa bagian dari wajah dan badannya yg cocok dengan yang dilukiskan dalam kitabnya. Maka setelah mereka selesai bersantap, pendeta itu menghampiri tamu termudanya itu dan menanyakan tentang pola hidupnya, tidurnya, dan urusannya sehari². Muhammad pun menjawab semua yang ditanyakannya dengan sigap, karena pendeta itu patut dihormati dan pertanyaan²nya pun diajukan dengan sopan dan baik. Muhammad juga tidak ragu² melepaskan jubahnya ketika diminta pendeta itu agar dapat melihat punggungnya. Bahira telah merasa yakin, namun kini ia semakin yakin karena di tempat itu, diantara kedua punggung Muhammad, ada sebuah tanda yang ia lihat, sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti yang digambarkan dalam kitabnya. Ia kembali kepada Abu Thalib. "Apa hubunganmu dengan anak itu?" ia bertanya. "Dia anakku", kata Abu Thalib. "Dia bukan anakmu. Tidak mungkin ayahnya masih hidup", tegas sang pendeta. "Dia anak saudaraku", kata Abu Thalib. "Lalu siapa ayahnya?" "Dia telah meninggal", jawab yg lain, "ketika pemuda itu masih dalam kandungan ibunya". "Itu yg benar", kata Bahira. "Bawalah anak saudaramu ini kembali ke negerinya, dan lindungilah dia dari kaum Yahudi. Demi Tuhan, kalau mereka melihatnya dan tahu seperti aku mengenalnya, mereka akan berbuat jahat terhadapnya! Anak saudaramu ini kelak akan menjadi orang besar.
*#011#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada manfaatnya bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment