Friday, April 3, 2020

Kisah Rasul bagian 63

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣3⃣ *ORANG-ORANG MUNAFIK*
_______________________

KEBERHASILAN Zayd mencegat kafilah yang melewati rute sebelah timur itu membuat Quraisy sekali lagi berpikir untuk mengambil rute sebelah barat yang sangat mereka sukai. Dan kini, mereka menghasut sekutu² pesisir Laut Merah mereka, Bani Musthaliq –untuk melancarkan serangan ke Madinah. Tanpa ragu² mereka berharap para penyerang itu akan didukung oleh suku² pesisir lainnya, hingga membuka kembali jalan bagi mereka sendiri. Namun, berbagai kabilah Khuza'ah yang lain lebih condong kepada Nabi daripada kepada orang² Mekah. Berita rencana ini pun sampai kepada Nabi pada waktu yang tepat. Dengan demikian, beliau diberi kesempatan untuk menunjukkan kekuatan, bahkan juga menambah kekuatan di sepanjang rute barat, dengan beberapa barisan yang bergerak dari Mekah itu sendiri. Setelah delapan hari, sebelum Bani Musthaliq bersiap untuk berangkat, beliau telah berkemah di daerah mereka, di salah satu tempat perairan mereka. Dari sanalah beliau bergerak maju dan secepat mungkin mengepung para penghuni tenda itu, yang akhirnya menyerah tanpa banyak perlawanan. Hanya satu orang muslim yang terbunuh, dan di pihak musuh kira² sepuluh orang. Sekitar dua ratus keluarga dijadikan tawanan. Harta rampasan sekitar dua ribu unta, lima ribu domba dan kambing.

Tentara muslim berkemah di sana selama beberapa hari, namun tiba² dihentikan sejenak oleh suatu kejadian yang tak menguntungkan. Suatu pertengkaran terjadi di salah satu sumur antara dua suku pesisir, Ghifar dan Juhaynah, karena memperebutkan ember, dan akhirnya mereka bertarung. Seorang Ghifar, yang diangkat 'Umar untuk menuntun kudanya, berteriak meminta tolong –"Hai Quraisy"--sementara orang Juhaynah memanggil sekutu tradisionalnya, Khazraj. Banyak orang yang naik darah ikut terlibat, baik Muhajirin maupun Anshar. Pedang telah dihunus dan pertumpahan darah nyaris terjadi, kalau saja tidak ada campur tangan para sahabat Nabi terdekat di kedua belah pihak. Biasanya persoalan ini sudah tak akan terjadi. Namun, hal itu terjadi karena banyak orang munafik yang turut serta dalam ekspedisi kali ini. Itu terjadi di wilayah yang terkenal dan memiliki persediaan air yang baik.

Sejak awal kaum munafik berharap meraih kemenangan dengan mudah dan mendapatkan harta rampasan yang berharga. Bagaimanapun juga, mereka tidak siap mengubah pandangan mereka, melainkan tetap bertahan memandang ekpedisi yang keluar dari Yatsrib sebagai upaya penjarahan Khazraj dan 'Aws dengan bantuan kelompok asing. Hal itu pula yang terjadi pada keturunan Qaylah yang kamp-nya sedang diduduki: para pengungsi Quraisy yang berada di sana, sebagaimana di tempat lain, hanya untuk bertahan. Dalam rangka berfikir demikian, Ibn Ubayy duduk terpisah dengan teman sekelompoknya ketika suara pertengkaran itu terdengar oleh mereka, dan salah seorang pergi melihat apa yang terjadi. Ia kembali melaporkan dengan benar, bahwa orangnya 'Umar sepenuhnya dipersalahkan, dan ia diserang pertama kali. Hal ini meniupkan udara segar bagi percikan api kebencian yang mereka alami sejak Perang Parit. Selama lima tahun terakhir, ketegangan secara berangsur² meningkat hingga kehadiran Nabi dan kaum Muhajirin membuat seluruh Arab menentang mereka. Selain itu, suku² Yahudi kaya dan terhormat yang memainkan peran penting di masyarakat telah dihancurkan –dua diusir dan yang ketiga dibunuh. Perang sipil di oasis itu sungguh² menuntut sebuah penyelesaian. Ibn Ubayy yakin bahwa jika dirinya diangkat sebagai raja, ia akan tahu bagaimana mengakhiri konflik ini tanpa melibatkan kaumnya dalam situasi yang berbahaya. Dan sekarang, para pengungsi yang melarat itu tidak malu² menghalangi jalan para pemiliknya ke sumur itu. "Apakah mereka telah berbuat sejauh itu?" tanya Ubayy. "Mereka ingin mendahului kita, mereka mendesak kita keluar dari kota kita sendiri, dan hal itu sia² bagi kita seperti ucapan Quraisy dengan pepatah lamanya, 'Berilah makan anjingmu sampai gemuk, ia akan mengikutimu'. Demi Tuhan, setelah kita kembali ke Madinah, orang kita yang terhormat dan termulia akan mengusir orang yang lemah dan lebih rendah". Seorang pemuda Khazraj, Zayd, yang sedang duduk di tepi lingkaran, segera pergi menemui Nabi dan menceritakan apa yang telah dikatakan Ibn Ubayy. Raut wajah Nabi berubah. 'Umar yang bersamanya mengusulkan agar beliau segera memenggal kepala penghianat itu, namun beliau berkata, "Apa yang akan dikatakan orang, hai 'Umar, bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri?" Sementara itu, seorang Anshar menemui Ibn Ubayy dan menanyakan apakah benar ia telah berkata seperti yang dilaporkan pemuda itu. Ibn Ubayy langsung menemui Nabi dan bersumpah bahwa dirinya tidak pernah mengatakannya. Beberapa orang Khazraj yang hadir juga berbicara membelanya, bermaksud untuk menghindari kesulitan. Nabi membiarkannya, seolah² kejadian itu telah berakhir; namun langkah yang lebih pasti untuk menghindari kesulitan itu adalah dengan menyibukkan pikiran orang² itu dengan sesuatu yang lain. Lalu beliau memerintahkan mereka untuk segera membongkar perkemahan.

Sebelumnya Nabi tidak pernah pindah pada waktu seperti itu: tak lama setelah tengah hari. Berhenti sejenak waktu salat, mereka tetap berjalan di tengah teriknya siang hari. Mereka terus berjalan hingga malam tiba, dan dilanjutkan salat fajar, hingga terik siang hari berikutnya yang menimbulkan kelelahan. Ketika mereka kemudian diperintahkan untuk mendirikan kemah, mereka terlalu lelah untuk melakukan sesuatu selain tidur. Selama perjalanan, Nabi meyakinkan Sa'd ibn 'Ubadah, yang bagi pihak muslim telah menggantikan posisi Ibn Ubayy sebagai pemimpin Khazraj, bahwa beliau yakin, Zayd muda itu telah berkata benar. "Hai Rasulullah", kata Sa'd, "jika mau, engkau dapat mengusirnya karena ia seorang yang hina dan lemah, sementara engkau seorang mulia dan lebih terhormat". Beliau memintanya untuk bersikap baik kepada Ibn Ubayy. Nabi juga tidak bermaksud untuk mengungkit kembali peristiwa itu. Namun, setelah beliau berbicara dengan Sa'd, persoalan itu diangkat, karena wahyu turun kepadanya dan surah yang diwahyukan tersebut diberi nama _al-Munafikun_ (orang² munafik). Salah seorang yang disebutkan di ayat itu, meskipun tanpa menyebutkan nama adalah orang yang pernah berkata seperti yang diucapkan Zayd itu. Nabi tidak mengumumkan surat ini sampai mereka kembali ke Madinah. Namun, beliau mendekati Zayd dan berbisik ke telinganya. "Hai anak muda", kata beliau, "telingamu telah mendengar dengan benar, dan Allah telah membenarkan perkataanmu".

*Sementara itu, Abd Allah, anak Ibn Ubayy, sangat sedih setelah tahu ayahnya mengatakan kalimat tersebut. Ia juga telah diberitahu bahwa 'Umar menyarankan Nabi untuk membunuh ayahnya. Ia khawatir kalimat ini akan berlanjut dan perintah akan diberikan kapan saja. Karenanya, ia pergi kepada Nabi dan berkata, "Hai Rasulullah, aku dengar, engkau sedang mempertimbangkan untuk membunuh Ibn Ubayy. Jika engkau harus lakukan itu, maka berikanlah perintah itu kepadaku, dan akan kubawa kepalanya kepadamu. Kaum Khazraj tahu betul bahwa tidak ada seorangpun diantara mereka yang lebih setia kepada ayahnya daripada aku. Aku khawatir, jika engkau memberikan perintah itu kepada orang lain, jiwaku tak akan tahan melihat pembunuh ayahku itu berjalan di khalayak ramai, pasti akan kubunuh dia. Dan karena telah membunuh seorang beriman demi seorang yang tdk beriman, maka aku akan masuk neraka". Namun Nabi berkata, "Tidak! kami akan bersikap baik padanya dan berteman sebaik²nya selama ia bersama kami".*

*#096#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment