🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*KISAH HIDUP NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM*
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
*karya* : _Abu Bakr Siraj al-Din_
*diketik ulang* oleh : _RaYaKu_
_______________________
4⃣5⃣ *PARA TAWANAN PERANG*
_______________________
PARA tawanan perang bersama para penangkapnya tiba di Madinah sehari setelah kedatangan Nabi, Sawdah yang baru pulang dari rumah Afra', tercengang saat kembali melihat sepupu dan iparnya, Suhayl, kepala sukunya, duduk di sebuah ruangan dengan tangan terikat ke lehernya. Pemandangan itu membangkitkan sentimen lamanya dan membuatnya lupa diri. "Hai, Abu Yazid", teriaknya, "kamu terlalu mudah menyerah. Sebenarnya kamu lebih baik mati secara terhormat". " Sawdah!" seru Nabi yang datang tiba² tanpa diduga. Suara teguran Nabi itu mengembalikan, dengan perasaan malu, dari masa lalunya pada masa kininya sebagai muslimah. Masih ada harapan bahwa Suhayl akan memeluk Islam, tentu saja pengaruh kuat kekuasaan teokrasi yang maju itu kini pasti dapat memengaruhi pandangannya dan pandangan tawanan yang lain. Nabi telah memercayakan para sahabatnya untuk menanamkan pemikiran Islam, bukan pagan, di kepala mereka. Sekali lagi beliau kini menggugah penyesalan Sawdah, "Apakah engkau ingin membuat masalah terhadap Allah dan Rasul-Nya?"
Posisi penting Suhayl sama dengan Abu Sufyan, yang kini meningkat dengan banyaknya pemimpin Quraisy yang mati di medan pertempuran. Jika ia berhasil diyakinkan untuk masuk Islam, pengaruhnya akan membawa banyak orang masuk Islam, baik dari sukunya sendiri maupun dari suku yang lain. Namun sayang, keberadaannya di Madinah tidak lama, karena Bani 'Amir segera mengutus orang untuk menebusnya, dan orang itu rela untuk tetap tinggal di Madinah sebagai sandera, sementara pemimpinnya kembali ke Mekah untuk menyiapkan jumlah tebusan yang telah disepakati.
Setiap tawanan dibagi kepada tiga pejuang atau lebih. Sekelompok kaum Anshar membawa Abbas ke hadapan Nabi, dan berkata, "Hai Rasulullah, izinkan kami untuk tidak menerima tebusan demi putra saudara perempuan kami". Yang dimaksud "saudara perempuan" adalah Salma, nenek orang yang ditawan itu. Tapi Nabi berkata, "Kamu tak boleh melepaskan satu dirham pun". Kemudian Nabi berbalik ke arah pamannya, 'Abbas dan berkata, "Tebuslah dirimu sendiri dan dua keponakanmu, 'Aqil dan Nawfal, dan sekutumu, 'Utbah, karena engkau orang kaya". 'Abbas protes, "Aku telah menjadi muslim, tapi aku dipaksa mereka untuk melawanmu". Nabi menjawab, "Hanya Allah yang tahu tentang keislamanmu. Jika engkau benar, Dia yang akan memberikan ganjarannya. Tapi kenyataannya, engkau telah melawan kami. Maka, bayarlah tebusanmu sendiri". 'Abbas menjawab bahwa ia tidak memiliki uang. Nabi pun berkata, "Mana uangmu yang telah engkau tinggalkan kepada Umm al-Fadhl? Engkau sendiri yang mengatakan, 'jika aku terbunuh, maka banyak yang aku tinggalkan untuk Fadhl, Abd Allah, Qitsam dan Ubaydillah". Saat itulah keyakinan sejati benar² meresap ke dalam hati 'Abbas. "Demi Dia yang telah mengutusmu membawa kebenaran", katanya, "tidak ada yang tahu pembicaraan kami itu selain aku dan istriku. Kini aku benar² yakin bahwa engkau adalah Rasul Allah". Ia pun setuju untuk membayar tebusan bagi dirinya, dua keponakannya dan sekutunya.
Seorang tawanan yang sangat dekat dengan Nabi adalah menantu beliau, Abu al-Ash. Saudaranya, 'Amr, datang dari Mekah untuk mengirimkan uang tebusan dari Zaynab, putri Nabi sendiri. Bersama uang tebusan itu, Zaynab juga mengirimkan seuntai kalung yang diperoleh sebagai hadiah pernikahan dari ibunya. Nabi sangat terharu melihat kalung dari Khadijah itu. Dengan cepat, Nabi menanyakan kepada para sahabatnya, "Maukah kalian melepaskan tawanan ini dan mengembalikan tebusannya?" Mereka langsung setuju dan mengembalikan tawanan sekaligus tebusannya itu. Mereka berharap, menantu Nabi itu mau masuk Islam selama ia berada di Madinah, tetapi ternyata tidak. Saat Abu al-Ash dan saudaranya hendak pulang ke Mekah, Nabi berpesan agar mereka mengirimkan Zaynab ke Madinah, dan dengan berat hati sang suami menyetujuinya. Wahyu Alquran melarang seorang wanita mukmin menikah atau bersuami seorang Musyrik.
Abd Allah ibn Jahsy menawan Walid, putra bungsu almarhum Walid, pemimpin Makhzum. Dua saudara pemuda itu, Khalid dan Hisyam, datang untuk menebusnya. 'Abd Allah tdk mau melepaskan tawanannya itu jika uang tebusannya kurang dari empat ribu dirham. Khalid saudara tiri Walid, menolak untuk membayar sejumlah itu, tapi Hisyam, saudara kandung pemuda tawanan itu, mencelanya: "Tentu saja kamu menolak, karena ia bukan saudara kandungmu". Nabi yang menyaksikan transaksi itu mengusulkan kepada Abd Allah, sebaiknya mereka membayar tebusannya dengan peralatan dan baju perang warisan ayah mereka. Namun, Khalid segera menolaknya. Sekali lagi, Hisyam bersikeras dan akhirnya keputusannya yang diambil. Mereka membawa pusaka ayah mereka ke Madinah dan membawa pulang saudara bungsu mereka itu. Diperjalanan, di pemberhentian pertama, Walid melarikan diri dan kembali ke Madinah. Ia menemui Nabi untuk masuk Islam secara resmi, bersyahadat di hadapannya. Kedua saudara Walid mengejarnya dan menyuruhnya pulang. Ketika mereka melihat apa yang terjadi, dengan marah Khalid berkata, "Mengapa kau lakukan ini setelah kami tebus dengan bayaran tinggi? Mengapa tidak kau lakukan sebelum warisan ayah kita terlepas dari tangan kita. Apa maumu?" Walid menjawab bahwa ia tidak mau orang Quraisy menganggap dirinya mengikuti Muhammad karena ingin bebas dari kewajiban membayar tebusan. Kemudian ia kembali ke Mekah bersama Khalid dan Hisyam untuk mengambil harta miliknya disana, tanpa curiga sedikit pun akan disiksa oleh saudara²nya itu. Tapi ternyata ia segera ditahan, dan dikumpulkan bersama 'Ayyasy dan Salamah, dua saudara Abu Jahl yang muslim, yang masih ditahan dan dijaga oleh Ikrimah, anak Abu Jahl. Ikrimah meneruskan penahanan itu setelah kematian ayahnya. Nabi selalu mendoakan ketiga orang itu, memohon keselamatan mereka, juga keselamatan Hisyam dari Syam, dan sahabat lainnya yang ditahan dengan paksa di Mekkah.
Jubayr ibn Muth'im datang ke Madinah untuk menebus sepupu dan dua orang sekutunya. Nabi menyambutnya dengan baik. Beliau mengatakan bahwa jika Muth'im masih hidup dan bisa datang kepadanya untuk kepentingan para tawanan itu, maka ia tak perlu membayar tebusannya. Selama tinggal di Madinah, Jubayr sangat terkesan dengan semua yang dilihatnya. Pada suatu ketika, saat senja tiba, ia berdiri di dekat masjid untuk mendengarkan Nabi salat. Saat itu Nabi sedang membaca surah _At-Thur_ (gunung), yang memberi peringatan tentang hari kebangkitan dan neraka, serta menggambarkan keindahan surga. Surat itu diakhiri dengan ayat:
_Dan bersabarlah menunggu keputusan dari Tuhanmu, sesungguhnya kamu berada di dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenamnya bintang² (saat fajar)_ (Q.S. 52: 48-49).
"Saat itu", kata Jubayr, "keimanan telah merasuk ke dalam hatiku". Tetapi, ia tak mau terus mendengarkannya karena pikirannya masih terngiang² oleh kematian pamannya dalam peperangn Badr. Thu'aymah, saudara Muth'im, adalah salah seorang yang terbunuh di tangan Hamzah, dan Jubayr merasa wajib membalas kematiannya. Karena khawatir niatnya itu akan melemah, ia segera kembali ke Mekah setelah terjadi kesepakatan mengenai tebusan yang harus dibayar.
Kebanyakan mereka yang datang untuk menjemput kerabat, teman atau sekutunya, bersikap hormat dan sopan kepada Nabi. Tetapi, Ubayy dari Jumah termasuk perkecualian. Ia saudara Umayyah dan sahabat baik 'Uqbah, yang keduanya tewas dalam pertempuran. Setelah membayar tebusan untuk anaknya, ia bangkit dan sebelum pergi berkata dengan kasar kepada Nabi, "Hai Muhammad, aku punya seekor kuda hebat yang kuberi nama 'Awd. Kuberi dia makan setiap hari dengan jagung yang banyak. Tunggulah, aku akan menungganginya dan akan membunuhmu!" "Tidak!" jawab Nabi tenang. "Akulah yang akan membunuhmu, insya Allah!".
Sementara itu, di Mekah, dua orang keponakan Ubayy, Shafwan dan Umayr, dengan kebencian luar biasa memperbincangkan kematian para pemimpin mereka yang kini telah terkubur di Badr. Shafwan adalah anak Umayyah yang tampaknya bakal menggantikan kedudukan ayahnya sebagai kepala suku. Sepupunya, Umayr, adalah orang yang bergerak mengelilingi pasukan Muslim untuk mengamati kekuatan musuh di perang Badr. "Demi Tuhan, betapa hidup ini terasa tak berarti lagi setelah kepergian mereka", kata Shafwan. 'Umayr mengiyakan, dan ia memang paling tulus di antara yang lain. Anaknya termasuk orang yang ditawan, tetapi ia tidak sanggup untuk menebusnya, karena dililit banyak hutang. Ia merasa tak mungkin mengorbankan hidupnya demi menebus anaknya. "Andaikata aku tak menanggung hutang yang belum dapat kulunasi", katanya, "dan aku dapat meninggalkan bekal penghidupan bagi keluargaku, tentu akan kudatangi Muhammad dan kubunuh dia". "Jangan khawatir! Hutangmu akan kulunasi", kata Shafwan, "dan akan kutanggung seluruh penghidupan keluargamu. Aku akan menjaga mereka sepanjang hidupku. Mereka tak perlu ragu² untuk meminta kepadaku". 'Umayr segera menerima tawaran ini, dan mereka berjanji untuk merahasiakan rencana itu sampai tujuan mereka berhasil. Maka, Umayr pulang untuk mengasah pedangnya, melumurinya dengan racun. Ia pun segera berangkat ke Yatsrib dengan alasan ingin menebus anaknya yang tertawan.
Ketika 'Umayr tiba di Madinah dataran bawah, Nabi sedang duduk di dalam masjid. Melihat kedatangan 'Umayr dengan membawa pedang 'Umar mencegatnya saat ia akan masuk, tetapi Nabi memanggilnya dan mempersilahkan orang Jumah itu untuk menghadapnya. Maka, 'Umar berkata kepada beberaoa orang Anshar yang ada di dekatnya, "Masuklah kamu dan duduklah di dekat Nabi. Jagalah beliau dari kejahatan yang mungkin akan ia lakukan, karena tamu ini sangat mencurigakan". 'Umayr mengucap salam kepada mereka –salam yang biasa dilakukan kaum musyrik– dan Nabi menjawab, "Allah telah mengajarkan salam yang lebih baik dari yang kau ucapkan itu 'Umayr. Inilah kedamaian, salam dari para penghuni surga". Beliau lantas menanyakan maksud kedatangan tamunya itu, dan 'Umayr mengutarakan niatnya untuk menebus anaknya. "Mengapa kamu membawa pedang?" tanya Nabi.
"Tuhan membenci pedang²!" kata 'Umayr. "Apakah mereka telah melayani kita dengan baik?"
"Katakan terus terang apa maksudmu sebenarnya, Umayr", kata Nabi. Ketika 'Umayr kembali menjawab bahwa ia bermaksud menebus anaknya, Nabi mengulangi pembicaraan 'Umayr dengan Shafwan di dekat Hajar Aswad.
"Jadi Shafwan akan melunasi seluruh hutangmu dan menanggung nafkah keluargamu", kata Nabi, "asal kamu berhasil membunuhku, tapi Allah mencegahnya".
"Siapa yang mengatakannya kepadamu", tanya 'Umayr kaget, "padahal tidak ada orang lain saat itu?"
"Jibril telah menyampaikannya kepadaku", kata Nabi.
"Selama ini, ketika engkau mengaku telah membawa kabar dari langit", kata 'Umayr, "kami menganggapmu pembohong. Tapi kini, segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah untuk segera masuk Islam. Aku bersaksi di hadapanmu hai Rasulullah, bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya".
Nabi berkata kepada mereka yang hadir di situ, "Bimbinglah saudaramu ini dalam menempuh agamanya, bacakanlah ayat² Qur'an, dan lepaskanlah anaknya yang ditawan".
'Umayr bersemangat untuk kembali ke Mekah dengan maksud mengajak yang lain untuk masuk Islam, termasuk Shafwan. Nabi memberinya izin dan ia berhasil membawa banyak mualaf. Tetapi Shafwan sendiri menganggapnya sebagai penghianat dan benar² tidak mau berbicara atau melakukan apapun dengannya. Setelah beberapa bulan, 'Umayr kembali ke Madinah sebagai seorang Muhajirin.
Ketika Abu al-Ash telah tiba di Mekah, ia memberitahu Zaynab bahwa ia telah berjanji kepada ayahnya untuk mengirim Zaynab ke Madinah. Mereka sutuju bahwa Umamah, putri kecil mereka akan pergi bersama Zaynab. Anak laki² mereka yang pertama, Ali, telah meninggal saat masih Bayi, dan kini, Zaynab sedang menantikan kelahiran anaknya yang ketiga. Ketika semua persiapan untuk berangkat telah dilakukan, Abu al-Ash melepas mereka untuk berangkat disertai oleh saudara laki²nya, Kinanah, yang akan menjaga dan mengantarkan mereka. Mereka merahasiakan rencananya. Namun saat mereka berangkat, hari masih cukup terang, sehingga mereka menjadi bahan perbincangan di Mekah. Akhirnya beberapa orang Quraisy menyusul mereka dengan maksud akan membawa pulang Zaynab ke rumah anak yatim dari Bani 'Abd al-Syams, yang menjadi sukunya setelah menikah. Ketika dekat dengan mereka, seorang berusaha menghalang²inya. Seorang laki² Fihr, bernama Habbar, meneriakkan kata² kasar sambil mengacung²kan tombaknya ke arah Zaynab. Zaynab sedang duduk dengan menggendong Umamah, kemudian bergabung dengan kerumunan orang² yang datang mengepung dan menghadangnya. Kinanah turun dari kudanya, mengambil busurnya, dan maju menghadapi mereka, dan mencampakkan sarung anak panahnya ke tanah berpasir di depannya. "Ayo, siapa berani maju kesini! Demi Tuhan, akan kutusuk badannya dengan panahku ini". Orang² itu pun surut ke belakang ketika ia mulai menarik busurnya. Kemudian, setelah perundingan, Abu Sufyan kepala suku mereka, satu atau dua orang yang lain turun dari kudanya, mendekati Kinanah dan menyuruh agar panah²nya disimpan dan mengajaknya bicara. Kinanah setuju. Abu Sufyan berkata kepadanya, "Suatu kesalahan besar bila membawa wanita keluar dari masyarakatnya di depan mata orang banyak; kalau saja engkau tahu bencana yang menimpa kita dan apa yang dilakukan Muhammad kepada kita. Jika kamu mengantarkan mereka kepadanya, orang² akan melihatnya sebagai tanda bahwa kita telah takluk. Orang² akan berkata bahwa pihak kita memang sangat lemah dan tidak berdaya. Demi hidupku! Aku tidak bermaksud menghalangi seorang anak untuk kembali kepada bapaknya, dan tak juga bermaksud menahannya untuk membalas dendam. Tapi, bawalah perempuan ini pulang ke Mekah, dan jika mulut orang² telah berhenti menggunjingkan kebaikan kita ini, dan jika kabar telah tersebar bahwa kita telah mengejarnya dan membawanya kembali pulang, bawalah ia diam² kepada bapaknya". Kinanah menerima usulan itu, dan mereka kembali bersama² ke Mekah. Tak lama setelah kejadian yang menegangkan itu, Zaynab mengalami keguguran akibat ketakutan ketika Habbar mengacung²kan tombak ke arahnya. Setelah ia sehat dan waktu telah memungkinkan , Kinanah segera membawanya bersama Umamah di tengah kegelapan malam, melarikan mereka secepat²nya ke lembah Yajaj, kira² delapan mil dari Mekah. Di sana Zayd telah menunggu, sesuai rencana yang telah mereka atur sebelumnya, dan Zayd mengantarnya sampai di Madinah dengan selamat.
*#064#*
Bersambung.....
*Silahkan share ke semua kontak atau grup WA anda. Mudah²an ada bermanfaat bagi yg lain.*
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳

No comments:
Post a Comment