Saturday, January 25, 2020

Kisah Rosul bagian 30

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣0⃣ *SURGA DAN KEABADIAN*
_______________________

DI antara para pengungsi yang kembali dan membutuhkan bantuan melawan sukunya sendiri adalah saudara ipar 'Umar, 'Utsman ibn Mazh'un al-Jumah, karena ia sangat sadar sepupunya, Umayyah, dan Ubayy akan menyiksanya. Saat itu suku Makhzum yang melindungi seorang lelaki dari suku lain: Walid sendiri mengambil 'Utsman di bawah perlindungannya. Namun, ketika 'Utsman melihat saudaranya semuslim disiksa, sementara ia sendiri selamat, ia menemui Walid untuk meminta agar perlindungannya dicabut. "Anak saudaraku", kata orang tua itu, "apakah ada orang²ku yang menyiksamu?" "bukan demikian", kata 'Utsman, "melainkan aku memohon perlindungan dari Allah dan aku tidak mengharapkan perlindungan dari siapapun kecuali dari-Nya". Maka ia pergi bersama Walid ke masjid dan mengumumkan pencabutan perlindungannya.

Beberapa hari kemudian, penyair Labid mendeklamasikan sajak di depan kaum Quraisy, dan 'Utsman sedang berada di tengah kerumunan besar yang hadir untuk mendengarkannya. Beberapa penyair berbakat juga hadir disana, seperti Abu Thalib, Hubayrah, dan Abu Sufyan ibn al-Harits. Mereka adalah penyair² yang satu tingkat lebih tinggi dikalangan orang Arab. Namun, diatas mereka semua, sedikit yang dianggap sebagai penyair besar. Labid adalah salah satunya. Ia mungkin penyair arab terbesar yang masih hidup. Kaum Quraisy merasa bangga ia berada di tengah² mereka. Salah satu gubahan puisi kini ia lantunkan:
_Oh, segala sesuatu selain Tuhan adalah fana_
"Engkau berkata benar", kata 'Utsman. Labid melanjutkan,
_Dan semua kebahagiaan akan musnah_
"Engkau berdusta", protes 'Utsman. "Kebahagiaan surga tidak akan pernah musnah". Labid tidak terbiasa diinterupsi; begitu pula orang Quraisy. Mereka tidak saja kaget dan gusar, tapi juga sangat murka karena penyair itu tamu mereka. "Hai orang² Quraisy", kata Labid, "mereka yang duduk bersamamu sebagai sahabat tidak akan pernah ingin diperlakukan buruk. Bukankah demikian?" Salah seorang hadirin berdiri untuk menyampaikan permohonan maaf mewakili suku. "Orang ini hanyalah orang idiot", katanya, "salah seorang dari sekelompok orang bodoh yang telah meninggalkan agama kami. Janganlah engkau merasa terganggu dengan apa yang telah ia katakan". 'Utsman membalas dengan ketus, sehingga orang itu menghampiri dan memukul matanya, sampai pelipisnya menghijau. Walid yang sedang duduk di dekatnya, menegurnya bahwa matanya tidak akan sakit seperti itu jika ia tetap berada dalam perlindungannya. "Tidak", kata 'Utsman, "sesungguhnya mataku yang baik ini ibarat seorang fakir demi menginginkan apa yang telah menimpa saudara perempuannya di jalan Allah. Aku berada dalam perlindungan Yang Maha Mulia dan lebih Berkuasa darimu". "Kemarilah hai anak saudaraku", kata Walid, "perbaharuilah perjanjianmu denganku". Namun, 'Utsman menolaknya.

Nabi tidak hadir pada pertemuan itu. Namun, beliau mendengar syair yang dibaca Labid dan apa yg terjadi. Komentarnya terekam dalam hadits: "Kata² paling benar yang pernah diucapkan penyair itu adalah 'Oh, segala sesuatu selain Tuhan adalah fana'". Beliau tidak menyalahkan kata² Labid berikutnya. Syair itu dapat diartikan bahwa "semua kebahagiaan duniawi akan musnah". Di sisi lain, surga dan kebahagiaan ukhrawi yang abadi dapat ditafsirkan termasuk ke dalam "Tuhan" atau dalam "Wajah Tuhan". Pada saat itu, turun sebuah ayat: _"Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah"_(Q.S. 28: 88) dan di awal sebuah ayat terdapat kalimat: _"Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan"_(Q.S. 55: 27).

Di tempat lain, terdapat wahyu yang lebih eksplisit. Ayat pertama berkaitan dengan Pengadilan:

_"Dikala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka diantara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang² yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yg lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dikehendaki-Nya. Adapun orang-orang yang berbahagia maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi kecuali jika Rabbmu menghendaki sebagai karunia yang tiada putus-putusnya._(Q.S. 11: 105-108).

Berbagai pertanyaan lain berkaitan dengan masalah ini, dijawab oleh Nabi sendiri. Beliau terus menerus mengingatkan para sahabatnya tentang kebangkitan kembali, pengadilan, neraka dan surga.

Pada suatu ketika, beliau berkata, "Allah yang mengasihi hamba yang dikehendaki-Nya, akan dimasukkan ke dalam surga para ahli surga, dan akan dimasukkan ke neraka para ahli neraka. Tuhan lalu berkata kepada para malaikat, 'Carilah orang yang di dalam hatinya engkau temukan keimanan meskipun sebesar biji zarah dan keluarkan ia dari neraka' ... Lalu mereka mengeluarkan sekelompok manusia dan berkata, 'Tuhan kami, kami tidak menyisakan seorangpun yang telah Engkau perintahkan', Dia berkata, 'Kembalilah dan keluarkan orang yang di dalam hatinya engkau temukan kebaikan walau sebesar atom'. Lalu mereka mengeluarkan sekelompok manusia dan berkata, 'Tuhan kami, tidak ada kebaikan yg tersisa'. Malaikat kemudian memohonkan ampun, begitu pula para Nabi dan orang² mukmin. Allah pun berkata, 'Malaikat telah memohonkan ampun, begitu pula para Nabi dan orang² mukmin. Di sana hanya tinggal ampunan dari Yang Maha Kasih diantara yang mengasihi'. Dia akan mengeluarkan orang² yang buruk dari api neraka dan akan membasuh mereka di suatu sungai, di gerbang masuk menuju surga yang disebut sungai kehidupan."

Mengenai penghuni surga, Nabi bersabda, "Allah berfirman kepada para penduduk surga, 'Apakah kalian senang?' Mereka menjawab, 'Bagaimana kami tidak merasa senang, Ya Allah, begitu berlimpah karunia yang Engkau berikan kepada kami dan tidak pernah Engkau berikan kepada makhluk-Mu yang lain!' Lalu Dia berfirman, 'Maukah kalian Kuberi yang lebih baik?' 'Apa lagi yang lebih baik itu ya Allah?' tanya mereka. Allah menjawab, 'Aku akan memberikan kalian _Ridhwan_-Ku'". Puncak kebahagiaan _Ridhwan,_ terkadang diterjemahkan "Kesenangan Abadi". Surga tertinggi ini tidak dapat dipahami sebagai pengecualian dari surga yang dikenal dalam pengertian biasa, karena Alquran menjanjikan bagi setiap jiwa yg diberkahi akan mendapatkan dua surga. Dan, saat berbicara dengan kalimatnya sendiri tentang hari kemudian, Nabi mengatakan hal itu sebagai keberkahan berlipat ganda: "pertemuan dengan Tuhanku dan surga".

*#039#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment