🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣1⃣ *TAHUN DUKA CITA*
_______________________
PADA tahun 619 Masehi, tidak lama setelah pencabutan pemboikotan, Nabi merasa kehilangan besar atas kematian istrinya, Khadijah. Khadijah kira² berusia 65 tahun, sedangkan Nabi mendekati usia 50 tahun. Mereka telah hidup bersama secara harmonis selama 25 tahun. Khadijah bukanlah semata² istrinya, tetapi juga sahabat dekatnya, penasihatnya, dan ibu seluruh keluarganya, termasuk Ali dan Zayd. Keempat putrinya dirundung perasaan duka cita, namun beliau dapat menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa Jibril baru saja datang kepadanya, mengucapkan selamat dan mengatakan, "Allah telah menyiapkan tempat tinggal baginya di surga".
Kematian Khadijah segera disusul oleh kehilangan lain –suatu kehilangan yang tidak kurang besarnya sekaligus kurang menyenangkan, dan dampaknya lebih serius. Abu Thalib jatuh sakit dan sekarat. Menjelang kematiannya, ia dijenguk oleh sekelompok pemuka Quraisy –Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, Umayyah al-Jumah, Abu Jahl al-Makhzum dan lainnya. Mereka berkata kepadanya, "Abu Thalib, engkau pasti tahu rasa hormat kami kepadamu. Engkau tahu apa yang terjadi antara kami dan anak saudaramu. Karenanya, panggillah ia menghadapmu, dan berikanlah hadiah dari kami kepadanya. Buatlah persetujuan antara kami dan dia. Kami akan menuruti apa yang dia minta, tapi ia juga menuruti apa yang kami minta. Suruhlah ia meninggalkan kami dan biarkan agama kami dalam kedamaian". Ketika Muhammad datang, Abu Thalib berkata kepadanya, "Wahai anakku! Kehormatan ini berasal dari kaummu yang telah datang bersama. Terserah padamu, akan menerima atau menolak". "Jadi demikian", sahut Nabi. "Ucapkan kepadaku sepatah kata –sebuah kata yang engkau akan memimpin orang Arab dan persia". "Ya, demi ayahmu", kata Abu Jahl, "Untuk itu akan kami ucapkan kepadamu satu kata, dan sepuluh kata lainnya". "Ucapkan, _Tidak ada Tuhan selain Allah,_ dan tinggalkan apa yang engkau sembah selain-Nya", kata Nabi. Mereka bertepuk tangan dan berseru, "Hai Muhammad, apakah engkau ingin membuat Tuhan² itu menjadi satu Tuhan? Tawaranmu sungguh aneh!" Mereka lalu bicara satu sama lain: "Orang ini tidak akan memenuhi apapun yang kalian minta. Karena itu, lanjutkan cara kalian, dan tetaplah pada agama leluhurmu sampai Tuhan memutuskan antara kalian dan dia".
Ketika mereka pergi, Abu Thalib berkata kepada Nabi, "Wahai anak saudaraku! Seperti yang ku saksikan, engkau tidak meminta mereka sesuatu di luar kewajaran". Kata² ini membuat Nabi berharap agar ia masuk Islam. "Paman", katanya, "Ucapkanlah kalimat itu agar aku dapat memohonkan ampun bagimu pada hari kiamat". "Anak saudaraku", katanya, "jika aku tidak takut orang² Quraisy akan berpikir bahwa aku mengucapkan kata² itu karena takut mati, maka aku akan mengucapkannya. Namun aku tidak mengucapkannya selain memuaskanmu". Setelah ajal Abu Thalib mendekat, 'Abbas melihat dia menggerakkan bibirnya. Ia mendekatkan telinganya ke Abu Thalib dan mendengarkannya, lalu ia berkata, "Saudaraku telah mengucapkan kalimat yang kau minta agar diucapkannya". Tapi Nabi berkata, "Aku tidak mendengarnya".
Situasi di Mekah saat itu menjadi sulit bagi hampir semua orang yang tidak memiliki pelindung secara formal. Sebelum bergabung dengan Nabi, Abu Bakr dianggap orang yang berpengaruh, namun, tidak seperti 'Umar dan Hamzah, ia bukanlah orang yang berbahaya, maka tidak menimbulkan rasa takut selain bagi orang yang menghargainya karena alasan spiritual. Ketika keislamannya menjadi penghalang antara dirinya dengan para pemuka Quraisy, pengaruhnya terhadap mereka menurun drastis, bahkan nyaris hilang, namun meningkat di kalangan komunitas agama baru itu. Bagi Abu Bakr, situasi ini lebih diperparah lagi karena ia bertanggung jawab atas keislaman beberapa orang. Di antaranya mungkin karena dendam terhadap Islamnya Aswad ibn Nawfal, dimana pada suatu hari, Nawfal sendiri, saudara tiri Khadijah, menyusun suatu serangan terhadap Abu Bakr dan Thalhah, yang ditinggal terbaring di jalan umun dengan tangan dan kali terikat. Tak ada seorangpun dari Bani Taym ikut menentang orang Bani Asad. Itu berarti mereka telah meninggalkan kedua pemuka muslim itu dari suku mereka sendiri.
Ada juga kejadian lain. Hubungan Abu Bakr semakin buruk dengan mantan majikan Bilal, Umayyah, kepala suku Jumah, tempat Abu Bakr tinggal, sampai² ia merasa tidak ada pilihan lain kecuali pindah. Setelah mendapat izin dari Nabi, ia berangkat bergabung dengan mereka yang tinggal di Abyssinia. Namun, sebelum sampai di Laut Merah, ia bertemu dengan Ibn al-Dughunnah, yang saat itu mengepalai sebuah kelompok kecil dari suku² yg bersatu dekat Mekah, sekutu Quraisy. Kepala suku Badui ini mengenal Abu Bakr pada saat masih jaya dan berpengaruh. Namun, kini ia tampak berbeda. Terkejut dengan perubahan itu, Ibn al-Dughunnah menanyakannya. "Aku diperlakukan buruk dan diusir oleh kaumku", jawab Abu Bakr, "kini aku hanya ingin berkelana di muka bumi ini untuk menyembah Allah". "Mengapa mereka melakukan ini?" tanya Ibn al-Dughunnah. "Bukankah engkau suatu berkah bagi sukumu, orang yang selalu membantu mereka yang kesulitan, yang senantiasa melakukan kebaikan, dan sering kali memenuhi kebutuhan orang lain? Kembalilah, engkau berada dalam perlindunganku". Maka ia membawanya kembali ke Mekah dan berseru kepada masyarakat, "Wahai penduduk Quraisy! Aku telah memberikan perlindungan kepada anak Abu Quhafah ini. Maka jangan ada seorangpun memperlakukannya dengan buruk". Perlindungan itu diakui Quraisy dan Abu Bakr dijamin akan aman. Tetapi Bani Jumah berkata kepada pelindung Abu Bakr itu, "Suruh ia menyembah Tuhannya di dalam ruangan. Silakan salat dan membaca apa saja yang ia inginkan disana, tapi jangan sampai membuat kami kesal melihat dan mendengar apa yang ia lakukan. Sebab, penampilannya sangat memikat. Kami takut ia akan memengaruhi anak-istri kami". Ibn al-Dughunnah menyampaikan hal ini kepada Abu Bakr. Maka, Abu Bakr untuk sementara hanya salat dan membaca Alquran di dalam rumahnya. Dan untuk sementara pula, ketegangan antara dia dan para pemuka Bani Jumah mereda.
*#040#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
Sebagai pemimpin Bani Hasyim, Abu Thalib digantikan oleh Abu Lahab. Namun, perlindungan yang diberikan Abu Lahab kepada keponakannya itu sekedar nominal. Nabi tetap diperlakukan buruk seperti sebelumnya. Suatu ketika, seseorang lewat memasuki gerbang beliau dan melemparkan kotoran ke dalam wadah masakannya. Suatu hari pula, saat beliau sedang salat di serambi rumahnya, seseorang melemparkan tulang domba, darah dan kotorannya. Sebelum dibuang, Nabi mengambilnya dengan sebuah tongkat dan berseru sambil berdiri di gerbangnya, "Hai anak Abd Manaf, perlindungan macam apa ini?" Beliau tahu bahwa penyerangnya adalah seorang lelaki suku Abd al-Syams, yaitu Uqbah, ayah tiri 'Utsman, suami Ruqayyah. Di waktu yang lain, ketika Nabi kembali dari Ka'bah, seseorang mengambil kotoran dan melemparkannya ke wajah dan ke seluruh kepala beliau. Ketika beliau pulang, salah seorang putrinya membasuh dan membersihkannya sambil menangis. "Jangan menagis putriku", kata beliau, "Allah akan melindungi ayahmu".
Karena hal itulah, Nabi kemudian mencari pertolongan dari Tsaqif, penduduk Tha'if –sebuah keputusan yang menampakkan dengan jelas semakin buruknya posisi beliau di Mekah. Terlepas bahwa kebenaran dapat mengalahkan segalanya, apa yang sesungguhnya dapat diharapkan dari Tsaqif, penjaga kuil Dewa al-Lat, yang mereka anggap sebanding dengan Rumah Allah itu? Pastilah ada beberapa pengecualian di Tha'if dengan yang ada di Mekah. Bukanlah tanpa harapan ketika beliau melintasi gurun pasir menuju suatu daerah penuh kebun, taman, dan ladang yang terletak di luar benteng kota. Setelah tiba, beliau langsung menuju je sebuah rumah milik tiga orang bersaudara yang menjadi pemimpin Tsaqif saat itu, keturunan Amr ibn Umayyah –Orang yang dianggap Walid sebagai saingannya di Tha'if, orang kedua dari "Dua orang besar di dua kota". Namun, ketika Nabi mengajak mereka masuk Islam dan meminta bantuannya melawan musuh²nya, salah seorang dari mereka berkata, "Jika Tuhan mengutusmu, aku akan meruntuhkan Ka'bah!" Yang lain mengejek, "Apakah Tuhan tidak mendapat orang selain dirimu untuk menjadi Rasul-Nya?" Sementara yang ketiga berkata, "Kami tidak ingin berbicara denganmu! Karena seandainya engkau Utusan Tuhan seperti yang engkau katakan, engkau terlalu mulia bagiku; dan seandainya engkau berbohong, tidaklah pantas aku berbicara denganmu". Maka Nabi bangkit dan meninggalkan mereka. Mungkin beliau bermaksud mencoba ke tempat lain di Tha'if. Namun, ketika beliau hendak pergi, budak² mereka dikerahkan untuk mengejek dan meneriaki beliau, sampai segerombolan orang bergabung menyerangnya. Beliaupun terpaksa menyelamatkan diri ke sebuah kebun. Ketika beliau masuk ke kebun itu, kerumunan orang itu bubar. Beliau mengikat untanya pada sebatang pohon kurma, lalu berteduh di bawah pohon anggur dan duduk di bawah bayangannya.
Ketika merasa telah aman, beliau bermunajat:
_Ya Allah, Kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang² yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang² asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? Hal itu tidak aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yg menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa memohon ridho-Mu, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu._
Tempat Nabi menyelamatkan diri ini sebenarnya tidak kosong seperti yang tampak. Setiap orang Quraisy mendambakan dapat membeli kebun dan rumah di atas bukit hijau Tha'if untuk beristirahat saat suhu panas di Mekah mencapai puncaknya. Kebun itu bukan milik orang Tsaqif, melainkan milik para tokoh suku Abd al-Syams, yaitu Utbah dan Syaibah. Keduanya kini tengah duduk di tepi kebun mereka yang menyatu dengan kebun anggur. Mereka menyaksikan apa yang terjadi. Mereka bukannya tak merasa dongkol atas perlakuan orang² Tsaqif itu terhadap orang Quraisy, yang –seperti mereka sendiri– juga keturunan Abd Manaf. Mengenai beberapa perbedaan yang ada di antara mereka, tidakkah sekarang hampir berakhir? Mereka terakhir kali melihat Muhammad saat meninggalnya Abu Thalib. Kini ia tanpa seorang pelindung dan tengah berputus asa. Tergugah untuk berbuat baik, mereka memanggil budaknya yang masih muda dan beragama Kristen, 'Addas, dan berkata kepadanya, "Ambillah setangkai anggur ini, letakkan di piring dan berikanlah kepada lelaki itu. Persilakan ia memakannya". 'Addas melakukan seperti yang mereka perintahkan. Ketika Nabi menyentuh anggur itu, beliau mengucapkan "Dengan nama Allah". 'Addas menatap wajahnya dengan seksama; lalu berkata, "Kata² itu tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini". "Dari negeri mana engkau berasal dan apa agamamu?" tanya Nabi. "Agamaku kristen", katanya, "berasal dari Ninawi". "Kota tempat asal seorang hamba yang saleh, Yunus putra Matta", kata Nabi. "Darimana engkau mengenal Yunus putta Matta?" tanya 'Addas. "Dia adalah saudaraku, dia seorang nabi, dan akupun seorang nabi", jawab Nabi. Kemudian 'Addas memeluk Nabi dan menciumi kepala, tangan dan kaki beliau.
Ketika melihat hal itu, dua orang bersaudara itu saling berseru seolah² dengan satu suara, "Begitu besar perlakuan budakmu! Apakah ia telah memperalatnya?" Setelah 'Addas kembali kepada mereka dan membiarkan Nabi makan dengan nyaman, mereka berkata, "Keterlaluan engkau hai 'Addas! Apa yang membuatmu menciumi kepala, tangan dan kaki lelaki itu?" Ia menjawab, "Tuan, tidak ada orang yang lebih baik darinya di bumi ini. Dia telah mengatakan kepadaku sesuatu yang hanya diketahui oleh seorang nabi." "Keterlaluan engkau 'Addas!" kata mereka, "jangan sampai ia memengaruhi agamamu, karena agamamu lebih baik dari pada agamanya".
Nabi meninggalkan Tha'if dan melangkah menuju Mekah ketika beliau tidak mendapatkan perlakuan baik dari suku Tsaqif. Pada larut malam, beliau sampai di lembah Nakhlah, tempat persinggahan separuh perjalanan diantara dua kota yang menolaknya. Kenabiannya telah diketahui oleh seorang lelaki Ninawi yang jauh. Sekarang, saat beliau mendirikan shalat di Nakhlah, sekelompok jin lewat –tujuh jin dari Nashibin. Mereka berhenti tertarik kepada untaian kata² yang beliau baca dari Alquran. Nabi tahu bahwa dirinya diutus ke dunia tidak hanya untuk bangsa manusia. Wahyu itu berbunyi: _"Dan, tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam"_(Q.S. 21: 107). Salah satu surah² awal ditujukan kepada jin sekaligus kepada manusia; mengingatkan keduanya tentang neraka sebagai hukuman atas kejahatan, dan janji surga sebagai pahala atas kebaikan. Kini telah diturunkan sebuah ayat:
_Katakanlah (hai Muhammad), " Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan Alquran, lalu mereka berkata: 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya'"_(Q.S. 72: 1-2).
Ayat yang lain menyatakan bagaimana jin segera kembali ke komunitas mereka dan menyarankan mereka agar mengikuti Rasulullah, begitulah mereka menyebut Nabi (Q.S. 46: 30-31).
Nabi tidak ingin mengalami kembali keadaan yang baru dua hari lalu menimpanya, sehingga harus meninggalkan rumah. Namun, andaikata memiliki seorang pelindung, beliau dapat meneruskan misinya. Bani Hasyim telah melepasnya. Maka, beliau beralih ke kabilah dari garis keturunan ibunya. Situasi di sana sudah tak lazim, karena sejauh ini, orang yang paling berpengaruh di Zuhrah adalah Akhnas ibn Syariq, bukanlah perwakilan langsung dari suku, tidak juga dari Quraisy. Dia sebenarnya berasal dari Tsaqif, namun telah lama menjadi sekutu Zuhrah, dan mereka telah menganggapnya sebagai pemimpin. Nabi memutuskan untuk memohon perlindungannya. Ketika beliau disusul seorang penunggang kuda dalam perjalanannya menuju Mekah, dan orang itu melaju lebih cepat darinya, beliau memintanya agar berangkat bersama². Setelah tiba, beliau berkata kepada Akhnas, "Maukah engkau memberikan perlindungan kepadaku agar aku dapat menyampaikan ajaran Tuhanku?" Pengendara kuda itu sangat ingin, bahkan, berusaha segera menjawab. Namun ternyata jawabannya negatif, karena Akhnas menyatakan bahwa sebuah persekutuan tidak berwenang memberikan perlindungan atas nama suku. Nabi, yang saat itu tidak jauh dari Mekah, mengajukan permintaan yang sama kepada Suhayl. Tanggapannya sangat mengecewakan, meskipun alasan penolakannya bukan karena ia melawan Islam, melainkan hanyalah persoalan prinsip kesukuan. Di dataran Mekah, kabilah Suhayl berbeda dengan kabilah lainnya karena mereka keturunan 'Amir ibn Lu'ayy, sedangkan kabilah lainnya keturunan saudara 'Amir, Ka'b. Suhayl menjawab bahwa keturunan 'Amir tdk bisa memberikan perlindungan terhadap keturunan Ka'b. Nabi kini berjalan berlawanan arah dari kota, pergi menuju gua Hira –tempat pertama kali beliau mendapatkan wahyu. Dari sana, Nabi mengirimkan petisi kepada seorang pemimpin yang memiliki hubungan yang lebih dekat dengan beliau sendiri, yaitu Muth'im, pemimpin Bani Nawfal, salah satu dari lima orang yang mengatur pembatalan dokumen pemboikotan itu. Muth'im langsung setuju. "Biarkan ia masuk ke dalam kota", pesannya. Pada pagi keesokan harinya, ia mengawal Nabi ke Ka'bah dengan bersenjata lengkap, bersama anak dan para keponakannya. Abu Jahl bertanya, apakah mereka telah menjadi pengikut Muhammad? "Kami sedang memberikan perlindungan terhadapnya", jawab mereka. Suku Makhzum hanya dapat berkata, "Kami akan melindungi orang yang kalian beri perlindungan".
*#041#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment