🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣2⃣ *SETELAH PENGEPUNGAN*
_______________________
SETELAH Sa'd selesai memutuskan perkara Bani Qurayzhah, ia kembali ke tempat perawatannya di masjid. Ia berdoa kepada Allah: bila masih ada pertempuran untuk melawan para musuh-Nya, maka ia memohon agar diperpanjang umurnya; namun, bila tidak ada lagi, ia mohon agar dibiarkan meninggal. Kini kesehatannya kian memburuk. Suatu malam, tidak lama setelah pengepungan itu, Nabi menemuinya dalam keadaan tidak sadar. Beliau duduk, mengangkat kepalanya dengan lembut, dan mendekapkan ke dadanya. Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah, Sa'd telah berjuang di jalan-Mu, dengan penuh keimanan kepada Rasul-Mu, tidak melalaikan satu tugaspun. Terimalah rohnya di sisi-Mu dengan sebaik²nya bersama roh para hamba-Mu yang saleh". Sa'd mendengar suara Nabi, dan membuka matanya, lalu berkata, "Kedamaian atasmu hai Rasulullah! Aku bersaksi, engkau telah menyampaikan risalahmu". Sejam-dua jam kemudian, setelah Nabi pulang, Jibril datang memberitahukan bahwa Sa'd telah meninggal dunia.
Saat jenazahnya diusung ke tempet pemakaman, para pengusungnya terheran² karena keranda yang mereka bawa sangat ringan, padahal Sa'd lelaki yang berat. Namun, ketika dikatakan kepada Nabi, beliau berkata, "Aku melihat malaikat mengusungnya". Jenazah diturunkan di tepi kuburan dan Nabi mengimami salat jenazah dengan bersaf-saf pria dan wanita yang bermakmum di belakangnya. Dan ketika jenazah itu diturunkan ke dalam kuburan, wajah Nabi tiba² berubah pucat dan beliau mengucapkan _Subhanallah,_ "Mahasuci Allah!" tiga kali, suatu ungkapan akan keagungan Tuhan yang mutlak, terkadang diucapkan untuk menunjukkan adanya sesuatu yang luar biasa. Semua yang hadir mengulanginya dan kuburanpun menggemakan kembali suara mereka. Sesudah beberapa saat, beliau bertakbir, _Allahu akbar,_ "Allah Mahabesar", dan suara takbir itu menggema di antara semua yang hadir. Sesudah itu, ketika Nabi ditanya kenapa wajahnya berubah, beliau berkata, "kuburan itu menghimpit sahabatmu, dan ia merasa sesak, yang bila seseorang dapat melepaskan diri darinya, Sa'd akan melepaskan diri. Lantas Allah membebaskannya".
Suatu hari, di waktu fajar, ketika Nabi berada di kediaman Umm Salamah, beliau mengabarinya, "Abu Lubabah telah dimaafkan". "Bolehkah aku memberitahukan kabar baik ini kepadanya?" tanya Umm Salamah. "Silakan kalau engkau mau", jawab Nabi. Maka, Umm Salamah berdiri di pintu rumahnya yang terbuka ke masjid, tidak jauh dari pilar dimana Abu Lubabah mengikat tubuhnya, dan berteriak, "Hai Abu Lubabah, berbahagialah, karena Allah telah mengampunimu". Orang² yg berada di dalam masjid segera mendekati Abu Lubabah untuk membebaskannya, tapi ia menghentikan mereka. "Tidak", katanya, "biarkan Rasulullah membebaskanku dengan tangannya sendiri". Maka, ketika Nabi hendak salat, beliau lewat dan melepas ikatannya.
Seusai salat, Abu Lubabah menghadap Nabi dan mengatakan bahwa dirinya ingin melakukan sesuatu sebagai pengganti apa yang telah ia lakukan. Nabi menerima darinya sepertiga dari harta bendanya, karena wahyu yang menyatakan pembebasannya berbunyi, _"terimalah amalnya dari harta benda mereka untuk mensucikan diri mereka"_ (Q.S. 9: 103). Ayat ini tidak hanya berlaku bagi Abu Lubabah, namun juga kepada orang saleh lainnya yang berbuat kekeliruan, namun menyesalinya secara terbuka.
Sekitar lima bulan setelah Perang Parit, Nabi mendengar bahwa sebuah kafilah Quraisy yang kaya sedang dalam perjalanan dari Syria. Maka, Zayd diutus untuk mencegat kafilah tersebut bersama seratus pasukan dan tujuh puluh ekor kuda. Mereka mengambil semua barang dagangan tersebut, termasuk sejumlah perak milik Shafwan, dan menjadikan sebagian besar mereka sebagai tawanan. Di antara yang berhasil meloloskan diri adalah Abu al-Ash, menantu Nabi. Ketika ia mendekati Madinah, dekat ke jalan yang ia lalui ke Mekah, ia amat rindu untuk menengok istrinya dan putri kecil mereka, Umamah. Di malam hari, ia memasuki Madinah dengan memperhitungkan risiko dan entah bagaimana, ia dapat menemukan tempat Zaynab tinggal. Ia mengetuk pintu, Zaynab membukanya dan mempersilakan masuk. Peristiwa itu terjadi menjelang fajar. Ketika Bilal mengumandangkan azan, Zaynab meninggalkannya di rumah bersama Umamah. Ia pergi ke masjid, seperti biasanya, bersama saudara²nya yang lain dan ibu² tirinya di shaf terdepan wanita, di belakang shaf pria. Nabi mengucapkan takbir pertama yang diikuti oleh para jamaah. Saat hening sejenak, Zaynab berteriak sekeras²nya, "Hai jamaah, aku memberi perlindungan kepada Abu al-'Ash ibn Rabi'." Lalu ia menyusul salat dengan mengucapkan takbir.
Setelah Nabi mengucapkan salam terakhir, beliau bangkit dan menghadapkan wajahnya ke jamaah. "Apakah kalian mendengar seperti yang kudengar?" Mereka serentak mengiyakan. "Demi Allah yang jiwaku berada dalam kekuasaannya". Lanjut beliau, "aku baru tahu hal ini setelah kudengar tadi. Seorang muslim dapat memberikan perlindungan yang akan mengikat bagi semua muslim lainnya". Lalu beliau menemui putrinya itu dan berkata, "Terimalah ia dengan segala hormat, namun jangan sampai ia datang kepadamu sebagai suami, karena secara hukum, engkau bukan istrinya lagi." Zaynab memberitahu ayahnya bahwa Abu al-'Ash sedang kesulitan karena kehilangan barang perniagaannya yang diperoleh dari hasil barter di Syria atas nama beberapa orang Quraisy yang memercayakan barang² mereka kepadanya, karena ia salah seorang yang terpercaya di Mekah. Karena itu, Nabi berpesan kepada pasukan yang mengambil harta benda Abu al-'Ash: "Seperti yang kalian ketahui, orang ini ada hubungannya dengan kita dan kalian telah mengambil harta miliknya. Jika kalian mau berbaik hati mengembalikan kepadanya, itu akan membuatku senang; namun jika tidak, harta itu adalah limpahan karunia yang telah Allah berikan kepada kalian. Karenanya, kalian lebih berhak untuk itu". Mereka mengatakan akan mengembalikan harta itu kepadanya, bahkan mereka mengembalikan kantong air tua, botol² kecil dan serpihan² kayu. Semuanya dikembalikan kepadanya tanpa kecuali. Dan karena melihat ada tanda² bahwa ia telah berpikir untuk masuk Islam, salah seorang dari mereka berkata, "Mengapa engkau tidak masuk Islam saja dan mengambil semua barang ini sebagai milikmu, karena semua itu milik kaum musyrik?" Namun, ia menjawab, "Jika aku menghianati kepercayaan yang diberikan kepadaku, maka hal itu akan menjadi permulaan yang buruk bagi keislamanku". Ia membawa barang² itu ke Mekah dan memberikan kepada para pemiliknya. Lalu, ia kembali ke Madinah dan masuk Islam, menyatakan syahadat. Dengan demikian, Zaynab bersatu kembali dengan suaminya yang mendatangkan kebahagiaan besar di keluarga Nabi dan di seluruh kota.
*#095#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment