Friday, April 3, 2020

Kisah Rasul bagian 65

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣5⃣ *KEBOHONGAN*
_______________________

TAK lama setelah kembali ke Madinah, 'A'isyah jatuh sakit. Pada saat itu, fitnah yang dihembuskan orang-orang munafik tentang dirinya dan Shafwan telah menjadi bahan perbincangan di seluruh kota itu. Memang sedikit orang yang menganggapnya serius berita itu, namun di antara mereka adalah keponakannya sendiri, Misthah, dari suku Muththalib. Namun, entah mereka percaya atau tidak, setiap orang mengetahui hal itu, kecuali 'A'isyah sendiri. Ia hanya tahu sikap Nabi yang kurang perhatian, tidak seperti biasanya ketika ia sakit. Beliau datang ke kamar dan berkata kepada orang yang merawatnya, "Bagaimana kabar kalian hari ini?" 'A'isyah tidak di sebut secara khusus. Karena sangat sedih, namun terlalu gengsi untuk mengeluh, ia meminta izin kepada beliau untuk pergi ke rumah orang tuanya agar dapat dirawat ibunya. "Baiklah," kata Nabi.

Untuk mengenang kembali peristiwa itu, 'A'isyah menuturkan dalam kata-katanya sendiri:
```Aku pergi menemui ibuku, tak tahu apa yang telah dikatakan orang, dan aku sembuh kira-kira dua puluh hari kemudian. Suatu sore, aku keluar bersama ibu Misthah –ibunya saudara ibunda ayahku– dan ketika ia sedang berjalan di sampingku, ia tersandung bajunya sendiri dan berseru, "Semoga Misthah keliru!" "Demi Tuhan," kataku, "tidak baik mengucapkan hal itu kepada seorang Muhajirin yang berjuang di Perang Badr!" "Wahai putri Abu Bakr," katanya, "apakah berita itu tidak sampai kepadamu?" "Berita apa?" tanyaku. Lantas ia menceritakan kepadaku apa yang dikatakan para pemfitnah itu dan bagaimana orang-orang telah memperbincangkan cerita itu. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanyaku. "Demi Tuhan, itulah yang terjadi!" begitulah jawabannya. Aku pulang dengan menangis. Aku terus menangis dan menangis sampai aku berpikir bahwa tangisanku itu dapat memecahkan hatiku. "Tuhan memaafkanmu!" kataku kepada ibuku. "Orang-orang membicarakan aku dan engkau tidak sedikit pun mengatakan tentang hal itu!" "Gadis kecilku," katanya, "jangan anggap itu serius, karena jarang seorang wanita cantik yang menikahi seorang lelaki yang mencintainya, melainkan istri-istri lainnya menggosipkannya dan orang lain mengulangi perkataan mereka." Karena itu, aku berjaga sepanjang malam, dan tak henti-hentinya air mataku berlinang".```

Namun kenyataannya, sebesar apa pun kecemburuan yang mencuat antara satu istri dengan istri lainnya, semua istri Nabi adalah wanita yang taat, tidak ada seorang pun yang terlibat menyebarkan fitnah tersebut. Sebaliknya, mereka membela 'A'isyah dan berbicara baik tentangnya. Orang yang paling patut disalahkan, yang terdekat rumahnya kepada keluarga Nabi, adalah sepupunya, Hamnah, saudara perempuan Zaynab, yang mengulangi fitnah itu, mengira dengan demikian dapat memuluskan kepentingan saudaranya: karena telah diketahui secara umum selain Aisyah, Zaynab akan menjadi istri favorit Nabi; dan Zaynab sangat sedih dengan pikiran buruk saudaranya itu demi kepentingan dirinya. Pemfitnah lainnya, selain Misthah, adalah penyair Hassan ibn Tsabit, didukung oleh Ibn Ubayy dan orang-orang Munafik lainnya yang telah memulai semuanya ini.

Nabi sangat berharap mendapatkan wahyu, namun ketika tidak ada wahyu yang turun, beliau tidak hanya bertanya kepada para istrinya melainkan juga kepada orang terdekat dengan 'A'isyah yang lain. Usamah, yang seusia dengan "Aisyah, berbicara dengan tegas membelanya. "Semua ini adalah dusta," katanya, "kita tahu ia orang yang jujur." Ibunya, Umm Ayman, begitu pula memuji 'A'isyah Sedangkan Ali berkata, "Allah tidak membatasimu, dan masih banyak wanita lain selain dia. Tapi, tanyakanlah kepada pembantunya. Ia akan menceritakan yang sebenarnya". Karena itu, Nabi memanggil pembantunya dan bertanya, "Hai Burayrah, pernahkah engkau melihat sesuatu yang membuatmu curiga pada 'Aisyah?" la menjawab, "Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku hanya tahu yang baik saja tentangnya; dan jika terdapat yang lain, niscaya Allah akan memberi tahu Rasul-Nya. Satu-satunya kesalahan yang kutemukan pada diri 'A'isyah adalah ketika ia masih seorang gadis muda, saat aku membuat adonan roti dan aku memintanya untuk mengawasinya, lalu ia tertidur dan domba piarannya datang memakannya. Aku memarahinya karena hal itu."

Setelah itu, Nabi pergi ke masjid dan naik ke mimbar. Setelah memuji Allah, beliau berkata, "Hai umatku, apakah kalian mengatakan hal yang melukaiku tentang keluargaku, melaporkan dari mereka sesuatu yang tidak benar? Demi Tuhan, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan dari rumah tanggaku, dan tidak ada selain kebaikan pada lelaki yang mereka perbincangkan itu, orang yang tidak pernah masuk ke dalam rumahku selain jika aku bersamanya." Tidak lama setelah beliau berbicara, Usayd bangkit dan berkata, "Hai Rasulullah, jika mereka orang Aws, kami akan mengatasi mereka; dan jika mereka saudara kami dari Khazraj, maka berikanlah perintahmu kepada kami, karena mereka patut dipenggal kepalanya." Sebelum ia selesai, Sa'd ibn 'Ubadah telah berdiri, karena Hassan adalah orang Khazraj, begitu pula mereka yang sejak awal telah turut menyebarkan fitnah. "Demi Tuhan, engkau pembohong!" katanya. Engkau tidak boleh dan tidak dapat membunuh mereka. Engkau juga tidak berhak berkata demikian karena mereka adalah kaummu." "Demi Tuhan, engkaulah yang pembohong!" kata Usayd. "Kita wajib membunuh mereka, dan engkau seorang munafik, berupaya keras demi kepentingan orang-orang munafik" Pada saat itu, kedua suku hampir saling bersitegang satu sama lain, namun Nabi menghentikan mereka. Beliau turun dari mimbar, menenangkan dan mendamaikan mereka.

Seandainya 'A'isyah tahu bahwa Nabi telah membelanya di depan publik dari mimbar, tidak pelak lagi, ia pasti akan sangat senang. Namun, ia tidak mengetahui hal itu. Ia hanya tahu bahwa beliau bertanya tentangnya kepada orang lain, yang membuatnya tidak dapat berbuat apa-apa dan sangat menyedihkannya. Ia tidak mengharapkan beliau melihat langsung ke lubuk jiwanya, karena ia tahu bahwa pengetahuan beliau tentang hal yang tersembunyi datang kepadanya dari alam lain. "Yang kuketahui hanya yang Allah beri tahukan kepadaku," kata beliau. Ia tidak peduli dengan pikiran orang- orang, namun ia berharap, Nabi tahu bahwa kesetiaannya sedemikian rupa terhadap beliau tidak mungkin ia melakukan sesuatu yang difitnahkan tersebut.

Di lain pihak, tidaklah cukup bahwa beliau sendiri harus percaya bahwa 'A'isyah dan shafwan tidak bersalah. Situasinya begitu serius, dan memerlukan bukti yang dapat meyakinkan seluruh masyarakat. Pada akhirnya, 'Aisyah sendiri yang membuktikan. Ini menunjukkan betapa lemahnya pertolongan dari semua yang memberikan perhatian. Inilah saatnya ia memecah kebisuannya. Segala yang dikatakannya tidak berarti akan dapat mengatasi persoalan. Namun, Alquran menjanjikan bahwa seluruh pertanyaan yang diajukan selama periode turunnya wahyu akan diberikan jawaban. Pada kasus yang tengah berlangsung ini, Nabi telah memenuhi udara dengan pertanyaan² –satu pertanyaan yang diulang-ulang kepada orang yang berbeda-beda. Kendatipun hal ini dimaksudkan untuk mendapat jawaban yang dijanjikan dari Langit, barangkali perlulah pertanyaan ini diajukan kepada orang yang sangat terlibat.

'A'isyah menuturkan:
```Aku bersama kedua orang tuaku dan aku menangis selama sehari dua malam. Ketika mereka sedang duduk bersamaku, seorang wanita Anshar bertanya, apakah ia boleh bergabung dengan kami, dan kupersilakan ia masuk. Ia duduk dan menangis bersamaku. Kemudian, Nabi datang dan duduk. Beliau tidak pernah duduk bersamaku sejak orang-orang menyebarkan cerita bohong tersebut. Sebulan telah berlalu, dan tidak ada kabar yang turun dari Langit mengenaiku. Setelah mengucapkan kesaksian``` _tidak ada tuhan selain Allah_, ```beliau berkata: "Hai Aisyah, aku telah diberi tahu tentang dirimu begini dan begitu. Jika engkau tidak bersalah, pastilah Allah akan mengumumkan bahwa engkau tidak bersalah; dan jika engkau telah melakukan hal yang buruk, maka mintalah maaf dan pengampunan kepada Allah: karena sesungguhnya jika seorang hamba mengakui kesalahannya dan bertaubat, Allah akan mengampuninya." Tidak lama setelah beliau berbicara, air mataku jatuh berderai dan aku menyuruh ayahku, "Jawablah pertanyaan Rasulullah untukku," dan ia berkata, "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan" Ketika kuminta ibuku, ia mengatakan hal yang sama. Aku hanyalah seorang gadis belia dan belum banyak ayat Alquran yang dapat kubacakan. Karena itu, aku berkata, "Aku benar-benar tahu bahwa engkau telah mendengar apa yang telah dikatakan orang, dan hal itu telah tertanam di dalam hatimu dan engkau telah memercayainya; dan jika kukatakan kepadamu bahwa aku tidak bersalah –dan Allah Mahatahu bahwa aku tidak bersalah– engkau tidak akan memercayaiku. Sebaliknya, jika aku mengaku bersalah, padahal Allah Mahatahu bahwa aku tidak bersalah –engkau akan memercayaiku." Lalu, terlintas dalam pikiranku tentang Yaqub, namun aku tak dapat mengingatnya. karena itu, aku berkata, "Tetapi, aku akan berkata sebagaimana ayah Nabi Yusuf berkata,``` _'kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan'"_ (Q.S. 12: 18). ```Kemudian, aku menuju ke tempat tidurku dan berbaring di situ, berharap agar Allah akan mengumuman bahwa aku tidak bersalah. Aku tidak mengira, Allah akan menurunkan wahyu atas kejadianku, ini karena menurutku, kasusku terlalu ringan untuk diungkapkan di dalam Alquran. Namun, aku berharap agar Nabi dapat melihat dalam mimpinya sebuah gambaran yang membersihkan diriku dari tuduhan itu.

Beliau masih duduk bersama kami dan semuanya tetap hadir ketika sebuah wahyu turun kepadanya: beliau diliputi rasa sesak mendadak yang kerap beliau alami saat menerima wahyu. Keringatnya keluar deras, meskipun cuaca hari itu agak dingin. Setelah beliau pulih dari rasa sesak tadi, beliau berkata dengan nada suara bergetar penuh kegembiraan: "Hai 'A'isyah, segala puji bagi Allah, karena Dia telah mengumumkan bahwa engkau tidak bersalah." Lantas ibuku berkata, "Bangunlah dan temuilah Rasulullah," dan aku berkata, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan bangun dan menghadap beliau, aku tidak akan berterima kasih selain kepada Allah."```

Kata-kata yang membersihkan 'A'isyah dari tuduhan adalah:

_Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga... Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar. Mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman_ (Q.S. 24: 11, 15-17).

Wahyu baru juga diturunkan, menjawab seluruh pertanyaan tentang perzinaan yang dilakukan orang yang sudah menikah. Ketika menjelaskan tentang hukuman, dijelaskan pula hukuman bagi pemfitnah wanita-wanita yang terhormat: seorang yang memfitrah harus dicambuk. Hukuman ini diberlakukan terhadap Misthah, Hassan dan Hamnah, yang secara eksplisit menyebarkan berita bohong itu dan mengakui kesalahan mereka. Namun, orang-orang munafik, yang lebih berkhianat, hanya melakukannya secara implisit, mereka juga tidak mengakui telah turut serta dalam penyebaran fitnah tersebut. Karenanya, Nabi cenderung untuk tidak memberlakukan hukuman itu kepada mereka, melainkan diserahkan ke Allah.

Abu Bakr telah terbiasa memberikan pinjaman uang kepada kerabatnya, Misthah, karena ia miskin. Namun, sekarang ia berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memberi Misthah lagi, dan tidak akan pernah lagi membantunya, setelah apa yang ia lakukan terhadap 'A'isyah, dan setelah musibah yang ia timpakan kepada kami." Namun, turun wahyu:

_Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang behijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang_ (Q.S. 24: 22).

Kemudian, Abu Bakr berkata, "Sungguh aku berharap Allah mengampuniku." Dan ia kembali kepada Misthah, memberikan apa yang biasa ia berikan kepadanya dan berkata, Aku bersumpah akan selalu memberi kepadanya!" Demikian pula Nabi, setelah saat-saat itu berlalu, beliau begitu bermurah hati kepada Hassan; dan beliau menikahkan keponakannya, Hamnah, janda Mush'ab, dengan Thalhah, dan mereka memiliki dua orang anak.

*#098#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment