Friday, January 3, 2020

Kisah Rasul bagian 13

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
1⃣3⃣ *RUMAH TANGGA*
_______________________

PENGANTIN pria meninggalkan rumah pamannya dan tinggal di kediaman pengantin wanita. Selain berperan sebagai istri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Bersama Muhammad, Khadijah melahirkan 6 anak: dua putra dan empat putri. Putra sulungnya diberi nama Qasim, dan Muhammad segera dikenal sebagai Abu al-Qasim, 'ayah Qasim'. Namun anak itu meninggal sebelum berusia dua tahun. Berikutnya seorang putri dinamai Zaynab; lalu disusul dengan tiga putri lainnya: Ruqayyah, Umm Kultsum, dan Fathimah; dan yang terakhir, seorang putra lagi yang juga tidak berusia panjang.

Pada pernikahannya, Muhammad memerdekakan Barakah, budak setia yang ia warisi dari ayahnya. Pada hari yang sama, khadijah menghadiahi Muhammad salah satu budaknya sendiri, seorang remaja berusia 15 tahun bernama Zayd. Selanjutnya pasangan pengantin baru ini menikahkan Barakah dengan pemuda Yatsrib, yang kemudian dikaruniai seorang anak lelaki, dan dengan anak itulah ia kemudian dikenal sebagai Umm Ayman, 'ibu Ayman'. Zayd dan beberapa pemuda lainnya baru saja dibeli dengan harga mahal dari 'Ukaz oleh keponakan Khadijah, Hakim, putra saudaranya, Hizam. Pada saat dikunjungi Khadijah, Hakim memanggil budak² barunya dan mempersilakan bibinya itu untuk memilih salah seorang di antara mereka. Khadijah kemudian memilih Zayd.

Zayd bangga dengan leluhurnya: ayahnya, Haritsah, berasal dari Kalb, suku besar dari utara yang wilayahnya terbentang di antara daratan Syria dan Iraq; ibunya berasal dari Tayy, suku tetangga yang tidak kalah terkenalnya, dimana salah seorang pemimpinnya pada waktu itu adalah Hatim, seorang penyair kenamaan yang termasyhur di seluruh penjuru Arab karena kesatriaan dan kedermawanannya yang legendaris. Beberapa tahun setelah Zayd dibawa ibunya untuk mengunjungi keluarganya, desa tempat mereka tinggal dijarah oleh sekelompok penunggang kuda dari Bani Qayn, yang melarikan anak itu dan menjualnya sebagai budak. Haritsah, ayahnya, sudah lelah mencarinya, sementara Zayd sendiri tidak menjumpai musafir dari Kalb yang dapat menyampaikan kabar kepada orang tuanya. Namun, Ka'bah dikunjungi para jamaah haji dari semua wilayah Arabia. Suatu hari selama musim suci, beberapa bulan setelah Zayd menjadi pelayan Muhammad, ia melihat beberapa orang dari suku dan kabilahnya di jalanan Mekah. Seandainya ia bertemu dengan mereka beberapa tahun lalu, tentu perasaannya akan sangat berbeda. Ia telah merindukan pertemuan itu, namun sekarang ia bingung. Ia tidak dapat membiarkan begitu saja keluarganya tanpa memberitahukan keberadaannya. Tetapi, pesan apa yang dapat disampaikan kepada mereka? Apapun dasarnya, ia tahu, sebagai seorang putra padang pasir, sebuah syair akan cukup untuk situasi seperti itu. Ia menggubah beberapa syair yang mengungkapkan pikirannya, namun melampaui yang diekspresikan. Kemudian, ia mendekati para jamaah haji dari suku Kalb itu. Setelah memberitahu mereka siapa dirinya, ia berkata: "Sampaikanlah syair ini kepada keluargaku, karena aku tahu mereka merindukan aku:

```Meski aku jauh, tapi sampaikanlah kata²ku kepada kaumku: Pada Rumah Suci aku menetap, di tempat di mana Tuhan disucikan. Hilangkan segala derita yang engkau hadapi, tak perlu ada unta² yang kelelahan bersegera kepadaku. Karena aku, Puji Tuhan, berada pada yang terbaik dari keluarga² terhormat, dalam barisan yang agung.```

Ketika para jamaah Kalb kembali pulang dengan membawa kabar itu, Haritsah langsung berangkat ke Mekah bersama saudaranya, Ka'b. Mereka pergi menemui Muhammad dan memintanya agar diperbolehkan menebus Zayd dengan harga berapapun yang ia minta. "Biarkan ia memilih", kata Muhammad, "dan jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jika ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku." Kemudian, beliau memanggil Zayd dan bertanya apakah ia mengenal kedua orang itu. "Ini ayahku", katanya, " dan ini pamanku". "Engkau sangat mengenalku", kata Muhammad, "dan engkau telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, kamu pilihlah antara aku dan mereka." Zayd menetapkan pilihan dan seketika itu ia berkata, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku, engkau laksana ayah dan ibu." "Keterlaluan engkau, Zayd!" seru kedua orang Kalb itu. "Apakah engkau lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah engkau lebih memilih dia daripada ayahmu, pamanmu, dan keluargamu?" "Begitulah" kata Zayd, "karena aku telah menyaksikan dari dia sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapa pun selainnya."

Muhammad memotong percakapan lebih lanjut. Ia mengajak mereka pergi bersamanya ke Ka'bah. Sambil berdiri di Hijr, dengan lantang ia berkata, "Wahai semua yang hadir! Saksikanlah bahwa Zayd adalah anakku. Aku ahli warisnya dan ia ahli warisku."

Akhirnya, ayah dan paman Zayd kembali dengan tangan hampa. Namun, kisah yqng harus mereka ceritakan kepada suku mereka –tentang hubungan cinta yg mendalam dalam adopsi ini– bukan sesuatu yang memalukan. Ketika menyaksikan Zayd bebas, dimuliakan, dan dijanjikan mendapat kedudukan tinggi di tengah penduduk Tanah Suci, mereka berharap kelak Zayd akan memberikan keuntungan bagi saudara² dan kaumnya. Karena itu mereka menerima hal itu dan pergi tanpa rasa kesal. Sejak hari itu, pendatang baru bagi Bani Hasyim di Mekah itu dikenal sebagai Zayd ibn Muhammad.
Di antara tamu² yang sering mengunjungi rumah Muhammad, adalah Shafiyyah, yang kini menjadi saudara ipar Khadijah, bibi Muhammad yang termuda, bahkan lebih muda dari beliau. Shafiyyah selalu datang bersama putra kecilnya yang ia namai dengan nama kakaknya sendiri, Zubayr. Zubayr kenal baik dengan sepupu²nya, seperti Muhammad, sejak ia kanak². Shafiyyah juga selalu datang dengan pelayannya yang setia, Salma, yang telah membantu Khadijah saat melahirkan semua anak²nya, dan menganggap dirinya sebagai anggota keluarga itu.

Selang beberapa tahun kemudian, beberapa kali Halimah, ibu angkat Muhammad, berkunjung dan Khadijah senantiasa bersikap ramah kepadanya. Salah satu kunjungannya adalah saat penyakit dan paceklik melanda ternak²nya. Khadijah memberinya hadiah 40 ekor domba dan seekor unta. Musim paceklik yang sama, yang menyebabkan terjadinya kelaparan di Hijaz, menjadi penyebab bertambahnya anggota keluarga Muhammad dan Khadijah.

Abu Thalib memiliki anak lebih banyak dari yg sanggup ia nafkahi dengan mudah. Mereka seringkali ditimpa kelaparan. Muhammad memerhatikan hal itu dan merasa harus melakukan sesuatu. Pamannya yang terkaya adalah Abu Lahab, namun ia jauh dari keluarga lainnya, antara lain karena ia tidak memiliki saudara kandung diantara mereka; ia anak tunggal dari ibunya. Muhammad memilih meminta pertolongan kepada 'Abbas, yang dapat memberinya dengan baik. 'Abbas seorang pedagang yang sukses dan lebih dekat dengannya karena mereka dibesarkan bersama. Yang sedekat dia, atau bahkan lebih dekat, adalah istri 'Abbas, Umm al Fadhl. Ia sangat mencintai Muhammad dan senantiasa menyambutnya di rumah. Oleh karena itu, Muhammad kini pergi menemui mereka, dan menyarankan agar masing² dari kedua keluarga mereka itu mengasuh salah seorang anak Abu Thalib sampai keadaannya membaik. Mereka setuju dan kemudian pergi menemui Abu Thalib. Ketika mendengar usulan mereka, Abu Thalib berkata, "Lakukanlah apa yang kalian inginkan, namun biarkanlah 'Aqil dan Thalib bersamaku." Ja'far kini berusia sekitar 15 thn, dan ia tidak lagi yang termuda di keluarganya. Ibunya, Fathimah, telah melahirkan seorang putra lagi, sekitar sepuluh tahun lebih muda, dan mereka memberinya nama 'Ali. 'Abbas mau mengasuh Ja'far sedangkan Muhammad setuju untuk mengasuh 'Ali yang berusia sekitar 5 tahun. Pada saat itu, Khadijah melahirkan anaknya yang terakhir, yang dinamai 'Abd Allah. Namun bayi itu wafat pada usia yang lebih muda dari Qasim. Bayi itu digantikan 'Ali yg tumbuh seperti layaknya seorang saudara lelaki bagi keempat keponakan perempuannya, kira² sebaya dengan Ruqayyah dan Umm Kultsum, lebih muda dari Zaynab dan lebih tua dari Fathimah. Kelima orang ini, bersama Zayd, merupakan keluarga Muhammad dari Khadijah. Namun ada beberapa saudara lainnya yang dekat dengan beliau. Mereka telah berperan, besar atau kecil, dalam sejarah yang akan diuraikan disini secara berurutan.

Paman tertua Muhammad, Harits –yg kini telah wafat– meninggalkan beberapa anak. Salah satunya adalah sepupu beliau, Abu Sufyan. Ia juga saudara sesusuan, karena diasuh Halimah di tengah Bani Sa'd beberapa tahun setelah Muhammad. Orang² menganggap Abu Sufyan adalah termasuk di antara keluarga terdekat yang paling mirip dengan Muhammad. Diantara ciri khas yang mereka miliki adalah kefasihan. Namun, Abu Sufyan adalah seorang penyair yang berbakat –mungkin lebih berbakat dibandingkan pamannya, Zubayr dan Abu Thalib– sedangkan Muhammad tidak pernah menggubah syair. Beliau tidak unggul dalam kemahiran berbahasa Arab dan keahlian bertutur.

Muhammad menganggap Abu Sufyan –yg kurang lebih sebaya dengannya– sebagai teman dan sahabat. Sedikit lebih dekat karena ikatan persaudaraan di antara mereka adalah anak² dari saudara² perempuan ayahnya, yaitu lima putri Abd al-Muththalib. Diantara sepupu²nya yg tertua ini, adalah anak² Umaymah, bibinya. Umaymah menikah dengan Jahsy, berasal dari suku Asad, suku Arab Utara. Jahsy memiliki sebuah rumah di Mekah. Dan, seseorang yang tinggal di tengah suku lain dapat –dengan aliansi mutual– menjadi sekutu dari salah satu anggota suku tersebut, yang bergabung untuk saling berbagi hak dan kewajiban. Harb, yg kini menjadi pemimpin Bani Umayyah, cabang kabilah 'Abd al-Syams,  telah mengangkat Jahsy sebagai sekutunya. Maka, dengan menikahi Jahsy, berarti Umaymah telah bergabung dengan Bani Abd al-Syams. Putra sulung mereka diberi nama 'Abd Allah, berusia sekitar dua belas tahun lebih muda dari Muhammad. Kedua sepupu ini saling menjalin kasih sayang yang erat. Putri Umaymah, Zaynab, beberapa tahun lebih muda dari 'Abd Allah, adalah gadis yg cantik jelita. Muhammad telah mengenal dan mencintai mereka berdua sejak masih kanak². Demikian pula dengan yang lainnya, terutama Abu Salamah, putra bibinya Barrah.

Pesona daya tarik yg terpusat pada al-amin –demikian beliau sering dipanggil– jauh melebihi keluarganya sendiri. Khadijah bersamanya dalam pusat itu, dicintai dan dihormati oleh semua yang berada dalam lingkaran luas cahaya mereka, sebuah lingkaran yang juga memasukkan beberapa kerabat Khadijah sendiri. Terutama yang dekat dengannya adalah saudara perempuannya Halah, yang putranya, Abu al-Ash, kerap berkunjung ke rumahnya. Khadijah mencintai keponakannya itu seperti anaknya sendiri. Karenanya –karena selalu meminta tolong dan nasihat– Halah meminta Khadijah untuk mencarikan seorang istri untuk putranya. Ketika Khadijah berkonsultasi dengan suaminya, beliau mengajukan putri mereka, Zaynab, yang mendekati usia pernikahan. Ketika waktunya tiba, mereka pun dinikahkan.

Harapan Bani Hasyim dan Bani Muththalib –kedua kabilah ini secara politis dianggap satu– terletak pada pundak Muhammad untuk memulihkan kembali pengaruh mereka. Tetapi, lebih dari semua persoalan klan, beliau telah dipertimbangkan oleh para pemuka Quraisy sebagai sosok yang paling mampu menggantikan mereka dalam memegang tanggung jawab mempertahankan kehormatan dan kekuasaan Quraisy di seluruh jazirah Arabia. Gelar al-amin senantiasa menjadi buah bibir. Barangkali karena hal itulah maka Abu Lahab mendatangi keponakannya itu untuk melamar Ruqayyah dan Umm Kultsum untuk ditunangkan dengan kedua putranya, 'Utbah dan 'Utaybah. Muhammad menyetujuinya karena beliau menganggap kedua sepupunya itu baik. Pertunangan pun dilakukan.

Pada saat itu, Umm Ayman sekali lagi menjadi anggota keluarga. Tidak disebutkan apakah ia kembali sebagai seorang janda atau bukan, telah dicerai suaminya atau tidak. Namun, tidak diragukan lagi, tempatnya memang disana. Muhammad terkadang menyebutnya "ibu", dan mengatakan kepada yang lain tentangnya, "Ia adalah segalanya yang tetap bersamaku di rumahku".

*#014#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment