Monday, January 6, 2020

Kisah Rosul bagian 18

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
1⃣8⃣ *QURAISY BERTINDAK*
_______________________

PADA masa awal Islam, para sahabat Nabi sering kali pergi keluar bersama² menuju lembah sempit di luar Mekah. Di tempat itu mereka dapat melaksanakan shalat berjamaah tanpa terlihat. Namun, pada suatu hari, ketika mereka sedang shalat, segerombolan kaum musyrik datang dan secara kasar menghalangi mereka. Akhirnya terjadi perkelahian. Sa'd dari Zuhrah memukul salah seorang kafir dengan pelana unta dan melukainya. Ini merupakan pertumpahan darah pertama dalam Islam. Namun, sejak saat itu mereka memutuskan untuk menahan diri melakukan kekerasan sampai Allah memutuskan sebaliknya. Sebab, wahyu senantiasa memerintahkan Nabi untuk bersabar. _"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik."_ (Q.S. 73:10), dan juga, _"karena itu beri tangguhlah orang² kafir itu walau sebentar"_ (Q.S. 86:17)

Kasus kekerasan ini merupakan pengecualian pada kedua belah pihak. Sebab, kaum Quraisy secara umum cenderung menoleransi agama baru itu, bahkan setelah Nabi memproklamirkannya secara terbuka, sampai mereka melihat ia menentang tuhan-tuhan, prinsip, dan amalan mereka yang telah berakar. Begitu mereka menyadari hal ini, beberapa pemimpin mereka pergi menemui Abu Thalib. Mereka mengusulkan agar ia menghentikan aktivitas keponakannya itu. Dan, Abu Thalib setuju. Namun, ketika melihat ia tidak melakukan apapun, tokoh² Quraisy tadi mendatanginya lagi dan berkata, "Hai Abu Thalib! Engkau memiliki kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan kami, dan kami telah memintamu untuk mencegah putra saudaramu itu, tapi engkau tidak melakukannya. Demi Tuhan, kami tidak rela ayah kami dihina, cara kami diolok-olok, dan tuhan² kami dicaci maki. Suruhlah ia berhenti, atau kami akan memerangi kalian berdua." Mereka kemudian meninggalkannya. Dengan berat hati, Abu Thalib mengirim pesan kepada keponakannya itu. Setelah memberitahu ancaman Quraisy, ia berkata, "Wahai putra saudaraku, janganlah engkau bebankan kepadaku apa yang aku tak sanggup menanggungnya". Nabi menjawab, "Aku bersumpah demi Tuhan! Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan dakwah ini sebelum Allah memenangkannya atau aku terbunuh karenanya." Kemudian, dengan air mata berlinang, beliau bangkit dan berbalik pergi, tapi pamannya memanggilnya kembali, "Hai putra saudaraku", katanya, "lanjutkanlah dan katakanlah apa yang engkau inginkan, karena demi Tuhan, apapun alasannya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Ketika permintaan mereka kepada Abu Thalib tidak membuahkan hasil, kaum Quraisy masih ragu untuk menyerang langsung keponakannya itu. Sebab, sebagai pemimpin kabilah, Abu Thalib memiliki kekuasaan untuk memberi perlindungan, dan hak² setiap pemimpin kabilah di Mekah dihormati secara penuh. Karenanya, untuk sementara waktu, Quraisy menata barisan untuk mengorganisir penyiksaan terhadap para pemeluk Islam yang tidak memiliki pelindung.

Pada saat yang sama, mereka berunding untuk mengambil kebijakan bersama terhadap penyebab kesulitan mereka itu. Situasi semakin memburuk: musim haji segera tiba dan orang² Arab dari seluruh jazirah Arabia akan datang ke Mekah. Mereka, kaum Quraisy, memiliki reputasi karena keramahannya, yang bukan saja karena menyediakan makan dan minum melainkan juga karena menyambut baik setiap orang dan juga tuhan-tuhannya. Namun, pada musim haji tahun ini, para peziarah itu akan mendengarkan tuhan-tuhan mereka dihina oleh Muhammad dan para pengikutnya. Mereka akan didesak untuk meninggalkan agama nenek moyang mereka dan memeluk agama baru yang tampak memberikan sejumlah ketidakuntungan itu. Tidak diragukan lagi, sebagian mereka pasti tidak akan datang lagi ke Mekah, yang bukan saja berpengaruh buruk terhadap aktivitas perdagangan, namun juga akan meruntuhkan kehormatan yang kini disandang oleh penjaga Tanah Suci ini, Quraisy. Yang terburuk, bangsa Arab mungkin akan bersatu untuk mengusir mereka dari Mekah dan mengangkat suku –atau kelompok suku– lain untuk menggantikan posisi mereka, sebagaimana yang dahulu dilakukan terhadap Khuza'ah, dan yang dilakukan Khuza'ah terhadap Jurhum. Maka, tidak boleh tidak, mereka memberitahu para peziarah tersebut bahwa Muhammad tidak mewakili kaum Quraisy. Namun, meskipun mudah untuk menyangkal kenabiannya, hal itu sekedar pernyataan pendapat dan secara tidak langsung justru menarik orang² untuk mendengarkan dakwah Nabi dan, berarti, memberi mereka kesempatan untuk memutuskan sendiri.

Satu lagi perlu disebutkan sebagai tambahan, dan disini terletak kelemahan kaum Quraisy. Sebagian mereka mengusulkan agar Muhammad disebut seorang dukun, sebagian lagi mengusulkan orang gila, sebagian yang lain penyair, dan ada pula yang mengusulkan sebagai tukang sihir. Mereka meminta pendapat Walid putra Mughirah –orang yang paling berpengaruh pada saat itu– mana dari julukan² ini yang paling tepat untuk Muhammad. Walid menolak semuanya. Tetapi setelah berfikir ulang, ia memutuskan bahwa meskipun Muhammad bukan tukang sihir, namun setidaknya ia memiliki satu hal yang sama dengan penyihir: ia mempunyai kekuatan yang mampu memisahkan anak dari ayahnya, atau dari saudara, atau istri, atau keluarga secara umun. Karena itu Walid menganjurkan mereka untuk menyebar tuduhan bahwa Muhammad adalah tukang sihir yang berbahaya. Setelah setuju untuk mengikuti nasihat Walid, mereka memutuskan bahwa diluar kota, di sepanjang jalan menuju Mekah, harus ada penjaga. Para peziarah mesti diberi peringatan untuk waspada terhadap Muhammad, karena mereka benar² tahu –berdasarkan pengalaman– bagaimana beliau begitu memikat hati orang yang melihatnya. Bukankah, sebelum mulai berdakwah, beliau adalah orang yang paling dicintai di Mekah? Lidahnya begitu fasih, dan kehadirannya senantiasa menebarkan aura kemuliaan.

Rencana mereka dilaksanakan dengan semangat yang bulat. Kendati demikian, setidaknya pada suatu kasus tertentu, mereka telah gagal sejak awal. Seorang lelaki dari Bani Ghifar bernama Abu Dzarr –suku yg tinggal di sebelah barat laut Mekah, tidak jauh dari Laut Merah– mendengar kabar tentang Nabi dan tentang perlawanan terhadapnya. Seperti kebanyakan anggota sukunya, Abu Dzarr adalah seorang perampok jalanan. Namun berbeda dengan mereka, ia beriman kepada keesaan Tuhan, dan tidak mau menghormati berhala. Karena beberapa alasan, saudaranya, Unays, berangkat ke Mekah. Setelah kembali, ia menceritakan kepada Abu Dzarr bahwa disana ada seorang Quraisy yang mengaku sebagai Nabi dan mengatakan "tidak ada tuhan selain Allah", lantas kaumnya memusuhinya. Abu Dzarr segera berangkat ke Mekah dengan keyakinan bahwa di kota itu ada seorang Nabi. Pada saat kedatangannya, kaum Quraisy yang berjaga² di perbatasan menceritakan semua yang ingin diketahuinya, bahkan sebelum ia sempat bertanya. Tanpa kesulitan, ia menemukan jalan menuju rumah Nabi. Muhammad tengah berbaring tidur di serambi rumahnya dengan wajah ditutupi jubah. Abu Dzarr membangunkan beliau dan mengucapkan selamat pagi. _"Wa'alaikum al-salam!"_ sahut Nabi. "Lantunkanlah ucapanmu", kata orang badui itu. "Aku bukan seorang penyair", kata Nabi, "namun yang ku ucapkan adalah Alquran. Alquran itu bukan perkataanku melainkan firman Allah." "Bacakanlah kepadaku", kata Abu Dzarr. Lalu Nabi membacakan kepadanya sebuah surat. Serta merta Abu Dzarr berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah." "Engkau siapa?" tanya Nabi. Ketika lelaki itu menjawab, beliau memerhatikannya dari atas ke bawah dengan penuh kekaguman dan berkata, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya"

Kebanyakan orang bani Ghifar adalah perampok. Setelah Nabi mengajarkan Islam, beliau menyuruh Abu Dzarr untuk kembali ke kaumnya dan menunggu perintahnya. Maka, ia pun kembali ke Bani Ghifar, dan banyak orang yang masuk Islam melalui dia. Pada saat yang sama, Abu Dzarr meneruskan kebiasaannya sebagai perampok para musafir, terutama kepada kafilah² dari Quraisy. Namun sekarang, ketika merampas sekelompok kafilah, ia akan menawarkan untuk mengembalikan barang² mereka asalkan mereka bersedia bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian Muhammad.

Pertemuan lain dengan Nabi juga menyebabkan keislaman Bani Daws, yang, seperti halnya Ghifar, merupakan sebuah suku di pinggiran sebelah barat. Thufayl, salah seorang Daws, setelah itu menuturkan bagaimana ia diperingatkan pada saat kedatangannya di Mekah untuk tidak berbicara dengan si penyihir, Muhammad, atau mendengar perkataannya agar ia tidak terpisah dari kaumnya. Thufayl adalah penyair dan orang terpandang di sukunya. Karenanya, Quraisy memperingatkan dia dengan keras. Ia pun khawatir akan tertarik kepada Muhammad sehingga sebelum memasuki masjid, ia menyumbat telinganya dengan bahan katun. Nabi sedang berada disana, baru saja salat –yg seperti biasanya– di antara pojok Yamani dan Hajar Aswad, menghadap ke arah Yerussalem, di sudut Ka'bah sebelah tenggara. Beliau melantunkan ayat² Alquran dengan pelan, namun bacaan itu menembus telinga Thufayl. "Allah tidak akan melakukannya", katanya, "melainkan Dia ingin aku mendengar sesuatu yang dibacakan oleh orang tersebut. Aku mendengar kata² yang begitu indah. Sehingga, aku berkata kepada diriku sendiri: Aku orang yang cerdas, seorang penyair, dan dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Lantas mengapa aku tidak mendengarkan perkataan orang ini? Jika perkataannya itu baik, aku akan menerimanya. Jika tidak, aku akan menolaknya. Aku tetap tinggal sampai Nabi keluar dan segera mengikutinya. Ketika beliau memasuki rumahnya, aku masuk di belakangnya dan berkata, 'Wahai Muhammad, kaummu mengatakan kepadaku begini dan begitu. Mereka membuatku takut terhadapmu, sampai² aku menutup telinga agar tidak mendengarkan perkataanmu. Namun, Tuhan telah membuatku mendengarkan perkataanmu. Karenanya, katakanlah kepadaku kebenaran yang engkau bawa'"

Nabi menjelaskan tentang Islam dan membacakan Alquran, lalu Thufayl menyatakan keimanannya. Kemudian ia kembali kepada kaumnya, berhasrat untuk mengajak mereka memeluk islam. Ayah dan istrinya ikut masuk Islam, namun kaum Daws yg lain menolaknya. Ia kembali ke Mekah dengan sangat kecewa dan marah, lalu meminta Nabi agar melaknat mereka. Namun, Nabi malah mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan berkata kepada Thufayl, "Kembalilah engkau kepada kaummu, ajaklah mereka masuk Islam, dan berlaku baiklah kepada mereka". Instruksi ini dilakukannya dengan sungguh². Tahun demi tahun, semakin banyak keluarga Daws yang masuk Islam.

Sebelum bertemu Nabi, Thufayl hanya bertemu dengan para musuh beliau. Tetapi para peziarah yang lain bertemu dengan para pengikut Nabi yang mengemukakan cerita yang berbeda dengan yang dikemukakan para musuhnya. Masing² memercayai apa yang ia dengar. Akibatnya, agama baru itu menjadi bahan pembicaraan, baik atau buruk, di seluruh jazirah Arabia. Namun tidak ada tempat lain yang lebih banyak membincangkannya daripada oasis Yatsrib.

*#019#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment