Tuesday, January 21, 2020

Kisah Rosul bagian 28

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣8⃣ *'UMAR*
_______________________

KETIKA kedua utusan itu kembali ke Mekah dengan membawa berita bahwa mereka ditolak, sedangkan kaum muslim tinggal dalam lindungan Negus, pihak Quraisy cemas dan jengkel. Mereka segera meningkatkan tekanan dan penyiksaan terhadap kaum mukmin, sebagian besar dibawah arahan Abu Jahl dan keponakannya, 'Umar, orang yang paling keras dan sangat patuh menjalankan instruksinya. 'Umar saat itu berusia sekitar 26 tahun, pemuda keras kepala, tidak mudah gentar dan sangat tegas. Namun demikian, tidak seperti pamannya, ia orang saleh. Kesalehan itulah yang menjadi motivasi utamanya dalam menentang agama baru itu. Khattab telah membawanya menghormati Ka'bah dan menghormati segala yang berhubungan dengan berhala. Baginya, semua itu saling berkaitan dan menjadi satu kesatuan yang suci serta tidak patut dipertanyakan dan diubah. Kaum Quraisy dulunya bersatu. Namun, sekarang Mekah menjadi sebuah kota dengan dua agama dan dua komunitas. Ia melihat dengan jelas bahwa penyebab keonaran ini hanya satu. Lenyapkan orang yang menjadi penyebab itu, maka segala sesuatu akan kembali seperti semula. Ia terus perpendirian demikian, sampai saatnya tiba –kejadiannya tak lama setelah kembalinya dua utusan yang gagal dari Abyssinia itu– ketika kemarahan membuatnya beraksi. Setelah mengambil pedangnya, ia keluar dari rumahnya. Begitu berangkat, ia bertemu dengan Nu'aym ibn 'Abd Allah, salah seorang dari kaumnya. Nu'aym telah memeluk Islam, namun ia merahasiakannya karena takut terhadap 'Umar dan kaumnya yang lain. Ekspresi kemurkaan yang tampak di wajah 'Umar mendorongnya untuk bertanya kemana ia hendak pergi, "Aku akan menemui Muhammad, membalas dendam terhadap orang yang telah memecah belah Quraisy menjadi dua golongan", kata 'Umar, "dan aku akan membunuhnya". Nu'aym berusaha menghentikannya dengan mengatakan bahwa dia sendiri pasti akan terbunuh. Namun, ketika melihat 'Umar tidak gentar dengan gertakan semacam itu, ia memikirkan cara lain yang paling tidak dapat menundanya, agar ia dapat memberikan peringatan. Cara ini akan menghianati rasa para pengikut muslim yang –seperti dirinya sendiri– menyembunyikan keislaman mereka. Namun, dalam situasi seperti ini, ia tahu bahwa mereka akan memaafkannya, dan bahkan membenarkannya. "Hai 'Umar", katanya, "mengapa engkau tidak pergi lebih dulu kepada keluargamu, dan membereskan mereka". "Ada apa dengan keluargaku?" kata 'Umar. "Saudara iparmu, Sa'id dan saudara perempuanmu, Fathimah", kata Nu'aym. "Mereka berdua pengikut agama Muhammad. Jika engkau membiarkan mereka demikian, maka martabatmu bisa jatuh". Tanpa sepatah katapun, 'Umar kembali dan langsung menuju rumah saudara perempuannya itu.

Di sana, saat itu ada seorang teman yang miskin dari Zuhrah, Khabbab, yang sering datang untuk membacakan Alquran kepada Sa'id dan Fathimah. Ia bersama mereka sedang membacakan surat Tha-Ha yang baru saja diturunkan. Ketika mereka mendengar suara 'Umar mendekat dan dengan marah memanggil nama saudara perempuannya itu, Khabbab bersembunyi di pojok rumah, dan Fathimah menyembunyikan lembaran itu di balik bajunya. Namun, 'Umar telah mendengar suara pembacaan mereka. Setelah tiba, 'Umar bertanya, "apa yang kudengar tadi?" Mereka berusaha meyakinkan bahwa ia tidak mendengar apa². "Aku mendengarnya", katanya, "dan aku dengar kalian berdua telah menjadi pengikut Muhammad." Ia mendekati saudara iparnya, Sa'id dan menyerangnya. Ketika Fathimah melindungi suaminya, 'Umar menamparnya hingga terluka. "Memang benar", kata mereka, "kami adalah muslim, kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, lakukanlah apa yang engkau inginkan!" Luka Fathimah berdarah. Begitu 'Umar melihat darah itu, ia menyesal. Ia berubah dan berkata kepada saudara perempuannya, "Serahkan lembaran² yang kalian baca itu kepadaku, agar aku dapat membaca apa yang telah diajarkan Muhammad". Seperti halnya mereka, 'Umar bisa membaca. Namun, ketika ia meminta kertas itu, Fathimah berkata, "Kami khawatir menyerahkan lembaran itu kepadamu." "Jangan takut", katanya, ia melepaskan pedangnya dan berjanji, demi Tuhan, lembaran itu akan dikembalikan setelah dia baca. Fathimah melihat 'Umar telah melunak, ia sangat mengharapkan 'Umar memeluk agama Islam. "Wahai saudaraku", katanya, "engkau tidak suci karena engkau penyembah berhala. Lembaran ini hanya boleh disentuh orang yang suci." 'Umar segera pergi dan membasuh dirinya. Kemudian Fathimah menyerahkan kepadanya lembaran yang dibuka dengan kata²: _Tha-Ha._'Umar mulai membacanya. Setelah selesai membaca lembaran itu, ia berkata, "Betapa indah dan agungnya kata² ini!" Ketika Khabbab mendengar ucapannya, ia keluar dari tempat persembunyiannya. "'Umar, aku berharap Allah telah memilihmu sesuai doa Nabi yang kudengar kemarin dipanjatkan, 'Ya Allah, Jayakan Islam dengan salah satu dari dua orang, Abu al-Hakim ibn Hikam atau 'Umar ibn Khattab!'"

"Hai Khabbab", kata 'Umar, "di mana sekarang Muhammad berada? Aku ingin bertemu dengan dia dan aku akan masuk Islam!" Khabbab mengatakan bahwa Nabi berada di rumah Arqam, di dekat gerbang Shafa bersama beberapa sahabatnya. 'Umar menghunuskan kembali pedangnya dan pergi ke Shafa. Ia mengetuk pintu rumah Arqam dan mengatakan siapa dirinya. Mereka telah diberi peringatan oleh Nu'aym, sehingga kedatangannya tidaklah diharapkan. Namun, mereka terkejut mendengar nada suaranya yang lembut. Salah seorang sahabat menuju pintu dan mengintip melalui sebuah celah dan kembali lagi dengan ketakutan. "Ya Rasulullah", katanya, "benar, 'Umar datang dengan menghunus pedangnya". "Biarkan ia masuk", kata Hamzah. "Jika ia datang dengan maksud baik, kita akan membalasnya baik². Jika ia bermaksud buruk, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri!" Nabi setuju bahwa beliau harus menemuinya. Beliau menyambut 'Umar dengan memegang sabuknya dan mendorongnya ke tengah ruangan. "Apa maksud kedatanganmu ke sini, hai putra Khattab? Tampaknya engkau belum sadar juga. Rupanya engkau menanti tamparan Allah!" "Wahai Rasulullah", kata 'Umar, "aku datang kepadamu untuk menyatakan keimananku kepada Allah, dan kepada rasul-Nya serta segala yg datang dari-Nya!" _"Allahu Akbar_(Allah Maha Besar)", seru Nabi mendengar ucapan tersebut. Semua yang hadir di rumah itu tahu bahwa 'Umar telah masuk Islam. Mereka pun semua gembira.

'Umar tidak menyembunyikan keislamannya. Ia bermaksud mengumumkan kepada setiap orang, terutama kepada mereka yang paling memusuhi Nabi. Beberapa tahun kemudian ia berkata, "Ketika aku telah memeluk Islam malam itu, aku berpikir, siapa penduduk Mekah yang paling kejam memusuhi Rasulullah? Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku telah menjadi muslim! Jawabanku adalah Abu Jahl. Maka, keesokan paginya aku pergi dan mengetuk pintunya. Abu Jahl keluar dan berkata, 'Selamat datang putra saudaraku! Apa maksud kedatanganmu kemari?' Aku menjawab, 'Aku datang untuk memberitahukan bahwa aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya, Muhammad. Aku juga bersaksi atas kebenaran yang ia ajarkan.' 'Tuhan melaknatmu!' katanya, 'dan semoga laknat-Nya juga pada berita yang engkau bawa!' kemudian, ia membanting pintunya di hadapanku."

*#029#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment