Monday, March 23, 2020

Kisah Rasul bagian 59

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣9⃣ *PARIT*
_______________________

KAUM Yahudi Bani Nadhir yang terusir dan bermukim di Khaybar, ingin merebut kembali tanah mereka yang hilang. Harapan mereka terpusat pada persiapan kaum Quraisy untuk mengadakan penyerangan terakhir kepada Nabi. Pada akhir tahun 5 hijriah- –kira² tahun 627 M– persiapan ini hampir mencapai puncaknya dengan kunjungan rahasia Huyay dan pemimpin kaum Yahudi lainnya dari Khaybar ke Mekah. "Kami adalah bagian dari kalian", kata mereka kepada Abu Sufyan, "kita akan bersama² menangkap Muhammad". "Orang yang sangat kami hormati adalah orang yang dapat membantu kami melawan Muhammad", lanjutnya. Maka, ia dan Shafwan serta kepala² suku Quraisy yang lain masuk ke dalam Ka'bah. Mereka sama² mengangkat sumpah di hadapan tuhannya bahwa mereka tak akan memutuskan perjanjian itu hingga tugas dan tujuan mereka tercapai. Pada kesempatan itu, kaum Yahudi memberikan kesempatan kepada mereka untuk menanyakan pendapatnya tentang konflik yang terjadi antara mereka dengan sang pembawa agama baru, Muhammad. "Wahai orang² Yahudi", kata Abu Sufyan, "Kalian adalah ahli kitab yang pertama, dan kalian memiliki pengetahuan. Katakan kepada kami bagaimana pendirian kalian terhadap Muhammad? Apakah agama kalian lebih baik dari agamanya?" Mereka menjawab, "Agamamu lebih baik dari agamanya, dan kalian lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan dia".

Atas dasar keserasian, kedua suku ini mulai membuat beberapa rencana. Kaum Yahudi bertugas membangkitkan dan menyatukan seluruh suku Nomad di dataran Najd, yang sejak lama memendam dendam terhadap Madinah. Jika ajakan membalas dendam ini tidak mendapat tanggapan, maka kaum Yahudi siap membujuk mereka dengan sogokan. Akhirnya Bani Asad langsung setuju bergabung; sementara Bani Gathafan baru bersedia setelah dijanjikan akan mendapat setengah hasil panen kurma di Khaybar. Dengan kesepakatan ini, jumlah tentara bertambah dua ribu orang dari suku Ghafan Fazarah,  Murrah dan Asyja'. Kaum Yahudi juga berhasil mendatangkan kontingen dari Bani Sulaym sebanyak tujuh ratus kekuatan, yang mestinya bisa lebih banyak, namun sejak adanya pembantaian di sumur Ma'unah sekelompok orang –namun makin lama makin banyak– dari suku itu telah bersimpati kepada Islam. Seperti halnya tetangga mereka di sebelah selatan Sulaym, Bani 'Am tetap menjaga perjanjian mereka dengan Nabi.

Quraisy sendiri dan sekutu²nya berjumlah empat ribu orang. Bersama dengan satu atau dua kontingen lain dari selatan, mereka keluar dari Mekah, berjalan sepanjang rute pesisir barat menuju Madinah, sama dengan rute yang mereka tempuh dalam perjalanan ke Uhud. Pasukan musuh kedua, yang hanya satu unit, menutup jalan Madinah dari arah timur, jalan dari dataran Najd. Jumlah dua pasukan ini, bila disatukan, diperkirakan lebih dari tiga kali lipat kekuatan Quraisy di Uhud. Sedangkan kaum muslim berkekuatan tiga ribu pasukan. Adakah harapan bagi mereka untuk bisa melawan sepuluh ribu pasukan musuh? Lagi pula, tentara mereka hanya membawa dua ratus kuda, sementara Quraisy diperkuat dengan tiga ratus pasukan berkuda; belum lagi ditambah kekuatan lain dari Gathafan.

Mereka bergerak dari Mekah sesuai rencana. Kira² pada waktu yang sama, mungkin atas utusan rahasia 'Abbas, sejumlah penunggang kuda dari Bani Khuza'ah berangkat dengan sangat cepat ke Madinah, memperingatkan Nabi adanya serangan yang mengancam dengan memberikan gambaran kekuatan musuh secara detail. Mereka menempuh perjalanan selama empat hari. Maka, waktu untuk persiapan menghadapi musuh itu tinggal satu minggu. Nabi mengerahkan orang² yg berada di sekitar oasis itu. Beliau juga berpesan kepada seluruh pengikutnya, mengingatkan bahwa mereka akan menang hanya jika mereka tabah, sabar, tawakal, dan mematuhi perintah Allah. Seperti yang dilakukan di Uhud, Nabi mengumpulkan para sahabatnya untuk menanyakan pandangan dan usulan tentang rencana terbaik yang akan mereka lakukan dalam menghadapi serangan musuh itu. Akhirnya Salman berdiri dan mengajukan usul, "Wahai Rasulullah, di Persia, jika kami takut terhadap serangan kuda, kami akan menggali parit mengelilingi rumah kami. Maka, mari kita gali parit untuk melindungi kita". Semua setuju dengan penuh semangat; dan sebagian besar mereka tidak mau mengulangi strategi yang telah mereka jalankan di perang Uhud.

Waktu sangat pendek. Seluruh usaha dikerahkan untuk menghindari sejauh mungkin terjadinya bahaya. Tetapi penggalian parit tak perlu diteruskan lagi. Di beberapa tempat terdapat benteng sebesar rumah di sudut kota yang cukup kuat untuk pertahanan; dan di sebelah barat laut terdapat bebatuan tinggi yang susah ditembus. Jadi, yang dibutuhkan hanya menghubungkan satu sama lain. Di dekatnya, ada sebuah bukit bernama Bukit Sal, dimasukkan ke dalam pertahanan, karena lapangan dibaliknya sangat bagus untuk lokasi perkemahan. Parit itu sendiri akan mengelilingi perkemahan itu, terus ke utara yang menyatukan ujung bukit bebatuan itu dengan satu titik di ujung benteng perbatasan kota yang paling timur. Parit ini adalah jurang yang paling panjang dan luas.

Selain dikenal sebagai pengatur strategi, Salman tahu persis berapa luas dan dalamnya parit yang harus digali. Setelah bekerja pada Bani Qurayzhah, ia tahu bahwa mereka mempunyai semua peralatan yang dibutuhkan. Mereka pun tak menolak untuk meminjamkan alat² itu demi menghadapi bahaya bersama. Sekalipun mereka tidak mencintai Nabi, namun sebagian besar mereka berpendapat bahwa perjanjian dengannya tidak dapat diabaikan demi keuntungan politik. Maka, mereka meminjamkan cangkul, pangkur, dan sekop. Mereka juga mensuplai keranjang² kurma yang sangat kuat, terbuat dari serat pohon kurma, dan dapat digunakan untuk mengangkut tanah galian.

Nabi membagi tugas setiap kelompok masyarakat untuk bagian tertentu dari penggalian parit tersebut dan ia sendiri bekerja bersama mereka. Setiap hari, mereka keluar rumah saat terbit fajar tak lama seusai salat (subuh), dan pulang saat senja tiba. Suatu pagi di hari² pertama, sembari memimpin mereka, Nabi bernyanyi mengingatkan mereka saat membangun masjid:

```Ya Allah, tak ada kebaikan selain dari pada-Mu.
Ampuni kaum Anshar dan kaum Muhajirin!```

Dengan serentak mereka mengikutinya; dan sesekali mereka bersenandung:

```Ya Allah, tiada kehidupan sejati kecuali dari-Mu.
Lindungilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin!```

Mereka terus saling mengingatkan satu sama lain bahwa waktu begitu singkat. Pasukan musuh dapat datang tiba², dan jika mereka tiba, Nabi adalah sasaran utama penghinaan mereka. Di sisi lain, Salman menjadi obyek kebanggaan, bukan hanya karena tubuhnya yang sangat kuat dan kekar, tetapi juga telah bertahun² bekerja menggali dan mengangkut barang bagi Bani Qurayzhah. "Ia seperti sepuluh orang pekerja", kata mereka. Mereka pun mulai saling membanggakan kelompok mereka. "Salman itu orang kami", kata kaum Muhajirin, karena dipandang sama² pendatang. "Dia itu orang kami", balas kaum Anshar, "Kami lebih berhak terhadap dia", Dan Nabi pun berkata, "Salman anggota kami, dia adalah ahlul baitku".

Batu² dan cadas hasil galian yang dapat dipergunakan sebagai peluru dikumpulkan di sepanjang parit yang mengelilingi Madinah. Tanah²nya diangkut melalui keranjang kurma itu; dan setelah dibuang, keranjang² itu diisi batu untuk diletakkan di tepi parit. Batu² keras ditemukan di kaki bukit Sal'. Orang² bertelanjang dada; dan bagi yang tidak kebagian keranjang, dengan menyimpul jubah mereka menjadi semacam karung, mereka membuang tanah dan mengangkut batu ketika kembali. Pada pagi hari pertama, banyak sekali anak² yang turut bersama ayah mereka, semua sangat ingin berpartisipasi dalam pekerjaan itu. Anak² yang terlalu muda disuruh pulang, dan sebagian yang lain diizinkan Nabi untuk turut menggali. Namun, Nabi berpesan bahwa bila pasukan musuh mendekat, mereka harus segera pergi dari perkemahan. Di antara mereka adalah remaja yang dulu dipulangkan dari medan Uhud, Usamah dan Abd Allah, anak Umar, beserta teman²nya yang kini telah berusia kira² lima belas tahun. Maka, kini mereka tak hanya boleh turut menggali, namun juga diperbolehkan turut menghadapi musuh. Di antaranya adalah Bara' dari Bani Haritsah, suku 'Aws, yang setelah beberapa tahun kemudian menuturkan tentang ketampanan Nabi yang ia kenang di parit itu: tubuhnya dibalut jubah merah, dadanya penuh debu, dan rambut hitamnya terurai sampai ke bahu. "Aku tak pernah melihat pemuda lebih tampan darinya", kata Bara'. Bukan hanya dia yang menyadari ketampanan Nabi, dan keindahannya secara umum. Khususnya, pada diri Nabi sendiri sangat disukai karena kesederhanaan dan kedekatannya kepada sifat kesempurnaan, dan Bara' segera menyanyikan sebuah lagu, yang kemudian diikuti oleh semua orang yang hadir di sana:

```Kecantikan ini bukanlah kecantikan dari Khaybar.
Ya Allah, alangkah murninya, sangat murni.``

Nabi kadang bekerja bersama kaum Anshar, dan kadang bersama kaum Muhajirin; kadang dengan pangkur, kadang dengan sekop, dan sesekali bekerja sebagai pengangkut. Namun, dimanapun beliau berada, telah diketahui bahwa beliau pasti telah diberi tahu tentang kesulitan² yang tidak biasa. Di samping pekerjaan yang berat, terdapat saat² yang menyenangkan. Seorang mualaf dari Bani Dhamrah, salah seorang ahli suffah, adalah pria yang saleh namun tampak kurang menarik dan orang tuanya sendiri memberinya nama Ju'ayl, yang bisa berarti "kumbang kecil". Nabi baru saja mengubah namanya menjadi 'Amr, yang berarti kehidupan, pencerahan spiritual dan agama. Melihat orang Dhamrah itu sedang menggali, seorang Muhajirin menggubah sebait kata:

```Namanya telah berubah, dari Ju'ayl menjadi 'Amr,
Bantulah dia, si orang miskin.```

Ia mengulanginya di depan 'Amr, dan orang² yang mendengarnya menyambungnya menjadi sebuah lagu dengan penuh canda. Nabi mengikutinya, hanya pada kata 'Amr dan 'Bantulah', diucapkannya setiap kali dengan memberinya tekanan. Kemudian, Nabi mengalihkan mereka untuk menyanyikan lagu yang lain:

```Hanya Allah yang melindungi kita,
Selalu melimpahkan karunia-Nya kepada siapa pun yang berdoa kepadanya.
Berilah kami ketentraman,
Kuatkan kaki kami menghadapi pertempuran.
Musuh² yang menindas kami, yang menyesatkan kami,
Tapi kami menolaknya.```

Teriakan minta tolong pertama berasal dari Jabir, yang tertimbun batu dan tak satupun peralatan mereka mampu menggesernya. Nabi meminta air dan kemudian meludahinya. Setelah memanjatkan doa, beliau menyiramkan air itu ke atas batu tersebut, dan mereka pun dapat menggesernya dengan sekop seolah² sedang menyekop timbunan pasir.

Di hari lain, seorang Anshar membutuhkan pertolongan. Setelah dengan susah payah mengangkat dan memindahkan sebongkah batu besar, ia tertimpa batu itu. 'Umar segera menemui Nabi. Beliau kemudian mengambil pangkur dan memukul batu itu, dan keluarlah kilatan cahaya di atas kota itu mengarah ke selatan. Nabi memukulnya lagi dan keluarlah cahaya tapi mengarah ke Uhud dan melewatinya menuju utara. Dan pukulan yg ketiga menghancurkan batu itu hingga berkeping², dan kali ini cahayanya mengarah ke timur. Salman menyaksikan ketiga kilatan cahaya itu dan tahu bahwa semua itu mengandung makna. Maka ia bertanya kepada Nabi apa takwilnya. Nabi menjawab, "Perhatikanlah cahaya² itu, hai Salman? Dengan cahaya yang pertama, aku dapat menyaksikan kastil² di Yaman; dengan cahaya yang kedua, aku menyaksikan kastil² di Syria; dan dengan cahaya yang ketiga, aku menyaksikan istana Kisra di Mada'in. Melalui yang pertama, Allah membukakan pintu bagiku menuju Yaman; melalui yang kedua, menuju Syria dan dunia barat; dan melalui yang ketiga, ke arah Timur".

Sebagian besar para penggali tidak cukup makan seperti biasanya. Padahal, bekerja keras itu semakin mempercepat rasa lapar. Terutama, Jabir yang seluruh waktunya digunakan untuk membantu Nabi menggali parit dengan segenap tenaganya. Dan malam itu, ia menanyakan istrinya, apakah ia dapat memasakkan daging baginya. "Kita tidak memiliki apa² kecuali seekor anak kambing dan sedikit gandum", jawab istrinya. Maka, anak kambing itu disembelih, dan esoknya istrinya menumbuk gandum itu untuk dibuat roti. Ketika hari sudah terlalu gelap untuk meneruskan pekerjaan, Jabir pergi mengundang Nabi ke rumahnya untuk makan daging goreng dan roti. "Nabi meletakkan telapak tangannya di atas telapak tanganku", cerita Jabir, "dan mengaitkan jari²nya dengan jari²ku. Sebenarnya aku hanya mengundangnya sendirian, tapi beliau sudah berteriak kepada semua orang, 'Ayo berangkat bersama Rasulullah ke rumah Jabir. Mari kita penuhi undangan Jabir'". Jabir terkejut dan segera mengucapkan, _"Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun!"_ dan ia segera berlari pulang memberi tahu istrinya. "Apakah engkau yang mengundang mereka atau Nabi?" tanya istrinya. "Tidak, beliaulah yang mengundang mereka", jawab Jabir. "Biarkan mereka datang", katanya, "karena beliau lebih tahu yang terbaik". Makanan dihidangkan di depan Nabi dan beliau memberkatinya, menyebut nama Allah dan mulai menyantapnya. Ada sepuluh orang yang turut hadir di sekitar Nabi, dan setelah mereka selesai makan, mereka bangkit dan pulang ke rumah masing². Setelah itu sepuluh orang lagi bergantian menyantap makanan itu. Demikian seterusnya hingga setiap pekerja yang turut menggali parit pulang ke rumah dalam keadaan kenyang. Dan _Subhanallah!_ Daging goreng dan roti itu masih tersisa!

Di hari yang lain, Nabi melihat seorang gadis masuk ke perkemahan, membawa sesuatu di tangannya. Nabi memanggilnya. Ternyata, dia keponakan Abd Allah ibn Rawahah. Gadis itu kemudian menceritakan peristiwa selanjutnya:

```Ketika kuberi tahu Rasulullah bahwa aku membawakan kurma untuk ayah dan pamanku, beliau meminta agar kurma itu diserahkan kepadanya. Maka, kutumpahkan semuanya ke tangannya, tetapi tidak penuh. Beliau meminta seseorang untuk membentangkan sehelai kain, dan kurma² itu diletakkan di atasnya. Sungguh aneh, semua permukaan kain itu dipenuhi kurma yang sangat banyak dan berhamburan. Kemudian, Nabi mengundang semua orang yang ada untuk turut menyantap kurma itu sebagai makan siang. Para penggali itu memakannya bergantian. Sementara, kurma itu terus bertambah, sehingga setelah mereka selesai makan semuanya, kurma baru habis di bagian pinggir kain saja.```

*#088#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment