🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣1⃣ *BANI QURAYZHAH*
_______________________
KAUM Muslim hanya memiliki waktu beberapa jam saja untuk beristirahat. Setelah salat zuhur, Jibril datang kepada Nabi. Jibril berbusana mewah, penutup kepalanya dihiasi emas dan perak, dan selembar kain sutra terbentang di atas pelana kuda yang ditungganginya. "Sudahkah kau letakkan senjatamu, hai Rasulullah?" katanya, "para malaikat tak pernah meletakkan senjatanya dan sekarang aku kembali tidak lain untuk menyerang musuh. Hai Muhammad, sesungguhnya Allah Yang Mahakuasa memerintahkanmu agar pergi menyerang keturunan Qurayzhah itu. Bahkan, aku akan pergi kepada mereka sekarang juga, agar jiwa mereka berguncang".
Nabi memberi perintah agar tidak ada yang salat asar sampai mereka tiba di wilayah Qurayzhah. Bendera diberikan kepada Ali. Sebelum matahari tenggelam, seluruh benteng telah dikepung oleh pasukan –berkekuatan tiga ribu orang– yang sama dengan ketika melawan Quraisy dan sekutu²nya pada perang parit.
Bani Qurayzhah dikepung selama 25 malam. Mereka kemudian memohon kepada Nabi agar diperbolehkan berunding dengan Abu Lubabah. Seperti Bani Nadhir, mereka telah lama bersekutu dengan suku 'Aws, dan Abu Lubabah salah seorang pemimpin mereka yang memiliki hubungan dengan sukunya. Nabi meminta Abu Lubabah untuk datang kepada mereka. Kedatangan Abu Lubabah disambut dengan jerit tangis para wanita dan anak² hingga ia terharu melihat mereka. Ketika orang² itu bertanya kepadanya, apakah mereka harus tunduk kepada Muhammad, ia menjawab "ya", sambil memberi isyarat dengan menggerakkan tangannya ke tenggorokan. Isyaratnya berarti peringatan bahwa jika mereka tunduk pasti akan dipenggal kepalanya. Gerakan isyaratnya bertentangan dengan ucapannya, dan itu menyebabkan pengepungan kian berlanjut.
Tak lama setelah itu, ia diliputi perasaan bersalah yang melebihi kesalahan yang ia rasakan ketika ia menolak untuk memberikan pohon kurma kepada anak yatim atas permintaan Nabi. "Kedua kakiku tidak dapat beranjak dari tempatku berdiri", katanya, "sebelum aku sadar bahwa aku telah menghianati Rasulullah". Rona wajahnya berubah dan ia membacakan ayat, _"Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali"_. "Ada apa denganmu" tanya Ka'ab. "Aku telah menghianati Allah dan Rasul-Nya", sahut Abu Lubabah. Ketika Ka'ab turun dari lantai atas rumahnya, ia memegang² janggut Abu Lubabah yang basah oleh airmatanya. Abu Lubabah tak sanggup keluar dari tempat ia masuk. Ia tak mampu menghadapi kaumnya, Suku 'Aws, dan lainnya. Padahal, ia tahu, mereka sangat menantikan berita darinya dan siap menemaninya menghadapi Nabi. Maka ia pergi lewat pintu belakang benteng dan pergi ke kota. Ia langsung ke masjid dan mengikat tubuhnya pada salah satu pilar, dan bersumpah, "Aku tidak akan beranjak dari tempat ini sampai Allah mengampuniku atas apa yang telah aku lakukan!"
Nabi sedang menunggu kembalinya Abu Lubabah. Ketika akhirnya mendengar apa yang terjadi, beliau berkata, "Jika ia datang kepadaku, akan kumohonkan ampun kepada Allah. Tapi, melihat apa yang telah dilakukannya, bukanlah hakku untuk membebaskannya sebelum Allah mengampuninya".
Abu Lubabah tetap di pilar itu selama sepuluh atau lima belas hari. Setiap kali sebelum waktu salat tiba, atau saat kapan saja diperlukan, putrinya akan datang untuk melepaskan ikatannya. Setelah salat, ia akan memintanya untuk diikat lagi. Rasa sedih atas kelakuannya itu kemudian berkurang karena sebuah mimpi yang ia alami pada satu malam selama pengepungan. Ia merasa dirinya terpuruk ke dalam lumpur kotor. Ia tak dapat bernafas dan hampir mati akibat bau lumpur itu. Kemudian ia melihat aliran air dan ia membasuh dirinya dengan air itu hingga bersih dan udara di atasnya terasa harum. Ketika terbangun, ia pergi ke Abu Bakr dan menanyakan arti mimpi itu. Abu Bakr menakwilkan bahwa badannya berarti jiwanya dan bahwa ia masuk ke dalam jiwanya yang akan sangat membebaninya. Namun, ia kemudian akan terbebas dari semua itu. Dan selama hari²nya di pilar, ia hidup dengan harapan akan datangnya pembebasan tersebut.
Terhadap Bani Qurayzhah, Ka'b menyarankan agar mereka –karena sebagian besar mereka memercayai kenabian Muhammad– memeluk agamanya dan menyelamatkan harta dan jiwa mereka. Namun, mereka berkata, mereka lebih baik mati dan hanya percaya pada Taurat dan Hukum Musa. Maka, Ka'b memberi saran lain, memberikan berbagai kemungkinan tindakan lain yang mesti mereka tempuh, tapi juga ditolak. Kini terdapat tiga pemuda dari Bani Hadl –keturunan saudara Qurayzhah, Hadl– yg telah berada di benteng saudara mereka itu selama pengepungan, dan mereka mengusulkan kembali saran pertama Ka'b. Saat remaja, mereka telah mengenal Ibn al-Hayyaban, seorang Yahudi Syria tua, yang pernah tinggal di antara mereka, dan mereka kini mengulangi kata²nya tentang Nabi yang ditunggu², "kedatangannya dekat dengan kalian. Jadilah engkau orang pertama yang mengikutinya, hai kaum Yahudi! Sebab, ia akan diutus untuk menumpahkan darah dan menawan para wanita dan anak² mereka yang menentangnya. Janganlah kalian berpaling darinya". Namun, mereka menjawab, "Kami tidak akan menerimanya demi Taurat". Karenanya, ketiga pemuda itu meninggalkan benteng pada malam itu dan mengatakan kepada penjaga muslim tentang keinginan mereka untuk masuk Islam. Mereka bersyahadat di hadapan Nabi. Dari Bani Qurayzhah saja ada dua orang yang mengikuti jejak mereka. Salah satunya 'Amr ibn Su'da, yang sejak semula tidak setuju untuk melanggar perjanjian dengan Nabi dan secara resmi berlepas diri dari peristiwa itu. Ia kini mengusulkan, jika mereka tidak mau masuk Islam, maka mereka membayar Upeti atau pajak kepada Nabi, "namun demi Tuhan, aku tidak tahu apakah beliau mau menerimanya". Mereka menjawab bahwa mereka lebih baik dibunuh daripada membayar upeti kepada bangsa Arab. Maka, ia meninggalkan benteng sendirian. Dengan mendapat perlindungan sebagai muslim, ia bermalam di masjid Madinah. Namun, ia tak pernah terlihat lagi. Sejak hari itu tidak diketahui apakah ia pergi atau meninggal. Nabi berkata tentangnya, "Dialah orang yg Allah selamatkan karena keimanannya". Satunya lagi, Rifa'ah ibn Samaw'al melarikan diri dari penjagaan bersama Salma anak Qays, bibi Nabi dari pihak ibu, saudara tiri Aminah, yang menikahi seorang lelaki suku Khazraj, Bani Najjar. Di rumahnyalah Rifa'ah masuk Islam.
Keesokan harinya, meskipun ada peringatan dari Abu Lubabah, Bani Qurayzhah membuka gerbang benteng mereka dan menyatakan tunduk kepada kedaulatan Nabi. Orang²nya keluar dengan tangan terikat di belakang dan mereka disediakan sebuah ruangan di salah satu sisi perkemahan. Di tempat lainnya, para wanita dan anak² dikumpulkan, dan Nabi memberikan tanggung jawab penjagaan mereka kepada Abd Allah ibn Sallam, mantan rabi dari Bani Qaynuqa. Senjata dan perlengkapan perang, pakaian dan perabotan rumah tangga diambil dari setiap benteng, dan semuanya dikumpulkan di satu tempat. Botol² anggur dan minuman yang telah difermentasikan dibuka dan isinya dibuang.
Suku 'Aws mengirim deputasi kepada Nabi, meminta beliau agar bermurah hati terhadap bekas sekutu mereka itu sebagaimana beliau tunjukkan kepada Bani Qaynuqa, bekas sekutu Khazraj. Beliau berkata, "Apakah akan memuaskan kalian hai kaum 'Aws, jika seorang dari kalian sendiri memberikan keputusan tentang mereka?" mereka mengiyakan. Maka, beliau mengirim pesan ke Madinah, kepada pemimpin mereka, Sa'd ibn Mu'adz, yang lukanya belum sembuh dan tengah dirawat di sebuah tenda di masjid. Nabi menempatkannya di sana agar beliau dapat sering mengunjunginya, dan Rufaydah, seorang wanita Aslam, merawat lukanya. Beberapa anggota sukunya pergi menemuinya, menaikkannya ke atas kuda, dan membawanya ke perkemahan. "Lakukan yang terbaik demi sekutumu", kata mereka kepadanya dalam perjalanan, "sebab Rasulullah menunjukmu untuk memberikan keputusan tentang mereka, yang tujuannya tak lain agar engkau dapat memperlakukan mereka dengan baik". Sa'd orang yang adil. Seperti halnya 'Umar, ia menentang pembebasan para tawanan perang Badr, dan pendapat mereka telah dibenarkan oleh wahyu. Sebagian orang Quraisy yang telah dibebaskan sebagai tawanan pada waktu itu datang menentang mereka pada perang Uhud dan juga pada perang Parit. Pada penaklukan terakhir ini, kekuatan para penyerang itu terutama akibat perlawanan kaum Yahudi Bani Nadhir yang terusir. Jika kekuatan² tersebut dihancurkan, itu akan lebih baik daripada diusir. Sebab, pasukan penyerang ini mungkin akan terpecah, dan Bani Qurayzhah tidak akan ragu untuk berpegang pada perjanjian mereka dengan Nabi. Alasan² yang ditawarkan, berdasarkan pengalaman masa lalunya, tentu saja tidak akan toleran. Lagi pula, Sa'd merupakan salah seorang utusan bagi Qurayzhah pada saat krisis dan telah melihat buruknya penghianatan mereka ketika pihak muslim diduga pasti kalah. Memang benar bahwa jika ia menjatuhkan putusan yang menyakitkan, ia akan dikutuk oleh mayoritas lelaki dan perempuan 'Aws. Akan tetapi, pertimbangan ini tidak terlalu memengaruhi keputusan Sa'd saat ini. Bahkan, kini sama sekali tak berarti, karena ia yakin bahwa dirinya akan mati. Ia memotong pembicaraan orang sukunya itu dengan kata², "Waktunya telah tiba bagi Sa'd, karena Allah, untuk tidak mengindahkan kutukan dari para pengutuk".
Sa'd lelaki terhormat, tampan dan berwibawa. Ketika ia tiba di perkemahan, Nabi berkata, "berdirilah untuk menghormati tuan kalian semua". Mereka pun bangkit untuk menghormati dan memuliakannya dan berkata, "Ayah 'Amr, Rasulullah telah menunjukmu untuk memutuskan perkara sekutu²mu itu". Ia berkata, "Apakah kalian berjanji demi Allah dan berbuat demi Dia, bahwa keputusanku akan menjadi keputusan atas mereka?" "Kami berjanji", jawab mereka. "Dan apakah keputusan ini mengikat siapa saja yang ada di sini?" tambahnya, dengan melihat sekilas ke arah Nabi, namun tidak menyebutkan nama beliau karena rasa hormatnya. "Ya", kata Nabi. "Baiklah aku akan memutuskan", kata Sa'd, "bahwa orang² itu harus dibunuh, harta benda mereka dibagi², dan kaum wanita dan anak² dijadikan tawanan". Nabi berkata kepadanya, "Engkau telah memutuskan sesuai kalimat Allah di atas tujuh langit".
Kaum wanita dan anak² dibawa ke kota tempat mereka menginap, dan kaum pria bermalam di perkemahan. Di sana mereka membaca taurat dan saling menasehati agar tabah dan sabar. Pagi harinya, Nabi memerintahkan agar menggali parit panjang, dalam, dan sempit di lokasi pasar. Kaum pria, semuanya kira² tujuh ratus orang –menurut beberapa pihak lebih dari itu dan menurut yg lain kurang– dibagi dalam beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok disuruh duduk di sepanjang parit yang akan menjadi tempat pemakaman mereka. Kemudian, Ali, Zubayr, dan para sahabat lain yang lebih muda memenggal kepala mereka, masing² dengan sabetan pedang.
Ketika Huyay berjalan ke pasar, ia menoleh kepada Nabi yang tengah duduk bersama para sahabatnya dan berkata, "Aku tidak mengutuk diriku sendiri karena telah menentangmu, namun siapapun yang mengabaikan Tuhan, iapun akan diabaikan pula". Kemudian ia menuju ke rekan²nya dan berkata, "Perintah Tuhan tidak mungkin salah –perintah tertulis, keputusan, dan pembantaian yang telah Tuhan tetapkan di dalam kitab-Nya terhadap keturunan Israel". Kemudian, ia duduk di samping parit dan kepalanya dipenggal.
Orang yang terakhir mati karena disambar kilat. Kemudian, seorang lelaki tua, Zabir ibn Batha, yang perkaranya belum diputuskan dibawa ke rumah tempat kaum wanita itu menginap. Esok paginya, ketika mereka diceritakan tentang kematian kaum lelaki mereka, kota itu bergemuruh oleh suara tangis. Namun, Zabir menenangkan mereka, "Diamlah! Apakah kalian wanita pertama dari keturunan Israel yang menjadi tawanan sejak bumi itu ada? Jika ada kebaikan pada lelaki kalian, mereka akan menyelamatkan kalian dari kejadian ini. Tapi, berpeganglah kalian pada agama Yahudi, karena demi agama itulah kita harus mati, dan dengannya kita hidup di akhirat".
Zabir senantiasa menjadi musuh Islam dan telah melakukan banyak hal untuk menentang Nabi. Namun, dalam perang sipil di Yatsrib, ia telah menyelamatkan nyawa seorang lelaki Khazraj, Tsabit ibn Qays. Tsabit ingin membalas jasanya itu, dan pergi menghadap Nabi untuk memohon agar Zabir dibiarkan hidup. "Ia milikmu", kata Nabi; namun ketika Zabir diberitahu tentang penundaan hukuman terhadapnya, ia berkata kepada Tsabit, "seorang tua, tanpa anak istri, apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya?" karena itu Tsabit kembali menghadap Nabi, yang kemudian menyerahkan istri Zabir dan anak²nya. Namun, Zabir berkata, "Sebuah rumah di Hijaz tanpa harta benda, bagaimana mereka dapat bertahan hidup?" Tsabit kembali menemui Nabi, yang memberikan semua harta milik Zabir kepadanya kecuali senjata dan perlengkapan perangnya. Namun, pikiran tentang kematian semua orang sesukunya itu kini meliputi Zabir dan ia berkata, "Demi Tuhan, aku meminta kepadamu, Tsabit, demi apa yang kulakukan padamu, agar engkau membiarkan aku bersama kaumku, karena sekarang mereka semua telah mati, hidup tidak ada gunanya lagi". Pada awalnya Tsabit menolak. Namun, ketika melihat Zabir serius, ia membawanya ke tempat eksekusi dan Zubayr diminta untuk memenggalnya. Istri dan anak²nya dibebaskan dan harta benda mereka dikembalikan dibawah pengawasan Tsabit.
Sedangkan wanita dan anak² lainnya, berikut harta bendanya, dibagi² kepada setiap orang yang ikut serta dalam pengepungan itu. Sebagian besar tawanan telah ditebus oleh Bani Nadhir di Khaybar. Sementara bagian Nabi, beliau memilih Rayhanah, putri Zayd, dari Nadhir, yang dinikahkan dengan lelaki Qurayzhah. Ia sangat cantik dan tetap menjadi budak Nabi sampai meninggal dunia lima tahun kemudian. Pada mulanya, beliau menyerahkan Rayhanah untuk diasuh bibinya, Salma, yang di rumahnya sudah ada Rifa'ah. Rayhanah sebelumnya keberatan masuk Islam, tapi Rifa'ah dan saudaranya dari Bani Hadl menjelaskan agama baru itu kepadanya. Dan tak lama sebelum salah seorang dari tiga pemuda itu masuk Islam, Tsa'labah menghadap Nabi dan mengatakan bahwa Rayhanah telah masuk Islam, seketika beliau sangat gembira. Setelah jelas bahwa Rayhanah tidak hamil, Nabi menemuinya dan menawarinya untuk dibebaskan dan dijadikan sebagai istrinya. Namun, ia menjawab, "Hai Rasulullah, biarkanlah aku berada dalam kekuasaanmu. Itu akan lebih mudah bagiku dan bagimu".
*#094#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment