🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
6⃣0⃣ *PENGEPUNGAN*
_______________________
BARU saja penggalian parit itu selesai –seluruhnya menghabiskan waktu enam hari– terdengar berita bahwa pasukan Quraisy telah menuruni lembah 'Aqiq, tidak jauh di sebelah barat daya Madinah. Sementara itu, pasukan Gathafan dan suku² lain dari Najd tengah bergerak menuju Uhud dari arah timur. Semua rumah di oasis itu telah dikosongkan dan para penghuninya telah berada di wilayah pertahanan. Nabi kini memerintahkan agar semua wanita dan anak² ditempatkan di salah satu ruangan bagian atas benteng. Lantas beliau berkemah bersama tiga ribu pasukan ditempat yang telah ditentukan. Tenda kulit merah beliau ditancapkan di kaki bukit Sal'. 'A'isyah, Umm Salamah, dan Zaynab mendapat giliran untuk bersamanya di sana.
Tentara Mekah dan para sekutunya mendirikan kemah tersendiri tidak jauh dari Uhud. Pasukan Quraisy itu terkejut melihat padang rumput di oasis itu telah dipangkas. Unta mereka dapat bertahan dengan memakan pohon² akasia di Lembah 'Aqiq. Sedangkan unta pasukan Gathafan sedang makan dua macam pohon tamarisk yang tumbuh lebat di dataran dekat Uhud. Akan tetapi, tidak ada sedikit pun untuk kuda mereka, kecuali makanan kering yang mereka bawa. Itulah yang mendorong mereka untuk menyerang musuh secepat mungkin, dan dengan maksud yang sama, dua pasukan tersebut bergabung, lalu bergerak maju menuju kota. Abu Sufyan menjadi panglima tertinggi. Namun masing² kepala suku yang berbeda diberi kehormatan untuk memimpin peperangan secara bergiliran. Khalid dan Ikrimah kembali memimpin pasukan berkuda Mekah, sementara 'Amr berada dalam pasukan ini. Ketika telah mendekat, mereka senang begitu melihat kemah musuh di hadapan mereka berada di luar kota. Mereka sebelumnya khawatir bila musuh berada di belakang benteng pertahanan mereka; tapi ternyata, musuh berada di luar dan tempat terbuka, sehingga mereka dapat membanjiri mereka dengan jumlah pasukan yang besar. Namun, ketika semakin mendekat, mereka terkejut melihat parit besar memisahkan mereka dengan pasukan pemanah kaum muslim yang berbaris sepanjang tepinya. Pasukan kuda mereka hanya dapat sampai di situ dengan sulit, dan lebih sulit lagi untuk menyebranginya. Kini hujan panah menandakan bahwa mereka telah berada dalam wilayah musuh, maka mereka segera mundur ke jarak yang lebih aman.
Sisa hari itu digunakan untuk berunding. Akhirnya, tentara Quraisy memutuskan bahwa harapan terbaik mereka terletak pada kemungkinan memaksa musuh untuk menarik mundur tentaranya dalam jumlah besar dari utara kota untuk bertahan di tempat yang lain. Jika parit itu tidak dijaga dengan ketat, mungkin tidak akan terlalu sulit diseberangi. Pikiran mereka tertuju pada Bani Qurayzhah, yang bentengnya memblokir jalan ke Madinah dari arah tenggara. Sesuai kesepakatan, Huyay dari Bani Nadhir datang dari Khaybar untuk bergabung dengan pasukan itu. Kini ia menawarkan jasa kepada Abu Sufyan sebagai duta bagi orang² Yahudi. Huyay meyakinkannya bahwa ia dapat dengan mudah membujuk mereka untuk melanggar perjanjian dengan Muhammad; dan dengan bantuan mereka, kota dapat diserang dari dua arah sekaligus. Abu Sufyan dengan gembira menerima tawarannya, dan mendesaknya untuk tidak membuang² waktu lagi.
Orang² Bani Qurayzhah takut kepada Huyay. Mereka melihatnya sebagai seorang pembawa nasib buruk. Ia telah mendatangkan malapetaka kepada kaumnya sendiri, dan jika dibiarkan, ia akan melakukan hal yang sama terhadap mereka. Ia berjiwa keras dan sulit dilawan. Jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan pernah kenal lelah mengerahkan segala cara sampai tujuannya tercapai. Dan kini ia pergi ke benteng Ka'b ibn Asad, pemimpin Qurayzhah –yang membuat perjanjian dengan Nabi– dan mengetuk pintu gerbang, memberitahukan kedatangannya. Pada mulanya, Ka'b tidak mau membukanya. "Keparat engkau Huyay", kata Ka'b yang sudah tahu apa yang diinginkan Huyay. "Aku telah membuat perjanjian dengan Muhammad, dan aku tidak akan melanggar kesepakatanku dengannya". "Biarkan dulu aku masuk", desak Huyay, "dan marilah kita berbicara". "Aku tidak mau", sahut Ka'b. Namun akhirnya Huyay menuduh Ka'b tidak mengizinkan masuk hanya karena ia tidak mau membagi makanan kepadanya. Hal ini membuat Ka'b marah dan membuka pintu gerbang. "Celaka engkau Ka'b", sergahnya, "aku telah membawakanmu kejayaan sepanjang waktu dan kekuasaan laksana lautan. Aku telah membawakanmu Quraisy, Kinanah dan Gathafan berikut para pemuka dan pemimpin mereka berjumlah sepuluh ribu orang serta seribu kuda. Mereka telah berjanji kepadaku bahwa mereka tidak akan berhenti sampai dapat menghancurkan Muhammad dan pengikutnya. Muhammad kali ini tidak akan bisa lolos. "Demi Tuhan", kata Ka'b, "engkau membawa aib bagiku selamanya –itu hanya awan mendung tanpa air, hanya guntur dan kilat, dan tidak ada selain itu. Celaka engkau Huyay. Tinggalkan aku dan biarkan aku seperti semula". Huyay melihat Ka'b melemah, dan dengan kelihaiannya berbicara, ia menjanjikan berbagai keuntungan besar yang akan diperoleh jika agama baru itu dihancurkan. Terakhir, ia bersumpah demi Tuhan, "Jika Quraisy dan Gathafan kembali ke daerah mereka dan tidak memusnahkan Muhammad, aku akan masuk ke bentengmu, dan nasibku akan menjadi taruhanmu". Hal ini meyakinkan Ka'b bahwa sudah tidak ada kemungkinan bagi Islam untuk bertahan, dan ia setuju untuk menarik kembali perjanjian antara kaumnya dengan Nabi.
Huyay meminta untuk melihat dokumennya. Ketika melihat dokumen itu, ia merobeknya menjadi dua. Kini Ka'b menemui warga sukunya, memberitahukan apa yang terjadi di antara mereka, "Apa untungnya?" tanya mereka. "Apakah seandainya engkau terbunuh, Huyay akan mati bersamamu?" Baru kali ini Ka'b menghadapi posisi yang patut diperhitungkan. Di antara Bani Qurayzhah, ada Ibn al Hayyaban, seorang Yahudi tua asal Syria yang berharap dapat bertemu dengan Nabi yang akan datang. Dialah yang menggambarkan nabi dan menegaskan bahwa kedatangannya telah tiba. Banyak diantara mereka yang yakin, Muhammadlah orang yang dimaksud, meskipun hanya segelintir orang yang tertarik pada nabi yang bukan seorang Yahudi, dan lebih sedikit lagi yang sanggup menarik berbagai kesimpulan praktis tentang gawatnya melawan dia, baik dia Yahudi ataupun bukan. Sebenarnya mayoritas mereka enggan untuk merusak perjanjian politik itu. Tetapi, ketika beberapa orang munafik membawa berita yang menguatkan apa yang dikatakan Huyay, dan beberapa orang kabilahnya sendiri pergi bersama² untuk memastikan berita itu, pendapat umum mulai bergeser untuk mendukung Quraisy dan sekutunya. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa, dilihat dari sisi Madinah, daratan di seberang parit itu dipadati tentara dan kuda² seluas dan sejauh mata memandang.
Pada saat yang sama, Khalid dan ikrimah mengamati parit dari jauh, bagian mana yang paling mudah untuk diseberangi. "Ini adalah perangkap!" mereka berteriak kesal. "Tidak pernah ada orang Arab membuat seperti ini. Pasti ada orang Persia bersamanya". Mereka kecewa karena melihat parit itu digali dengan sangat baik, kecuali pada suatu bagian ada jurang yang lebih sempit dari lainnya, tapi tempat itu dijaga sangat ketat. Sekali dua kali upaya menyerang bagian itu telah gagal total. Kuda mereka belum pernah melihat jurang seperti itu, sehingga tidak mau melompatinya. Hal ini bisa saja berubah, namun untuk sementara waktu, pertempuran tidak lebih dari perang hujan panah.
Penghianatan Bani Qurayzhah atas perjanjian mereka dengan Nabi tak dapat disembunyikan lagi. Beberapa orang munafik belum memutuskan kepada pihak mana mereka akan bergabung, dan mereka siap membocorkan rahasia dari satu pihak ke pihak lainnya. Di antara para sahabat, 'Umarlah yang pertama kali mendengar bahwa kaum Yahudi kini telah menjadi musuh dalam selimut. Ia menghadap Nabi yang tengah duduk di tendanya bersama Abu Bakr. "Hai Rasulullah", katanya, "Aku telah diberitahu bahwa Bani Qurayzhah telah menghianati perjanjian damai mereka dan akan berperang melawan kita", Nabi terlihat sangat kecewa. Beliau pun mengutus Zubayr untuk menyelidiki kebenaran berita itu. Kemudian untuk menghindari kaum Anshar merasa dianaktirikan, beliau memanggil dua orang Sa'd dari suku 'Aws dan Khazraj untuk pergi bersama Usayd. Setelah memberitahukan berita itu kepada mereka, beliau berkata, "Pergi dan selidikilah kebenarannya. Jika ternyata bohong, maka sebarkanlah secara luas. Akan tetapi, jika itu benar, katakan kepadaku secara pelan² agar aku saja yang mengerti". Dua utusan Nabi itu, sampai di benteng Qurayzhah tak lama sesudah Zubayr dan ternyata mereka memang telah membatalkan perjanjian. Mereka menyarankan, demi Tuhan, agar kembali kepada perjanjian itu sebelum terlambat, namun mereka hanya menjawab, "Siapa itu Rasulullah? Tidak ada perjanjian apapun antara kami dan Muhammad". Sia-sia mereka mengingatkan Bani Qurayzhah bahwa nasib buruk akan menimpa mereka seperti yang menimpa Bani Qaynuqa' dan Bani Nadhir. Sekarang Ka'b dan yang lain terlalu yakin akan kemenangan Quraisy daripada mendengarkan peringatan mereka. Setelah para utusan itu merasa sia², mereka kembali kepada Nabi. _"Adhal dan Qarah",_ kata mereka kepada Nabi. Keduanya adalah suku yang telah menghianati Khubayb dan sahabatnya kepada orang² Hudzayl. Nabi mengerti dan bertakbir, _"Allahu Akbar!_ tegarlah, wahai kaum muslim!".
Kini, kekuatan pasukan di parit perlu dikurangi untuk menjaga pertahanan di dalam kota sendiri. Maka Nabi memilih seratus orang untuk tugas ini. Beliau diberitahu bahwa Huyay sedang mendesak Quraisy dan Gathafan agar mengutus masing² seribu orang ke benteng Qurayzhah pada malam hari. Dari sanalah mereka akan menyerbu ke pusat kota dan menghancurkan benteng kaum muslim, serta membawa lari kaum wanita dan anak². Pada malam yang ditentukan, karena beberapa alasan yang tidak jelas, rencana itu tidak terlaksana. Namun, begitu Nabi mendengarnya, beliau mengutus Zayd beserta tiga ratus pasukan berkuda untuk berpatroli di jalan², bertakbir kepada Allah sepanjang malam, sehingga kota itu seolah² dipenuhi rombongan yang sangat kuat.
Di perkemahan Quraisy, kuda² itu tidak dibutuhkan lagi. Tapi para tentara ini selalu gagal, karena parit itu selalu dijaga siang dan malam. Maka, kini setiap orang harus terus menerus mengintai parit secara bergiliran. Hari² berlalu dan keteganganpun kian hebat, sementara Khalid dan Ikramah beserta pasukannya senantiasa mencari kesempatan lengahnya musuh. Hanya sekali saja mereka berhasil menyebrangi parit, dan itu terjadi saat Ikramah tiba² melihat bagian tersempit itu sedang tidak dijaga ketat. Ia berhasil meloncatkan kudanya melintasi parit, diikuti oleh tiga orang lainnya. Namun, setelah keempat orang itu berhasil menyebrangi parit itu, Ali bersama orang² yang menyertainya kembali menggali bagian tersebut sehingga makin sulit diseberangi. Dengan demikian, berarti pula menutup kemungkinan keempat orang musuh yang kini berada di wilayah mereka itu untuk kembali. Salah seorang dari mereka, 'Amr, berteriak menantang duel. Ketika 'Ali menawarkan diri, ia menolak, "Aku tidak suka membunuh orang seperti dirimu. Ayahmu adalah sahabat setia ayahku. Karena itu, pergilah, engkau masih muda!" Namun, 'Ali tetap bertahan, maka 'Amr turun dari kudanya dan kedua orang itu maju ke depan. Awan debu segera menghalangi pandangan mereka. Kemudian, mereka mendengar suara 'Ali bertakbir dan mereka tahu bahwa 'Amr telah tewas atau tengah sekarat. Sementara itu, Ikramah dan kawannya mengambil kesempatan untuk kabur, Namun Nawfal dari Makhzum tergelincir dan jatuh ke parit bersama kudanya. Kaum muslim mulai melemparinya dengan batu, namun ia berteriak, "Hai orang arab, kematian lebih baik dari ini!' merekapun turun dan membunuhnya.
Menyebrangi parit, meskipun sulit, tapi masih mungkin dilakukan. Pada keesokan harinya, serangan dilakukan di berbagai tempat, bahkan sebelum matahari terbit. Nabi terus memberi semangat kaum mukmin dan menjanjikan kemenangan jika mereka tetap bersabar. Mereka pun tetap bersabar, meskipun awalnya mereka tampak lelah karena berjaga terlalu lama. Lokasi perkemahan telah dipilih dengan baik, karena lereng Gunung Sa'l agak menurun, yang berarti musuh berada di tempat yang lebih rendah. Sepanjang hari, pihak musuh berkali² mencoba menyebrangi parit, namun gagal. Karena itu, seperti hari² sebelumnya, pertempuran yang terjadi hanya sebatas perang hujan panah. Tidak ada satupun yang terbunuh dari kedua belah pihak, namun, Sa'd ibn Mu'adz terkena serangan panah yang menyebabkan luka berdarah, dan beberapa kuda pihak Quraisy dan Gathafan terluka.
Waktu salat zuhur tiba, namun tidak mungkin bagi setiap orang untuk tidak berjaga walaupun sejenak. Ketika waktu salat telah habis, orang² terdekat dengan Nabi menghadapnya, "Hai Rasulullah, kami belum salat"--sebuah kejadian biasa, namun terasa mengganggu karena belum pernah terjadi sejak munculnya Islam. Jawaban beliau meyakinkan mereka, "Demi Tuhan, akupun belum salat". Saatnya salat asar telah tiba, dan habis dengan tenggelamnya matahari. Namun, pihak musuh tetap melakukan penyerangan, dan ketika cahaya senja hilang dari ufuk barat, barulah mereka kembali ke perkemahan. Begitu mereka hilang dari pandangan, Nabi mundur dari parit, meninggalkan Usayd yang tetap berjaga bersama sepasukan tentara. Beliau mengimami empat salat sekaligus pada waktu salat isya. Pada malam itu, Khalid secara tiba² muncul kembali dengan mengendarai kuda yang bagus, berharap parit itu tidak dijaga. Namun Usayd dan para pemanahnya tetap berjaga di tepi.
Wahyu melukiskan ketegangan hari² itu sebagai waktu _"ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam² purbasangka. Di situlah diuji orang² mukmin dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat"_ (Q.S. 33: 10-11).
Pertanyaan muncul di benak setiap orang, kapan hari² ini akan berakhir. Persediaan makanan semakin menipis dan udara malam hari sangat dingin. Kebanyakan mereka yg lemah iman –tidak tahan terhadap kelaparan, kedinginan dan kurang tidur– hampir bersedia bergabung dengan kaum munafik yang menyebarkan desas-desus bahwa tidaklah mungkin untuk bertahan dari musuh yang hanya dipisahkan dengan parit dan mereka harus mundur ke belakang benteng kota. Namun, keyakinan mereka yang sungguh² beriman teruji dengan kesulitan. Mereka mendapat pujian pada sebuah ayat karena pada saat² yang sangat menegangkan, tatkala mereka melihat golongan² yang bersekutu itu bersatu melawan mereka, mereka mengatakan, _"Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya"._ Ayat itu menambahkan, _"Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan"_ (Q.S. 33: 22). Mereka telah mengatakan hal itu dalam rangka mengingatkan kembali sebuah ayat yang diturunkan kepada Nabi dua atau tiga tahun yg lalu:
_Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang² terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam² cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang² yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat_ (Q.S. 2: 214).
Nabi menyadari bahwa kekuatan sebagian besar umatnya untuk bertahan mulai berkurang. Akan tetapi, beliau juga tahu bahwa seiring dengan berlalunya hari, musuh pun mengalami penderitaan yang serupa karena kesukaran yang mereka hadapi. Maka, di malam hari, beliau mengirimkan penawaran kepada dua orang pemimpin Suku Gathafan, bahwa mereka akan diberi sepertiga dari panen pohon kurma Madinah jika mereka mau menarik diri dari ladang itu. Mereka mengirimkan pesan balik: "Berikanlah kami setengah dari hasil panen kurma Madinah". Namun beliau menolak untuk menaikkan tawarannya, sehingga mereka menyetujuinya. Beliau segera memanggil 'Utsman dan menyuruhnya membuat perjanjian damai antara kaum mukmin dengan suku Gathafan. Kemudian beliau memanggi dua Sa'd dan mereka datang ke tendanya. Beliau memberitahukan rencananya kepada mereka. Mereka berkata, "Hai Rasulullah, apakah ini perintahmu untuk kami laksanakan, atau titah Allah yang wajib dikerjakan? Ataukah engkau lakukan ini demi nasib kami?" Beliau menjawab, "Hal ini kulakukan demi kepentingan kalian. Demi Allah, sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi kulihat suku² Arab itu telah menembaki kepala dan badan kalian dan membantai kalian dari setiap penjuru". Namun, Sa'd yang terluka berkata, "Hai Rasulullah, dahulu kami dan mereka sama² menyekutukan Allah, pemuja berhala, tidak sungguh² menyembah Allah, dan tidak pula mengenal-Nya. Dan mereka tidak pernah berharap memakan sebutirpun kurma dari kami, menyimpannya atau menukarnya. Dan sekarang, ketika Allah telah menunjuki kami kepada Islam, membimbing kami dan menguatkan kami denganmu dan dengan Islam, akankah kami berikan harta kami kepada mereka? Demi Allah, kami tidak akan memberikan apapun kepada mereka kecuali pedang, sampai Allah memutuskan siapa yang menang di antara kita". "Laksanakan tekadmu", kata Nabi, dan Sa'd mengambil pena dan kulit dari 'Utsman, lantas menghapus apa yang sudah dituliskan, dan berkata, "Biarkan mereka memperoleh yang terburuk!"
Negosiasi yang dibatalkan itu adalah negosiasi dengan pemimpin dua kabilah dari suku Gathafan: Farazah dan Murrah. Kabilah ketiga yang menjadi sekutu Quraisy adalah Asyja', tempat Nu'aym berada, orang yang disuap Abu Sufyan dan Suhayl untuk menakut-nakuti kaum muslim agar tidak memenuhi janji mereka untuk bertemu dengan tentara Mekah pada perang Badr kedua. Lamanya ia tinggal di Madinah telah berpengaruh besar terhadap dirinya, dan hal itu menyebabkan perasaannya bercampur aduk saat ia kini keluar bersama beberapa orang sukunya untuk mendukung pasukan Mekah pada situasi seperti itu. Kekagumannya terhadap para pemeluk agama baru itu kini semakin menguat dan meningkat karena melihat kemampuan mereka bertahan dari serangan pasukan yang tiga kali lipat lebih kuat dari mereka. Kemudian, tibalah saatnya ketika –seperti yang diungkapkannya sendiri– "Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku". Pada malam harinya, sesaat setelah rencana perjanjian gencatan senjata dengan Gathafan dibatalkan, ia memasuki kota itu, langsung ke perkemahan, dan memohon untuk bertemu Nabi. "Apa yang membuatmu datang kemari Nu'aym?" kata beliau. "Aku datang", jawab Nu'aym, "untuk menyatakan keyakinanku pada kata²mu dan bersaksi bahwa engkau telah membawa kebenaran. Karena itu, suruhlah aku melakukan apa yang engkau inginkan, hai Rasulullah. Sebab engkau berhak memerintahku, dan aku akan memenuhinya. Kaumku dan yang lainnya sama sekali tidak tahu tentang keislamanku ini". "Sesuai kemampuanmu", jawab Nabi, "buatlah mereka bertengkar satu sama lain". Nu'aym meminta izin agar diperbolehkan berbohong dan Nabi berkata, "Katakan saja sesukamu agar mereka menjauhi kami, karena bohong dalam perang itu adalah pengecualian".
Nu'aym pulang melalui kota dan menuju kaum Bani Qurayzhah. Ia disambut sebagai teman lama dan ditawari makanan dan minuman. "Aku datang bukan untuk ini," katanya, "tetapi untuk mengingatkan kalian. Aku mengkhawatirkan keselamatan kalian dan aku datang untuk menasihati kalian." Kemudian, ia langsung mengalihkan mereka bahwa jika Quraisy dan Ghathafan gagal melakukan serangan untuk mengalahkan musuh mereka, maka mereka akan pulang dan meninggalkan orang Yahudi berada dalam kekuasaan Muhammad dan pengikutnya. Karena itu, mereka harus menolak memberi dukungan kepada Quraisy sebelum mereka menyerahkan seorang tokoh mereka sebagai sandera. Sandera itulah yang menjadi jaminan bahwa mereka tidak akan mengundurkan diri sampai musuh benar-benar telah ditaklukkan. Bani Qurayzhah menerima nasihatnya dengan antusias. Mereka dihantui kecemasan yang semakin mencekam akibat isu yang dilemparkannya. Karena itu, mereka setuju untuk melakukan apa yang ia sarankan, dan berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapa pun bahwa dirinya yang memberikan nasihat tersebut.
Kemudian, Nu'aym pergi menemui seseorang yang pernah menjadi temannya, Abû Sufyán. Ia mengatakan kepadanya, juga kepada tokoh Quraisy lainnya, bahwa ia memiliki informasi yang sangat penting untuk diketahui, asalkan mereka mau untuk tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa ia menjadi informan mereka. Mereka pun setuju. "Kaum Yahudi menyesali perbuatan mereka terhadap Muhammad," katanya, "dan mereka telah mengirim pesan kepada Muhammad: 'Kami menyesal atas apa yang telah kami lakukan, dan senangkah engkau bila kami menyandera tokoh Quraisy dan Ghathafan, lalu kami akan menyerahkannya kepadamu agar dipenggal kepalanya? Setelah itu, kami akan bergabung denganmu untuk memerangi sisanya yang lain.' Muhammad telah mengirimkan pesan persetujuannya. Karena itu, jika kaum Yahudi meminta sandera kepada kalian, jangan berikan." Lantas ia pergi ke kaumnya sendiri dan suku lain dari Ghathafan dan mengatakan kepada mereka seperti yang ia katakan kepada Quraisy.
Setelah berunding, para pemimpin kedua pasukan penyerang itu memutuskan untuk sementara waktu tidak akan menceritakan hal ini kepada Huyay, melainkan menguji apa yang dikatakan Nu'aym. Keesokan malamnya, mereka mengutus 'Ikramah ke Bani Qurayzhah dengan pesan: "Bersiaplah besok untuk berperang, kita akan menyingkirkan Muhammad". Mereka menjawab, "esok adalah hari sabat; apapun alasannya, kami tidak akan berperang melawan Muhammad bersama kalian, kecuali kalian memberi kami sandera yang akan menjadi jaminan bagi kami sampai Muhammad lenyap. Sebab, kami khawatir, jika peperangan kalah, kalian akan kembali ke negeri kalian sendiri, meninggalkan kami, sementara orang itu berada di wilayah kami, dan kami tak dapat melawannya sendirian". Ketika pesan ini sampai pada Quraisy dan Gathafan, mereka berkata, "Demi Tuhan, apa yang dikatakan Nu'aym memang benar". Dan mereka berkata kepada Bani Qurayzhah bahwa mereka tidak akan menyerahkan seorangpun, melainkan mengajak mereka berperang. Namun, Bani Qurayzhah tidak mau melakukan penyerangan sebelum mereka menerima sandera.
Saat itu juga Abu Sufyan menemui Huyay dan berkata, "Mana bantuan kaummu yang engkau janjikan kepada kami? Mereka telah meninggalkan kami, dan kini mereka berupaya menghianati kami". "Demi Taurat, tidak!" tegas Huyay, "Hari ini adalah hari Sabat, dan kami tidak boleh melanggar hari Sabat. Tapi, pada hari minggu, mereka akan menyerang Muhammad dan para pengikutnya dengan cepat laksana kilatan api". Ketika Abu Sufyan mengatakan kepadanya tentang permintaan sandera, Huyay tampak tercengang. Melihat kebingungannya karena merasa bersalah, Abu Sufyan berkata, "Aku bersumpah demi Al-Lat, ini semua tidak lain adalah penghianatanmu, baik dari mereka ataupun dirimu, karena kuanggap kau terlibat dalam penghianatan kaummu". "Tidak", protes Huyay, "demi Taurat yang diturunkan kepada Musa di hari Bukit Sinai, aku bukan penghianat". Namun, Abu Sufyan sudah tidak percaya lagi. Karena nyawanya terancam, Huyay meninggalkan perkemahan itu dan pergi ke benteng Bani Qurayzhah.
Sebenarnya, hubungan antara Quraisy dan suku² Najd saat itu sudah rapuh, sehingga Nu'aym hanya memerlukan sedikit tipu muslihat. Hampir dua minggu berlalu dan tak ada yang dihasilkan. Persediaan kedua pasukan mereka telah habis, sementara setiap hari kuda kuda mereka semakin banyak yang mati akibat kelaparan atau karena luka panah, atau akibat keduanya sekaligus. Beberapa unta juga mati. Pihak Quraisy juga gagal menyadari bahwa Gathafan dan suku Badui lainnya adalah sekutu² yang tidak ingin melawan musuh. Mereka turut serta lebih karena menginginkan harta rampasan daripada permusuhan kepada agama baru itu; dan keinginan yang mendorong mereka datang ke Yatsrib ini terbukti telah gagal total. Di antara dua pihak penyerang itu pun saling menyalahkan dan saling tidak percaya. Ekspedisi ini jelas sekali tidak membawa hasil; dan kini puncak kegagalan tersebut telah ditetapkan di "Langit".
Selama tiga hari, setelah salat wajib, Nabi memanjatkan doa, "Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang Paling Cepat melakukan perhitungan! Hancurkan persekutuan menjadi perpecahan, ubahlah mereka kepada permusuhan dan hancurkanlah mereka". Dan ketika semuanya telah berakhir, turunlah ayat berikut ini: _"Hai orang² yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu ketika datang kepadamu tentara², lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya"_ (Q.S. 33: 9).
Selama berhari², cuaca sangat dingin dan lembab. Kini, angin topan berhembus dari timur disertai hujan lebat yang menuntut setiap orang untuk berlindung. Waktu malam tiba, badai menerpa daratan tersebut. Angin topan berhembus kencang dan apa saja yang tidak disapu angin tampaknya dihabisi oleh tangan² gaib. Di dua perkemahan para penyerang itu segera tampak tidak ada satupun tenda yang masih berdiri dan tidak ada pula api yang masih menyala. Orang² bertiarap di atas tanah, saling berdekatan agar merasa lebih hangat.
Perkemahan pihak muslim, entah bagaimana, terlindung dari terpaan angin, dan tidak satu pun tenda mereka yang roboh. Namun, udara telah dipenuhi kegetiran, dan bersama² dengan ketegangan yang menumpuk akibat pengepungan itu telah melemahkan mental kaum mukmin. Mereka berpikir tidak akan mungkin menang. Nabi salat hingga larut malam. Kemudian beliau menemui sahabat²nya yang berada di dekat tendanya. Salah satunya, Hudzayfah dari Yaman, yang kemudian menuturkan bagaimana mereka mendengar beliau berkata, "Siapa yang akan bangkit dan pergi melihat bagaimana kondisi musuh, lalu kembali kemari; dan akan kumohonkan kepada Allah agar ia menjadi sahabatku di surga?" Meski demikian, tidak ada tanggapan. "Kami begitu ketakutan", kata Hudzayfah, "begitu kedinginan dan kelaparan sehingga tak seorangpun diantara kami yang dapat berdiri tegak". Setelah jelas tidak ada seorangpun yang mau maju, Nabi memanggil Hudzayfah, yang bangkit dan pergi menemuinya. Ia terdorong untuk melakukannya karena tiada lagi selainnya. "Ketika kudengar namaku dipanggil, aku tak dapat berbuat apa² kecuali berdiri", katanya. "Pergilah engkau", suruh Nabi, "dan menyusuplah di antara mereka ketika angin dan tentara² Allah menyerang mereka". Ia menceritakan bagaimana ia melewati orang² Quraisy yang tengah bertiarap –karena itulah ia pergi ke perkemahan mereka– sampai ia mendekat ke tempat para pemimpin mereka duduk. Mereka bermalam diselimuti udara dingin mencekam. Menjelang fajar, ketika angin mulai lenyap, Abu Sufyan berteriak keras, "Hai orang² Quraisy, kuda dan unta kita telah mati; Bani Qurayzhah telah meninggalkan kita dan kita diberitahu bahwa mereka berusaha menghianati kita; dan kini kita menderita karena angin seperti yang kalian lihat. Maka pergilah dari tempat ini, karena akupun akan pergi". Selesai mengucapkan kata² tersebut, ia melompat menunggangi untanya, begitu terburu² hingga ia lupa melepaskan tali kekangnya. Namun, Ikrimah berkata kepadanya, "Engkau pemimpin kaummu. Akankah engkau pergi dari kami begitu saja dan meninggalkan orang² ini di belakang?" Seketika Abu Sufyan malu, menyuruh untanya berlutut lagi, dan ia pun turun. Para pasukan membongkar tenda dan hendak beranjak pergi, sementara ia menunggu hingga sebagian besar mereka siap melakukan perjalanan pulang. Kemudian, ia sendiri pergi setelah bersepakat dengan Khalid dan 'Amr agar mereka berbaris paling belakang bersama dua ratus tentara berkuda. Ketika sedang menunggu keberangkatan tentaranya, Khalid berkata, "Setiap orang yang berakal sehat pasti tahu bahwa Muhammad tidaklah berdusta", namun Abu Sufyan menyela perkataannya, "Engkau sungguh tidak pantas mengatakan itu". "Mengapa?" tanya Khalid. Ia menjawab, "Karena Muhammad telah merendahkan kehormatan ayahmu, dan telah membunuh kepala sukumu, Abu Jahl".
Begitu Hudzayfah mendengar perintah keberangkatan tersebut, ia segera pergi ke perkemahan Gathafan. Namun, ternyata tempat itu telah ditinggalkan, karena angin telah memporak-porandakannya. Kini mereka tengah dalam perjalanan ke Najd. Maka, ia kembali kepada Nabi, yang sedang berdiri salat, berjubah untuk menahan dingin dengan selendang milik salah seorang istrinya. "Ketika beliau melihatku", kata Hudzayfah, "beliau mengisyaratkan agar aku duduk di dekat kaki beliau, dan melempar ujung selendang itu ke arahku. Kemudian, selama aku masih di situ, beliau rukuk dan sujud. Setelah beliau mengucapkan salam terakhir, baru kusampaikan berita² itu kepadanya".
Bilal mengumandangkan azan subuh. Setelah mereka salat, semburat cahaya pagi menampakkan lengangnya daratan di seberang parit. Nabi mengizinkan mereka pulang ke rumah mereka masing². Maka, kebanyakan mereka cepat² berangkat ke Madinah. Karena khawatir para sekutu musuh masih meninggalkan mata², atau Bani Qurayzhah mungkin mengamati dan mencoba membujuk musuh untuk kembali karena parit tidak dijaga lagi, Nabi mengutus Jabir dan Abd Allah ibn Umar untuk mengingatkan rekan²nya yang telah berangkat dan memanggil mereka kembali. Mereka berdua pergi menyusul mereka, berteriak sekeras²nya, tapi tak seorangpun yang menoleh. Jabir mengikuti Bani Haritsah di sepanjang jalan, berdiri sejenak, dan berteriak di luar rumah mereka, tapi tak seorangpun yang keluar menemuinya. Ketika ia dan Abd Allah akhirnya kembali kepada Nabi untuk melaporkan kegagalan mereka, beliau tertawa dan berangkat ke Madinah bersama para sahabatnya yang telah menunggu untuk menemaninya.
*#092#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment