Wednesday, January 22, 2020

Kisah Rosul bagian 29

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
2⃣9⃣ *PEMBOIKOTAN*
_______________________

BAGI 'Umar, tidaklah dapat ditolerir bila kaum Quraisy menyembah berhala secara terang²an di Ka'bah, sementara kaum mukmin menyembah Allah secara sembunyi². Maka, ia biasa shalat di depan Ka'bah dan mengajak muslim yang lain untuk shalat bersamanya. Ia dan Hamzah kadang datang bersama sekelompok kaum mukmin ke Rumah Suci itu; dan pada kesempatan itu, para pemuka Quraisy akan pergi menyingkir. Bila mereka tetap berdiri dan membiarkan hal itu terjadi, martabat mereka akan hancur. Namun jika mereka mencegahnya, mereka tahu 'Umar tidak akan pernah tinggal diam. Karena itu mereka bertekad untuk tidak membiarkan Muhammad berkhayal bahwa dirinya telah mengalahkan mereka. Di bawah tekanan Abu Jahl, mereka memutuskan bahwa jalan terbaik adalah melakukan pemboikotan terhadap seluruh Bani Hasyim yang, kecuali Abu Lahab, bersikeras untuk melindungi sanak keluarga mereka, baik yang percaya atau tidak terhadap kenabian Muhammad. Sebuah dokumen dibuat berisikan larangan menikahi wanita Bani Hasyim; dan tidak diperbolehkan memperjualbelikan apapun kepada mereka. Pemboikotan ini berlaku sampai Bani Hasyim sendiri yang melarang Muhammad, atau sampai beliau menarik kembali pengakuan kenabiannya. Tidak kurang dari 40 pemuka Quraisy mengukuhkan perjanjian ini, meskipun tidak semua menyetujuinya, dan beberapa diantara mereka harus mengalah. Bani Muththalib menolak untuk memboikot sepupu² mereka, Bani Hasyim, dan mereka pun dimasukkan dalam pemboikotan itu. Dokumen itu dipampangkan di Ka'bah.

Demi keamanan bersama, Bani Hasyim berkumpul di sekitar Abu Thalib, di perempatan Lembah Mekah, tempat ia dan kebanyakan anggotanya bermukim. Kedatangan Nabi dan Khadijah beserta keluarganya mendorong Abu Lahab dan Istrinya pindah dan tinggal di rumahnya yang lain sebagai wujud solidaritas kepada kaum Quraisy.

Pemboikotan ini tidak selamanya diterapkan secara ketat, masih ada celah karena kenyataannya seorang wanita masih diterima sebagai anggota keluarganya sendiri meskipun telah menikah dengan anggota kabilah lain. Abu Jahl senantiasa mengawasi, tetapi tidak dapat selalu dapat memaksakan kehendaknya. Suatu hari ia bertemu dengan keponakan Khadijah, Hakim, bersama seorang budak membawa sekantung gandum yang tampaknya akan dibawa ke Bani Hasyim. Ia menyalahkan mereka berdua karena memberi makan kepada musuh dan mengancam akan menghukum Hakim dihadapan orang² Quraisy. Ketika mereka tengah berdebat, Abu al-Bakhtari, seorang Bani Asad, datang dan menanyakan apa persoalannya. Setelah dijelaskan kepadanya, ia berkata kepada Abu Jahl, "Itu adalah gandum bibinya dan ia diutus untuk membawanya. Biarkan ia melakukan tugasnya!" Baik Hakim maupun Abu al-Bakhtari bukan muslim, namun mengantarkan kantung gandum ini dari salah seorang warga Bani Asad kepada warga lainnya bukanlah urusan orang di luar kabilah itu. Campur tangan orang Makhzum itu mengundang marah dan tidak dapat dibiarkan. Ketika Abu Jahl tetap bertahan,  Abu al-Bakhtari menyabetkan tali kekang unta ke kepalanya sekuat²nya hingga ia setengah pingsan dan terjatuh, lalu mereka menginjak²nya di tanah, dan kebetulan Hamzah lewat pada saat kejadian itu.

Hakim berada dalam haknya, namun orang lain berani melanggar pemboikotan itu karena rasa simpati kepada para korbannya. Hisyam ibn Amr, dari Bani Amir, bukan keturunan Hasyim, tetapi keluarganya memiliki hubungan pernikahan yang dekat dengan kabilah itu. Dan di malam hari, ia sering membawa seekor unta yang membawa makanan untuk masuk ke wilayah Abu Thalib. Ikatan unta tersebut dilepaskan dan memudian dipukul panggulnya agar lari secepat²nya melewati rumah² mereka. Di malam yang lain, Hisyam membawa baju² dan barang² lainnya.

Di samping bantuan dari orang² musyrik di atas, ada pula bantuan dari kaum muslim sendiri yang berasal dari kabilah lain, khususnya Abu Bakr dan 'Umar. Mereka mengupayakan berbagai cara untuk melanggar pemboikotan itu. Ketika dua tahun telah berlalu, Abu Bakr tidak dapat lagi disebut sebagai orang kaya. Namun, meskipun mendapatkan bantuan tersebut, masih terjadi kekurangan bahan pangan di dua kabilah korban pemboikotan itu dan terkadang mereka hampir kelaparan.

Selama bulan² suci, saat mereka dibolehkan meninggalkan tempat mereka dan pergi dengan bebas tanpa takut diganggu, Nabi sering pergi ke Rumah Suci. Di situlah para pemuka Quraisy mengambil kesempatan untuk menghina dan menyakitinya. Suatu ketika, beliau membacakan wahyu, mengingatkan kaum Quraisy tentang apa yang terjadi pada orang² terdahulu. Nadhr dari Bani Abd al-Dar berdiri dan berseru, "Demi Tuhan! Muhammad tidaklah seunggul aku dalam berbicara. Perkataannya tidak lain hanyalah dongeng orang² terdahulu. Mereka telah menuliskan untuknya, sedangkan aku menulis sendiri." Lantas ia bercerita kepada kaum Quraisy tentang Rustum, Isyfandiyar, dan raja² Persia. Berkaitan dengan peristiwa ini, diturunkan satu ayat yg menyatakan tentang hati sebagai fakultas yang memungkinkan manusia dapat melihat realitas supranatural. Mata hati, meskipun tertutup bagi orang hina, dapat menangkap cahaya dan itulah yang disebut iman. Namun godaan setan dalam hidup ini menyebabkan bercak² noda bertumpuk menutupi hati sehingga tidak dapat menangkap pesan Allah:

_Ketika ayat² Kami dibacakan kepadanya, ia berkata: "itu hanyalah dongeng² dari orang² terdahulu". Sekali² tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka_(Q.S. 83: 13-14).

Sebagai pernyataan yang berlawanan dengan ini, kemungkinan tertinggi dari penglihatan, Nabi berkali² mencontohkan dirinya sendiri bahwa mata hatinya senantiasa terbuka meskipun saat tidur: "Mataku tertidur, namun hatiku senantiasa terjaga."

Ayat lain, salah satu diantara sekian ayat yang menyebut dengan nama panggilan, turun menyatakan bahwa kelak tempat tinggal Abu Lahab dan istrinya di neraka. Umm Jamil mendengar ayat ini dan pergi ke masjid dengan mengenggam sebongkah batu di tangannya, mencari Nabi yang sedang duduk bersama Abu bakr. Ia mendekati Abu Bakr. "Mana temanmu?" tanyanya. Abu Bakr tahu yang dimaksud adalah Nabi yang berada dihadapan wanita itu. Abu Bakr begitu terkejut hingga tak dapat berbicara. "Aku mendengar", kata Umm Jamil, "Ia telah menghinaku. Demi Tuhan, jika kujumpai ia, akan kubungkam mulutnya dengan batu ini." Lalu ia menambahkan, "Aku memiliki sebuah syair", dan ia pun melantunkan sebait syair tentang Nabi:

_Kami membangkang terhadap orang yang terkutuk, Menepis perintah yang ia perintahkan, Dan agama kebenciannya itu._

Setelah Umm Jamil pergi, Abu Bakr bertanya kepada Nabi, mengapa wanita itu tidak melihatnya. "Ia tidak melihatku", kata beliau, "Allah telah menutup pandangannya dariku". Kata "terkutuk" –dalam bahasa Arab _mudhammam,_ sebuah arti yang berlawanan dengan _Muhammad,_ yang terpuji, yang dimuliakan– beberapa orang Quraisy memanggil beliau dengan sebutan itu untuk menghinanya. Beliau berkata kepada para sahabatnya, "Bukankah menakjubkan bagaimana Allah menghindarkan aku dari perbuatan jahat orang² Quraisy? Mereka memanggil 'Mudhammam', sedangkan aku adalah Muhammad".

Pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib telah berlangsung lebih dari dua tahun, namun tidak ada tanda² pengaruh yang diharapkan. Dampak yang tidak diinginkan dan tidak diharapkan malah terjadi: perhatian terhadap Nabi semakin besar dan agama baru itu diperbincangkan di seluruh penjuru Arabia.

Namun, terlepas dari pertimbangan² ini, beberapa orang Quraisy mulai berfikir ulang tentang pemboikotan itu, terutama mereka yang memiliki hubungan dekat dengan para korban. Saat perubahan pikiran itu datang, dan orang pertama yang bertindak adalah Hisyam yang sudah sering mengirim untanya untuk mengangkut makanan dan pakaian bagi Bani Hasyim. Namun, ia sadar bahwa jika bertindak sendirian, ia akan sia² belaka. Oleh karena itu, ia menemui Zuhayr dari suku Makhzum, salah seorang dari dua anak bibi Nabi, 'Atikah. Ia berkata kepadanya: "Bisakah engkau enak makan, mengenakan pakaian, dan menikahi wanita sedangkan engkau sangat tahu bagaimana keadaan keluarga ibumu. Mereka tidak dapat membeli atau menjual, tidak dapat menikah atau dinikahi. Aku bersumpah demi Tuhan, jika mereka adalah saudara ibu Abu al-Hakam –maksudnya Abu Jahl– dan engkau terpanggil untuk melakukan apa yang telah dia harapkan atasmu, sedangkan dia tidak akan pernah melakukannya." "Celaka engkau, wahai Hisyam", kata Zuhayr. "Apa yg dapat kulakukan? Aku hanya sendirian, jika ada orang lain bersamaku, aku tidak akan diam sampai membatalkan pemboikitan itu." "Aku telah menemukan seseorang", kata Hisyam. "Siapa dia?" "Diriku sendiri". "Carikan orang ketiga", kata Zuhayr. Karena itu Hisyam menemui Muth'im ibn 'Adi, salah seorang tokoh Bani Nawfal –cucu Nawfal sendiri adalah saudara Hasyim dan Muththalib. Ia berkata, "Apakah engkau ingin dua keturunan Abd Manaf itu binasa, sementara engkau mencari persetujuan dari Quraisy? Demi Tuhan, jika engkau membiarkan mereka melakukan hal ini, maka merekapun akan melakukan hal yang sama kepadamu". Muth'im meminta orang keempat, karena itu, Hisyam pergi menjumpai Abu al-Bakhtari dari suku Asad, orang yang telah menyerang Abu Jahl karena peristiwa kantung gandum Khadijah itu. Ketika ia meminta orang kelima, Hisyam pergi kepada seorang suku Asad lainnya, Zam'ah ibn al-Aswad, yang bersedia menjadi orang yang kelima tanpa meminta orang yang keenam. Mereka semua sepakat untuk bertemu pada malam itu diluar Hajun, di sebelah atas Mekah. Di sana mereka setuju untuk merencanakan tindakan dan berjanji tidak akan membiarkan persoalan dokumen itu sampai mereka mencabutnya. "Aku yang paling prihatin", kata Zuhayr, "karena itu, aku yang pertama kali akan berbicara".

Keesokan paginya, mereka bergabung dengan jamaah di masjid. Zuhayr berpakaian ihram, bertawaf mengitari Ka'bah 7 kali. Ia lalu menghadap ke jamaah dan berkata, "Wahai penduduk Mekah! Apakah kita merasa enak makan dan mengenakan pakaian, sementara keturunan Hasyim tersiksa tak dapat berjual beli? Demi Tuhan! Aku tidak akan duduk diam sampai pemboikotan ini dimusnahkan". "Engkau pembohong!" kata sepupunya, Abu Jahl, "pemboikotan itu tidak boleh dihancurkan". "Engkau lebih pembohong", kata Zam'ah. "Kami tidak mendukung apa yang tertera di dokumen itu, ketika dokumen itu ditulis". "Zam'ah benar", kata Abu al-Baktari. "Kami tidak mendukung apa yang tertulis di situ, kami juga tidak memegangnya". "Kalian berdua benar", kata Muth'im, "dan siapa yang berkata 'tidak' adalah pembohong. Kita akan menghadap Tuhan untuk menyaksikan kebenaran kami dan apa yang tertulis di situ". Hisyam mengatakan hal yang sama. Ketika Abu Jahl mulai menuduh mereka telah merencanakan hal itu sepanjang malam, Muth'im memotong pembicaraannya dan pergi ke Ka'bah untuk mengambil dokumen itu. Ia keluar dengan kemenangan, memegang selembar kulit kecil: dokumen pemboikotan itu semuanya telah dimakan rayap kecuali kalimat pembuka "Dengan nama-Mu, Ya Allah".

Mayoritas orang Quraisy nyata² menyerah dan pertanda yang tak terduga ini merupakan alasan akhir dan mengakhiri semua perdebatan. Abu Jahl dan satu-dua orang pengikutnya sadar bahwa akan sia² untuk bertahan. Pemboikotan itu secara formal telah dibatalkan. Sejumlah orang Quraisy pergi menyampaikan kabar gembira kepada Bani Hasyim dan Bani Muththalib.

Setelah pemboikotan dihapuskan, kehidupan kembali normal. Untuk sementara waktu, kekejaman terhadap kaum muslimin berkurang. Laporan yang dilebih²kan tentang hal ini segera sampai ke Abyssinia, sehingga beberapa pengungsi bersiap kembali ke Mekah. Sementara yang lainnya, Ja'far, salah seorang diantara mereka, memilih tetap tinggal di Abyssinia.

Pada waktu itu, para pemuka Quraisy memusatkan perhatian mereka pada upaya membujuk Nabi agar menyetujui sebuah kompromi. Ini pendekatan pertama yang belum pernah mereka lakukan kepadanya. Walid dan tokoh² lainnya mengusulkan agar mereka menjalankan kedua agama itu. Nabi terbebas dari kesulitan merumuskan penolakannya dengan jawaban seketika yang turun langsung dari "Langit" dalam sebuah surah yang terdiri dari enam ayat:

_katakanlah: Hai orang² kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku_(Q.S. 109: 1-6).

Akibatnya, kemauan baik yang sebentar itu hilang sama sekali, bersamaan dengan sampainya para pengungsi yang kembali di perbatasan Tanah Suci.

Selain Ja'far dan Ubaydillah ibn Jahsy, semua sepupu Nabi kembali. 'Utsman dan Ruqayyah juga datang bersama mereka. Orang Abd al-Syams yang kembali bersama 'Utsman adalah Abu Hudzayfah. Ia dapat meminta perlindungan dari ayahnya 'Utbah. Namun Abu Salamah dan Umm Salamah tidak dapat mengharapkan apapun kecuali penyiksaan dari suku mereka sendiri. Karena itu, sebelum mereka masuk Mekah, Abu Salamah mengirim pesan kepada pamannya dari Bani Hasyim, Abu Thalib, meminta perlindungannya. Permintaannya pun disetujui yang membuat suku Makhzum gusar. "Engkau telah melindungi keponakanmu, Muhammad, dari kami", kata mereka, "tapi, mengapa engkau melindungi orang dari suku kami?" "Ia adalah anak dari saudara perempuanku", kata Abu Thalib. "Jika aku tidak melindungi anak saudara perempuanku, aku tidak dapat melindungi anak dari saudara lelakiku". Mereka tidak punya pilihan lain kecuali membiarkannya karena ia punya hak sebagai kepala suku. Lagi pula, Abu Lahab dalam hal ini mendukung saudaranya itu. Suku Makhzum tahu bahwa Abu Lahab salah seorang sekutu terkuat dalam menentang Nabi, maka mereka tidak mendesaknya. Di sisi lain, pada waktu pemboikotan, Abu Lahab mungkin menyesal telah terang²an menyatakan kebenciannya terhadap keponakannya itu. Walaupun kebenciannya tidak berkurang sama sekali, namun ia berharap menjalin hubungan yang lebih baik dengan keluarganya karena setelah kematian saudaranya yang tertua, ia berharap dapat menggantikan posisinya sebagai kepala suku. Mungkin, ia melihat tanda² bahwa Abu Thalib tidak akan lama lagi hidupnya.

*#030#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment