🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣2⃣ *CAHAYA WAJAHMU*
_______________________
FATHIMAH, janda Abu Thalib, telah masuk Islam, entah sebelum atau sesudah kematian suaminya. Demikian pula putrinya, 'Umm Hani, saudara 'Ali dan Ja'far. Tetapi, suami Umm Hani, Hubayrah, sama sekali tidak tersentuh oleh risalah tauhid. Meskipun demikian, ia tetap menyambut Nabi ketika beliau masuk ke rumahnya. Jika waktu salat tiba, selama kunjungan ini, para pemeluk Islam di keluarga itu akan salat berjamaah. Suatu ketika, seusai mereka salat berjamaah diimami Nabi, Umm Hani mengundang beliau untuk menginap di rumah mereka. Beliau menerima tawarannya. Setelah tidur sejenak, beliau bangkit dan pergi ke masjid, karena beliau suka mengunjungi Ka'bah di malam hari. Ketika beliau di sana, rasa kantuk menghampiri dan beliau pun tertidur di Hijr.
"Ketika aku sedang tidur di Hijr", cerita beliau, "Jibril datang kepadaku dan mengusikku dengan kakinya. Aku segera duduk tegap. Setelah kulihat tidak ada apa2, aku berbaring kembali. Ia datang lagi untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya, ia mengangkatku. Aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Jibril mengajakku menuju pintu masjid. Di sana ada seekor binatang putih, seperti peranakan antara kuda dan keledai, dengan sayap di sisi tempat menggerakkan kakinya. Langkahnya sejauh mata memandang."
Nabi menceritakan bagaimana beliau menunggangi Buraq –demikian nama binatang itu– bersama malaikat yang menunjukkan jalan dan mengukur kecepatannya seperti menunggang kuda yang menyenangkan. Mereka menuju ke Utara Yatsrib dan Khaybar, sampai tiba di Yerussalem. Kemudian mereka bertemu dengan para nabi –Ibrahim, Musa, 'Isa, dan nabi yang lain. Ketika beliau salat di tempat ibadah itu, mereka menjadi makmum di belakangnya. Lalu ada dua gelas disuguhkan kepada Nabi dan ditawarkan kepadanya. Satu berisi anggur dan satunya lagi berisi susu. Beliau mengambil gelas yang berisi susu dan meminumnya, serta meninggalkan gelas yang berisi anggur. Jibril berkata, "Engkau telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan memberi petunjuk kepada umatmu, hai Muhammad! Anggur itu terlarang bagimu".
Kemudian, seperti yang pernah terjadi pada nabi yg lain –kepada Nuh, Ilyas, dan 'Isa juga Maryam– Muhammad diangkat keluar dari kehidupan ini menuju langit. Dari masjid al-Aqsa, beliau kembali mengendarai Buraq, yang menggerakkan sayapnya terbang ke atas. Bersama malaikat –yg kini menampakkan diri dalam wujud aslinya– beliau mikraj, melampaui ruang, waktu, dan bentuk lahiriah bumi, lalu melintas ke tujuh langit. Di sana beliau bertemu lagi dengan para nabi yang salat bersamanya di Yerusalem. Namun, di Yerusalem mereka tampak seperti hidup di bumi. Sementara, Nabi kini melihat mereka dalam wujud ruhani sebagaimana mereka melihat beliau. Beliau kagum dengan perubahan mereka. Mengenai Yusuf, beliau berkomentar, "Wajahnya laksana cahaya rembulan saat purnama. Ketampanannya tidak kurang dari setengah ketampanan yang ada saat ini". Namun, hal itu tidak menafikan kekaguman Muhammad terhadap saudara²nya yg lain. Beliau menyebutkan secara khusus ketampanan Harun. Di langit berikutnya, beliau berkata, "Sekeping anak panah dari Syurga lebih baik dari segala yang ada di bawah matahari, dari tempat terbit dan tenggelamnya. Jika wanita syurga tampak pada penduduk bumi, maka ruang antara langit dan bumi ini akan dipenuhi cahaya dan keharumannya." Segala sesuatu yang kini beliau lihat adalah melalui penglihatan spiritual. Mengenai kemampuan spiritualnya, berkaitan dengan permulaan penciptaan alam, beliau berkata, "Aku adalah nabi ketika Adam masih dalam bentuk antara air dan tanah liat."
Puncak mikrajnya adalah di _shidrat al-muntaha_ –begitulah yang disebut dalam Alquran. Di salah satu tafsir tertua –berdasarkan hadits Nabi– dikatakan, _"Shidrat al-muntaha_ berakar pada singgasana _(Arsy)._ Itu menandakan puncak pengetahuan setiap orang yang berpengetahuan, baik malaikat ataupun rasul. Segala sesuatu di atasnya adalah misteri yang tersembunyi, tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah semata." Pada puncak semesta, Jibril tampak di hadapan beliau dalam segenap kemegahan malaikatnya, seperti saat pertama kali diciptakan. Kemudian, dalam bahasa wahyu, _"(Muhammad melihat Jibril) ketika_ shidrat al-muntaha _diliputi oleh sesuatu yg meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda² kekuasaan Tuhannya yang paling besar"_(Q.S. 53: 16-18). Menurut tafsir, Cahaya Ilahi turun meliputi _shidrat al-muntaha,_ juga meliputi segala sesuatu disisinya. Mata Nabi menatapnya tanpa berkedip dan tanpa berpaling darinya. Hal itu merupakan jawaban –atau salah satu jawaban– atas permohonan yang tersirat dalam ucapannya, "Aku berlindung kepada Cahaya Keridhaan-Mu."
Di _shidrat al-muntaha,_ Nabi menerima perintah salat 50 kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian beliau menerima wahyu yang berisi ajaran pokok Islam:
_Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan dari Tuhannya, demikian pula orang² yang beriman kepada Allah. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat²-Nya, kitab²-Nya dan rasul²-Nya. Dan mereka berkata: "Kami tidak membeda²kan antara seorangpun dengan yang lain dari rasul²-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". Mereka berdoa: "Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali"._(Q.S. 2: 285)
Mereka kemudian turun melintasi tujuh langit tempat mereka naik. Nabi bersabda, "saat aku kembali, ketika melewati Musa –dan betapa ia seorang teman yang baik bagi kalian!– ia bertanya kepadaku, 'Berapa salat yang diwajibkan kepadamu?' Aku jawab, "Lima puluh kali sehari". Ia berkata, 'kewajiban salat itu sangat berat, sedangkan umatmu lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mohonlah kepada-Nya keringanan bagimu dan umatmu'. Maka, aku kembali dan memohon keringanan kepada Allah, dan Dia menguranginya sepuluh. Lalu aku melewati Musa kembali, dan ia mengulangi perkataan sebelumnya. Maka, aku kembali lagi, dan dikurangi sepuluh lagi. Namun, setiap kali aku kembali ke Musa, ia menyuruhku kembali, sampai akhirnya kewajiban salat hanya lima kali sehari semalam. Kemudian, aku kembali kepada Musa, namun ia masih mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya. Aku berkata, 'Aku telah berulangkali menghadap Tuhanku, memohon kepada-Nya sampai aku merasa malu. Aku tidak akan menghadap-Nya lagi'. Dan dengan demikian, bagi siapa yang mendirikan salat lima waktu dalam keimanan dan harapan akan Rahmat Allah, ia akan diberi pahala sebanyak lima puluh kali salat."
Setelah Nabi dan malaikat turun ke Yerusalem, mereka kembali ke Mekah melewati banyak kafilah ke arah selatan. Ketika mereka tiba di Ka'bah, waktu itu masih malam dan Nabi kembali ke rumah sepupunya. Umm Hani menuturkan, "Menjelang fajar, Nabi membangunkan kami. Setelah kami melaksanakan salat subuh, beliau berkata, 'Hai Umm Hani! Aku shalat isya bersamamu di lembah ini seperti yang engkau lihat. Lalu aku pergi ke Yerusalem dan salat di sana. Kini aku salat subuh bersamamu.' Beliau hendak beranjak pergi dan kupegang jubahnya erat² hingga terlepas dan perutnya terlihat, seolah hanya itulah kain yang menutupi beliau. 'Wahai Rasulullah' kataku, 'jangan ceritakan ini kepada masyarakat, karena engkau akan dianggap berbohong. Mereka akan menghinamu.' 'Demi Allah, aku akan menceritakannya kepada mereka,' katanya."
Beliau pergi ke masjid dan menceritakan kepada mereka tentang perjalanannya ke Yerusalem. Musuh²nya segera merasa menang karena mereka kini memiliki alasan yang tidak dapat dibantah untuk menghinanya. Setiap orang Quraisy tahu bahwa perjalanan suatu kafilah dari Mekah ke Syria membutuhkan waktu sebulan untuk berangkat dan sebulan untuk kembali. Muhammad kini mengaku telah pergi ke sana dan kembali dalam waktu semalam. Sekelompok orang pergi menemui Abu Bakr dan berkata, "Apa pendapatmu sekarang tentang sahabatmu itu? Ia mengatakan telah pergi ke sana dan salat di sana, lalu kembali ke Mekah." Abu Bakr menuduh mereka berbohong. Mereka meyakinkannya dan saat itu Muhammad berada di masjid, menceritakan tentang perjalanannya itu. "Jika ia berkata demikian," kata Abu bakr, "itu benar. Dimana keganjilannya? Beliau mengatakan kepadaku bahwa berita² datang kepadanya dari langit ke bumi dalam satu jam sehari atau semalam. Aku tahu, beliau berkata benar. Apa yang engkau perselisihkan itu sepele." Abu Bakr kemudian pergi ke masjid untuk mengulangi pembenarannya: "jika itu yang beliau katakan, berarti itu benar". Karena itu, Nabi memberinya gelar _al-Shiddiq,_ yang berarti "saksi kebenaran" atau "orang yang meyakini kebenaran". Selain itu, sebagian orang yang menganggap cerita ini sulit diterima mulai berpikir ulang. Sebab Nabi menggambarkan beberapa kafilah yg beliau temui dalam perjalanan pulang. Beliau juga mengatakan dimana mereka kini berada dan kapan mereka diperkirakan akan tiba di Mekah. Ternyata setiap kafilah tiba tepat seperti yang diperkirakan. Begitu pula dengan rincian yang telah beliau gambarkan. Kepada orang² yang berada di Masjid, Nabi hanya menceritakan tentang perjalanannya ke Yerusalem, namun ketika beliau bersama Abu Bakr dan para sahabat lainnya, beliau menceritakan mikrajnya ke langit ketujuh –menceritakan sebagian yang telah beliau lihat, yg selebihnya diceritakan di tahun² kemudian, seringkali dalam menjawab pertanyaan².
*#042#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment