🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
3⃣5⃣ *MEREKA YANG HIJRAH*
_______________________
KINI Rasulullah mendorong para sahabatnya di Mekah untuk segera berhijrah ke Yatsrib. Namun, salah seorang dari mereka telah melakukannya. Kematian Abu Thalib mengakibatkan keponakannya, Abu Salamah, kehilangan seorang pelindung. Ia terpaksa menyelamatkan diri dari kabilahnya sendiri. Maka, ia berjalan ke utara menuntun unta yang ditunggangi istri dan anaknya, Salamah. Umm Salamah berasal dari cabang suku Makhzum yang lain, Bani Mughirah, dan sepupu Abu Jahl. Beberapa keluarganya pergi menyusul mereka dan merebut tali kendali unta dari tangan Abu Salamah. Karena sendirian, ia sadar bahwa sia² untuk bertahan. Karena itu, ia menyuruh istrinya pulang bersama mereka. Ia akan mencari jalan bagi istrinya untuk bergabung dengannya. Namun, ketika suku Makhzum mendengar kejadian tersebut, mereka marah terhadap Bani Mughirah. Lebih parah lagi, mereka mengklaim berhak mengasuh anak Abu Salamah. Maka, mereka bertiga dengan kejam dipisahkan satu sama lain sampai seluruh kabilah merasa kasihan kepada Umm Salamah, dan akhirnya diperbolehkan mengambil anaknya untuk bergabung dengan suaminya. Ia mengendarai unta sendirian. Tak seorangpun menemaninya kecuali anaknya, Salamah. namun, setelah berjalan sekitar 6 mil, ia bertemu seorang lelaki Bani 'Abd al-Dar, 'Utsman ibn Thalhah, yg masih belum beriman. 'Utsman bersikeras untuk mengawalnya sampai akhir perjalanannya. Orang² Yatsrib mendengar Abu Salamah telah berada di Quba, sebuah desa yang terletak paling selatan di Yatsrib, di mana oasis itu menanjak ke luar ke jalur lava, salah satu dari "dua jalur batu² hitam". Maka ketika mereka melihat pepohonan kurma, 'Utsman berkata kepadanya, "Suamimu berada di desa ini, maka masuklah dengan rahmat Tuhanmu", dan ia sendiri berbalik kembali menuju Mekah. Umm Salamah tidak pernah melupakan kebaikannya dan tidak henti²nya memuji keramahannya.
Setelah baiat 'Aqabah kedua, kaum muslim Quraisy mulai banyak yang berhijrah. Di antara yang lebih dulu berangkat adalah beberapa sepupu Nabi, putra dan putri Jahsy dan Umaymah, 'Abd Allah dan saudaranya yang buta, Abu Ahmad, dan kedua saudara perempuannya, Zaynab dan Hamnah. Bersama mereka terdapat beberapa orang Bani Asad yang telah lama menjadi sekutu Abd al-Syams. Hamzah dan Zayd berangkat, meninggalkan istri mereka di Mekah untuk sementara waktu, namun 'Utsman membawa Ruqayyah bersamanya, 'Umar membawa serta istrinya, Zaynab, putri mereka, Hafsah, dan putra belia mereka, 'Abd Allah. Suami Hafsah, Khunays dari Sahm, juga turut serta bersama mereka. Saudara tiri Abu Salamah, Abu Sabrah, membawa serta istrinya, Umm Kultsum, putri Suhayl; dan sepupu nabi yang lain yang ikut berangkat adalah Zubayr dan Thulayb.
Hampir semua para sahabat terdekat Nabi telah meninggalkan Mekah kecuali Abu Bakr dan 'Ali. Abu Bakr telah meminta izin kepada Nabi untuk berangkat hijrah, namun beliau berkata: "Tidak usah terburu² berangkat karena mungkin Allah akan memberimu seorang teman". Abu Bakr mengerti bahwa ia harus menunggu Nabi. Ia menyuruh agar kedua untanya di beri makan daun pohon akasia untuk persiapan keberangkatan mereka ke Yatsrib.
Quraisy melakukan segala cara untuk menghentikan mereka berhijrah. Putri Suhayl yang lain kini berangkat bersama suaminya, Abu Hudzayfah, seperti saat keberangkatan mereka dulu ke Abyssinia. Tetapi kali ini, Suhayl memutuskan agar anaknya, Abd Allah, tidak boleh meninggalkannya. Maka, ia terus mengawasinya. Hal yang sama menimpa Hisyam, anak kepala suku Sahm, 'Ash, yang juga berada di antara para pengungsi ke Abyssinia. Saudara tirinya, 'Amr, yang telah diutus Quraisy untuk meminta Negus agar mencabut perlindungannya kepada kaum pengungsi Muslim, dan Hisyam, telah menyaksikan kegagalan dan frustasinya. 'Umar, sepupu Hisyam –ibu mereka bersaudara– telah mengatur agar mereka dapat berangkat ke Yatsrib bersama², meninggalkan Mekah secara terpisah dan bertemu di kebun Adhat sekitar sepuluh mil sebelah utara kota. 'Ayyasy dari Makhzum juga berangkat bersama mereka; namun pada jam dan tempat yang telah ditentukan tidak ada tanda² dari Hisyam. Maka, 'Umar dan keluarganya melanjutkan perjalanan bersama 'Ayyasy, karena mereka telah sepakat tidak akan saling menunggu. ayah Hisyam dan saudaranya telah mendengar rencana itu dan memaksanya untuk kembali. Mereka sangat menekannya. Bahkan setelah beberapa hari, mereka membujuknya untuk murtad dari Islam.
Sementara itu, 'Ayyasy tiba di Yatsrib bersama 'Umar, namun ia diikuti oleh kedua saudara tirinya, Abu Jahl dan Harits. Mereka mengatakan bahwa ibu mereka, yg juga ibu 'Ayyasy, bersumpah tidak akan menyisir rambutnya atau berlindung dari terik matahari sampai ia melihat 'Ayyasy kembali. 'Ayyasy sangat gundah, namun 'Umar menukas, "Mereka hanya ingin membujukmu untuk keluar dari agamamu. Demi Allah! Jika kutu mengganggu ibumu, ia akan menyisir rambutnya, dan jika panas Mekah menyengatnya, ia akan berteduh". Namun, 'Ayyasy tidak mau mendengarkan 'Umar. Ia bersikeras untuk kembali ke Mekah demi membebaskan ibunya dari sumpahnya. Ia juga bermaksud untuk mengambil uang yang tertinggal. Namun, ketika mereka berada di tengah perjalanan, Abu Jahl dan Harits mengikat tangan dan kakinya, membawanya ke rumah seperti seorang tawanan. Setibanya di kota, keduanya berkata, "Hai penduduk Mekah! Lakukanlah terhadap keluarga kalian yang bodoh seperti yabg kami lakukan terhadap keluarga kami yang bodoh ini." Seperti halnya Hisyam, 'Ayyasy dipaksa untuk murtad dari Islam. Setelah beberapa lama, mereka sadar bahwa dosa besar semacam itu tidak mungkin diampuni, dan begitu pula pendapat 'Umar. Namun, kemudian turun wahyu:
_Katakanlah, "Hai hamba²ku yg melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa² semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu saat kamu tidak dapat ditolong lagi"_(Q.S. 39: 53-54).
'Umar menuliskan ayat ini dan mengirimkannya ke Hisyam. Hisyam kemudian berkata, "Ketika surat itu sampai kepadaku, aku mendekatkannya ke mataku dan menjauhkannya. Tetapi aku tidak dapat memahaminya, sampai aku berdoa, 'Ya Tuhan, berilah aku pemahaman!' Kemudian Allah menanamkan pemahaman ke dalam hatiku bahwa telah diturunkan wahyu tentang nasib kami, berkaitan dengan apa yang kami bicarakan di antara kami". Hisyam menunjukkan itu kepada 'Ayyasy dan mereka memperbaharui keislaman mereka dan menanti kesempatan untuk melarikan diri.
*#046#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah2an bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment