🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣3⃣ *SESUDAH TAHUN DUKA CITA*
_______________________
PADA tahun berikutnya, setelah Tahun Dukacita, ibadah haji jatuh pada awal bulan Juni. Pada saat perayaan kurban, Nabi pergi ke lembah Mina, tempat para jamaah berkemah selama lima hari. Seperti biasanya, selama beberapa tahun beliau mengunjungi berbagai kelompok jamaah yang berkemah dan mendakwahkan ajarannya kepada siapa saja yang ingin mendengarkannya. Beliau membacakan ayat² Alquran seolah² beliau merasa digerakkan untuk membacanya. Tempat terdekat dari Mina ke Mekah adalah Aqabah, daerah menanjak dari lembah menuju bukit² mengarah ke kota suci. Pada tahun ini, di Aqabah beliau mendatangi 6 orang suku Khazraj, Yatsrib. Beliau tidak kenal keenam orang itu, tetapi mereka semua telah mendengar tentang diri beliau dan kenabiannya. Setelah memperkenalkan diri, mereka sangat terpesona. Mereka dengan tekun mendengarkan beliau. Masing² sudah terbiasa mendapatkan ancaman dari lingkungan mereka, kaum Yahudi Yatsrib: "Seorang Nabi kini telah diutus. Kita akan mengikutinya dan akan membunuhmu seperti dibunuhnya 'Ad dan Iram." Setelah Nabi selesai berbicara, mereka berkata satu sama lain, "Sungguh, orang ini adalah Nabi yang akan datang kepada kita seperti yang dijanjikan orang² Yahudi. Jangan sampai mereka menemuinya pertama kali!" Kemudian setelah satu-dua pertanyaan diajukan dan kemudian dijawab, keenam orang itu masing² bersaksi akan kebenaran ajaran Nabi dan berjanji akan menunaikan ajaran yang diperintahkan kepada mereka. "Kami telah meninggalkan kaum kami", kata mereka, "karena mereka telah tercabik² oleh kejahatan dan permusuhan. Mudah²an Allah akan menyatukan mereka melalui dirimu. Sekarang kami akan pergi mengajak mereka untuk menerima agamamu seperti kami. Jika Allah mempersatukan mereka karenamu, maka tidak ada orang yang lebih mulia daripada dirimu."
Nabi selalu mengunjungi Abu Bakr di rumahnya yang terletak diantara pemukiman Bani Jumah. Kunjungan² ini merupakan kenangan masa kecil 'A'isyah, putri termuda Abu Bakr. Ia tidak ingat kapan ayah dan ibunya menjadi muslim dan saat² ketika Nabi tidak setiap hari mengunjungi mereka.
Sepanjang tahun yang sama, saat disusul kematian khadijah, Nabi bermimpi melihat seorang lelaki membawa seorang wanita mengenakan kerudung sutra. Lelaki itu berkata: "Ini adalah istrimu, maka bukalah ia." Nabi menyingkap sutra itu dan ternyata 'A'isyah. namun 'A'isyah baru berumur enam tahun, sedangkan beliau telah berusia lebih lima puluh tahun. Lagi pula, Abu Bakr telah menjanjikan 'A'isyah kepada Muth'im untuk anaknya, Jubayr. Nabi hanya berkata pada dirinya sendiri, "Jika ini berasal dari Allah, Dia akan mewujudkannya". Beberapa malam kemudian, beliau bermimpi malaikat membawakan sosok berbusana sutra yg sama. Kali ini, beliaulah yang berkata kepada malaikat, " Tunjukkanlah kepadaku". Malaikat menyingkap sutra itu dan lagi² 'A'isyah. Nabi kembali berkata, "Jika ini berasal dari Allah, Dia akan mewujudkannya".
Mimpi itu belum di ceritakan kepada siapapun, termasuk kepada Abu Bakr. Namun, kini datang pengukuhan yang ketiga kalinya dalam bentuk yang berbeda. Khawlah, istri 'Utsman ibn Mazh'un, sangat perhatian terhadap berbagai kebutuhan rumah tangga Nabi sejak kematian Khadijah. Suatu hari, ketika berada di rumah beliau, ia menyarankan agar beliau menikah. Ketika beliau menanyakan siapa yang mesti ia nikahi, Khawlah menjawab: "'A'isyah putri Abu Bakr atau Sawdah putri Zam'ah". Sawdah, sepupu dan saudara tiri Suhayl, sekarang janda, berumur sekitar 30 tahun. Suami pertamanya, Sakran, saudara Suhayl, membawanya ke Abyssinia dan mereka termasuk yang pertama kembali ke Mekah. Tidak lama setelah kembali, Sakran meninggal dunia.
Nabi menyuruh Khawlah untuk mengatur pernikahannya dengan kedua calon mempelai wanita yang ia usulkan itu. Sawdah menjawab, "Aku melayanimu, wahai Rasulullah!", Nabi kembali menjawab, "Ajukanlah seorang lelaki dari kaummu yang menjadi wali nikahmu". Ia memilih saudara iparnya, Hathib, yang saat itu juga telah kembali dari Abyssinia. Hathib menyerahkan Sawdah untuk dinikahi Nabi.
Pada saat yg sama, Abu Bakr mendekati Muth'im. Ia dapat dibujuk tanpa kesulitan agar membatalkan pernikahan 'A'isyah dengan anaknya. Beberpa bulan setelah pernikahan Sawdah, 'A'isyah juga menjadi istri Nabi, melalui sebuah akad nikah antara beliau dengan ayahnya. Sementara 'A'isyah sendiri tidak hadir. Sesudah itu, ia menuturkan bahwa dirinya baru pertama kali menyadari statusnya ketika satu hari ia sedang bermain dengan teman²nya di luar, tidak jauh dari rumahnya. Ibunya memanggil dan menuntunnya masuk. Dikatakan kepadanya, bahwa ia tidak boleh lagi keluar rumah untuk bermain, melainkan teman²nyalah yang harus mendatanginya. 'A'isyah tidak dapat memperkirakan alasannya, karena ibunya tidak segera memberitahukan bahwa dirinya telah menikah. Selain harus bermain di halaman dan bukannya di jalan, kehidupannya berlanjut seperti sebelumnya.
Pada waktu itu, Abu Bakr memutuskan untuk membangun sebuah mesjid kecil di depan rumahnya. Masjid itu dikelilingi oleh dinding, namun terbuka ke langit tanpa atap. Ia salat dan membaca Alquran di tempat itu. Namun dinding² nya tidak cukup tinggi hingga dapat dilihat oleh orang yang lalu lalang. Sejumlah orang seringkali berdiri dan mendengar bacaannya. Mereka juga dapat melihat penghormatan Abu Bakr terhadap kitab yang diwahyukan itu, yang membuatnya begitu terhanyut. Umayyah khawatir jumlah pengikut Abu Bakr akan terus bertambah. Maka, atas permintaannya, para pemimpin Quraisy mengirimkan delegasi kepada Ibn al-Dughunnah, mengingatkan apa yang telah mereka katakan pada awal² perlindungannya itu. Mereka juga menegurnya bahwa dinding masjid Abu Bakr tidak cukup dijadikan bagian dari rumahnya. "Jika ia ingin menyembah Tuhannya didalam ruangan, biarkan dia melakukannya", kata mereka, "namun jika ia melakukannya secara terbuka, maka lepaskan ia dari perlindunganmu". Namun, Abu Bakr tidak mau membongkar masjidnya. Ia secara resmi mencabut perlindungan dari Ibn al-Dughunnah. "Aku berada dalam perlindungan Allah", tuturnya.
Pada hari yang sama, Nabi memberitahu Abu Bakr dan para sahabatnya yg lain, "Aku telah ditunjukkan tempat hijrah kalian. Aku melihat sebuah lahan yang subur, kaya pohon kurma, berada diantara dua jalur batu² hitam".
*#043#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment