Friday, January 3, 2020

Kisah Rasul bagian 16

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
1⃣6⃣ *IBADAH*
_______________________

SESUAI dengan dua kata terakhir itu, Nabi kini mulai berbicara tentang malaikat dan wahyu kepada orang² yang, sesudah istrinya, paling dekat dan paling akrab dengannya. Hanya saja, beliau meminta mereka merahasiakannya. Namun situasi seperti itu tidak berlangsung lama. Suatu hari Jibril datang kepadanya di dataran tinggi kota Mekah. Jibril menendang dinding bukit dengan tumitnya hingga memancarkan mata air. Kemudian Jibril berwudhu untuk mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri untuk beribadah. Nabi pun mengikutinya. Lalu, Jibril menunjukkan tata cara shalat: berdiri, rukuk, sujud, dan duduk, dengan mengulangi takbir, yaitu ucapan _Allahu Akbar_ (Allah Maha Besar), dan salam terakhir _al-salaamu'alaykum_ (keselamatan atasmu). Nabi pun mengikutinya. Setelah itu, Jibril pergi dan Nabi kembali ke rumahnya. Semua yang dipelajarinya diajarkan kepada Khadijah. Mereka pun shalat bersama.

Agama itu kini telah dibangun berdasarkan penyucian ritual dan shalat. Setelah Khadijah, yang mula² memeluk Islam Adalah Ali, Zayd, dan sahabat Nabi, Abu Bakr dari Bani Taym. Saat itu Ali masih berusia 10 tahun dan Zayd tidak memiliki pengaruh di Mekah. Namun, Abu Bakr adalah sosok yang disukai dan dihormati karena berpengetahuan luas, berkelakuan baik, dan menyenangkan. Banyak orang datang berkonsultasi kepadanya mengenai berbagai macam persoalan. Kini, ia mulai memberitahukan dan mengajak orang² yang dapat dipercaya untuk mengikuti Nabi. Beberapa orang menanggapinya. Dua di antara pemeluk Islam pertama adalah 'Abd 'Amr dari Bani Zuhrah, dan Abu 'Ubaydah putra al-Jarrah dari Bani Harits.

Berkaitan dengan orang pertama, Abd 'Amr, suatu preseden penting dibangun. Di antara keistimewaan wahyu yang paling mencolok adalah dua nama Allah: _Rahman dan Rahim._ Wahyu mengangkat kembali penggunaan kata² tersebut berkaitan dengan kebutuhan dasar agama baru itu untuk menunjukkan keagungan Tuhan. Lebih tegas dari _Rahim_ (Maha Pengasih), nama _Rahman_ mengacu pada esensi atau inti dari Kasih, yaitu kasih sayang atau kebaikan Tuhan yang tak terbatas. Alquran menyebutkan kata tersebut sejajar dengan kata _Allah: "Serulah Allah atau serulah al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama² yang Indah_ (al-asma' al-husna) (Q.S. 17:110). Nama² Allah yang indah ini sangat disukai Nabi. Karena nama "Abd 'Amr" (hamba 'Amr) terlalu paganistik, maka Nabi menggantinya menjadi "'Abd al-Rahman" (hamba Maha Pengasih). Bukan hanya dia yang diganti namanya menjadi "'Abd al-Rahman".

Beberapa tanggapan awal dipicu oleh motivasi² yang tidak dapat dikaitkan dengan ajakan seseorang. Kemampuan Abu Bakr menakwilkan mimpi telah lama dikenal di penjuru Mekah. Pada suatu pagi, tak diduga ia dikunjungi khalid, putra seorang penguasa di syam, Said bin al-'Ash. Dari wajahnya, pemuda itu masih tampak dihantui rasa takut atas pengalaman yang mengerikan. Dengan terburu², ia menjelaskan mimpinya semalam. Baginya, mimpi itu penting, namun ia tak mengerti maksudnya. Dapatkah Abu Bakr menakwilkan mimpi itu? Ia bermimpi bahwa dirinya berdiri di tepi jurang besar. Di bawahnya nyala api berkobar². Lalu ayahnya datang mencoba mendorongnya ke dalam jurang itu. Ketika keduanya bergulat di tepi jurang itu –saat yang paling menakutkannya– ia merasa ada dua tangan menarik pinggangnya, membantunya melawan upaya ayahnya itu. Setelah berbalik, ia melihat penyelamatnya itu adalah al-Amin, Muhammad putra 'Abd Allah. Ketika itulah ia terbangun. "Kuucapkan selamat atasmu", kata Abu Bakr. "Orang yang telah menyelamatkanmu itu adalah Rasulullah. Maka, ikutilah dia! Ya, engkau harus mengikutinya. Hanya dengan masuk Islam, engkau akan selamat dari kobaran api!" Khalid langsung menemui Nabi. Setelah menceritakan mimpinya, ia bertanya kepada Nabi apa gerangan pesan beliau dan apa yang harus ia lakukan. Nabi menyuruhnya agar masuk Islam. Khalid pun masuk Islam, tetapi ia merahasiakan keislamannya dari keluarganya.

Kira² bertepatan dengan itu, ada seorang lelaki Bani Abd al-Syams, seorang pedagang yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syria. Di tengah malam ia terbangun oleh suara teriakan di padang pasir, "Hai orang yang tidur, bangunlah! Sungguh Ahmad telah datang di Mekah." Pedagang itu adalah 'Utsman, putra 'Affan dari Bani Umayyah. Dari pihak ibunya, ia cucu salah seorang putri 'Abd al-Muththalib, Umm al-Hakim al-Bayda, bibi Nabi. Suara itu membekas dalam hatinya, meskipun ia tidak mengerti maksud ucapan "telah datang" itu. 'Utsman juga tidak tahu bila kata "Ahmad" (yang paling terpuji) maksudnya adalah Muhammad (yang terpuji). Namun, sebelum sampai di Mekah, ia berpapasan dengan seseorang dari Taym, Thalhah, sepupu Abu Bakr. Thalhah sebelumnya melewati Bostra. Di sana, ia ditanya oleh seorang pendeta, apakah Ahmad telah muncul di tengah² penduduk Tanah Suci. "Siapa Ahmad itu?" tanya Thalhah. "Putra 'Abd Allah, putra 'Abd al-Muththalib", jawab pendeta. "Bulan ini adalah saatnya ia datang. Ia Nabi terakhir". Thalhah mengulangi perkataan itu kepada 'Utsman, setelah 'Utsman menceritakan pengalamannya. Maka dalam perjalanan pulang ini, Thalhah mengusulkan agar mereka pergi menemui sepupunya Abu Bakr, yang dikenal sebagai teman dekat orang yang kini mengiang di benak mereka. Mereka pun pergi ke Abu Bakr. Setelah menceritakan apa yang mereka dengar, seketika itu juga mereka diantar oleh Abu bakr kepada Nabi. Mereka menyampaikan kata² sang pendeta dan suara di padang pasir itu kepadanya. Akhirnya, mereka menyatakan keimanannya.

Pemeluk islam keempat –kejadiannya tidak kalah menarik dengan yang di atas– adalah 'Abd Allah ibn Mas'ud, seorang pemuda Kelompok Sekutu dari Bani Zuhrah. Ia menuturkan kisahnya sebagai berikut:

```Ketika itu aku masih remaja yang tumbuh dewasa. Aku sedang memberi makan gembala milik 'Uqbah ibn Abi Mu'ayt. Suatu hari Nabi dan Abu Bakr lewat. Beliau bertanya kepadaku apakah aku mempunyai susu untuk mereka minum. Aku jawab bahwa gembala ini bukan milikku, namun aku dipercaya untuk memeliharanya. Karena itu, aku tidak dapat memberikan susu untuk mereka minum. Nabi berkata, "Apakah engkau punya seekor domba betina muda yang belum dikawinkan dengan domba jantan?" Aku bilang punya. Domba itu kubawa kepada mereka. Setelah mengikatnya, Nabi meletakkan tangannya ke puting susu domba betina itu dan berdoa. Segera puting domba itu penuh dengan air susu. Abu Bakr membawa sebuah batu berlubang mirip sebuah mangkuk. Nabi memerah susu itu ke dalamnya, dan kami semua minum. Lantas Nabi berkata kepada puting susu itu, "mengeringlah", lalu keringlah ia```

Beberapa hari kemudian, Abd Allah menemui Nabi dan masuk Islam. Tak lama setelah itu, ia belajar Alquran kepada Nabi dan menghafal tujuh puluh surat –merupakan bakat yang langka. Karena itu Abd Allah menjadi salah seorang pembaca Alquran terbaik.

Nabi merasa sedih dengan masa terputusnya wahyu dari langit. Jiwanya masih diliputi rasa takut menerima dampak kedahsyatan wahyu, yang ditegaskan oleh wahyu sendiri pada ayat yang, waktu itu, belum diturunkan: _"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya terpecah belah karena takut kepada Allah"_ (Q.S. 59:21). Rasa takut yang mendorongnya untuk berteriak "selimuti aku, selimuti aku" masih sering kali meliputi dirinya.

Suatu malam, ketika beliau sedang berbaring berselimutkan jubahnya, datang perintah Allah yang lebih tegas dan lebih penting dari yang pernah diterimanya. Ayat itu mengingatkan manusia akan Hari Pengadilan:

_"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu! Dan tinggalkanlah perbuatan dosa!... Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu datangnya hari yg sulit, lagi tidak mudah bagi orang² kafir"_ (Q.S. 74: 1-10)

Dimalam lain, tidak lama sesudahnya, beliau terbangun oleh perintah berikutnya. Beliau dan para pengikutnya diharapkan meningkatkan intensitas ibadahnya. Ayat itu menegaskan betapa besarnya tanggung jawab yang dibebankan kepadanya:

_"Hai orang yang berselimut! Bangunlah untuk sembahyang di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Bacalah Alquran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat."_ (Q.S. 73: 1-5).

Dalam surat yang sama juga diperintahkan: _"Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. Dialah Tuhan masyrik dan maghrib. Tiada Tuhan melainkan Dia, maka, jadikanlah Dia sebagai pelindung"_ (Q.S. 73: 8-9).

Wahyu lain turun dengan nada yang lebih lembut, menegaskan dan menambah ketenangan yang telah diberikan kepada Nabi. Pada suatu ketika, malaikat datang dalam rupa aslinya dan hanya tampak bagi Nabi. Malaikat itu berkata, "Sampaikanlah salam kedamaian dari Tuhan kepada Khadijah." Karena itu beliau berkata kepada Khadijah, "Wahai Khadijah, disini ada Jibril yang menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Dan ketika Khadijah menemukan kata² untuk diucapkan, ia menjawab, "Tuhan adalah kedamaian, dan bagi-Nya kedamaian, dan kedamaian atas Jibril!"

Para pemeluk Islam pertama memandang perintah yang ditujukan kepada Nabi sebagai berlaku bagi diri mereka juga. Karena itu, seperti halnya beliau, mereka bangun di malam hari untuk shalat wajib. Mereka kini berhati², tidak hanya berwudhu, namun juga memastikan kesucian pakaian mereka dari semua najis. Mereka juga cepat menghafal semua ayat Alquran yang diturunkan, yang dapat dibaca dalam shalat mereka. Wahyu kini mulai turun lebih sering. Nabi pun segera menyampaikannya kepada mereka yang bersamanya, lalu disampaikan dari mulut ke mulut, diingat dan dibacakan –sebuah rangkaian doa panjang yang dilantunkan secara cepat, berkisah tentang kefanaan segala yang ada di dunia, tentang kematian, kepastian hari kebangkitan dan pengadilan terakhir, surga dan neraka. Namun di atas semua itu, wahyu adalah pernyataan tentang kemuliaan Allah, keesaan, kebenaran, kebijaksanaan, kebaikan, kasih sayang, kemurahan dan kekuasaan-Nya. Dan sebagai perluasan dari itu, wahyu merujuk kepada tanda² kebesaran-Nya, keajaiban alam, dan kepada keteraturan alam yg menjadi bukti nyata akan keesaan Penciptanya. Keteraturan adalah tanda keesaan di atas keragaman. Alquran memberikan perhatian kepada keteraturan alam agar direnungkan oleh manusia.

Ketika telah bebas dari kehadiran kaum kafir yang kejam, kaum beriman saling mengucapkan salam seperti yang diucapkan Jibril kepada Nabi dan salamnya para penduduk Surga, _"Assalaamu'alaikum_ (selamat atasmu)!" Dan jawabannya, _"Wa'alaikum al-Salaam_ (dan selamat atasmu pula)!" Ayat² yang diturunkan mengenai ketaatan dan rasa syukur juga berperan penting dalam cara pandang dan kehidupan mereka. Alquran menekankan perlunya pengungkapan rasa syukur dan pengejawantahannya dengan mengucapkan, _Al-hamdulillaahi Rabb al-'aalamiin_ (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam). Sedangkan mengenai ketaatan dan dedikasi, ucapannya adalah _Bismillaahirrahmaanirrahiim_ (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Ini merupakan ayat pertama setiap surat Alquran. Mereka meneladani Nabi, membaca basmalah saat memulai membaca Alquran, saat memulai setiap ibadah yang lain, dan bahkan saat memulai setiap aktivitas. Agama baru itu tidak mengenal hal yang profan.

*#017#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment