Wednesday, January 29, 2020

Kisah Rosul bagian 34

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣4⃣ *TANGGAPAN YATSRIB*
_______________________

"TERCABIK-CABIK oleh permusuhan dan kejahatan". Dengan menggambarkan kaum mereka semacam itu, keenam orang mualaf Yatsrib itu tidaklah berlebihan. Perang Bu'ats –perang sipil dan konflik terbesar keempat– sama sekali tidak berpengaruh, tidak juga ada upaya perdamaian, kecuali sekedar sebuah perjanjian untuk menghentikan pertempuran sementara waktu. Pertempuran sengit yang berkepanjangan dan berbahaya itu dan meningkatnya jumlah korban yang diakibatkannya, menggugah beberapa orang yang lebih moderat dari kedua belah pihak untuk berpikir bahwa mereka membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menyatukan mereka, seperti Qushay yg telah mempersatukan Quraisy. Tidak ada solusi bagi persoalan mereka kecuali itu. Salah seorang tokoh oasis itu, 'Abd Allah ibn Ubayy, memang telah diunggulkan oleh sejumlah orang sebagai kandidat raja. Pada konflik terakhir ini, ia tidak bertempur melawan 'Aws, melainkan menarik pengikutnya dari medan tempur. Namun, ia berasal dari Khazraj, dan sangat diragukan apakah 'Aws dapat menerima seorang raja yang bukan berasal dari suku mereka.

Keenam orang Khazraj menyampaikan dakwah Islam kepada sebanyak mungkin kaumnya yang mau mendengarkan. Musim panas berikutnya, jatuh pada tahun 621 M, lima orang dari mereka melaksanakan ibadah haji lagi. Mereka juga membawa serta 7 orang lainnya; dua diantaranya dari suku 'Aws. Di 'Aqabah, kedua belas orang ini berbaiat kepada Nabi. Baiat ini dikenal sebagai 'Aqabah pertama. Dalam perkataan salah seorang dari mereka:

_Kami berbaiat kepada Rasulullah pada malam pertama di 'Aqabah bahwa kami tidak akan mempersekutukan Tuhan dengan apapun, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak membunuh bayi, tidak bersaksi palsu, tidak akan mendurhakai kebenaran. Beliau berkata kepada kami: "Jika kalian memenuhi janji ini, maka surga menjadi milikmu. Jika kalian melakukan salah satu dosa² ini, kemudian menerima hukumannya di dunia ini, maka itu sebagai penghapusan. Namun, jika perbuatan kalian tak terungkap hingga datangnya hari kiamat, maka terserah Allah untuk menghukum atau mengampuni kalian di hari itu."_

Ketika mereka pulang ke Yatsrib, Nabi mengutus bersama mereka Mush'ab dari Abd al-Dar yang baru pulang dari Abyssinia. Ia bertugas membacakan Alquran kepada mereka dan mengajarkan perintah keagamaan. Ia tinggal bersama As'ad ibn Zurarah, salah satu dari enam orang yang masuk Islam pada tahun sebelumnya. Mush'ab juga memimpin salat, karena meskipun telah masuk Islam, baik 'Aws maupun Khazraj tidak rela memberikan posisi itu kepada salah satunya.

Persaingan antara keturunan dua anak Qaylah itu telah lama berlangsung. Tetapi, pernikahan silang antara kedua suku tersebut masih terjadi. Hasil pernikahan silang itu, salah satunya adalah As'ad –dari suku Khazraj yang menjadi tuan rumah Mush'ab– sepupu pertama Sa'd ibn Mu'adz –pemimpin salah satu kabilah suku 'Aws. Sa'd sangat menolak agama baru ini. Ia marah dan malu melihat As'ad, sepupunya, suatu hari duduk bersama Mush'ab dan beberapa mualaf muslim baru di kebun wilayah kaumya, bercakap² dengan anggota kabilahnya. Ia memutuskan untuk menghentikan aktifitas semacam itu. Namun, karena tidak ingin terlibat dalam situasi yang tidak mengenakkan, ia menemui Usayd –yang memiliki kewenangan di bawahnya– dan berkata, "Temuilah kedua orang yang telah datang ke permukiman kita untuk membodohi saudara² kita yang lemah" –tak pelak lagi, ia teringat akan adiknya yang telah meninggal, Iyas, yg menjadi orang Yatsrib pertama yg masuk Islam– "usir mereka keluar dan larang mendatangi perkampungan kita lagi. Jika As'ad bukan kaum kita, aku tidak akan membebanimu dengan persoalan ini. Tapi, ia anak saudara ibuku. Aku tidak bisa menentangnya". Usayd mengambil senjatanya dan pergi. Ia berdiri di hadapan mereka dan berkata dengan kasar, "Untuk apa kalian berdua kemari, untuk membodohi saudara² kami yg lemah? Jika kalian sayang nyawa, tinggalkan kami!" Mush'ab menatapnya dan dengan ramah berkata, "mengapa engkau tidak duduk dan mendengarkan apa yang ku katakan? Jika hal itu memuaskanmu, terimalah. Jika tidak, tinggalkanlah." "Itu adil," kata Usayd, yang menyukai penampilan dan perlakuan utusan Nabi tersebut. Ia pun menancapkan senjatanya ke tanah, lalu duduk di sisi mereka. Mush'ab berbicara tentang Islam dan membacakan Alquran kepadanya. Ekspresi Usayd berubah, sehingga mereka yang hadir dapat melihat cahaya Islam memancar di wajahnya, bahkan sebelum ia berbicara. "Betapa indahnya kata² ini dan betapa sempurnanya!" katanya, saat Mush'ab selesai. "Apa yg akan ku lakukan jika aku ingin memeluk agama ini?" Mereka mengatakan bahwa ia harus membasuh dirinya dari kepala hingga kaki untuk menyucikan diri, juga menyucikan pakaiannya, lalu mendirikan salat.

Di kebun tempat mereka duduk itu ada sebuah sumur. Maka, ia membasuh dirinya dan menyucikan pakaiannya, lalu bersaksi: _Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah._ mereka mengajarinya cara salat, lalu ia salat. Kemudian ia berkata, "Ada seorang lelaki di belakangku. Jika ia mengikutimu, maka kaumnya akan mengikuti tanpa kesulitan. Aku akan mengajaknya ke sini sekarang."

Usayd kembali ke kaumnya. Sebelum ia sampai, mereka dapat melihat dirinya telah berubah. "Apa yang telah engkau lakukan?" tanya Sa'd. "Aku telah berbicara kepada kedua orang itu", kata Usayd, "dan demi Allah, aku tidak melihat mereka berbahaya. Aku telah melarang mereka untuk meneruskan, dan mereka berkata, 'kami akan lakukan seperti keinginanmu'". "Engkau tidak berguna", kata Sa'd sambil meraih senjata dari tangan Usayd dan menuju ke tempat orang² mukmin tadi yang masih duduk dengan tenang di kebun. Ia memprotes sepupunya As'ad, dan menuduhnya telah mengambil keuntungan dari persaudaraan mereka. Namun, Mush'ab menengahi. Ia berbicara kepada Sa'd seperti ia berbicara kepada Usayd. Sa'd langsung menyetujuinya, dan hasil akhirnya sama.

Setelah mendirikan salat, Sa'd bergabung dengan Usayd dan para pengikutnya. Mereka pergi bersama2 ke tempat pertemuan kaumnya. Sa'd mengatakan kepada mereka, "Apa yg kalian ketahui tentang kedudukanku diantara kalian?" "Engkau adalah pemimpin setia kami", jawab mereka, "dan orang yang terbaik diantara kami dalam membuat keputusan, serta paling sukses dalam kepemimpinan". "Aku katakan kepada kalian", katanya, "aku bersumpah tidak akan berbicara kepada siapapun sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ketika malam tiba, tidak ada seorangpun anggota kabilahnya yang tidak masuk Islam.

Mush'ab tinggal bersama As'ad kira² selama 11 bulan. Selama itu, sudah banyak orang yg memeluk Islam. Kemudian, ketika bulan haji berikutnya telah dekat, ia kembali ke Mekah, melaporkan kepada Nabi tentang perjalanannya di antara berbagai kabilah dari suku 'Aws dan Khazraj.

Nabi tahu bahwa Yatsrib adalah lahan subur di antara dua jalur batu² hitam yang beliau lihat dalam mimpinya. Beliau juga tahu bahwa tibalah waktunya untuk hijrah. Kini hanya segelintir orang di Mekah yang sangat beliau percayai, seperti bibi mertuanya, Umm al-Fadhl. Beliau juga yakin bahwa pamannya, 'Abbas, meskipun belum masuk Islam, tidak akan menghianatinya. Karena itu beliau mengatakan kepada mereka berdua bahwa beliau hendak pergi dan tinggal di Yatsrib, namun hal itu sangat bergantung pada delegasi dari oasis itu pada musim haji mendatang. Mendengar hal ini, 'Abbas berkata bahwa dirinya merasa bertanggung jawab untuk menyertai keponakannya menemui para delegasi dan berbicara dengan mereka. Nabi pun menyetujuinya.

Tidak lama setelah keberangkatan Mush'ab, beberapa muslim Yatsrib mempersiapkan keberangkatan haji. Seluruhnya terdiri atas 73 orang pria dan dua orang wanita. Mereka berharap dapat bertemu dengan Nabi. Salah seorang pemimpin mereka adalah kepala suku Khazraj, Bara'. Selama hari² pertama perjalanan, terlintas dalam pikirannya: Mereka sedang dalam perjalanan menuju Mekah, dimana Rumah Allah (Ka'bah) berada, pusat terbesar haji bagi seluruh jazirah Arabia. Di sanalah Rasulullah berada, orang yang akan mereka kunjungi, di sana pula Alquran diturunkan dan ke tempat itulah pikiran mereka terinspirasi. Lalu, patutkah jika waktu salat tiba, mereka membelakangi arah itu dan menghadapkan wajahnya ke utara, ke arah Syria? Hal ini barangkali lebih dari sekedar sebuah pemikiran. Sebab, setelah itu Bara' hanya hidup beberapa bulan lagi, dan orang yang dekat kepada ajalnya terkadang diberikan tanda². Namun demikian, ia mengungkapkan apa yang terlintas dalam benaknya itu kepada para sahabatnya. Mereka segera mengatakan bahwa sejauh yang mereka ketahui, Nabi biasa salat menghadap ke Syria, ke arah Yerusalem, dan mereka tidak ingin menyalahi beliau. "Aku akan salat menghadap Ka'bah", kata Bara'. Ia melakukan itu selama perjalanan, sementara yang lainnya tetap salat menghadap Yerusalem. Mereka memprotesnya, tetapi sia² saja. Baru setelah mereka tiba di Mekah, Bara' merasa ragu² dan berkata kepada Ka'b ibn Malik, salah seorang sukunya yang lebih muda –dan salah seorang penyair berbakat dari Yatsrib: "Anak saudaraku! Marilah kita menghadap Rasulullah dan menanyakan apa yang kulakukan dalam perjalanan ini, karena jiwaku dipenuhi keraguan." Mereka pun bertanya kepada seseorang di Mekah, di mana dapat bertemu Rasulullah –sosok yg belum pernah mereka lihat. "Apakah kalian sudah mengenal pamannya, 'Abbas?" tanya lelaki itu. Mereka menjawab kenal, karena 'Abbas kerap datang ke Yatsrib dan sudah terkenal disana. "Jika kalian masuk ke dalam masjid," kata informan itu, "yang duduk di samping 'Abbas, itulah orangnya." Kemudian mereka pergi menemui Rasulullah. Beliau menjawab pertanyaan Bara', "Engkau telah memiliki kiblat, peganglah itu." Bara' kembali salat menghadap ke Yerusalem sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, meskipun jawaban yang ia terima mengandung lebih dari satu pengertian.

Perjalanan mereka ke Mekah bersama² dengan rombongan kaum musyrik dari Yatsrib. Salah seorang yang masuk Islam di lembah Mina adalah tokoh Khazraj terkenal, Abu Jabir 'Abd Allah ibn 'Amr, pemimpin Bani Salamah dan orang yang berpengaruh besar. Disepakati agar mereka menemui Rasulullah secara sembunyi² seperti sebelumnya di 'Aqabah pada malam kedua setelah haji. Salah seorang dari mereka menuturkan:

_Malam ini kami tidur bersama kaum kami di kafilah. Sampai sepertiga malam berlalu, kami keluar menuju tempat pertemuan dengan Rasulullah. Dengan sangat hati² dan mengendap², sampai semuanya berkumpul di parit dekat 'Aqabah. Di sana kami menunggu kedatangan Rasulullah. Tidak lama kemudian, beliau tiba bersama pamannya, 'Abbas, yang pada saat itu masih menganut agama kaumnya, namun ia ingin hadir untuk transaksi keponakannya dan memastikan bahwa perjanjian yang dibuat dapat di pertanggungjawabkan. Ketika Rasulullah duduk, 'Abbas membuka pembicaraan: "Hai orang² Khazraj", demikian orang² Arab biasa menyebut Khazraj dan 'Aws, "Kalian tahu rasa hormat yang kami berikan kepada Muhammad. Kami telah melindunginya dari semua orang yang memusuhinya, sehingga ia terhormat di tengah² sukunya dan aman di negerinya sendiri. Ia bersedia tinggal bersama kalian. Maka dari itu, jika kalian hendak menjaga janji kalian dengannya dan melindunginya dari semua penentangnya, maka kalian telah telah mengambil tugas yang semestinya. Namun, jika kalian berpikir akan menghianati dan menggagalkannya setelah ia bergabung dengan kalian, maka tinggalkanlah ia sekarang juga." "Apa yang anda katakan telah kami dengar", jawab mereka, "namun berbicaralah, wahai Rasul Allah! Katakanlah apa saja yang baik bagimu dan bagi Tuhanmu!"_

Setelah membaca Alquran dan menyebutkan kesaksian kepada Tuhan dan Islam, Rasulullah menegaskan, "Aku berjanji akan tetap bersama kalian asalkan kalian tetap melindungiku seperti perlindungan yg kalian berikan kepada anak-istri kalian sendiri!" Bara' bangkit dan menjabat tangan beliau seraya berkata, "Demi Allah yang telah mengutusmu sebagai Nabi pembawa kebenaran. Kami akan melindungimu seperti kami melindungi istri² kami sendiri! Hai Rasulullah, terimalah baiat kami! Kami orang² yang sudah biasa berperang dan benar² tahu bagaimana menggunakan senjata yang diwariskan kepada kami secara turun-temurun!" Kemudian, salah seorang lelaki 'Aws berdiri di hadapannya dan berkata, "Hai Rasulullah, antara kami dengan kaum Yahudi ada ikatan, tetapi kini kami telah memutuskan ikatan itu. Namun barangkali tidak demikian jika kami melakukan ini. Dan jika kemudian Allah memberimu kemenangan, apakah engkau akan kembali ke kaummu dan meninggalkan kami?" Nabi tersenyum dan menjawab, "Tidak! Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian diriku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai".

Setelah itu beliau berkata, "Bawalah kepadaku dua belas orang pemimpin kalian yang dapat mengurusi kaumnya". Maka mereka mengajukan 12 pemimpin, 9 orang Khazraj dan 3 orang 'Aws, karena 62 dari mereka adalah suku Khazraj dan juga dua orang wanitanya. Sementara hanya 11 orang dari suku 'Aws. Di antara 9 pemimpin dari Khazraj itu adalah As'ad dan Bara'; di antara tiga pemimpin 'Aws adalah Usayd yg diutus Sa'd ibn Mu'adz untuk mewakilinya.

Ketika mereka sedang berbaiat satu persatu kepada Nabi, seseorang dari Khazraj, salah satu dari 12 orang yang telah berbaiat pada tahun lalu, mengisyaratkan agar mereka menunggu. Ia berkata kepada mereka, "Orang² Khazraj! Tahukah kalian atas dasar apa kalian berbaiat kepada orang itu?" "kami tahu", kata mereka, namun ia mengabaikan mereka dan melanjutkan, "kalian membaiatnya atas dasar kesediaan berperang melawan setiap orang yang berkulit putih atau hitam yang memusuhinya! Karena itu, ketika kalian kehilangan harta benda dan beberapa orang kerabat terbunuh, lalu kalian berpikir hendak membatalkannya, maka batalkan baiat itu sekarang juga! Sebab, jika kalian membatalkannya kemudian hari, kalian telah berbuat nista di muka bumi ini dan akan hidup terhina di akhirat kelak. Namun, jika kalian berpikir akan menepati baiat kalian, kemudian memilihnya, demi Allah, itu adalah yang terbaik di dunia dan akhirat." Mereka berkata, "Hai Rasulullah, jika kami telah menepati semuanya itu apakah yang akan kami peroleh?" "Surga?" kata beliau. Mereka serentak berkata, "Ulurkan tanganmu!", dan beliau mengulurkan tangan, kemudian mereka berbaiat.

Sementara itu, setan mengawasi dan mendengarkan dari puncak 'Aqabah. Ketika ia tak dapat lagi menahan diri, ia berteriak sekeras²nya dan menyebut² nama Muhammad dan mengutuknya. Rasulullah tahu siapa yang berteriak itu dan beliau menjawabnya, "Hai musuh Allah! Aku tidak akan memberimu penundaan".

*#045#*
Bersambung.....

*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an bermanfaat bagi yg lain.*

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:

Post a Comment