🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
1⃣2⃣ *SEPUTAR PERNIKAHAN*
_______________________
MUHAMMAD kini telah melewati usianya yang kedua puluh. Seiring dengan berlalunya waktu, ia sering diajak kerabatnya melakukan perjalanan keluar kota. Akhirnya, tiba saat Muhammad diminta membawa dagangan orang² yang tidak mampu pergi berdagang sendiri. Kesuksesannya dalam menunaikan tugas ini membuahkan banyak penawaran serupa lainnya. Sehingga ia memperoleh penghasilan yang lebih baik, dan pernikahan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan.
Pada saat itu, pamannya sekaligus pelindungnya, Abu Thalib, memiliki 3 orang putra: yg tertua, Thalib, sebaya dengan Muhammad, 'Aqil, berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun, dan Ja'far, masih berusia empat tahun. Muhammad sangat tertarik dengan anak² dan ia suka bermain dengan mereka. Terutama sekali, ia menyayangi Ja'far yang tampan dan cerdas. Ja'far pun membalas kasih sayang dari sepupunya itu dengan kesetiaan yang tak kunjung pudar. Abu Thalib juga memiliki beberapa putri. Di antara mereka ada yang mencapai usia nikah. Namanya adalah Fakhitah, namun kemudian ia dipanggil dengan Umm Hani' dan senantiasa dikenal dengan nama itu. Rasa cinta tumbuh antara dia dan Muhammad. Kemudian Muhammad memohon kepada pamannya agar diizinkan menikahi putrinya. Namun, Abu Thalib memiliki rencana lain. Hubayrah, putra saudara ibu Abu Thalib yg berasal dari bani Makhzum, juga telah melamar Umm Hani'. Hubayrah bukan saja seorang pria yang kaya raya, tetapi juga seorang penyair berbakat, seperti halnya Abu Thalib sendiri. Terlebih lagi, kekuasaan Bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan semakin merosotnya kekuasaan bani Hasyim. Kepada Hubayrahlah Abu Thalib menikahkan putrinya, Umm Hani'. Ketika kemenakannya kembali mendekatinya dengan lembut, AbuThalib hanya menjawab, "Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kita kawini" –tak diragukan, ia merujuk ke ibunya sendiri– "maka seorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan mereka." Jawaban itu sebenarnya tidak memuaskan, namun Muhammad menerima pernyataan pamannya tersebut. Dengan sopan, ramah, dan lapang dada, ia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk menikah. Itulah yang diputuskan untuk dirinya. Namun demikian, keadaan yang tidak diduga segera mengubah pikirannya.
Salah seorang saudagar terkaya di Mekah adalah seorang wanita –Khadijah binti Khuwaylid– dari suku Asad. Ia sepupu Waraqah, penganut kristen, dan saudara perempuannya, Qutaylah. Seperti mereka juga, Khadijah adalah sepupu jauh dari anak² Hasyim. Dia telah dua kali menikah. Sejak kematian suami keduanya, dia mengangkat orang untuk mendagangkan hartanya. Kini, Muhammad telah dikenal di penjuru Mekah sebagai al-Amin, orang yang terpercaya, yang dapat diandalkan, jujur. Kabar ini berasal dari laporan orang² yang telah beberapa kali memercayakan barang dagangan mereka kepadanya. Khadijah juga telah mendengar tentang kebaikan Muhammad yang bersumber dari keluarganya. Pada suatu hari, Khadijah meminta Muhammad untuk membawakan barang dagangannya ke Syria. Bayarannya dua kali lebih besar dari bayaran tertinggi yang pernah diberikan kepada orang Quraisy. Dan, untuk perjalanan, Khadijah menawarinya bantuan seorang budak laki² yang bernama Maysarah. Muhammad pun menerima tawarannya. Dengan ditemani budak itu, ia berangkat membawa barang dagangan Khadijah ke utara.
Sesampainya di Bostra, di sebelah selatan Syria, Muhammad berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang tidak jauh dari tempat seorang pendeta bernama Nestor. Karena tempat persinggahan para musafir jarang berubah, bisa jadi pohon itu ialah tempat ia berteduh sekitar 15 tahun yang lalu dalam perjalanan menuju Bostra bersama pamannya. Mungkin, Bahira telah meninggal dan digantikan oleh Nestor. Kejadiannya kemudian –karena kita ketahui hanya yang diceritakan Maysarah– pendeta itu keluar dari biara dan bertanya kepadanya, "Siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu?" "Dia orang Quraisy", kata Maysarah, "dari keluarga penjaga Tanah Suci". "Dia tak lain adalah seorang nabi", kata Nestor.
Ketika mereka sudah sampai di Syria, kata² Nestor itu meresap dalam hati Maysarah. Namun, hal itu tidak terlalu mengejutkan baginya karena selama dalam perjalanan, ia sudah menyadari bahwa dirinya memang menemani seseorang yang berbeda dengan siapapun yang pernah ditemuinya. Hal ini ditegaskan kembali oleh pengalaman yg ia saksikan dalam perjalanan pulang: ia seringkali mengalami bagaimana panas, dengan anehnya, tak terasa menyengat. Satu hari saat menjelang siang, tampak satu pemandangan yg singkat namun jelas, ada dua malaikat melindungi Muhammad dari sengatan panas matahari.
Setibanya di Mekah, mereka menuju ke rumah Khadijah dengan barang² yg mereka beli di pasar Syria seharga dengan barang yang mereka jual. Khadijah duduk mendengarkan Muhammad, ketika ia menceritakan perjalanan dan transaksi yangg dilakukannya. Ternyata, transaksi itu sangat menguntungkan, karena Muhammad dapat menjual aset²nya hampir dua kali lipat dari harga yg dibayarkan. Namun hal itu jauh dari benak Khadijah. Seluruh perhatiannya terpusat pada si pembicara itu sendiri. Muhammad berusia 25 tahun. Ia memiliki postur tubuh sedang, ramping, dengan bentuk kepala yang besar, punggung yang lebar dan anggota tubuh lainnya sangat proporsional. Rambut dan janggutnya lebat dan hitam, tidak lurus dan tidak terlampau ikal. Rambutnya mencapai pertengahan antara daun telinga dan punggungnya. Panjang janggutnya sesuai. Ia memiliki dahi yg lebar. Matanya berbentuk oval lebar. Bulu matanya panjang. Alis matanya lebat tampak melengkung namun tidak bertaut. Kebanyakan gambaran dalam sumber² klasik menyebutkan bahwa matanya hitam, namun menurut satu-dua di antaranya, matanya berwarna coklat atau coklat terang. Hidungnya mancung. Mulutnya lebar, berbentuk bagus. Meskipun janggutnya dibiarkan tumbuh, ketampanannya senantiasa tampak. Ia tidak pernah membiarkan kumisnya tumbuh lebat di atas bibir atasnya. Kulitnya putih, namun agak kecoklatan karena sinar matahari. Yang menambah ketampanan alamiahnya adalah cahaya yang memancar di wajahnya –yang juga memancar dari wajah ayahnya, namun pada putranya ini, pancarannya lebih terang– dan pancaran cahaya ini terutama tampak pada dahinya yang lebar dan pada matanya yang jernih. Khadijah sadar bahwa ia sendiri pun masih cantik, namun ia lebih tua lima belas tahun. Maukah Muhammad menikah dengannya?
Begitu Muhammad pergi, Khadijah berkonsultasi dengan temannya, Nufaysah. Nufaysah menawarkan diri untuk mendekati Muhammad, dan jika perlu, untuk mengatur pernikahan mereka berdua. Maysarah datang kepada majikannya dan menceritakan tentang dua malaikat dan apa yg dikatakan oleh pendeta. Khadijah pun segera menemui sepupunya, Waraqah, dan mengulangi cerita itu kepadanya. "Jika ini benar, Khadijah", katanya, "maka Muhammad adalah nabi dari kaum kita. Telah lama aku tahu bahwa seorang nabi akan diutus, dan saatnya kini telah tiba."
Pada saat yang sama, Nufaysah datang ke Muhammad dan menanyakan mengapa ia belum menikah. "Aku tidak memiliki apa² untuk dapat berumah tangga", jawabnya. "Jika ada seorang wanita yang cantik, kaya, terhormat, dan berlimpah harta, apakah engkau bersedia?" kata Nufaysah. "Siapakah dia?" "Khadijah". "Bagaimana aku dapat menikahinya?" "Serahkan hal itu padaku!" "Baiklah, dari pihakku bersedia". Nufaysah kembali kepada Khadijah menyampaikan beritanya. Kemudian, Khadijah menyuruh Nufaysah memanggil Muhammad agar datang kepadanya. Setelah ia datang, Khadijah berkata, " Putra pamanku, aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di tengah masyarakat, tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluhuran budi dan kejujuran perkataanmu." Kemudian, Khadijah menawarkan dirinya untuk dinikahi. Mereka pun sepakat agar masing² berbicara kepada pamannya. Khadijah berbicara kepada pamannya, Amr, putra Asad, karena Khuwaylid, ayahnya, telah meninggal dunia. Pada kesempatan tersebut, Hamzah lah yg diutus Bani Hasyim untuk mewakili mereka. Meskipun relatif masih muda, Hamzah adalah yang paling dekat hubungannya dengan Bani Asad, karena saudara perempuan kandungnya, Shafiyyah, menikah dengan saudara lelaki Khadijah, 'Awwam. Maka Hamzah membawa keponakannya menemui 'Amr dan melamar Khadijah. Kesepakatan dicapai diantara mereka bahwa Muhammad harus memberinya mahar dua puluh ekor unta betina.
*#014#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment