Friday, April 3, 2020

Kisah Rasul bagian 64

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣4⃣ *KALUNG*
_______________________

'A'ISYAH dan Umm Salamah menemani Nabi dalam ekspedisi ini. Saat matahari tenggelam, mereka istirahat selama dua-tiga hari setelah menempuh perjalanan melelahkan, seuntai kalung onik yang dipakai 'A'isyah terlepas dan jatuh ke tanah tak terlihat. Ia baru sadar kehilangan kalungnya ketika malam sudah gelap dan tidak dapat dilakukan pencarian. Padahal ia tidak mau pergi tanpa kalung itu. Ibunya mengalungkan di lehernya pada hari pernikahannya. Kalung itu harta miliknya yang paling berharga. Di lokasi pemberhentian itu tidak ada sumber air dan Nabi bermaksud hanya singgah sejenak, tapi kini Beliau memberi perintah agar mereka menginap sampai pagi. Alasan perubahan rencana ini disampaikan dari mulut ke mulut. Di antara pasukan banyak yang kesal karena harus menunggu di tempat yang tidak menyenangkan itu hanya karena seuntai kalung. Beberapa sahabat datang dan mengeluh kepada Abu Bakr. Abu Bakr sangat malu dan merasa bersalah karena keteledoran putrinya itu. Tidak ada satu sumurpun yang dapat dijangkau. Persediaan air mereka telah habis. Kantong kulit dan botol² mereka belum terisi lagi. Dan karena tak dapat berwudhu, mereka tidak mungkin mendirikan salat subuh. Namun, pada detik² terakhir malam itu, wahyu tentang bertayamum diturunkan kepada Nabi –suatu kejadian yang tak terkirakan pentingnya bagi praktek kehidupan masyarakat, _"Jika kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu"_ (Q.S. 4: 43). Luapan kegembiraan menyelimuti seluruh pasukan, dan Usayd berkata, "Ini bukanlah keberuntungan pertama yang engkau bawakan kepada kami, hai keluarga Abu Bakr!"

Setelah siang tiba, kalung itu masih belum ditemukan. Namun, disaat semua harapan telah hilang, dan mereka telah bersiap² untuk berangkat tanpa kalung itu, unta 'A'isyah bangkit dari tempatnya berlutut sepanjang malam, dan ternyata kalung itu tergeletak di bawah unta tersebut.

Salah satu tempat pemberhentian mereka adalah lembah yang menyenangkan dengan hamparan pasir yang luas. Dua tenda Nabi dipancangkan, seperti biasanya terpisah dari tenda² lainnya, dan hari itu giliran 'A'isyah untuk bersama beliau. Di kemudian hari, 'A'isyah mengenang kembali bagaimana beliau mengusulkan agar mereka berlomba. "Aku mengenakan jubahku", katanya, "dan Nabi melakukan hal yang sama. Lantas kami berlomba, dan beliau memenangkan perlombaan". "Ini untuk perlombaan lainnya di mana engkau menang atasku", kata Nabi. Beliau mengingatkan pada peristiwa yang terjadi di Mekah, sebelum hijrah. 'A'isyah menambahkan, "Beliau datang ke rumah ayahku dan aku sedang memegang sesuatu, lalu Nabi berkata, 'Berikanlah itu kepadaku', tetapi aku tidak memberikannya, melainkan lari darinya. Lantas beliau mengejarku, namun aku terlalu cepat baginya".

Untaian kalung "Aisyah tidaklah kuat, dalam satu tempat pemberhentian terakhir sebelum mereka sampai di Madinah, kalung itu terlepas lagi dari lehernya. Hal ini berlangsung saat perintah keberangkatan telah diberikan dan ia harus meninggalkan perkemahan untuk memenuhi perintah itu. Dalam perjalanan pulang, ia dan Umm Salamah duduk di hawdahnya masing-masing, menutup tirainya dan membuka jilbabnya. Saat itulah Aisyah baru sadar, ia telah kehilangan kalungnya. Ia pun keluar dari balik tirai untuk mencarinya. Sementara itu, orang-orang telah mengarahkan untanya dan menempatkan kedua hawdah ke atas punggung masing-masing untanya. Mereka telah terbiasa dengan perbedaan berat antara keduanya –satu wanita berusia tiga puluh tahun, satunya lagi empat belas tahun– dan mereka tidak teliti bahwa kali ini hawdah yang lebih ringan itu menjadi lebih ringan lagi dari biasanya. Maka, mereka menuntun unta itu, bergabung melakukan perjalanan tanpa berpikir panjang lagi. "Kalungku telah kutemukan," kata Aisyah, "aku kembali ke perkemahan, tapi di sana sudah tidak ada orang. Lalu aku pergi ke tempat hawdahku berada. Aku pikir mereka akan kehilangan aku dan akan kembali menjemputku. Ketika duduk di sana, mataku terasa berat, lalu jatuh tertidur. Aku tertidur di sana ketika Shafwan putra al-Mu'attal lewat. la tertinggal di belakang para pasukan karena beberapa alasan dan tidak tidur di perkemahan. Karena melihatku, ia datang dan berdiri di hadapanku. la telah biasa melihatku sebelum jilbab diwajibkan atas kami. Ketika ia mengenaliku, ia berkata, _'Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali._ Ini istri Rasulullah.'" Lantunan ayatnya membuat Aisyah terbangun; lalu ia memasang purdah ke wajahnya. Shafwan menawari Aisyah untuk naik ke untanya dan mengawalnya, sementara ia sendiri berjalan kaki, sampai ke pemberhentian berikutnya.

Setibanya pasukan di sana, hawdah Aisyah telah diangkat dari punggung unta dan diletakkan ke tanah. Ketika ia tidak keluar dari sekedup itu, mereka mengira bahwa ia tertidur. Mereka kemudian terkejut, ketika tiba di pemberhentian terakhir, dan orang-orang beristirahat, Aisyah menunggangi unta ke perkemahan dikawal oleh Shafwan. Hal ini menjadi awal mula skandal yang mengguncangan Madinah, dan lidah-lidah kaum munafik tidak pernah lelah memulainya. Namun untuk sementara, Nabi, Aisyah, dan mayoritas para sahabat tidak menyadari persoalan yang tengah terjadi.

Harta rampasan perang dibagikan seperti biasanya dan salah seorang tawanan, Juwayriyah putri Harits –pemimpin suku yang kalah. Ia menjadi bagian seorang Anshar yang memberikan harga tinggi bagi pembebasannya. Juwayriyah datang menemui Nabi untuk meminta beliau turut campur atas namanya. Beliau saat itu sedang berada di rumah Aisyah. Aisyah yang membukakan pintu baginya, yang setelah itu menuturkan: "Juwayriyah wanita yang sangat cantik. Siapa pun lelaki yang melihatnya, pasti terpikat olehnya.

Dan ketika aku melihatnya di pintu kamarku, aku diliputi perasaan was-was, karena aku tahu, Nabi akan melihat wanita ini seperti yang kulihat, la masuk menemui beliau dan berkata, 'Hai Rasulullah, aku adalah Juwayriyah, putri Harits, pemimpin kaumnya. Enggau benar- benar tahu musibah yang menimpaku, dan aku datang untuk memohon bantuanmu mengenai pembebasanku,' Beliau menjawab, 'Apakah engkau menginginkan yang lebih baik dari itu?' 'Apa yang lebih baik itu?' tanyanya, dan beliau menjawab, 'Aku akan menebus pembebasanmu dan menikahimu.'" Juwayriyah menerima tawarannya dengan senang hati. Namun, sebelum pernikahan dilangsungkan, ayahnya datang membawa beberapa ekor unta untuk menebusnya. Jumlah unta itu tidak seperti yang semula ditawarkan kepada Nabi, karena di Lembah Aqiq, tak lama sebelum sampai di oasis itu, ia baru melihat hewan sebagus itu. Dan begitu terpesona kepada dua di antaranya, maka ia pisahkan dari yang lain dan ia menyembunyikannya di salah satu jalan di Lembah itu dan tidak dibawa serta dengan unta lainnya. Sisanya, ia berikan kepada Nabi, katanya, "Hai Muhammad, engkau telah menawan putriku dan ini untuk menebus pembebasannya" "Tapi mana," tanya Nabi, "kedua unta yang engkau sembunyikan di Lembah Aqiq?" Kemudian, beliau menjelaskan secara detail tempat di mana kedua unta itu disembunyikan oleh Harits. Lantas Harits berkata, "Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah Utusan Allah"; dan dua anaknya masuk Islam bersamamya. Ia mengirim orang untuk mengambil kedua unta itu dan diberikan kepada Nabi, kemudian menyerahkan putrinya kepadanya. Setelah itu, Juwayriyah sendiri masuk Islam. Nabi melamarnya dan ayahnya mengabulkan. Sebuah kamar pun dibangun untuknya.

Ketika diketahui bahwa Bani Mushthaliq kini menjadi kerabat Nabi dengan pernikahan itu, kaum Muhajirin dan kaum Anshar membebaskan para tawanan mereka yang belum ditebus. Ada sekitar seratus keluarga yang dibebaskan. "Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang begitu membawa berkah sangat besar kepada kaumnya daripada Juwayriyah," kata 'Aisyah.

*#097#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment