Monday, March 16, 2020

Kisah Rasul bagian 58

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
5⃣8⃣ *DAMAI DAN PERANG*
_______________________

BEBERAPA bulan kemudian, tak lama setelah Tahun Baru 626 M. Fathimah melahirkan seorang putra lagi. Nabi sangat menyukai Nama Hasan, maka beliau menamakan adiknya itu, Husayn, yang artinya "Hasan kecil", atau "anak baik yang kecil". Pada saat yang sama, istri beliau Zaynab, "Sang ibu kaum papa", jatuh sakit dan kemudian meninggal, kurang dari delapan bulan usia pernikahan mereka. Nabi menyalatinya dan menguburkannya di Baqi', tidak jauh dari kuburan putri beliau, Ruqayyah. Bulan berikutnya, sepupu beliau, Abu Salamah meninggal akibat luka yang dideritanya sejak Perang Uhud, yang terasa meninggal terlalu cepat dan menimbulkan kesedihan. Nabi berdoa dan berada di sisi Abu Salamah pada detik² akhir kehidupannya; dan beliau pula yang mengatupkan matanya ketika ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Abu Salamah dan istrinya adalah pasangan yang sangat harmonis. Sebelum menikah, istrinya memintanya membuat perjanjian yang berisi: jika sang istri meninggal lebih dahulu, maka Abu Salamah tidak boleh menikah lagi. Tetapi, jika Abu Salamah yang meninggal lebih dahulu, istrinya dibolehkan menikah lagi dan ia berdoa, "Ya Allah, karuniailah Umm Salamah suami yang lebih baik dariku kelak sepeninggalku, yang takkan membuatnya sedih". Empat bulan setelah kematian suaminya, Umm Salamah dilamar Nabi. Ia menjawab bahwa dirinya khawatir tak layak menjadi istri beliau. "Aku wanita yang telah kehilangan masa² terbaikku", katanya, "dan aku juga ibu dari anak yatim. Lagi pula, aku sangat pencemburu, sedangkan engkau, hai Rasulullah, telah memiliki lebih dari seorang istri".

Nabi menjawab, "tentang usia, aku lebih tua darimu; tentang kecemburuanmu, semoga Allah mencabutnya dari hatimu; dan mengenai anak²mu yang yatim, Allah dan Rasul-Nya akan mengasuh mereka". Maka mereka pun menikah, dan Nabi menempatkan Umm Salamah di rumah bekas kediaman almarhumah Zaynab.

Meskipun Umm Salamah mencemaskan usianya, ia sebenarnya masih muda, usianya sekitar 25 tahun. Ketika pindah dari Abyssinia bersama Abu Salamah, ia baru berusia delapan belas tahun. Mengenai kecemburuannya, sebenarnya ia takut jika pernikahan itu menjadi suatu ujian baginya. Tidak hanya dia yang memiliki perasaan takut semacam itu. 'A'isyah dapat menerima Hafshah dengan mudah, begitu juga dengan Zaynab; namun berbeda dengan madunya kali ini. Penyebabnya, tak diragukan lagi, karena usia 'A'isyah sendiri lebih tua, saat itu hampir mencapai empat belas tahun. 'A'isyah sering bertemu dengan Umm Salamah, dan pernah bersama² mempersiapkan pernikahan Fathimah. Namun, ia tak pernah membayangkan akan menjadi salah seorang madunya. Kini, bagaimanapun juga, saat semua orang di Madinah memperbincangkan pernikahan Nabi dengan pengantin yang cantik itu, dia sangat gelisah dan cemas. "Aku benar² sedih", katanya, "karena mereka semua mengatakan kepadaku tentang kecantikannya. Maka aku harus melihat sendiri dari dekat, dan aku melihatnya jauh lebih cantik dari yang digambarkan orang. Kuceritakan kepada Hafshah dan ia berkata, 'Tidak, engkau terbakar rasa cemburu saja; ia tak secantik yang kau katakan'. Maka, Hafshah mendekati Umm Salamah dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, dan ia berkata, 'Aku telah memerhatikannya, tapi ia tak seperti yang kau katakan. Setelah kudekati, dari semua sisi, ia memang benar² cantik jelita'. Maka aku melihatnya sekali lagi, dan memang benar yang dikatakan Hafshah. Akupun sangat cemburu".

Waktu makin mendekati perjumpaan kedua di Badr, bertepatan dengan tantangan Abu Sufyan di akhir perang Uhud –sebuah tantangan yang telah disetujui Nabi. Tetapi, tahun itu adalah musim kemarau. Abu Sufyan melihat tak ada rumput hijau untuk makanan unta dan kuda mereka dalam perjalanan nanti. Semua perbekalan harus dibawa dari Mekah, sementara di sana pun persediaan mereka sudah habis. Meski demikian, ia tak mungkin membatalkan perjanjian yang telah dibuatnya sendiri. Ia sangat berharap bila Muhammad sendiri yang membatalkan perjanjian tersebut, tapi berita dari Yatsrib justru sebaliknya: kaum muslim sedang mempersiapkan diri untuk berperang. Dapatkah ia mengubah keputusan itu? Abu Sufyan mengonsultasikannya  kepada Suhayl dan satu dua orang pemimpin Quraisy, dan mereka pun membuat suatu rencana. Kebetulan, saat itu teman Suhayl, Nu'aym, berada di Mekah, kepala suku Bani Asyja', salah satu sekutu Ghathafan. Nu'aym bisa dipercaya oleh mereka, karena ia bukan orang Quraisy yang dapat bersikap netral dan berpandangan objektif. Jika berhasil membatalkan rencana kaum muslim dalam pertempuran di Badr nanti, ia ditawari upah dua puluh ekor unta. Nu'aym setuju dan segera pergi ke oasis itu, membawa gambaran kekuatan yang telah dipersiapkan Abu Sufyan untuk perang Badr nanti. Ia berbicara pada semua komunitas yang berbeda²: Muhajirin, Anshar, Yahudi, dan kaum munafik. Ia mengingatkan mereka akan bahaya besar yang bakal mereka temui nanti di peperangan tersebut. Ia berkata, "Tetaplah di tempat dan jangan berangkat untuk melawan mereka. Demi Tuhan! Aku yakin tak seorangpun dari kalian akan lolos dari maut". Kaum Yahudi dan kaum munafik sangat gembira dengan kabar itu. Mereka pun membantunya menyebarluaskan berita itu ke seluruh penjuru Madinah. Nu'aym berhasil memengaruhi sebagian kaum muslim sendiri, yang pada akhirnya melihat bahwa sia²lah menerima tantangan kaum kafir untuk berperang di Badr. Kabar itu sampai kepada Nabi, dan beliau khawatir bila tak ada yang mau ikut bersamanya ke sana. Tapi, Abu Bakr dan Umar meyakinkan beliau bahwa tak ada alasan untuk membatalkan perjanjian perang yang telah ditetapkan dengan kaum Quraisy. "Allah akan mendukung agama-Nya", mereka berkata, "dan Dia akan memberikan kekuatan kepada Rasul-Nya". "Aku akan tetap berjuang", kata Nabi, "meskipun aku berangkat sendiri".

Kata² singkat itu telah menggagalkan Nu'aym untuk mendapatkan unta²nya. Usahanya sia² justru pada saat ia merasa telah berhasil. Namun, anehnya, ia malah sangat terkesan dengan misinya yang gagal total: ada suatu kekuatan sedang meliputi Madinah, yang sama sekali melampaui pengaruh dan pengalamannya, dan benih² keyakinan terhadap Islam pun tumbuh di hatinya. Sesuai dengan rencana semula, Nabi berangkat bersama 1500 tentara mengendarai unta dan 10 tentara berkuda. Sebagian besar mereka membawa barang dagangan--adalah pedagang--yang akan dipertukarkan di Badr Nanti.

Sementara itu, Abu Sufyan telah berkata kepada kaum Quraisy, "Mari kita keluar dan melewatkan satu dua malam di perjalanan, dan kemudian kembali lagi. Jika Muhammad tdk berangkat, ia akan mendengar bahwa kita siap untuk maju dan kita kembali lagi karena ia tidak menemui kita. Hal ini berarti kekalahan baginya dan kemenangan bagi kita". Namun yang akan terjadi sebaliknya. Nabi dan para sahabatnya telah delapan hari berada di Badr, dan ada yang membawa berita baru bahwa Quraisy telah membatalkan tantangannya, sementara Muhammad dan sahabatnya tetap menjaga janjinya untuk melawan mereka. Ketika berita itu tersebar di Mekah, mereka sadar bahwa musuh mereka telah menang secara moral, sementara mereka sendiri sangat terpuruk di mata seluruh jazirah Arabia. Shafwan dan kawan²nya dengan getir menyalahkan Abu Sufyan yang mengusulkan perjumpaan kedua di Badr. Namun, aib ini tidak lama terpendam hingga mereka mempersiapkan puncak pembalasan dendam mereka kepada seluruh pemeluk dan pengikut agama baru itu.

Sekembalinya dari Badr, Nabi merasakan kedamaian, setidaknya, selama satu bulan di Madinah. Baru pada awal tahun Hijriah, juni 626M, datanglah kabar bahwa sekutu Gathafan berencana untuk menyerang mereka lagi. Beliau segera berangkat bersama empat ratus pasukan ke dataran Najd, tapi ternyata pasukan musuh telah kabur sebelum diserang. Pada ekspedisi itu, di tengah perjalanan Nabi mendapatkan wahyu berupa petunjuk pelaksanaan salat dalam keadaan darurat: mereka boleh meringkas salat dan menyesuaikan gerakan²nya dalam keadaan bahaya, dan sebagian orang boleh berjaga², sementara yang lain mendirikan salat.

Seorang pria yg turut dalam ekspedisi itu, bernama Jabir, putra Abd Allah, menceritakan peristiwa² yg dilalui bersama Nabi di perkemahan dan perjalanan mereka.

```Kami sedang bersama Nabi ketika seorang teman datang dengan membawa seekor anak burung yg baru ditangkapnya. Tak lama kemudian, datanglah seekor butung dewasa, yg dikira induk anak burung itu. Ia langsung hinggap di atas tangan teman kami itu. Tampak sekali muka teman kami takjub menyaksikan kedatangan induk burung yang hinggap di tangannya dengan tiba². Kemudian Nabi berkata, "Apakah engkau heran melihat kedatangan burung ini? Engkau telah mengambil anaknya, maka ia mencarinya dan menemukan anaknya dan kemudian membelainya dengan penuh kasih sayang. Maka, aku bersumpah demi Allah, bahwa Tuhanmu jauh lebih menyayangi kalian ketimbang induk burung itu kepada anaknya". Dan Nabi menyuruh teman kami itu agar mengembalikan anak burung itu ke tempat ia ditemukan.```

Nabi juga bersabda, "Allah memiliki seratus kasih sayang, dan satu di antaranya Dia bagikan kepada jin, manusia, dan hewan ternak, bahkan binatang buas. Sehingga mereka saling menyayangi satu sama lain, dan dengan kasih sayang itulah semua makhluk cenderung untuk mengasihi dan menyayangi anaknya. Sedangkan 99 kasih sayang-Nya yang lain disimpan untuk ditunjukkan nanti di hari kiamat".

Jabir juga menuturkan peristiwa perjalanan pulang mereka ke Madinah. Sebagian besar pasukan berjalan di depan, sementara Nabi dan beberapa sahabatnya berjalan agak di belakang. Unta Jabir sudah sangat tua dan lemah, sehingga tidak bisa menyamai langkah rombongan lainnya. Maka tak lama kemudian, Nabi menyusulnya dan bertanya kepadanya, mengapa ia tertinggal jauh di belakang. Jabir menjawab, "Hai Rasulullah, untaku ini sudah tak bisa berjalan lebih cepat lagi". "Rundukkanlah ia", kata Nabi, sambil merundukkan juga untanya. "Mana pecutnya?", tanya Nabi. Jabir mengambil pecut dan memberikannya kepada Nabi. Beliau memukul unta Jabir sekali dua kali, dan menyuruh Jabir untuk menaikinya lagi. "Dan kami pun berangkat lagi, dan demi Dia yang telah mengutus Rasul-Nya dengan kebenaran, untaku dapat berjalan dengan cepat, mendahului beliau".

"Di perjalanan, aku bercakap² dengan Rasulullah. Beliau berkata, 'Maukah engkau menjual untamu kepadaku?' 'Tidak, akan kuberikan ia kepadamu!' jawabku. 'Juallah kepadaku', pinta Nabi lagi". Dari nada suaranya, tampaknya Nabi memang ingin menawar untanya. Maka Jabir mempersilakan beliau mengajukan penawaran lebih dahulu. "Satu dirham", Nabi membuka penawarannya. "Tidak bisa", jawab Jabir. Nabi meningkatkan lagi harga unta itu, demikian tawar menawar itu terjadi hingga akhirnya dicapai harga empat puluh dirham, yang berarti setara dengan satu ons emas dan Jabir menyetujuinya.

Beliau kemudian bertanya, "Sudahkah kau menikah hai Jabir?" ketika Jabir menjawab sudah, beliau bertanya lagi, "Dengan seorang janda atau perawan?" "Dengan janda", jawab Jabir. "Mengapa tidak dengan seorang perawan, sehingga engkau bisa bersenang² dengannya dan ia bisa bersenang² denganmu?" "Hai Rasulullah, ayahku gugur di Perang Badr dengan meninggalkan tujuh anak perempuan. Maka aku menikahi seorang wanita yang keibuan agar dapat tinggal bersama mereka, mengasuh, menyisir rambut, dan mengawasi kebutuhan mereka". Beliau menyatakan bahwa Jabir telah mengambil keputusan yang tepat. Kemudian, setelah mencapai Shirar, kira² tiga mil dari Madinah, beliau mengatakan akan mengurbankan beberapa ekor unta dan akan berhenti di sana beberapa hari. Beliau juga mengatakan, istri Jabir pasti akan mendengar kabar kepulangan mereka, mempersiapkan tempat tidur, dan membersihkan bantal² dari debu. "Kami tidak memiliki bantal, hai Rasulullah", kata Jabir. "Tenang saja, bantal² itu pasti akan datang", jawab Nabi, "maka, jika engkau sampai di rumah, lakukan apa yang telah kita sepakati".

"Esoknya, setelah kami kembali, kubawa unta tuaku ke depan pintu rumah Nabi. Nabi keluar dan menyuruhku meninggalkan unta dan ikut salat dua rakaat di masjid. Kemudian, Nabi menyuruh Bilal menimbang satu ons emas untuk membayar untaku. Setelah kuambil emas itu dan hendak kubawa pergi, Nabi memanggilku kembali, 'Ambillah untamu', kata Nabi, 'ini milikmu dan simpanlah emas itu untukmu'".

Selama beberapa bulan itu, Salman, seorang persia, datang kepada Nabi untuk meminta nasihat dan bantuan. Majikannya seorang Yahudi Bani Qurayzhah, menyuruh Salman bekerja terlalu berat di tanah miliknya yang terletak di pinggir Madinah, hingga ia tak dapat berhubungan dengan umat Muslim yang lain. Itu juga membuatnya tak dapat turut dalam Perang Badr dan Perang Uhud, atau terlibat pada berbagai pertempuran kecil, baik yang dipimpin Nabi atau sahabat lain, selama empat tahun terakhir ini. Adakah jalan keluar dari situasi demikian? Salman telah bertanya kepada majikannya, berapa harga yang harus dibayar untuk membebaskan dirinya. Namun, jumlah yang mesti dibayar jauh di atas kemampuannya. Ia harus membayar empat puluh ons emas dan menanam tiga ratus batang pohon kurma. Nabi menyuruhnya untuk menulis surat persetujuan untuk membayar emas dan pohon kurma itu kepada majikannya. Kemudian Nabi mengajak para sahabatnya untuk membantu Salman dengan memberikan tunas pohon kurma. Di antara mereka ada yang menyumbang tiga puluh pohon, ada yang dua puluh pohon, dan sebagainya hingga terkumpullah sejumlah yang diminta. "Galilah lubang untuk menanamnya Salman", kata Nabi, "kalau selesai, beritahu aku, karena aku sendiri yang akan menanamnya". Para sahabat turut membantu Salman menyiapkan lahan, sedangkan Nabi menanam setiap tunas pohon kurma itu hingga tiga ratus batang, yang semuanya segera berakar dan tumbuh.

Mengenai sisa harganya, seorang penambang menyerahkan sebongkah emas seukuran telur ayam kepada Nabi. Emas itu kemudian diberikan kepada Salman. Beliau menyuruhnya agar melunasi sisa harga tebusannya dengan emas itu. "Benarkah aku bisa menebus diriku dengan emas ini?", tanya Salman dengan ragu, karena mengira jumlahnya belum cukup. Nabi mengambil emas itu dan dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu diputar² dengan lidahnya. Kemudian, emas itu dikembalikan lagi kepada Salman, sambil berkata, "Ambillah, dan bayarlah harga tebusanmu dengan ini". Salman menimbang emas itu dan bobotnya empat puluh ons. Maka, kini ia menjadi orang merdeka.

Ada bulan kedamaian lain di Madinah. Dengan memimpin seribu orang, Nabi bergerak cepat ke utara, kira² lima ratus mil menuju Dumat al-Jandal, sebuah oasis di Syria. Tempat itu sedang diduduki oleh kawanan perampok, yang kebanyakan berasal dari Bani Kalb. Mereka tidak sekedar merampas persediaan tepung, minyak, dan kebutuhan lain di sepanjang jalan menuju Madinah, tetapi juga berniat mengadakan suatu perjanjian dengan kaum Quraisy, bahwa jika terjadi serangan gencar dari kaum muslim, mereka akan menutup jalan dari arah utara. Inilah yang mengusik pikiran Nabi dan para sahabatnya. Karena itu, sasaran ekspedisi itu tidak hanya untuk mengusir kawanan perampok dan menangkap ternak mereka yang digembalakan di selatan oasis itu, tetapi juga membuat gentar suku² di sebelah utara ini bahwa telah muncul suatu kekuatan baru yang dapat berkembang pesat di jazirah Arabia. Bertahun² terjadi perpecahan sipil di Yatsrib sehingga mudah diserang dari luar. Perpecahan tersebut kini telah berubah menjadi persatuan erat dan kekuatan besar yang dapat menyerang dengan luas dan dengan kecepatan yang mengagumkan. Kondisi demikian lebih menghawatirkan, karena diketahui bahwa penyerangan adalah bentuk pertahanan yang paling baik.

Sebenarnya itu hanya kesan dari luar, tapi bagi mereka yang melihat lebih dekat, kekuatan muslim yang sebenarnya jauh lebih kuat dari yang tampak. Sebab, itu didasari oleh persatuan yang merupakan suatu keajaiban. Sebuah wahyu turun kepada Nabi: _"meskipun kamu telah membelanjakan seluruh isi bumi, niscaya kamu tak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah menyatukan hati mereka"._ (Q.S. 8: 63). Kehadiran Nabi merupakan salah satu faktor terbesar bagi terjadinya persatuan ini. Sudah ditakdirkan, daya tarik kehadirannya membuat banyak orang mencintai dan mendukungnya. "Kalian belum dianggap beriman sebelum mencintai aku melebihi cintamu kepada ayah, anak dan orang lain". Namun, pernyataan ini tidak lain adalah suatu penegasan cinta sejati yang sudah diberikan –suatu cinta yang sering diungkapkan dengan kalimat, "Biarkan ayah dan ibuku menjadi tebusanmu".

Saat² tidak berperang bukan berarti saat beristirahat bagi Nabi. Beliau menetapkan sepertiga waktunya dalam sehari untuk beribadah, sepertiga untuk bekerja, dan sepertiga lagi untuk keluarganya. Bagian yang ketiga itu termasuk tidur dan makan. Sedangkan untuk beribadah, beliau banyak melakukannya di malam hari. Sebagai tambahan, antara salat isya dan subuh, Nabi dan para sahabatnya melaksanakan salat sunnah. Alquran juga menyebutkan supaya membaca ayat²nya dan Nabi menganjurkan berbagai bacaan untuk bertobat dan bersyukur. Salat malam ditegaskan dalam wahyu yg pertama, namun hanya diterima kaum terkemuka secara spititual. Madinah juga memiliki banyak kaum beriman awal yang terkemuka. Namun, penyebaran Islam yang cepat dalam beberapa tahun terakhir membuat kaum terkemuka itu menjadi kaum minoritas; dan merekalah yang digolongkan sebagai _"suatu kaum yang bersamamu"_ dalam sebuah ayat yang diwahyukan untuk mengurangi kewajiban mereka berjaga sepanjang malam:

_Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua, atau sepertiganya dan demikian pula segolongan dari orang² yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa engkau tak mampu menentukan batas² waktunya, maka Dia memberikan keringanan bagimu, karena itu bacalah ayat Quran yang mudah bagimu_ (Q.S. 73: 20).

Walaupun demikian, para sahabat utama Nabi tetap banyak mendirikan salat di malam hari. Nabi telah menyebutkan, sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling diberkati, seperti yang disebutkan dalam sabdanya: "Pada setiap sepertiga malam yang terakhir tiba, Tuhan kita –segala puji bagi-Nya– akan turun ke langit yang terdekat, dan berfirman, 'Barang siapa bertanya kepadaku, maka akan Kujawab, barang siapa berdoa, maka akan Kukabulkan, barang siapa memohon ampun, maka akan Kuampuni'". Diwahyukan pula mengenai waktu ini sebagai definisi orang² beriman:

_"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa dengan penuh cemas dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki mereka yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa berbagai kenikmatan yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan_ (Q.S. 32: 16-17).

Pembagian waktu sepanjang hari secara sama antara ibadah, kerja dan keluarga hanyalah berdasarkan perkiraan. Untuk memerhatikan keluarganya, Nabi tidak memiliki kamar sendiri, dan setiap malam beliau mendatangi rumah istrinya yang mendapat giliran dan menemaninya selama 24 jam. Pada siang hari, beliau sering dikunjungi putri²nya dan bibinya, Shafiyyah, atau beliau mengunjungi mereka. Setiap kali berkunjung, Fathimah biasanya bersama dua putranya yang dicintai Nabi. Hasan kini berusia hampir satu setengah tahun, dan Husayn delapan bulan, sedang mulai belajar berjalan. Nabi juga sangat menyayangi cucu perempuannya, Umamah, yang selalu mengikuti ibunya, Zaynab. Sesekali cucu perempuannya itu beliau bawa ke masjid dan dipanggul di pundaknya. Sambil membaca ayat² Alquran, ia tetap di pundak beliau. Sebelum beliau bersujud atau ruku, ia diturunkan, dan di saat berdiri tegak, ia dipanggul kembali. Bocah lain adalah putra Zayd dan Umm Ayman yang berusia lima belas tahun, Usamah, yang sangat dekat dengan Nabi. Sebagai seorang cucu laki² di rumah itu, ia selalu berada di samping atau di depan rumah beliau.

Hampir setiap malam Nabi mengunjungi Abu Bakr seperti yang beliau lakukan di Mekah. Untuk beberapa masalah keluarga dan tugas, Nabi sering meminta pertimbangan dan kebijakan Abu Bakr, misalnya tentang bagaimana beliau harus bersikap terhadap Zayd dan menantu² beliau, 'Ali dan 'Utsman. Khusus waktu kerja, Nabi sepanjang hidupnya selalu menghadapi masalah. Sebab, tak ada pilihan lain di Madinah yang dapat menandingi kemampuan beliau dalam memecahlan masalah, menjawab berbagai pertanyaan, atau menyelesaikan suatu perselisihan. Bahkan, bagi orang² yang tidak mengimani kenabiannya, mereka meminta bantuan beliau, kecuali orang yang benar² sombong atau gengsi untuk meminta pertolongannya. Berbagai perselisihan antara kaum Yahudi dan kaum muslim tak jarang terjadi, terkadang karena fanatisme yang melampaui batas. Misalnya seorang Anshar memukul seorang Yahudi ketika mendengar kata²nya. "Apakah engkau masih akan berkata", kata si muslim, " 'Demi Allah, yang telah memilih Musa di antara manusia lain' setelah diturunkan seorang Nabi dari kami?" Si Yahudi mengadukan hal itu kepada Nabi. Wajah Nabi memerah dan beliau mencela si muslim yang memukul tadi. Di dalam Alquran sendiri disebutkan, _"Wahai Musa, sebenarnya aku telah memilihmu melebihi manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung denganku"_ (Q.S.77: 144). Alquran juga menyebutkan, _"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing²)"_ (Q.S. 3: 33). Namun, karena memahami isi pikiran orang² itu, Nabi berkata, "Janganlah katakan bahwa aku lebih baik dari Musa". Beliau juga berharap agar tak ada lagi orang yang berselisih karena fanatisme berlebihan, "Jangan ada yang berkata bahwa aku lebih baik dari Yunus". Wahyu telah diturunkan bagi mereka, sebagai bagian dari ajaran Islam, _"Kami tidak membeda²kan di antara rasul²-Nya"._

Di samping hal yang berkaitan dengan kesejahteraan umatnya secara keseluruhan; baik keharmonisan di dalamnya atau hubungan dengan semua bangsa Arab dan sekitarnya, selalu saja Nabi diminta nasihat atau bantuannya oleh seorang atau beberapa orang mukmin mengenai persoalan pribadi atau masalah lain, seperti kasus Salman, atau masalah spiritual seperti ketika Abu Bakr membawa seorang laki² dari Bani Tamim, Hanzalah, yang kemudian menetap di Madinah. Pada mulanya, Hanzalah datang ke Abu Bakr untuk menanyakan masalahnya, namun Abu Bakr merasa bahwa yang mampu menjawabnya adalah orang yang lebih tinggi darinya. Ketika menemui Nabi, wajah Hanzalah menampakkan rasa duka yang mendalam. Sebelum Nabi bertanya, ia berkata Lebih dulu, "Hanzalah adalah seorang munafik, hai Nabi" Nabi menanyakan apa maksudnya, ia menjawab, "Wahai Rasulullah, saat kami bersamamu, dan engkau menceritakan tentang surga dan neraka, dengan begitu jelas, seolah² kami semua melihatnya. Tetapi, setelah kami pulang ke rumah, pikiran kami terlena oleh kegembiraan dan kesenangan kepada anak, istri dan harta kami, sehingga banyak hal yang kami lupakan". Nabi menjelaskan bahwa yang terbaik bagi seorang muslim adalah selalu mengingat Allah di mana pun dan kapan pun berada, tanpa harus meninggalkan kehidupan sehari²nya. "Demi Allah yang menguasai jiwaku", kata Nabi, "jika engkau tetap seperti di depanku, atau engkau berzikir terus menerus, maka para malaikat akan memelukmu, baik saat engkau terbaring di atas tempat tidurmu atau engkau sedang dalam perjalanan. Tapi, Hanzalah, itu hanya sesaat-sesaat!"

Berbagai permintaan semacam itu kepada Nabi tidak dapat dihindari. Namun, kemudian berkembanglah kebutuhan yang menyebabkan Nabi harus dilindungi dengan cara lain, dan perlindungan yang kini datang berkaitan dengan kejadian² yang sama sekali tak terduga, yang justru mempertegas posisi Nabi yang istimewa. Suatu hari, Nabi pergi ke rumah Zayd untuk membicarakan suatu masalah. Ketika beliau datang, Zayd sedang tidak ada di rumah. Zaynab, karena tidak menyangka akan ada tamu di waktu² tersebut, sedang berpakaian seadanya. Saat ia diberitahu bahwa Nabi datang, ia sangat kaget dan ingin sekali menemuinya. Zaynab lari ke pintu tanpa mengenakan alas kaki untuk mempersilakan Nabi masuk dan menunggu hingga suaminya kembali. "Dia sedang tidak ada hai Rasulullah", katanya, "tapi demi bapak dan ibuku, silakan masuk!" Saat Zaynab berdiri di pintu, ia tampak berseri² dan riang gembira, dan Nabi kagum oleh kecantikannya. Beliau cepat berbalik dan pergi, sambil menggumamkan kata² yang tak terdengar oleh Zaynab. Kata² yang sempat didengarnya hanyalah sebuah pujian kekaguman: "Mahaagung Allah, Mahaagung, Dia yg menguasai hati manusia!" Setelah Zayd pulang, Zaynab menceritakan tentang kedatangan Nabi serta gumaman yang didengar dari mulut beliau. Zayd segera menemui Nabi dan bertanya, "Aku telah diberitahu tentang kedatanganmu hai Rasulullah. Mengapa engkau tidak berkenan masuk ke dalam rumahku? Bukankah engkau telah menjadi orang tuaku sendiri? Apakah engkau merasa Zaynab telah jatuh hati kepadamu? Jika benar, maka akan kuceraikan dia". "Jagalah istrimu dan takutlah kepada Allah", jawab Nabi dengan tegas. Beliau bersabda, "Sesuatu yang halal tapi paling dibenci Allah adalah perceraian". Keesokan harinya, Zayd datang lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Nabi sekali lagi menyuruhnya agar istrinya tetap dipertahankan. Namun, perkawinan Zayd dan Zaynab memang bukan rumah tangga yang bahagia. Zayd merasa, rumah tangganya tak dapat dipertahankan lagi. Dengan persetujuan Zaynab, akhirnya Zayd menceraikannya. Sampai disitu, bukan berarti Zaynab memenuhi syarat untuk dinikahi Nabi. Sebab, meskipun Alquran hanya melarang untuk menikahi bekas istri dari anak kandung, namun sudah berakar di tengah masyarakat bahwa seorang anak angkat tidak dibedakan dengan anak kandung. Demikian pula Nabi. Menurut hukum Islam, beliau tidak boleh menikah lagi karena telah memiliki empat orang istri.

Bulan demi bulan berlalu. Suatu hari, di saat Nabi sedang bercakap² dengan salah seorang istrinya, suatu kekuatan wahyu menyelimuti dirinya. Ketika pulih, kata² pertama yang beliau ucapkan adalah, "Siapa yg akan pergi ke rumah Zaynab dan menyampaikan berita dari langit bahwa Allah telah menikahkan dia denganku?" Salma, pembantu Shafiyyah yang telah lama menjadi anggota rumah tangga Nabi, sedang berada di dekatnya. Dengan buru², ia segera berlari ke rumah Zaynab untuk menyampaikan berita itu. Ketika Zaynab mendengar kabar yg sangat mengejutkan itu, ia segera bertakbir dan bersujud syukur dua kali. Kemudian, ia melapaskan gelang dan kalung peraknya dan memberikannya kepada Salma.

Zaynab sebenarnya sudah tak muda lagi. Umurnya hampir empat puluh tahun, tapi termasuk awet muda. Lagi pula, ia sangat saleh, sering berpuasa, banyak salat malam dan sangat dermawan. Ia seorang pengrajin kulit yang sangat terampil, pintar membuat sepatu dan barang² lainnya. Semua hasil jerih payahnya ini, ia serahkan untuk menyantuni fakir miskin. Tidak ada upacara pernikahan yang formal, karena akad nikah mereka telah dinyatakan dalam suatu ayat, _"Kami telah menikahkan mereka"_ (Q.S. 33: 40). Dengan demikian, pengantin wanita dapat langsung dibawa oleh pengantin pria.

Ayat berikutnya juga menyatakan bahwa untuk masa² berikutnya, seorang anak angkat harus menyertakan nama ayah kandungnya. Maka, sejak itu Zayd dipanggil dengan nama Zayd ibn Haritsah sebagai pengganti Zayd ibn Muhammad, nama yang telah disandangnya sejak diadopsi Nabi 35 tahun silam. Namun perubahan nama tersebut tidak mengubah posisinya sebagai anak angkat, tidak pula memengaruhi kecintaan dan kedekatan antara sang anak dan sang ayah, yang kini masing² hampir berusia lima puluh dan enam puluh tahun. Aturan itu hanyalah suatu penegasan bahwa antara bapak angkat dan anak angkatnya tidak memiliki hubungan darah, yang ditegaskan dalam wahyu berikutnya: _"Muhammad itu sekali² bukanlah bapak dari seorang laki² diantara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi"_ (Q.S. 33: 40).

Pada kesempatan yang sama, wahyu lain menekankan adanya perbedaan besar antara Nabi dengan para sahabatnya. Mereka tidak boleh menyebut langsung nama Nabi seperti teman² mereka sendiri. Allah juga mengizinkan pernikahan beliau meskipun telah memiliki empat orang istri, dan aturan itu tidak berlaku bagi sahabatnya. Para istrinya kemudian dijuluki "Ibu² kaum mukmin", dan mereka akan sangat dimurkai Allah jika menikah lagi dengan pria lain setelah Nabi wafat. Jika seorang mukmin ingin menjumpai mereka –dengan izin Nabi– mereka harus berbicara di belakang tabir. Mereka juga diberi tahu:

_Hai orang² yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah² Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu² saat masaknya makanan itu, tetapi jika kamu diundang, maka masuklah, dan setelah selesai segeralah keluar dan jangan asik memperpanjang pembicaraan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, tetapi Nabi malu untuk menyuruhmu keluar, tetapi Allah tidak malu untuk menerangkan yang benar._ (Q.S. 33: 53).

Aturan² tersebut penting untuk disebutkan karena tingginya kecintaan para sahabatnya kepada Nabi, sehingga mereka berharap untuk terus berada di dekatnya sesering dan selama mungkin. Siapa saja yang berada di sisinya akan malas dan enggan untuk meninggalkannya. Mereka tak dapat disalahkan, karena bila sedang bersalaman, Nabi tidak pernah melepaskan genggamannya terlebih dahulu. Bila berbicara dengan siapa pun, beliau betul² akan memperhatikan dan menatap wajahnya. Sehingga setiap orang merasa mendapat hak istimewa dan tidak memberikan kesempatan bagi yang lain. Di samping menyatakan perlindungan kepada Nabi, wahyu yang turun itu juga memperkenalkan suatu bentuk ibadah. Dengan demikian, orang dapat menyatakan kecintaannya kepada Nabi, dan memohon berkah darinya tanpa harus berada di hadapannya: _"Sesungguhnya Allah dan malaikat² Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang² yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan baginya"_ (Q.S. 33: 56). Setelah itu, Nabi menuturkan kepada para sahabatnya, "Malaikat menemuiku dan berkata 'Barang siapa yang bersalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersalawat baginya sepuluh kali lipat'".

*#086#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment